
Siluman laba-laba merupakan salah satu dari ratusan Siluman yang sudah ada lama di dunia ini, dan membaur bersama para manusia dengan wujud mereka yang lain.
Para Siluman berbeda dengan Hewan Iblis. Mereka bisa merubah wujud menjadi seorang manusia jika berusia lebih dari 500 tahun. Sedangkan Hewan Iblis sama sekali tidak bisa.
Ada dua kesamaan di antara para Siluman dan Hewan Iblis, yaitu ranah kultivasi dan sebuah Kristal Qi atau Dantian yang berada di luar tubuh contohnya seperti Arya Wijaya yang memiliki Dantian di dadanya berupa sebuah Kristal.
Dari teknik Pengelihatan Dewa. Arya Wijaya bisa mengetahui Nyonya Maharani Kanigara merupakan Siluman berusia 1.200 tahun dan berada diranah Jalan Surgawi lapisan ke-5. Butuh 3 tingkat ranah lagi untuk Nyonya Maharani Kanigara mencapai ranah Mystic yang merupakan tingkatan tertinggi yang dapat diraih oleh para Siluman.
Arya Wijaya sekarang sadar betul posisinya yang bagaikan katak dalam sumur. Meski memiliki kualitas tulang Naga Remaja dan telah membangun 10 sisik Naga. Nyonya Maharani Kanigara dapat membunuh Arya Wijaya dengan mudah jika menghancurkan organ dalam pria itu.
'Aku ingin pulang saja. Guru, bolehkah aku mengabaikan tugasmu dan kembali ke rumah. Dunia ini sangat menyeramkan, baru beberapa hari aku sudah bertemu sosok mengerikan seperti wanita di hadapanku.'
Begitu Arya Wijaya memiliki sebuah niatan untuk mengabaikan tugas. Arya Wijaya tiba-tiba merasa ada sebuah aliran listrik yang menyengat dan menjalar ke seluruh tubuhnya.
Sumpah yang pernah Arya Wijaya buat dengan Baduga Maharaja buat bukanlah sebuah hal yang dapat dibuat candaan. Baduga Maharaja pernah membuat segel kutukan di tubuh Arya Wijaya saat anak itu melakukan sumpah agar tidak dilanggar seenaknya.
Arya Wijaya mencengkram tumitnya dengan kuat. Dia tak menyangka kalau Baduga Maharaja benar-benar serius akan memberikan hukuman secara tidak langsung kalau dia akan melanggar janjinya.
Disisi lain Nyonya Maharani Kanigara merasa heran saat melihat Arya Wijaya merintih seolah sedang kesakitan. Hal itu terlihat jelas dari gestur tubuh Arya Wijaya.
"Apa kau baik-baik saja. Mengapa kau merintih kesakitan, Tuan Arya?" Nyonya Maharani Kanigara menyipitkan mata saat merasa ada yang tidak beres dengan pria di hadapannya.
Arya Wijaya melambaikan tangan sambil menahan rasa kesemutan di sekujur tubuh. "Jangan khawatir ini hanya karena penyakit kulitku saja yang kambuh."
Berbohong adalah cara terbaik yang bisa Arya Wijaya sampaikan agar tak dicurigai oleh Nyonya Maharani Kanigara. Arya Wijaya berpikir akan sangat merepotkan sesuai perkataan Baduga Maharaja jika ada orang yang mengetahui ada banyak segel di sekujur tubuhnya.
Nyonya Maharani Kanigara mengangguk pelan seolah mempercayai perkataan Arya Wijaya. Dari getaran dan nada bicara Arya Wijaya membuat Nyonya Maharani Kanigara sudah mengetahui kalau pria itu berbohong.
__ADS_1
Entah apa alasan Arya Wijaya berbohong. Nyonya Maharani Kanigara merasa tertarik dengan apa yang sedang disembunyikan Arya Wijaya sampai berusaha menahan rasa sakit sekuat itu.
Beberapa saat kemudian Arya Wijaya akhirnya dapat merasa lega setelah tubuhnya seolah disetrum dengan tegangan listrik jutaan volt.
"Baiklah Nyonya, apa alasan anda mengundang saya keruangan pribadimu?" Tanya Arya Wijaya sambil memejamkan mata.
Nyonya Maharani Kanigara tersenyum tipis saat Arya Wijaya kembali tenang seperti sebelumnya. "Sebelum itu, aku ingin memberimu sedikit saran. Tidak perlu memaksakan diri untuk bersikap dewasa, aku tau kau masih anak-anak berusia 10 tahun."
Mendengar perkataan wanita cantik dihadapannya Arya Wijaya membuka mata dan melihat kalau wanita itu tersenyum tipis mengetahui dirinya yang masih berumur 10 tahun.
Merasa dirinya tak aman lagi ditempat tersebut. Arya Wijaya kemudian hendak kabur dengan teknik seribu langkah, tetapi sebuah benang tipis kini sudah berada di lehernya dan bisa membuat kepalanya terpenggal kapan saja.
"Bergerak sedikit saja kau bisa melihat tubuhmu tanpa kepala. Jangan berpikir kau bisa melarikan diri dariku."
Seutas benang tipis yang tajam kini berada dihadapan Nyonya Maharani Kanigara. Hanya dengan menarik benang itu sedikit saja maka sudah dipastikan kisah Arya Wijaya akan berakhir sebelum dia memulai debutnya.
Nyonya Maharani Kanigara membenarkan posisi duduknya kemudian menyeringai sambil mengeluarkan krim kecantikan yang dia ambil dari Dierja Aditama.
"Kau bukan dalam posisi yang bagus untuk membuat penawaran denganku. Jika bukan karena krim kecantikan ini dan cerita dari anak buah ku, aku sebenarnya tak ingin repot-repot berurusan dengan bocah berumur 10 tahun sepertimu."
Keangkuhan yang ditunjukkan Nyonya Maharani Kanigara langsung membuat percikan dimata Arya Wijaya. Pria itu sekarang memiliki ambisi baru ingin menjatuhkan keangkuhan wanita cantik dihadapannya.
"Jadi seperti itu... Apa kau ingin aku membuatkan krim kecantikan itu untuk kau jual dan bisa meningkatkan pendapatan usaha milikmu. Kalau begitu bermimpi lah."
Benang tipis seketika mengencang dileher Arya Wijaya. Raut wajah Nyonya Maharani Kanigara kini menjadi hitam saat melihat seseorang secara langsung berani menantang dirinya.
"Kalau kau menolak maka kematian adalah jawaban dariku. Apa kau sudah menghadapi kematian mu? Tentu saja aku tak akan memberikan kematian yang biasa-biasa kepada orang yang berani menantang ku."
__ADS_1
Apa yang dikatakan sebagai oleh Nyonya Maharani Kanigara merupakan sebuah kekeliruan. Berbicara kematian dengan orang yang sudah pernah mati dan mengalami penderitaan selama lima tahun menjalani latihan neraka merupakan sebuah kesalahan besar.
Arya Wijaya menatap tanpa rasa takut kearah Nyonya Maharani Kanigara. "Silahkan saja... Bahkan kalau kau ingin menyiksaku untuk memberimu formula krim kecantikan itu, aku tak akan pernah buka mulut."
Tatapan mata tenang tanpa rasa takut akan kematian dan nada bicara yang penuh kepercayaan diri serta kebanggan dalam setiap kata-katanya, membuat sebuah perasaan asing muncul didalam diri Nyonya Maharani Kanigara.
Nyonya Maharani Kanigara tersenyum tipis dan menarik kembali benangnya yang tajam serta beracun dari leher Arya Wijaya. Hal ini merupakan pertamakali untuk Nyonya Maharani Kanigara saat melihat seseorang menatapnya tanpa rasa takut sedikitpun.
"Kau terlalu serius menanggapi perkataanku, Nak. Sebenarnya aku meminta Dierja memanggilmu untuk membicarakan bisnis."
"Aku ingin kau membuatkan krim kecantikan ini dalam jumlah besar. Kau tak perlu khawatir soal bahan baku, aku bisa menyediakannya dan akan memberi 30% keuntungan penjualan denganmu. Penawaran yang menarik bukan, bagaimana?"
Arya Wijaya menggelengkan kepala menolak tawaran dari Nyonya Maharani Kanigara. Tentu dia menolak karena tidak terima dengan pembagian hasil penjualannya.
"Menurutmu apa aku bodoh? Satu wadah krim kecantikan itu bisa dijual sampai 10 ribu lembar emas bahkan lebih mengingat para wanita menginginkan kecantikan instan."
"60% keuntungan untukku dan 40% untukmu bukanlah penawaran yang buruk bukan? Mengingat bahan baku sangatlah murah. Apalagi aku bersedia meluangkan waktu untuk membuatkan krim kecantikan itu disaat aku sedang sibuk."
Arya Wijaya memang benar-benar sangat sibuk saat ini, apalagi mengingat tugas yang diberikan oleh Baduga Maharaja sangat penting.
Nyonya Maharani Kanigara mengepalkan tangannya dan tak menyangka anak berusia 10 tahun bisa memikirkan keuntungan penjualan sampai sejauh itu.
"Hah... Memang penawaran yang kau buat tidak ada salahnya. Baiklah aku setuju..." Nyonya Maharani Kanigara memasang raut wajah murung tetapi sebenarnya dia sangat senang berpikir kalau Arya Wijaya sedikit ceroboh dan membiarkannya mendapat keuntungan penjualan cukup besar juga nantinya.
Yang tidak Nyonya Maharani Kanigara ketahui sebenarnya ini semua sudah direncanakan oleh Arya Wijaya. Keuntungan Arya Wijaya sangat besar dibandingkan Nyonya Maharani Kanigara, dan disisi lain Arya Wijaya bisa memanfaatkan Nyonya Maharani Kanigara untuk mengumpulkan informasi yang dia butuhkan kedepannya.
Dalam perjanjian ini Arya Wijaya lah pemenang sebenarnya. Krim kecantikan yang dia berikan kepada Dierja Aditama sebenarnya hanyalah pancingan kecil untuk memancing ikan yang lebih besar. Pendidikan yang diberikan oleh Baduga Maharaja kepada Arya Wijaya dalam memanfaatkan seseorang ternyata akan sangat bermanfaat.
__ADS_1
Arya Wijaya dan Nyonya Maharani Kanigara sekarang tertawa diam-diam melihat rekan bisnis mereka sangat ceroboh.