Legenda Dunia Kultivasi

Legenda Dunia Kultivasi
Menjadi Sangat Protektif


__ADS_3

Langit biru perlahan berubah menjadi jingga kemerahan dan matahari sudah mulai bersembunyi di ufuk barat, menandakan hari akan segera berakhir digantikan oleh langit malam.


Semua orang yang hadir diruang kerja Arya mulai mengemasi dokumen mereka masing-masing setelah menyelesaikan diskusi. Selain membahas tentang organisasi pemberontak, mereka juga mulai membahas hal yang lainnya.


Diskusi itu merujuk kearah pencegahan timbulnya bibit pemberontak yang baru, sampai masalah pangan yang harus mereka atasi setelah ladang gandum hancur paska serangan Hewan Iblis.


Hal ini tentunya membuat para petani gagal panen dan sumber makanan utama di Kota Madya mengalami krisis. Belum lagi hanya tersisa sedikit persediaan gandum di lumbung pangan, membuat mereka harus memutar otak untuk menyelesaikan masalah ini.


Untungnya Kota Madya kini dipimipin oleh seseorang yang terbilang sangat kaya. Jika tidak sudah dipastikan dalam beberapa bulan kedepan akan terjadi krisis pangan di Kota Madya. Pihak Kerajaan sendiri tentu tidak akan membantu, mengingat penghuni Kota ini hanya dari kalangan masyarakat buangan.


Dengan sisa uang dia miliki, Arya meminta kepada Indera dan Deswara menuju Ibukota untuk menemui kenalannya yang memiliki Asosiasi dagang terbesar di Benua Nusantara.


Tugas Indera dan Deswara tidak lain untuk meminta bantuan kepada pihak Asosiasi Perak. Mengingat Asosiasi itu memiliki regulasi yang sangat ketat ketika membahas hal berkaitan dengan pangan, Arya memberikan bungkusan kain kepada Indera dan Deswara untuk diberikan kepada pentinggi Asosiasi Perak yang tidak lain adalah Nyonya Maharani.


Setelah memberikan sisa uang yang dia miliki kepada Indera dan Deswara. Arya sekarang benar-benar tidak memiliki uang sama sekali, sebab semua uangnya kini dipegang oleh Putri Amanda.


Untuk Putri Amanda sendiri wanita itu masih saja tertidur pulas dipangkuan Arya, dan sama sekali tidak mengikuti diskusi padahal kehadirannya juga diperlukan mengingat dirinya menjabat sebagai sekretaris.


Tetapi Arya sama sekali tidak membangunkan Putri Amanda dari tidurnya, khawatir jika wanita cantik itu akan membuat ketegangan baru dengan petinggi lain mengingat kebenciannya terhadap orang-orang dari Kerajaan Brawijaya.


"Tunggu sebentar, Tuan Arjuna. Besok ada anak buahku yang baru akan datang ke Kota ini bersama beberapa bawahannya. Tolong bukakan gerbang untuk mereka besok." Pinta Arya saat Arjuna baru akan keluar dari ruangan.


Arjuna hanya membalas perkataan Arya dengan anggukan kemudian pergi dari ruangan meninggalkan pria itu bersama seorang wanita yang masih tertidur sampai sekarang.


Setelah semua orang pergi, Arya membereskan catatan hasil diskusi hari ini dan menyelesaikan beberapa dokumen yang masih belum dia pelajari.

__ADS_1


"Mau sampai kau akan tidur. Sebentar lagi hari sudah akan berakhir." Menyadari jika Putri Amanda sudah terbangun sejak orang-orang mengemasi dokumen mereka, Arya mencoba membuat wanita itu segera bangun.


Putri Amanda meringkuk dan merenggangkan tengannya seolah baru saja bangun. Begitu membuka mata, dia bisa melihat wajah tampan Arya tepat diatasnya yang terkena matahari senja.


Angin yang berhembus masuk melalui jendela membuat rambut Arya menari-nari menambah kesan menenangkan bagi Putri Amanda saat melihatnya.


"Andai saja setiap aku bangun tidur hal yang pertama kali kulihat wajahnya." Putri Amanda melamun memandangi Arya yang sedang sibuk membereskan catatan dengan tatapan penuh kasih.


Merasa terus di amati oleh Putri Amanda membuat Arya kembali menjadi gugup tetapi dia untuk sebisa mungkin terlihat santai seolah tidak ada yang terjadi padanya.


"Apa ada sesuatu yang salah?" Arya bertanya sambil melihat ke arah Putri Amanda yang berada di atas pangkuannya sedang memperhatikannya.


Saat pandangan matanya bertemu dengan milik Arya, Putri Amanda menjadi sedikit gugup dan wajahnya memerah dibalik cadar yang menutupinya.


Arya mengangkat sebelah alisnya saat Putri Amanda mengalihkan pandangan darinya. Sebenarnya dia penasaran tetapi memilih untuk mengabaikannya.


"Kalau tidak ada yang salah bisakah kau turun. Masih mau sampai kapan kau duduk di atas pangkuanku seperti anak kecil?" Arya mengingat kepada Putri Amanda untuk segera menyingkir darinya karena sudah terlalu lama duduk diatas pangkuannya.


Menjadi tempat tidur siang untuk Putri Amanda selama lebih dari 5 jam tentu saja membuat kaki Arya menjadi kebas dan kesemutan.


Disamakan seperti anak kecil tentu membuat Putri Amanda merasa sedikit kesal. Dengan enggan dia kemudian beranjak dari tempat tidur favoritnya dan merapihkan pakaiannya yang sedikit kusut.


Begitu Putri Amanda menyingkir darinya. Arya kemudian menyimpan catatan penting kedalam cincin dimensi dan beranjak dari kursi, meski terasa sulit pada awalnya mengingat kakinya yang masih kesemutan.


"Mau ikut mencari makan malam diluar bersamaku, Tuan Putri?" Ajak Arya mengingat bahwa mereka selama seharian ini belum makan apapun.

__ADS_1


Putri Amanda menggelengkan kepala dan menatap Arya dengan heran. "Apa kau lupa seorang Pendekar tingkat tinggi tidak memerlukan makanan fisik? Dan berapa kali aku harus mengatakan bahwa jangan memanggilku dengan cara formal."


Wanita cantik itu menyilangkan kedua tangannya sambil memalingkan wajah merasa kesal terhadap Arya yang selalu memanggilnya Tuan Putri.


Putri Amanda tentu ingin Arya memanggil namanya langsung supaya jarak diantara mereka terasa lebih dekat. Dia tidak ingin karena status mereka saat ini membuat hubungan keduanya seolah dipisahkan oleh jurang pemisah.


"Baik aku minta maaf untuk itu. Aku masih belum terbiasa memanggil namamu secara langsung. Kalau begitu aku akan pergi dulu untuk mencari makan." Arya menggaruk kepala bagian belakangnya sambil melenggang pergi.


Belum sempat Arya menyentuh gagang pintu tiba-tiba Putri Amanda menghentikannya. "Tunggu sebentar. Kau pergi keluar dengan siapa dan kapan akan kembali lagi?"


Putri Amanda memicingkan mata memberi tatapan menyelidik kepada Arya yang ingin pergi keluar disaat matahari sudah mulai bersembunyi di ufuk barat.


"Entahlah mungkin aku akan pergi keluar sendiri. Tetapi jika ada yang mau bergabung aku tidak keberatan. Memangnya ada apa?" Arya merasa heran dengan sikap Putri Amanda yang ingin mengatahui kegiatannya.


Saat mendapat tatapan tajam dari Putri Amanda, Arya entah mengapa merasa gugup seolah wanita cantik itu ingin mencabik-cabiknya jika mengatakan sesuatu yang salah.


"Apa kau berencana mengajak seorang wanita untuk makan malam bersamamu? Oh, apa jangan-jangan kau ingin melakukan kencan dengan wanita lain?"


Putri Amanda melontarkan pertanyaan yang semakin menyudutkan posisi Arya. Dia sekarang merasa curiga jika pria itu diam-diam memiliki seorang wanita di Kota Madya.


"Huh? Apa yang kau katakan? Aku tidak mengerti dengan apa yang kau bicarakan, Amanda. Dari pada kau terus mencurigaiku, kenapa kau tidak ikut saja?"


Arya benar-benar merasa heran dengan perubahan yang terjadi dengan Putri Amanda. Dia merasa wanita cantik itu menjadi sangat sensitif dan protektif kepada dirinya.


Putri Amanda berdecak kesal kemudian menarik tangan Arya dan menarik pria itu keluar untuk mencari rumah makan. Mereka sebenarnya bisa saja meminta pelayan dikediaman Walikota, tetapi mereka merasa bosan jika harus menghabiskan waktu setiap saat ditempat itu.

__ADS_1


__ADS_2