
Perjalanan menuju Ibukota kini hanya memerlukan sehari perjalanan lagi, setelah Arya menempuh perjalanan selama dua hari tanpa berhenti sekalipun.
Arya perlahan mulai merasa bosan saat harus berlari sepanjang waktu. Dia kemudian memutuskan untuk istirahat sejenak saat melihat sebuah danau yang belum dijamah oleh siapapun.
Pria itu kemudian menuju ketepian danau mengambil sejumlah air menggunakan tangan dan diminum untuk melepas rasa dahaganya.
"Hah... Segarnya, bahkan air yang pernah aku minum tak pernah senikmat air yang ada di danau ini." Arya tersenyum puas kemudian menyimpan sejumlah air di danau tersebut kedalam botol minumnya.
Berpikir kalau akan sangat disayangkan jika tak berendam di danau itu, Arya memutuskan singgah lebih lama lagi. Meski sekarang dirinya merupakan seorang Pendekar tingkat tinggi yang tak perlu membersihkan tubuhnya, tetapi tetap saja Arya berasal dari dunia modern yang memiliki kebiasaan untuk membersihkan diri.
Arya kemudian melepaskan sebagian pakaian dan hanya mengenakan celana pendek sebelum melompat ke danau lalu berenang sebelum mengambang di tengah sungai menghadap langit biru.
"Andai aku bisa selalu menikmati waktu untuk santai seperti ini, pasti hidup akan terasa lebih menyenangkan." Ucap Arya sambil mengulurkan salah satu tangannya ke langit dan mencoba menggenggam matahari.
Merasa puas setelah menikmati waktu bersantai di danau selama seharian, Arya memutuskan menyudahinya dan berenang ketepian danau.
Sebelum Arya sempat ketepian, tiba-tiba terdengar suara seperti ada orang lain yang menceburkan diri kedalam danau dari sisi berbeda.
"Siapa itu?" Arya yang merasa penasaran kemudian berenang menghampiri sumber suara dan berhenti saat dia melihat seseorang dari kejauhan tengah berendam.
Arya seketika tertegun dan menelan salivanya saat melihat ada seorang wanita cantik sedang berendam dengan hanya menggunakan sebuah selendang putih.
Saat melihat wajah wanita cantik tersebut Arya langsung tersadar. Dengan menggunakan teknik pengelihatan Dewa, Arya mendapati bahwa wanita cantik tersebut merupakan siluman ular putih. Mengetahui umur siluman ular putih yang berusia 10.000 tahun, Arya kembali mengingat sosok ketiga gurunya yang memiliki usia yang sama dengan sosok siluman ular putih tersebut.
__ADS_1
"Sepertinya aku pernah melihat dia, tapi dimana?" Arya mencoba mengingat wajah dari wanita cantik tersebut. Dan beberapa saat kemudian Arya akhirnya ingat, bahwa dia pernah melihat lukisan wajah wanita cantik tersebut saat ditunjukkan oleh Baduga Maharaja.
Sekarang semuanya sudah jelas untuk Arya. Wanita cantik yang sedang dia lihat ditepian danau merupakan adik seperguruan yang pernah diceritakan oleh gurunya. Arya sendiri masih bingung dimana ketiga gurunya berguru, dan sampai sekarang masih mencari taunya.
"Sial, kenapa aku bisa bertemu dengan wanita gila itu ditempat ini?!" Firasat Arya langsung menjadi buruk dan dia ingat bahwa wanita cantik itu pasti sedang mencari dirinya, karena merasa bahwa dirinya sudah membunuh Baduga Maharaja.
Tidak mau terlibat masalah dengan siluman ular putih yang untuk saat ini memiliki level diatasnya, Arya memutuskan untuk mengendap pergi.
Sayangnya kehadiran Arya seketika diketahui oleh Arista Umbara. Melihat kehadiran seorang pria dan merasa sudah diintip, Arista merasa tidak terima harga dirinya sudah ternoda.
Arista dalam waktu hitungan detik sudah memakai pakaian dan menggunakan selendang putih miliknya untuk menjerat kaki pria yang sedang berusaha melarikan diri darinya.
Melihat selendang milik Arista memanjang dan mengejarnya. Arya menjadi sedikit panik kemudian berusaha menghindar.
Arya terbatuk karena tak sengaja menelan air saat tubuhnya ditarik paksa oleh Arista. Saat Arya mengangkat wajahnya ujung sebuah pedang tajam seketika menempel di lehernya.
"Berani-beraninya manusia rendahan sepertimu mengintip tubuh indahku saat aku sedang berendam!" Arista terlihat kesal dan sudah berniat membunuh Arya secepatnya.
Arya menelan salivanya kembali saat melihat pedang milik Arista yang tidak bisa dia identifikasi tingkatannya, sekarang menempel di lehernya. Arya sedikit ragu jumlah sisik Naga yang dia miliki saat ini, dapat menghalau ketajaman pedang yang bisa saja menembus kulitnya.
"Nona, tunggu sebentar. Tolong redakan amarahmu, kita bisa membicarakan semuanya baik-baik." Pinta Arya sambil tersenyum canggung.
Melihat senyuman dari pria tampan seperti Arya sempat membuat keteguhan hati Arista goyah. Arista sempat mengingat wajah Hyman salah satu teman Kakaknya yang memiliki wajah tampan. Tetapi jika dibandingkan dengan pria yang saat ini dia temui, Hyman bahkan kalah jauh.
__ADS_1
Tetapi Arista seketika tersadar dan mengingat mendiang Kakak yang sangat di sukai telah tewas sebelas tahun yang lalu tanpa alasan jelas, bahkan mayatnya tak bisa Arista temukan saat dia mengunjungi bekas kediaman Baduga Maharaja, beberapa pekan yang lalu.
"Tak perlu ada yang dijelaskan aku sekarang sedang sibuk dan lebih baik kau lenyap saja dari muka bumi!" Ucap Arista dengan emosi.
Arista kemudian mengayunkan pedangnya untuk menebas kepala milik Arya, tetapi Arya langsung melompat kebelakang menghindari serangannya.
"Nona, tolong tenanglah. Lagipula ini semua juga bukan salahku. Danau ini merupakan tempat umum yang bisa dikunjungi siapa saja bukan? Jadi jangan salahkan aku karena tak sengaja melihatmu sedang berendam."
Melihat lekukan tubuh milik Arya membuat niat Arista kembali goyah. Apalagi saat dia melihat roti sobek dan rambut basah milik pria itu, yang membuat wajahnya sedikit memerah.
Kembali Arista menguatkan niat dan mengingatkan kembali kepada dirinya sendiri kalau tak ada pria selain kakaknya yang bisa mengisi bagian didalam hatinya.
"Kau manusia biadab tak tau malu sudah sepantasnya lenyap dari pada menodai seluruh wanita di dunia ini!" Ucap Arista yang menyamakan Arya dengan salah satu teman kakaknya yaitu Arga Mahesa, yang memiliki banyak istri.
Arya yang menyadari perkataan dari Arista kemudian memakai pakaiannya kembali dalam hitungan detik, sebelum mencoba cara untuk melarikan diri dari Arista.
"Nona, aku tak seburuk yang kau pikirkan. Bahkan sekalipun aku tak pernah berhubungan dengan seorang wanita." Arya mencoba sekali lagi untuk menenangkan amarah adik seperguruan kakaknya.
"Tutup mulut busukmu!" Arista lagi-lagi menanggapi perkataan Arya dengan negatif. Dia kemudian melepaskan sebuah serangan hingga membuat debu bertebaran.
Setelah kabut asap menghilang terlihat tempat dimana Arya berpijak sebelumnya retak. Tetapi Arista langsung terkejut saat Arya sudah menghilang dan kabur darinya.
Merasa harga dirinya akan ternoda kalau tak berhasil membunuh pria itu, Arista kemudian mengejar Arya dan mengesampingkan sejenak pencarian atas pelaku pembunuh kakaknya. Arista masih belum sadar bahwa orang yang selama ini dia cari dan dia pembunuh kakaknya merupakan pria yang saat ini sedang dia kejar.
__ADS_1
"Wanita itu benar-benar sudah gila, persis seperti yang pernah guru ceritakan kepadaku!" Arya berdecak kesal saat melihat Arista sudah berhasil menyusulnya dari belakang.