Legenda Dunia Kultivasi

Legenda Dunia Kultivasi
Terobosan Ke tahap Selanjutnya


__ADS_3

Arya Wijaya menghembuskan nafas pelan. Menyadari ada seseorang yang sedang memperhatikannya, Arya Wijaya kemudian memperhatikan area disekitarnya tetapi tak menemukan siapapun didalam kamarnya.


Sampai pada akhirnya pandangan Arya Wijaya tertuju kearah seekor laba-laba di pojok atas langit-langit kamar, dia menyadari kalau Nyonya Maharani Kanigara sedang mengawasinya melalui perantara seekor laba-laba.


Merasa masih kesal terhadap wanita cantik itu akibat kejadian semalam. Arya Wijaya menjentikan jarinya yang seketika membuat laba-laba itu langsung menjadi debu setelah terkena Api Surgawi.


Tak mau proses kultivasinya diganggu apalagi sampai dimata-matai oleh seseorang. Arya Wijaya kemudian mengeluarkan kertas jimat dan membuat sebuah formasi, yang dapat membuat seseorang dan serangga seperti laba-laba tak bisa masuk kedalam kamarnya.


Sementara itu Nyonya Maharani Kanigara merasa kesal saat aksinya dapat diketahui dengan mudah oleh Arya Wijaya. Saat dia mencoba mengendalikan beberapa ekor laba-laba untuk menyelinap masuk kedalam kamar milik Arya Wijaya, sayangnya semua laba-laba itu tak bisa menyelinap masuk meski melalui celah kecil, karena seolah ada dinding penghalang yang mencegah.


Nyonya Maharani Kanigara sekarang hanya bisa menunggu selama 6 hari lagi, sampai Arya Wijaya selesai berkultivasi. Yang tidak Nyonya Maharani Kanigara ketahui adalah, dia tak akan bisa bertemu dengan Arya Wijaya dalam waktu dekat.


Disisi lain Raka Aditama yang sedang latihan tak sengaja melihat banyak laba-laba yang hinggap didepan pintu kamar milik Arya Wijaya. Raka Aditama tentu ingin mengusir semua serangga itu, tetapi dia terlalu untuk mendekati para laba-laba yang jumlahnya mungkin sudah ratusan ekor itu.


Arya Wijaya sekarang merasa privasinya sudah benar-benar aman, tidak ada suara dari luar maupun seseorang yang bisa mengintipnya.


Beberapa sumber daya kemudian Arya Wijaya keluarkan, seperti Taring Ular berusia 3000 tahun, Ginseng Emas berusia 2000 tahun, 100 Kristal Hewan Iblis Tingkat Raja, dan sebuah Apel Es yang hanya bisa tumbuh 500 tahun sekali.


Arya Wijaya kali ini benar-benar ingin melakukan trobosan secara keseluruhan, seperti Kualitas Tulang, Sisik Naga, dan Ranah Kualitas yang hanya perlu dua lapisan untuk menembus Ranah Penyempurnaan Roh.


Taring Ular berusia 3000 tahun mulai dilebur menggunakan teknik pembakaran Api Surgawi tahapan ke-3. Taring yang semula memiliki ukuran seperti gading gajah dewasa, perlahan mulai terurai menjadi serbuk menyerupai debu.

__ADS_1


Setelah peleburan Taring Ular selesai, beberapa sumber daya lain mulai diekstrak untuk diambil sarinya dengan menggunakan Qi oleh Arya Wijaya.


Gumpalan sari dari Gingseng Emas, Kristal Hewan Iblis, dan Apel Es. Kemudian digabungkan dengan serbuk Taring Ular sebelum dilakukan proses pemadatan.


"Salah sedikit saja maka semuanya akan sia-sia. Aku tak boleh gagal..." Proses terakhir merupakan bagian paling sulit menurut Arya Wijaya, karena dia memerlukan perhitungan saat memadatkan campuran sumber daya untuk dijadikan sebuah Pill.


Arya Wijaya perlahan dan hati-hati mulai memadatkan campuran sumber daya menggunakan Qi. Perlahan tapi pasti, satu butir Pill yang memiliki warna seperti kristal es mulai terbentuk.


Konsentrasi Arya Wijaya tidak boleh terganggu saat ini. Jika ada kekeliruan sedikit saja maka semuanya akan berakhir, dan dia harus mencari pengganti beberapa sumber daya yang sangat langka dan tidak dijual.


Sebuah Pill yang tingkatannya tidak diketahui akhirnya terbentuk. Aroma yang tercium sangat wangi, tetapi disisi lain Arya Wijaya merasa tangannya kedinginan saat memegang Pill tersebut.


Arya mengepalkan tangannya membuang semua pikiran tentang keamanan tubuhnya saat mengkonsumsi Pill hasil eksperimennya semata.


Ketika sedang berkultivasi, Arya Wijaya seolah melakukan hibernasi untuk sementara waktu. Tetapi waktu yang Arya Wijaya butuhkan untuk menyerap khasiat Pill, sepertinya akan memakan waktu lebih lama lagi, sebab semua sumber daya yang digunakan memiliki kualitas tinggi dan sangat baik.


Selama seminggu lebih 2 hari pria itu benar-benar tak berpindah dari posisi duduk Lotus. Bahkan rasa lapar dan haus sama sekali tidak dihiraukan olehnya.


Di atas kepala Arya Wijaya sekarang terlihat energi Qi yang berkumpul dan memutar seperti sebuah gasing. Dihari kesembilan ini merupakan hari dimana Arya Wijaya akan menguatkan pondasi kultivasi.


Teknik Pernapasan Naga yang sudah lama tak digunakan kali ini Arya Wijaya manfaatkan untuk menyerap Qi yang melayang diatas kepalanya, serta menyerap Qi yang ada disekitar tempatnya berada, untuk memperkuat pondasi kultivasinya agar lebih kokoh.

__ADS_1


Hanya dalam sekali tarikan napas semua berhasil Arya Wijaya serap tanpa adanya kendala. Proses terakhir kini sudah selesai, dan Arya Wijaya mulai membuka mata setelah 9 hari.


"Tulang Naga Dewasa Menengah... Kupikir hanya akan sampai Tulang Naga Dewasa Rendah. Tidak heran, sumber daya berkualitas tinggi pasti memiliki khasiat yang lebih tinggi juga..."


Arya Wijaya mengepalkan tangan. Dia sekarang bisa merasakan struktur tulangnya benar-benar sudah diperkuat. Yang membuat Arya Wijaya merasa lebih percaya diri jika diminta menghancurkan sebongkah batu seberat 5 ton, hanya dalam sekali pukul.


Tak hanya kualitas tulang saja yang meningkat. Tetapi sisik Naga milik Arya Wijaya bertambah menjadi 15 sisik Naga. Hal ini membuat kulit milik Arya Wijaya sekarang tak bisa ditembus oleh senjata tingkat Pusaka.


Ranah Kultivasi Arya Wijaya juga mengalami peningkatan menjadi Penyempurnaan Roh lapisan ke-2. Lebih satu lapisan di atas yang Arya Wijaya perkirakan diawal.


Perut Arya Wijaya tiba-tiba mengeluarkan suara gemuruh. Pendekar dengan kultivasi rendah sepertinya masih memerlukan asupan makanan, tidak seperti para Pendekar tingkat tinggi yang dapat menyerap sari pati energi bumi.


"Sial... Aku sampai lupa kalau cacing didalam perutku masih butuh makan..." Arya Wijaya mengerutkan wajahnya sambil memegang perutnya yang terasa sedang dipelintir.


Dengan raut wajah pucat seperti mayat hidup Arya Wijaya keluar dari kamar. Yang ada didalam pikiran Arya Wijaya sekarang hanya makan tak perduli berapa banyak asal perutnya sekarang terisi.


Langkah kaki Arya Wijaya terhenti didepan dapur yang tampaknya sedang ditinggal oleh para juru masak, dan tak ada seorangpun pelayan yang menjaga.


Arya Wijaya kemudian masuk kedalam dan menemukan sudah ada berbagai jenis hidangan, yang sepertinya akan ada sebuah acara penyambutan di Kediaman Tuan Dierja Aditama.


Tanpa pikir panjang karena semua cacing diperut sudah memberontak untuk diberi makan, Arya Wijaya mulai memakan satu persatu hidangan yang ada di atas meja panjang dengan rakus.

__ADS_1


Dia tak perduli meski makan menggunakan tangan secara langsung tanpa menggunakan alat makan, bahkan remahan makanan mulai menempel disekitar area mulutnya.


__ADS_2