Legenda Dunia Kultivasi

Legenda Dunia Kultivasi
Tuduhan Palsu


__ADS_3

Suara dengungan terdengar disaat Wira melempar jeruji besi menggunakan batu karena kesal. Sudah 15 tahun dirinya dikurung dan diperlakukan seperti binatang oleh para petugas.


Arjuna dan Bagaskara juga merasakan hal yang sama seperti halnya Wira. Dicopot dari jabatan sebagai Jenderal dan dipenjarakan dengan tuduhan palsu, siapa yang tidak kesal?


Selama 40 tahun mengabdi pada Kerajaan dan berjuang sampai titik mereka menjadi Jenderal, bukanlah hal mudah bagi mereka yang berasal dari kalangan masyarakat kelas bawah.


Bahkan Dantian mereka dibuat hancur oleh para Dewan Pengadilan, sampai membuat Tanah Kultivasi yang mereka capai sirna begitu saja.


Wira, Arjuna, dan Bagaskara tak akan pernah melupakan siapa orang yang sudah menyebabkan mereka menderita sampai ke titik paling rendah.


"Hanya karena kita berasal dari masyarakat kelas bawah, mereka dengan seenaknya menuduh kita menjadi penyebab kematian putra dari keluarga Mahendra."


Wira dengan kesal memukul dinding sel hingga membuat tangannya berdarah. Kebencian terhadap para bangsawan semakin memupuk didalam hati Wira. Dia masih ingat bagaimana istri dan putrinya dieksekusi mati tepat dihadapannya karena tuduhan tak berdasar.


"Tenanglah Wira..." Arjuna menepuk punggung Wira yang emosinya sedang tidak stabil. Arjuna menyadari perasaan yang dirasakan temannya itu.


Wira tiba-tiba menepis tangan Arjuna lalu mencengkram kerah baju milik pria itu dengan kesal. "Katakan, bagaimana aku bisa tenang setelah anak dan istriku dieksekusi tepat dihadapanku, Arjuna?!"


Arjuna hanya bisa memalingkan wajah saat ditanya oleh Wira. Hal itu tentu membuat Wira semakin kesal dan mendorong Arjuna sampai tersungkur.


Bagaskara yang merasa Wira akan melakukan hal gila dengan mengaitkan seutas tali, langsung mengunci pergerakan temannya itu. "Wira, tenanglah. Apa dengan cara kau mengakhiri hidup, bisa membuat mereka kembali?"


"Lepaskan aku Bagas. Semuanya sudah tak berarti lagi. Bagaimana bisa kalian berdua masih bisa tenang, disaat keluarga kalian juga dieksekusi?!" Wira berteriak sambil meronta agar Bagaskara melepaskan kunciannya.


Apa yang dikatakan oleh Wira memang tak salah. Arjuna dan Bagaskara kemudian mengingat kembali kejadian dimana keluarga mereka yang dieksekusi dihalaman Istana.


Rasa marah dan kecewa jelas mereka rasakan. Tetapi demi membalas ketidak adilan ini, mereka hanya bisa tetap bertahan hidup meski kemungkinan membalas dendam tak pernah ada.

__ADS_1


Mereka sudah dijatuhi hukuman penjara seumur hidup dan tak akan pernah dibebaskan sampai mereka mati membusuk sekalipun.


Para penjahat yang mendengar keributan di sel ketiga pria mantan Jenderal dari Bendera Enam Warna, kemudian menghampiri mereka sambil membawa ember berisi air dingin.


"Apa kalian bertiga bisa diam?!" Tanya seorang petugas penjara sambil mengetuk sel milik ketiga mantan Jenderal itu dengan kesal.


Tetapi Wira bukannya diam malah justru meludah kearah petugas penjara, sampai membuatnya merasa kesal. Beberapa petugas lalu menyeret Wira keluar dan mulai menyiksanya.


Wira mulai dipukuli tanpa perlawan sampai babak belur menggunakan tongkat kayu. Tak hanya itu saja, kepala Wira beberapa kali dimasukkan kedalam ember berisi air sampai membuatnya sekarat.


Melihat Wira yang sudah tak sadarkan diri, para petugas kemudian melempar tubuh Wira kedalam sel dan menyiram Arjuna serta Bagaskara menggunakan air dingin sampai membuat mereka basah kuyup.


"Kalian para tikus Kerajaan seharusnya dulu ikut mati bersama keluarga kalian saja!" Penjaga penjara kemudian meninggalkan sebuah ember berisi makanan yang sangat tidak layak untuk dimakan sebelum meninggalkan sel.


Arjuna mengepalkan tangannya melihat ember berisi makanan sisa, yang harusnya menjadi pakan hewan ternak. Rasa kesalnya terhadap penjaga penjara itu semakin bertambah saat hanya bisa melihat Wira disiksa sampai hampir mati.


Bagaskara sendiri berusaha menyelamatkan Wira dan beruntung nyawa pria itu masih bisa diselamatkan meski kondisinya begitu sangat memprihatinkan.


Bagaskara yang diminta tolong oleh Wira merasa bingung kemudian melihat kearah Arjuna untuk menguatkan mental teman mereka.


"Tidak Wira, kita semua harus tetap hidup agar pengorbanan keluarga kita tak sia-sia..." Arjuna tersenyum hangat sambil menenangkan temannya yang mulai menangis mengingat keluarganya yang telah dieksekusi.


****


Sementara itu kompetisi yang diikuti oleh para prajurit terpilih mulai menunjukkan babak akhir. Kini hanya tersisa 6 prajurit yang masih bisa bertahan.


Mereka tidak lain merupakan Raka, Bayu, Angga, Satria, Arya, dan Fajar. Keenam prajurit itu kini harus bersaing satu sama lain untuk merebut gelar juara yang sudah ada didepan mata.

__ADS_1


Wasit kemudian memanggil Bayu dan Fajar untuk naik keatas arena. Pemilihan lawan kali ini jelas ada campur tangan dari Bayu yang tak ingin melawan langsung Raka, Angga, Satria, dan Arya.


Bayu lebih memilih untuk menetapkan Fajar yang merupakan kontinen terlemah diantara mereka, agar setidaknya bisa masuk kedalam urutan 5 besar.


Fajar yang polos tampaknya belum menyadari kalau Bayu sudah merencanakan cara, untuk menjatuhkan dirinya menggunakan strategi licik.


Dari segi manapun pertarungan antara Fajar dan Bayu jelas tidak seimbang. Fajar sendiri merupakan penyerang jarak dekat, sementara Bayu merupakan ahli formasi.


Posisi Fajar diperburuk dengan senjatanya yang mulai tumpul bahkan dapat hancur kapan saja setelah melewati berbagai pertarungan sengit sebelumnya.


Wasit kemudian segera memulai pertarungan diantara mereka. Bayu dengan sigap segera menjauh menjaga jarak dari Fajar dan mengeluarkan senjatanya yang berupa sebuah kuas.


Fajar yang menyadari kalau Bayu lemah dalam pertarungan jarak dekat langsung berusaha untuk memperkecil jarak diantara mereka.


Bayu yang sudah bisa menebak langkah Fajar lalu tersenyum tipis. Ketika Fajar mendekat, Bayu langsung mengaktifkan formasi jebakan yang sudah dia siapkan.


Ledakan besar segera menghempaskan Fajar sampai membuatnya hampir keluar dari arena. Fajar juga menerima luka bakar cukup serius dan merintih kesakitan.


Bayu yang melihat Fajar mendapat luka serius tak tinggal diam begitu saja. Dia segera memanfaatkan kesempatan ini dan berniat menyiksa Fajar terlebih dahulu.


Sejumlah kertas formasi ledakan kemudian Bayu lempar kearah Fajar sampai membuat ledakan beruntun. "Matilah rakyat jelata!" Bayu tertawa sambil terus melemparkan kertas peledak kearah Fajar.


Kejadian itu jelas membuat para penonton hanya bisa terdiam melihat pembantaian sepihak oleh Bayu. Wajar saja dari segi senjata sampai ranah Kultivasi, Bayu lebih unggul dari Fajar.


Arya memicingkan mata mencoba melihat kondisi Fajar setelah asap tebal perlahan mulai menghilang. Arya menggelengkan kepala setelah melihat Fajar sudah tidak sadarkan diri dengan luka bakar serius.


"Kegigihannya patut diapresiasi. Meski sudah kalah telak, dia masih mencoba agar tubuhnya tidak ambruk ketanah." Arya memuji kegigihan Fajar.

__ADS_1


Wasit yang melihat Fajar sudah tidak sadarkan diri kemudian mengumumkan Bayu lolos ke babak selanjutnya. Fajar sendiri kemudian dibawa oleh para tabib untuk mendapat perawatan.


Bayu tak langsung turun dari atas arena melainkan menantang Arya untuk bertarung dengannya. Wasit pada awalnya sedikit bingung dan melihat kearah para Jenderal sebelum mendapat akhirnya memperbolehkan Bayu untuk bertarung dengan Arya.


__ADS_2