Legenda Dunia Kultivasi

Legenda Dunia Kultivasi
Tanda Peringatan Bahaya Kota Madya


__ADS_3

Seorang prajurit menunggangi kuda dengan kecepatan tinggi melewati jalan utama. Raut wajah prajurit itu terlihat sangat gelisah seolah membawa sebuah kabar buruk untuk pemimpinnya.


Prajurit itu berasal dari divisi penjagaan gerbang Kota Madya yang mana di pimpin oleh Fajar saat ini. Mengetahui tempat dimana Fajar sering menghabiskan waktu makan siang, prajurit itu langsung bergegas untuk melaporkan kejadian yang dia lihat sebelumnya diluar tembok kota.


Setibanya di kedai prajurit itu masuk kedalam mencari keberadaan Fajar dan menemukan ketuanya sedang makan bersama seorang gelandangan.


"Maaf Pak sudah mengganggu. Ada situasi darurat yang harus sampaikan." Prajurit itu berkata dengan ragu mengetahui Fajar sangat tidak suka jika waktu makan siangnya diganggu.


Mendapati seorang bawahan ingin membuat laporan kepadanya, Fajar sebenarnya ingin marah tetapi mendengar prajurit itu mengatakan ada situasi darurat, membuat Fajar menekan rasa kesalnya.


"Bicaralah..." Fajar berkata dengan nada datar dan tidak melihat kearah anak buahnya karena fokus kepada makanannya.


Melihat sikap dingin yang ditunjukkan Fajar kepada seorang prajurit membuat sudut bibir milik Arya berkedut. Arya tentu tidak menyukai sikap Fajar kepada bawahannya sendiri.


Ingin rasanya Arya memukul kepala Fajar menggunakan sendok makan ditangannya. Tetapi Arya mengurungkan niatnya saat melihat prajurit itu mulai berbisik kepada Fajar.


Mendengar laporan tentang pergerakan Hewan Iblis yang menunjukkan tanda-tanda akan keluar dari hutan. Mata Fajar membelalak dan kemudian dia segera meletakkan alat makannya.


"Mengapa kau terlihat sangat terkejut. Apa ada sesuatu yang terjadi?" Arya merasa penasaran ketika melihat perubahan ekspresi wajah Fajar.


"Eh? Tidak, semuanya baik-baik saja. Lanjutkan saja waktu makanmu, aku harus pergi terlebih dulu karena ada pekerjaan mendadak." Fajar tertawa canggung dan pamit meninggalkan Arya sendirian.


Raut wajah Fajar kembali berubah menjadi serius begitu keluar dari kedai makan. "Apa kau sudah melaporkan kejadian ini kepada para petinggi yang lain?"


"Saya belum sempat melaporkan kejadian ini kepada para petinggi yang lain, karena sedang terburu-buru." Balas prajurit itu yang membuat Fajar menggelengkan kepala.


Tanpa banyak bicara lagi Fajar menunggangi kuda yang ditunggangi oleh prajurit itu, menuju tembok kota untuk mengetahui laporan yang dia terima.

__ADS_1


Disisi lain Arya menggelengkan kepala melihat bagaimana Fajar sangat buruk menyembunyikan sesuatu. "Pria itu... Bagaimana bisa dia menjadi seorang pemimpin sebuah divisi?"


Arya menggelengkan kepala tidak terlalu memikirkan alasan Fajar tiba-tiba pergi setelah menerima sebuah laporan. Dari pada mengurus pekerjaan orang lain, Arya lebih memilih untuk menikmati setiap makanan yang ada diatas meja.


Tidak berselang lama tiba-tiba terdengar suara terompet sangat nyaring diseluruh penjuru Kota Madya. Suasana di kota seketika menjadi ricuh dimana semua orang panik untuk menyelamatkan diri setelah mendengar suara terompet peringatan tanda bahaya.


Masyarakat segera kembali kerumah dan mengunci diri didalam menghentikan segala kegiatan yang sedang mereka lakukan.


Arya merasa heran saat melihat para pengunjung mulai keluar dari kedai setelah mendengar suara terompet. Tiba-tiba ada seorang pelayan yang menghampiri Arya dan memintanya untuk segera pergi karena kedai akan segera ditutup.


"Tunggu, aku masih belum menghabiskan semua makananku. Setidaknya berikan aku beberapa menit dan setelah itu aku akan segera pergi." Arya terlihat enggan ketika seorang pelayan memintanya untuk pergi meski dengan cara yang sopan.


"Maaf tuan, tetapi kami benar-benar harus menutup kedai. Apa tuan tidak mendengar suara peringatan kota?" Pelayan masih mencoba untuk bersikap sopan menyadari Arya sebelumnya datang bersama Fajar.


Sebelum Arya sempat bertanya mengenai situasi yang sedang terjadi, pelayan itu langsung membawa Arya keluar dan menutup kedai.


Menyadari ada sesuatu yang tidak benar dengan kejadian ini. Arya kemudian bergegas menuju gerbang kota untuk mengetahui penyebab kericuhan yang sedang terjadi.


Setibanya di gerbang kota beberapa prajurit yang mengira Arya masyarakat sipil langsung memintanya segera pergi, untuk mencari tempat perlindungan karena situasi saat ini sangat berbahaya.


"Tunggu, bisakah aku bertemu dengan seorang prajurit bernama Fajar?" Arya berusaha meyakinkan dua orang prajurit yang memegang kedua tangannya untuk bertemu dengan Fajar.


"Tidak ada prajurit disini yang bernama Fajar. Tolong segera pergi dari sini tuan, jangan mempersulit pekerjaan kami." Balas seorang prajurit yang sedikit kesal dengan sikap keras kepala Arya.


Pada akhirnya Arya menurut dan pergi dari gerbang kota yang sepertinya tidak akan dibuka untuk saat ini jika tak mendapatkan izin dari pemimpin kota secara langsung.


Tetapi Arya tentu tidak benar-benar menurut untuk mencari tempat perlindungan. Arya kemudian diam-diam menyelinap naik keatas tembok yang dijaga oleh beberapa prajurit bersenjatakan sebuah busur panah.

__ADS_1


Menggunakan salah satu teknik formasi, Arya bisa dengan mudah menghilangkan hawa keberadaannya dan melihat kejadian yang membuat Kota Madya langsung berada diposisi seolah sedang berperang.


Ratusan bahkan ribuan Hewan Iblis terlihat dari kejauhan berbondong-bondong keluar dari dalam hutan menuju kearah Kota Madya.


Melihat ini tentu membuat Arya merasa terkejut, namun disisi lain Arya sangat senang seolah alam mempermudah dirinya untuk mengisi energi kehidupan miliknya yang sudah terkikis setelah menyelamatkan Putri Amanda.


"Bagus dengan ini setidaknya energi kehidupan milikku bisa kembali pulih." Arya tersenyum lebar dan melompat keluar dari atas tembok kota.


Beberapa prajurit yang melihat seorang warga sipil berada diluar gerbang kota langsung berusaha memanggilnya untuk segera kembali. Tetapi pria itu justru mengabaikan mereka dan tertawa sendiri sambil berjalan kearah ribuan Hewan Iblis.


"Aku pikir dia sudah kehilangan akal sehatnya." Ucap seorang prajurit saat melihat Arya tertawa sendiri, yang diangguki oleh beberapa prajurit lain.


Arya menghentikan langkahnya setelah berada cukup jauh dari gerbang kota, dan menatap lurus kearah ribuan Hewan Iblis yang berlarian menuju kearahnya.


"Teknik Naga, Pernafasan Naga!" Arya menghirup nafas dalam-dalam membuat energi Qi alam yang berada disekitar secara drastis berkurang.


Seluruh tumbuhan yang berada dalam radius 1 kilometer menjadi sedikit layu ketika Qi alam secara besar-besaran diserap oleh Arya. Tak hanya tumbuhan saja yang merasakan hal ini, beberapa hewan bahkan prajurit yang berjaga di atas tembok kota menjadi lemas saat Qi milik mereka dihisap oleh Arya.


Mendapati hampir setengah kapasitas Dantian sudah terisi dengan Qi. Arya kemudian mengaktifkan salah satu teknik perwujudan dari sisik Naga.


"Zirah Naga!" Sebuah zirah perak kemudian muncul menyelimuti seluruh tubuh Arya mulai dari kaki sampai kepala.


Sebuah jubah merah dengan lambang pedang dan naga berwarna hitam, berkibar dibelakang punggung Arya. Dari celah lubang mata dibagian pelindung kepala muncul semburat Api berwarna putih.


Kristal Naga terlihat terpasang dibagian pelindung dada. Jika orang awam melihatnya, mereka hanya akan mengira bahwa kristal tersebut hanyalah aksesoris semata.


Namun jika dilihat lebih detail Kristal tersebut merupakan sumber energi yang terintegrasi langsung dengan zirah milik Arya. Sebuah perisai perak dengan lambang Naga barat kemudian muncul di lengan kiri Arya.

__ADS_1


Arya kemudian menarik Pedang Kematian yang sudah sangat lama tersimpan dan tidak pernah digunakan. Ketika pedang ditarik dari sarungnya, aura membunuh langsung menyebar membuat tanaman disekitar Arya menghitam dan mati.


__ADS_2