
Beberapa orang koki yang baru saja istirahat, berjalan kembali menuju dapur bersama beberapa orang pelayan untuk menyiapkan hidangan bagi Keluarga Aditama.
Canda tawa mereka langsung hilang saat melihat ada seseorang yang bukan bagian dari mereka berada didapur. Orang itu tampak terkejut saat melihat kedatangan mereka.
Para koki dan pelayan sekarang merasa bingung harus berbuat apa. Semua hidangan sudah raib hanya ada sisa-sisa remahan. Mereka ingin memarahi pencuri itu, tetapi mereka tidak berani karena mengenalinya sebagai tamu besar Tuan mereka.
Melihat kedatangan para koki dan pelayan didapur, Arya tersenyum canggung dengan mulut penuh dengan makanan, sambil membawa dua paha kalkun panggang dikedua tangannya.
Arya meletakkan kembali dua paha kalkun panggang ditangannya keatas meja dan menelan makanan yang ada didalam mulutnya bulat-bulat.
"Aku bisa jelaskan semuanya kepada kalian semua..." Arya tersenyum canggung saat melihat ekspresi semua orang dihadapannya, yang seolah mengatakan bahwa pekerjaan mereka bisa terancam, karena gagal membawakan makanan untuk Tuan Besar mereka.
Kepala koki menggelengkan kepala sambil tersenyum, meski bisa dilihat sebenarnya dia sudah merasa putus asa karena sebentar lagi pasti akan di pecat dari pekerjaannya.
"Tidak perlu dijelaskan Tuan Muda. Kami bisa membuatnya dari awal lagi, meski memerlukan waktu sedikit lebih lama." Ucap Kepala Koki sambil memasang senyuman yang dipaksakan.
Merasa bertanggung jawab atas kekacauan yang dia buat, dan paham masalah apa yang akan dihadapi para koki itu, Arya tak langsung pergi begitu saja dan meminta maaf kepada semua koki di hadapannya.
Raka yang kebetulan ingin dibuatkan minuman kesehatan sehabis lari sore diluar kediaman, dia datang ke dapur dan menemukan sudah ada banyak orang disana, yang sepertinya sedang memiliki masalah.
Seketika Raka dibuat cukup terkejut saat melihat kehadiran Arya disana. Raka kemudian menghampiri Arya tanpa memperdulikan orang lain yang ada di dapur.
"Apa yang Kakak lakukan disini. Bagaimana dengan Kultivasi Kakak, apa semuanya berjalan dengan baik?" Tanya Raka secara berturut-turut merasa senang akhirnya Arya keluar dari kamar.
"Ya, semuanya berjalan dengan baik." Balas Arya dengan canggung sebab merasa tidak enak karena sudah menghabiskan semua makanan di dapur.
__ADS_1
Raka yang melihat raut wajah canggung Arya langsung menyadari kalau ada yang sedang tidak beres. Ketika melihat kearah meja, Raka terkejut karena semua makanan untuk nanti malam sudah habis, dan hanya ada sisa-sisa makanan saja.
"Apa yang sudah terjadi disini. Mengapa semua makanan sudah habis?!" Ucap Raka yang terkejut lalu menengok kearah Kepala Koki.
Mendapat tatapan dari Raka langsung membuat Kepala Koki merasa bingung, antara harus memberitahu yang sebenarnya terjadi kepada Raka atau tidak.
Arya batuk canggung kemudian mulai menjelaskan semuanya yang terjadi kepada Raka, dan Arya mengaku bahwa semua makanan yang ada di dapur dialah yang menghabiskan semuanya.
Mendengar penjelasan dari Arya, Raka hanya mengangguk dengan polos dan tidak harus memperdebatkannya dengan Kepala Koki karena kelalaiannya. Pada awalnya Raka hanya mengira kalau ada seorang pencuri atau mata-mata yang menyelinap masuk kedalam dapur.
"Kalau Kakak yang menghabiskan semua makanannya, itu tidak menjadi masalah... Dan untuk kalian aku akan memberitahu ayah untuk memberikan uang tunjangan lebih."
Perkataan dari Raka langsung membuat semua orang yang bekerja di dapur menjadi sangat senang. Karena alih-alih akan diadukan kepada Tuan Besar, mereka justru malah mendapat uang tunjangan lebih.
Raka kemudian meminta kepada semua orang yang bekerja di dapur untuk kembali bekerja, dan membuat dari awal hidangan meski memerlukan waktu lagi.
"Saat aku mengurung diri didalam kamar, apa ada sesuatu yang terjadi? Misalnya seperti, apa kau melakukan sesuatu saat tidak aku awasi?"
Arya menyipitkan matanya saat bertanya kepada Raka. Arya merasa curiga kalau anak itu melakukan sesuatu yang sudah dilarang dibelakangnya.
Raka langsung gugup seketika saat Arya mencoba untuk menginterogasi. "Ti...Tidak. Semuanya baik-baik saja dan tak ada masalah apapun. Mengapa Kakak mencirgaiku seperti itu?"
Tidak mau diinterogasi dan diintimidasi oleh Arya, Raka kemudian memutuskan untuk pergi dengan alasan ingin membersihkan tubuhnya yang berkeringat setelah latihan.
Arya ingin menghentikan Raka tetapi dia memutuskan untuk mengurungkan niatnya. Arya sekarang benar-benar curiga kalau Raka sudah melakukan sesuatu dibelakangnya, dan dia memutuskan untuk bertanya nanti.
__ADS_1
Karena sudah tidak keluar dari kamar selama 9 hari. Arya memutuskan untuk jalan-jalan dan berhenti di gerbang kediaman milik Keluarga Aditama.
Ada beberapa prajurit, seorang komandan yang tampaknya dikirim oleh Kerajaan untuk melindungi Keluarga Aditama setelah percobaan pembunuhan tempo waktu lalu.
Arya bersandar di gerbang melihat jalan utama Ibukota yang ramai ilalui kuda, dan rombongan pedagang dari luar kota. Para pejalan kaki juga terlihat berlalu lalang di trotoar jalan.
Dari arah gerbang Ibukota sekelompok prajurit yang dipimpin oleh seorang pria gagah dan memiliki aura kepemimpinan yang sangat, melewati jalanan utama menuju Istana.
Ada 15 prajurit kavaleri dan 50 prajurit infanteri, yang dipimpin oleh oleh seorang prajurit yang tampaknya memiliki pangkat cukup tinggi.
Semua orang mulai dari muda sampai tua, yang melihat pasukan itu lewat langsung membungkuk untuk memberi penghormatan.
Saat pasukan itu lewat didepannya Arya. Pandangan Arya dan pemimpin pasukan itu tak sengaja bertemu. Arya hanya menatap pria itu datar.
Melihat seorang bocah usia 10 tahun menatap dirinya datar, membuat Panglima Besar Andika Mahendra menaruh sedikit rasa penasaran terhadap bocah itu.
Andika yang baru pulang dari perbatasan antara Kerajaan Brawijaya dan Kerajaan Pasanggaran, belum pernah menemui seorang anak kecil berani menatapnya secara langsung, alih-alih anak kecil, bahkan orang dewasa saja tidak berani melakukannya.
Menyadari bahwa seorang petinggi militer memandangnya, Arya tersenyum tipis sambil membungkukkan badannya sama seperti para masyarakat lainnya.
Panglima Besar akhirnya mengalihkan perhatiannya dan mempercepat laju kudanya, karena berpikir anak itu sama seperti para penduduk biasanya.
Melihat kepergian para prajurit, sebuah ide untuk masuk kedalam barisan prajurit terlintas dipikiran Arya. "Memulai semuanya dari menjadi seorang prajurit, sepertinya merupakan pilihan yang tepat. Setidaknya aku harus memiliki kontribusi besar untuk Kerajaan agar mendapat kepercayaan dari semua orang, sebelum masuk kedalam pemerintahan."
Arya tersenyum tipis penuh arti setelah memutuskan untuk membuat langkah pertamanya dengan masuk kedalam militer. Tetapi Arya untuk saat ini sepertinya harus menunda ide itu, mengingat pasti ada persyaratan untuk menjadi seorang prajurit.
__ADS_1
Melihat rata-rata para prajurit Kerajaan Brawijaya berada pada Ranah Penyempurnaan Roh dan Jalan Surgawi, menunjukkan memang ada kualifikasi khusus untuk menjadi bagian dari pasukan Kerajaan Brawijaya.