Legenda Dunia Kultivasi

Legenda Dunia Kultivasi
Berkunjung Setelah 10 Tahun


__ADS_3

Tengah hari Arya, Amanda, dan Gardapati sudah bisa melihat gerbang masuk utama Ibukota Wirabhumi. Ada satu hal yang mencolok kali ini, dimana banyak saudagar kaya dan masyarakat beramai-ramai meninggalkan Ibukota.


Melihat kejadian ini Arya sudah bisa menebak jika informasi mengenai rencana kudeta yang dilakukan pamannya, sudah menyebar ke telinga banyak orang.


Tetapi disekitar Ibukota, Arya tidak menemukan tanda-tanda pasukan milik pamannya. Hal ini membuktikan jika rencana penyerangan setidaknya tidak akan dilakukan dalam waktu dekat.


"Mereka sekarang berada di perbatasan selatan. Lebih tepatnya sebuah kota yang sudah dikuasai salah satu sekte aliran hitam terbesar di Kerajaan Brawijaya."


"Masih butuh waktu satu bulan untuk mereka mencapai Ibukota." Ucap Amanda dengan ringan setelah melihat raut wajah Arya yang sedang mengidentifikasi keadaan Ibukota saat ini.


Mendengar perkataan Amanda tentu sangat membantu Arya. Pasalnya wanita tersebut memiliki pancra indera yang sangat baik dan bisa mendeteksi keberadaan seseorang berapapun jauhnya.


Tetapi raut wajah Arya menjadi kusut mengetahui jika Amanda masih saja membaca pikirannya, padahal sudah jelas dia larang sejak tadi pagi.


"Bisakah kau tak terus-menerus membaca pikiranku?" Tanya Arya sambil menatap Amanda dengan tatapan ikan asin.


Amanda tertawa canggung lalu mengalihkan pandangan dari Arya sambil mengangguk. Meski wanita tersebut mengerti jika tindakan yang lakukan sedikit salah, tetapi sebagai seorang wanita yang sudah diberi janji manis, dia tentu akan selalu curiga dengan setiap gelagat kekasihnya.


Arya hanya bisa menggelengkan kepala dan meminta Gardapati menggunakan ilusi sementara. Hal ini perlu dilakukan agar tidak membuat heboh jika seekor Singa berperawakan besar tiba-tiba datang.


Gardapati menghela nafas kasar dan menggunakan ilusi agar membuat dirinya tampak seperti seekor kuda, meski sebenarnya merasa hal ini sangat merepotkan.


Mereka kemudian mendekati pos pemeriksaan yang sudah dijaga ketat oleh pasukan keamanan. Banyak orang yang berdesakan ingin keluar dari Ibukota tetapi dicegah oleh para pasukan.


Tindakan pencegahan semacam ini memang sebenarnya perlu dilakukan. Selain demi keselamatan orang-orang tersebut, pihak keamanan juga tidak ingin jika ternyata ada seorang mata-mata diantara kerumunan masa yang ingin melaporkan informasi kepada musuh.


Arya dan Amanda diberhentikan oleh pasukan yang berada di pos untuk melakukan pemeriksaan. Sementara Gardapati sama sekali tidak diperiksa karena hanya di anggap sebagai kuda biasa.

__ADS_1


Mendapatkan perlakuan diskriminatif dari sekumpulan pasukan manusia itu, tentu Gardapati merasa tersinggung karena tidak diperiksa sama seperti Arya dan Amanda.


Disisi lain Amanda juga tidak senang jika harus diperiksa oleh para pasukan yang kebanyakan dari mereka adalah pria. Sebagai pemilik tubuh suci dia tidak ingin sembarangan orang menyentuh dirinya meski sehelai rambut.


Melihat Amanda dan Gardapati memiliki permusuhan dimata mereka kepada pasukan keamanan. Arya memutuskan untuk segera mengeluarkan Token Jenderal miliknya.


Arya sengaja melakukan hal ini agar Amanda dan Gardapati tidak membuat masalah di tempat tersebut, yang bisa menimbulkan kepanikan masal.


Kepala pasukan keamanan segera menerima Token Jenderal milik Arya. Mengetahui jika Token tersebut asli, tidak membuat dirinya menunjukan rasa hormat kepada orang yang jabatannya lebih tinggi darinya.


"Heh... Aku tak menyangka seorang Jenderal gadungan akan dipanggil langsung oleh Panglima Tertinggi..." Sindir kepala pasukan yang membuat anak buahnya tertawa.


Mendengar perkataan kepala pasukan keamanan tentu membuat Arya merasa bingung. Mengapa dirinya mendapat julukan Jenderal gadungan, padahal dia sudah mengikuti turnamen yang sah tanpa kecurangan.


"Kau!" Amanda hampir naik pitam dan ingin membuat orang-orang yang sudah mengejek kekasihnya menjadi bubur daging karena tidak terima.


Dengan menggunakan kemampuan membaca pikiran. Amanda bisa mengetahui jika seluruh pasukan keamanan itu memandang rendah Arya.


Kepala pasukan dan anak buahnya langsung berkeringat dingin saat merasakan niat membunuh sangat pekat dari seekor kuda yang juga mirip seperti seekor keledai.


Arya langsung menepuk punggung Amanda dan Gardapati sebelum masalahnya menjadi lebih rumit. Dia kemudian memutuskan untuk masuk kedalam sambil mengabaikan pasukan keamanan tersebut.


Setelah melewati pos keamanan dan masuk ke dalam Ibukota. Terlihat raut ketidak puasan Amanda dan Gardapati atas tindakan Arya yang membiarkan kerumunan lalat menghinanya.


"Mengapa kau membiarkan mereka begitu saja?" Amanda berdecak kesal saat mengingat pikiran sekumpulan lalat tadi yang merendahkan Arya.


Saat membaca pikiran pasukan keamanan sebelumnya. Amanda mengetahui jika kebanyakan orang dari luar Kota Madya merasa Arya melakukan kecurangan saat mengikuti turnamen.

__ADS_1


Atas kejadian ini semua orang merasa jabatan yang diberikan kepada Arya sebagai Jenderal Pasukan Bendera Hitam tidak sah. Mereka menganggap pria tersebut seperti parasit yang asal-usulnya tidak jelas.


"Apa kau mengira aku benar-benar membiarkan mereka begitu saja?" Arya menyeringai tipis dan membuat Amanda mengerti apa maksudnya.


Jelas seringai tersebut bukan pertanda baik mengingat sikap Arya di masa lalu yang sangat buruk. Hal ini membuat Amanda sedikit senang tetapi disisi lain waspada jika seandainya pria tersebut justru kembali seperti saat sebelum bertemu dirinya di masa lalu.


Menyadari kekhawatiran dimata Amanda membuat Arya tertawa kecil. "Apa sekarang gadis kecil ini takut kepadaku?"


Amanda berdecak kesal menyadari kekhawatiran terhadap gelagat aneh Arya tidak berarti. Dia kemudian mencubit pinggang pria tersebut sampai membuatnya merintih kesakitan.


Tak berselang lama mereka akhirnya sampai didepan halaman Asosiasi Peran. Tempat pertama yang ingin mereka atau sebenarnya Arya kunjungi setelah sekian lama.


"Sudah berapa lama aku tak mengunjungi tempat ini?" Arya tersenyum sambil memandangi bangunan Asosiasi Perak yang sangat megah dari bangunan lain.


Disisi lain Amanda menatap datar kearah Arya yang sedang tersenyum cerah seakan-akan ingin segera menemui seorang wanita.


Tetapi Amanda sangat percaya diri jika pemilik Asosiasi Perak tidak sebaik dirinya dari berbagai aspek. Yang membuatnya tidak begitu khawatir jika Arya akan tertarik kepada wanita tersebut.


Mereka kemudian berjalan menaiki anak tangga dengan Gardapati yang berubah menjadi Singa seekor kucing dan hinggap dipundak Arya.


Sementara itu disisi lain tiga orang wanita terlihat sedang menikmati acara minum teh mereka seperti biasa. Mereka tidak lain merupakan Nyonya Maharani, Arista, dan Anjani.


Nyonya Maharani tiba-tiba berhenti saat hendak meminun teh. Entah mengapa dia merasa ada kehadiran yang tidak asing sedang berjalan mendekat.


"Kau mau kemana?" Anjani bertanya saat melihat Nyonya Maharani tiba-tiba beranjak dari tempat duduk dan berjalan kearah jendela.


Nyonya Maharani mengabaikan pertanyaan dari Anjani dan melihat ke arah luar jendela untuk memastikan siapa orang yang membuatnya menjadi gelisah.

__ADS_1


Mata Nyonya Maharani membelalak saat melihat seorang pria yang sangat familiar dan sudah dia tunggu selama bertahun-tahun sedang berjalan menuju pintu masuk Asosiasi Perak.


Tetapi dia merasa asing melihat orang asing mengenakan jubah hitam tebal yang tampaknya seorang wanita, berjalan disamping Arya.


__ADS_2