
"Permisi Nyonya. Bisakah saya masuk ke dalam? Ada dua orang pria yang ingin bertemu dengan Anda." Dierja mengetuk pintu sambil berkata dengan nada yang menunjukkan rasa hormat.
Sementara itu dibalik pintu Nyonya Maharani sedang berbincang dengan dua orang kenalannya sambil meminum teh. Jika dilihat maka mereka seperti perkumpulan wanita kelas atas yang memiliki pengaruh masing-masing dibeberapa Kerajaan.
Mendengar suara Dierja dari balik pintu, Nyonya Maharani mengerutkan keningnya sambil meminum teh. Dia belum menerima janji pertemuan sebelumnya, namun sekarang ada dua orang pria yang ingin bertemu dengannya.
"Dierja, apa kau sudah lupa aturannya? Usir saja mereka, aku tak memiliki waktu untuk bertemu dengan orang-orang tidak penting." Nyonya Maharani menolak dengan nada dingin.
Meski suara Nyonya Maharani terdengar samar-samar, Deswara dan Indera bisa menangkapnya. Mereka tentu saja langsung khawatir saat diusir oleh pemilik Asosiasi Perak.
Dierja yang melihat kekhawatiran di wajah Deswara dan Indera langsung menenangkan mereka. Dia tentu tidak akan membiarkan utusan yang dikirim jauh-jauh oleh Arya kembali dengan tangan kosong.
"Maaf sebelumnya, Nyonya. Tetapi mungkin saja Anda akan mendapat berita mengejutkan dari mereka. Saya mohon Anda untuk memikirkannya kembali, sebelum menyesal untuk kedua kalinya."
Senyuman tipis terukir di wajah Dierja setelah memberikan usulan berisi petunjuk kepada Nyonya Maharani. Setiap kata yang dia ucapkan tentu bukan tanpa alasan, tetapi ada hal tersembunyi dibaliknya.
Nyonya Maharani kembali mengerutkan keningnya saat mendengar permohonan dari Dierja untuk tidak terburu-buru dalam memutuskan untuk mengusir dua pria yang ingin bertemu dengannya secara pribadi.
Ada hal yang menarik perhatian Nyonya Maharani ketika mengartikan setiap perkataan Dierja, terutama saat mendengar kalimat terakhir yang diucapkan oleh anak angkatnya tersebut.
"Baiklah biarkan mereka berdua masuk." Nyonya Maharani memberi izin kepada Dierja untuk membawa kedua pria itu masuk kedalam ruangannya.
Dierja mengangguk paham kemudian mengajak Deswara dan Indera masuk kedalam ruangan yang tidak bisa dimasuki oleh orang sembarangan.
Terlihat ada senyum kepuasan tersendiri di wajah Deswara dan Indera saat mendapat izin untuk bertemu dengan pemilik Asosiasi dagang terbesar di Benua Nusantara.
Namun mereka juga langsung menjadi gugup sebab akan bertemu dengan orang yang memiliki kedudukan lebih tinggi dari para Raja, dan ini merupakan persoalan yang cukup rumit karena harus berbicara dengan orang dengan kasta sosial setinggi itu.
__ADS_1
Begitu masuk kedalam Deswara dan Indera langsung disuguhkan dengan interior mahal yang ada didalam ruangan tersebut. Mereka kemudian duduk diatas sebuah bantalan yang sudah disiapkan.
Pandangan Deswara dan Indera kemudian tertuju kearah sebuah tirai pembatas. Mereka secara samar-samar bisa melihat siluet beberapa wanita dibalik tirai tipis tersebut. Hanya melihat siluetnya saja sudah bisa membuat Deswara dan Indera mengetahui bahwa ada kecantikan yang bersembunyi disana.
Dierja duduk beberapa langkah didepan Deswara dan Indera saat menghadap kearah tirai hitam tipis. Menunggu sampai beberapa wanita disana mengajukan pertanyaan.
"Jadi siapa mereka? Dilihat dari manapun sepertinya kedua pria itu berasal dari daerah terpencil." Nyonya Maharani bertanya sambil memperhatikan Deswara dan Indera.
Pakaian sederhana yang dikenakan oleh Deswara dan Indera sudah membuat Nyonya Maharani mengetahui jika mereka bukan berasal dari kalangan atas.
Jujur saja saat melihat kedua pria itu, Nyonya Maharani sebenarnya malas untuk menghadapi mereka sebab sadar tidak ada untung baginya jika kedua pria tersebut meminta bantuan kepadanya.
"Mereka merupakan utusan dari Kota Madya yang dikirim untuk meminta bantuan, karena akan menghadapi krisis pangan." Balas Dierja sambil menyerahkan token Jenderal Bendera Hitam kepada pelayan pribadi Nyonya Maharani.
Dierja mengetahui informasi bahwa Kota Madya akan mengalami krisis pangan, setelah berbincang sejenak bersama Deswara dan Indera sebelumnya saat menuju ruangan milik Nyonya Maharani.
Nyonya Maharani menerima token Jenderal Bendera Hitam yang dibawakan oleh pelayan pribadinya. Dia kemudian memeriksa token itu secara menyeluruh untuk mengetahui keasliannya.
"Oh... Aku mengingatnya, bukankah dia pemuda yang memenangkan kompetisi Militer beberapa bulan lalu?" Nyonya Maharani sedikit mengingat sosok pemuda yang menjadi salah satu Jenderal Bendera Warna hanya karena memenangkan kompetisi Militer.
Sejujurnya Nyonya Maharani merasa geli saat mengingat bagaimana Panglima Tertinggi mengadakan kompetisi untuk mencari seorang Jenderal Bendera Warna yang baru.
Bukan tanpa alasan Nyonya Maharani merasa cara untuk memilih kandidat baru Jenderal Bendera Warna. Untuk menentukan kandidat Jenderal yang bahkan memiliki kedudukan diatas Jenderal biasa, cara yang dilakukan oleh Panglima Tertinggi terbilang cukup konyol.
Hanya dengan sebuah kompetisi bertarung seharusnya bukan merupakan faktor utama untuk memilih seorang Jenderal, apalagi sekelas Jenderal Bendera Warna yang merupakan kekuatan inti Kerajaan Brawijaya.
Nyonya Maharani berpikir seharusnya Panglima Tertinggi memilih Jenderal Bendera Warna yang baru dari beberapa faktor. Contohnya lama bertugas sebagai prajurit, dedikasi kepada Kerajaan, sampai pengalaman serta catatan kontribusi di medan Perang.
__ADS_1
"Benar Nyonya. Keputusan saat ini ada di tangan Anda. Apakah kita harus membantu krisis pangan ini, atau membiarkan ribuan masyarakat Kota Madya tewas secara masal."
Dierja sekali lagi mengingatkan kepada Nyonya Maharani untuk memikirkan jawabannya secara matang. Masalah ini bukan menyangkut satu orang saja, melainkan ribuan orang yang sangat bergantung dengan bantuan Asosiasi Perak.
Nyonya Maharani menghela nafas pelan dan melemparkan kembali token Jenderal Bendera Hitam kepada Dierja. "Maaf tetapi aku tidak bisa membantu kalian dengan hal ini."
Wajah Deswara dan Indera seketika menjadi pucat pasi setelah mendengar jawaban dari pemilik Asosiasi Perak. Harapan mereka satu-satunya untuk mencegah krisis pangan sekarang sudah hilang.
Jika seperti ini maka sudah tidak ada jalan selain mengorbankan beberapa orang untuk menghidupi sisanya. Cara ini memang terdengar sangat diskriminatif, tetapi mereka sudah tidak memiliki pilihan lain untuk bertahan dari krisis pangan ini.
"Nyonya saya minta untuk memikirkan keputusan Anda lagi. Sebelum semuanya benar-benar terlambat dan hubungan yang retak tidak bisa kembali lagi!"
Untuk pertamakalinya dalam hidup Dierja menaikan nada bicaranya kepada sosok ibu angkatnya. Ini terdengar gila dan cukup beresiko. Tetapi Dierja tidak ingin Nyonya Maharani menyesal seumur hidup setelah menolak bantuan untuk masyarakat Kota Madya.
"Jaga nada bicaramu, Dierja! Aku tidak mengerti alasanmu bersikeras untuk membantu mereka. Sekali lagi aku mendengar nada bicaramu ini, kau akan tau akibatnya!" Nyonya Maharani melemparkan cawan miliknya yang melewati tirai dan mengenai kening Dierja sampai berdarah.
Disisi lain Anjani dan Arista yang melihat kerasnya prinsip Nyonya Maharani hanya bisa menggelengkan kepala. Keduanya tidak mengerti apa yang di alami oleh junior mereka sampai menghilangkan rasa kemanusiaan.
"Maharani... Apa kau yakin dengan keputusanmu. Sebaiknya kau memikirkannya kembali." Anjani sebagai yang tertua mencoba untuk menasehati Nyonya Maharani.
Arista menanggapi perkataan Anjani dengan anggukan. Menurutnya masalah ini bukan tentang keuntungan saja, melainkan rasa kemanusiaan untuk menolong ribuan orang.
"Tidak ada yang perlu dipikirkan kembali. Apa kalian tidak ingat jika penduduk Kota Madya sengaja dikirim ke sana untuk disingkirkan. Apalagi ada aturan dari Istana yang tidak memperbolehkan untuk membantu mereka."
Nyonya Maharani bersikeras menolak untuk membantu masyarakat Kota Madya. Karena dia sadar izin dagangnya akan dicabut oleh pihak Istana jika sampai melanggar aturan yang sudah berlaku. Sebenarnya dia ingin menolong, tetapi aturan yang membuatnya terpaksa untuk menolak.
Deswara dan Indera mengepalkan tinju sampai berdarah. Keduanya sekarang mengerti posisi masyarakat Kota Madya sama sekali tidak diperdulikan oleh Kerajaannya sendiri.
__ADS_1
Sementara itu Dierja kini sudah tidak bisa berbuat apa-apa lagi karena gagal meyakinkan Nyonya Maharani. Tetapi dia bukannya menyerah begitu saja.
Mengingat bagaimana kepedulian Arya terhadap masyarakat Kota Madya, Dierja tentu tidak bisa tinggal diam begitu saja. Banyak sekali hutang budi yang dia terima dan tentu harus dibayar.