Legenda Dunia Kultivasi

Legenda Dunia Kultivasi
Ancaman Nyata (Revisi Lokal)


__ADS_3

Selama perjalanan menuju kota terdekat beberapa kali Arya Wijaya harus berhadapan dengan sekumpulan bandit. Tetapi jelas para bandit tak sebanding dengan Arya Wijaya dan berakhir tragis.


Arya Wijaya tak menggunakan pedang terkutuk saat melawan para bandit, menurutnya mereka terlalu lemah bahkan hanya perlu satu pukulan untuk menghabisi mereka satu persatu.


Kualitas tulang Naga Remaja yang dimiliki oleh Arya Wijaya serta terbukanya 10 sisik Naga merupakan penyebab kemampuan fisiknya meningkat.


Teriknya matahari membuat Arya Wijaya memutuskan untuk beristirahat sejenak. Arya Wijaya berencana melanjutkan perjalanannya saat sore hari.


Sebenarnya alasan utama Arya Wijaya memutuskan istirahat bukan karena terik matahari, melainkan dia sudah tiga hari melakukan perjalanan tanpa henti menggunakan teknik meringankan tubuh yang pernah diajarkan oleh Hyman Nirwasita.


Arya Wijaya perlu mengisi Qi miliknya kembali karena sudah berlebihan saat menggunakan teknik meringankan tubuh untuk mempersingkat waktu.


Di bawah pohon Arya Wijaya menelan lima butir pill pemulihan Qi dan menyerap khasiatnya dalam posisi duduk berkultivasi.


Setelah selesai memulihkan sebagian besar Qi, Arya Wijaya mengeluarkan tiga Kitab Kuno pemberian Baduga Maharaja, Arga Mahesa, dan Hyman Nirwasita.


Ying Zihan kemudian membaca ketiga Kitab Kuno tersebut untuk menghafal semua teknik beladiri sesuai pesan Baduga Maharaja sebelum dia diperbolehkan membaca satu Kitab lain yang ada didalam cincin dimensi.


Sebuah Kitab dengan sampul putih polos kemudian Arya Wijaya keluarkan. Itu adalah Kitab terakhir yang harus Arya Wijaya pelajari setelah memahami tiga Kitab Kuno.


Meski belum bisa menguasai dan menghafal semua isi dari tiga Kitab Kuno, Arya Wijaya tak dapat menahan diri untuk sekedar mengintip isi Kitab terakhir bersampul putih itu.


"Mari kita lihat apa yang sebenarnya ada di Kitab terakhir ini..." Arya Wijaya tersenyum jahat dibalik topengnya saat akan mengintip isi Kitab putih ditangannya.


"Eh? Kenapa tak bisa dibuka?" Raut wajah Arya Wijaya berubah menjadi bingung saat mencoba membuka Kitab itu yang seolah terkunci.


Berbagai cara sudah Arya Wijaya coba agar dia bisa mengintip sedikit saja isi Kitab putih itu mulai dari membuka paksa sampai membakarnya menggunakan api putih miliknya.


Tetapi Kitab tersebut sama sekali tak mau terbuka bahkan tidak ada kerusakan meski sudah Arya Wijaya buka dengan kasar.

__ADS_1


Arya Wijaya mengatur nafas yang tersengal dan merasa kesal dengan Kitab putih itu. Arya Wijaya dengan kesal kemudian melemparkan Kitab itu ke sungai, tetapi Kitab tersebut terbang kembali kearah Arya Wijaya dan mengenai perutnya dengan keras.


Arya Wijaya menggerutu kesal sambil memegangi perutnya yang terasa sangat sakit. Karena tak mau melihat Kitab itu lagi, Arya Wijaya kemudian langsung menyimpannya kembali kedalam cincin dimensi bersama tiga Kitab Kuno lainnya.


"Apa-apaan itu tadi, dari mana guru mendapatkan Kitab aneh semacam itu?" Arya Wijaya menghela nafas panjang dan bersandar dibawah pohon.


Untuk menghibur diri Arya Wijaya kemudian memilih barang secara acak dari dalam cincin dimensi. Sebuah batu Giok secara tak sengaja Ying Zihan keluarkan.


"Giok apa ini?" Arya Wijaya merasa penasaran dan heran mengapa ada sebuah Giok didalam cincin dimensi.


Awalnya Arya Wijaya berpikir gurunya sangat menyukai batu Giok sampai menyimpan didalam cincin dimensi, tetapi setelah mengingat Baduga Maharaja menitipkan Giok tersebut untuk seseorang membuat Arya Wijaya langsung berkeringat dingin.


Sekarang Arya Wijaya ingat. Baduga Maharaja menitipkan Giok tersebut untuk adiknya, jika sewaktu-waktu Ying Zihan bertemu dengan perempuan bernama Arista Umbara tersebut.


Baduga Maharaja pernah menunjukkan lukisan Arista Umbara kepada Arya Wijaya. Jujur Arya Wijaya benar-benar terpesona dengan kecantikan dari lukisan Arista Umbara, tetapi mengingat sifat wanita itu yang pernah Baduga Maharaja ceritakan membuat Arya Wijaya justru merasa takut.


Tangan Arya Wijaya bergetar memegang batu Giok tersebut. Mengingat Baduga Maharaja sudah tiada dan penyebabnya adalah dirinya. Arya Wijaya merasa dirinya akan menjadi bulan-bulanan Arista Umbara.


Masalah yang dititipkan Baduga Maharaja kepada Arya Wijaya sekarang bertambah satu lagi. Arya Wijaya ingat Baduga Maharaja pernah mengatakan kalau Arista Umbara memiliki Giok kehidupan miliknya, dan jika sewaktu-waktu Baduga Maharaja tiada sudah dipastikan wanita itu akan mengetahuinya.


Arya Wijaya menyimpan kembali Giok tersebut kedalam cincin dimensi kemudian bangkit beranjak dari tempat tersebut melanjutkan perjalanannya. Arya Wijaya berpikir harus bergerak cepat agar jejaknya tak bisa dilacak oleh Arista Umbara yang terkenal dengan kemampuan melacaknya.


Disaat Arya Wijaya sedang memikirkan nasibnya yang sudah mendapat ancaman nyata saat baru menginjakan kaki ke dunia Kultivasi, Arya Wijaya tiba-tiba mendengar suara pertarungan yang tak jauh dari tempatnya berada.


Arya Wijaya merasa penasaran dengan suara pertarungan kemudian memutuskan untuk menghampiri sumbernya.


Dari tempat persembunyian Arya Wijaya mengamati pertarungan antara sekelompok bandit dengan para pengawal yang melindungi sebuah kereta kuda.


Melihat para pengawal kereta kuda yang berguguran dan semakin terdesak, Arya Wijaya yang awalnya tak mau ikut campur akhirnya memutuskan untuk membantuk.

__ADS_1


Saat seorang pengawal sudah sangat terdesak dan mengalami luka cukup parah, seorang bandit terlihat menyeringai bersiap menebas kepala pengawal yang sudah tak berdaya itu.


Tetapi tepat saat bandit itu ingin menebas kepala salah satu pengawal, tiba-tiba Arya Wijaya muncul dan menendang bandit tersebut sampai menabrak pohon kemudian tewas ditempat.


"Hah... Mengapa tak ada satu orang saja yang bisa menahan tendangan ku, padahal aku tak menggunakan banyak tenaga."


Arya Wijaya menghela nafas saat melihat bandit yang baru saja dia tendang langsung tewas setelah menabrak sebuah pohon dengan sangat keras.


"Paman, apa kau baik-baik saja?" Arya Wijaya berbalik melihat kearah pengawal yang terlihat ketakutan saat melihatnya.


Pengawal itu berusaha menyembunyikan ketakutannya dan memaksakan tersenyum sambil mengangguk.


Arya Wijaya menyadari ketakutan di wajah pengawal tersebut tetapi dia tak begitu peduli dan memilih membantu seorang pria yang tampaknya merupakan kepala pengawal.


Kedatangan Arya Wijaya dan bantuan yang dia berikan cukup efektif untuk mengalahkan para bandit yang menyerang rombongan itu.


Setelah semua bandit berhasil dikalahkan dalam waktu singkat, Kepala Pengawal kemudian meminta para tabib yang ada di rombongannya untuk membantu para pengawal yang terluka.


Kepala Pengawal lalu menghampiri Arya Wijaya yang sedang mengutip barang-barang milik para bandit yang tewas.


"Tuan... Terimakasih sudah mau repot-repot menolong kami." Kepala Pengawal berbicara dengan sopan karena menganggap Arya Wijaya adalah seorang Pendekar tingkat tinggi, yang sedang menyamar menjadi seorang anak kecil.


Dipanggil Tuan oleh seseorang yang terlihat 40 tahun lebih tua darinya membuat Arya Wijaya merasa tak nyaman. Dia sudah menyukai tubuhnya yang masih muda, dan tak mau dipanggil seolah dia sudah tua.


"Jangan salah paham. Aku hanya kebetulan lewat saja dan ingin melakukan pemanasan, tak ada niat sedikitpun sebenarnya untuk membantu kalian." Balas Arya Wijaya sambil mengutip cincin dimensi yang dimiliki oleh Ketua Bandit.


Kepala Pengawal tak merasa tersinggung dengan sikap Arya Wijaya kepadanya, justru dia merasa berterimakasih karena sudah ditolong meski Arya Wijaya tak menganggapnya.


Kepala Pengawal kemudian mengajak Arya Wijaya dengan sopan karena Tuannya yang berada didalam kereta ingin bertemu.

__ADS_1


Arya Wijaya yang berpikir masih memiliki banyak waktu kemudian setuju untuk bertemu dengan sosok yang ada didalam kereta kuda.


__ADS_2