
Arga Mahesa segera bangkit setelah dibuat terlempar keluar oleh Arya. Arga Mahesa kemudian menyeka pipinya yang sempat tergores pedang kayu milik Arya dan melihat darah segar ditangannya.
Sorot mata Arga Mahesa berubah menjadi tajam saat melihat enam pisau terbang melesat kearahnya. Hanya dengan mengibaskan sebelah tangan seketika membuat pisau terbang itu jatuh tanpa tenaga dihadapan Arga Mahesa.
"Menarik..." Arga Mahesa tersenyum tipis ketika melihat mata pisau terbang yang dilemparkan oleh Arya terbuat dari batu yang sudah diukir dan diasah.
Pandangan Arga Mahesa kemudian tertuju kearah Arya yang sedang berjalan keluar dari pintu kamar yang sudah hancur dengan mata tertutup.
Saat Arya ingin melesat kearah Arga Mahesa, seseorang dari belakang langsung menepuk pundaknya dan membuat Arya seketika terbangun dari tidurnya.
Arya seketika bisa melihat seorang pria berusia sekitar 50-an tahun sedang memandangi nya sambil tersenyum tipis. Arya juga dapat melihat luka sayatan baru di wajah pria itu.
"Hentikan Arya, kamu sudah menakut-nakuti adikku..."
Begitu Arya berbalik dia melihat Baduga Maharaja berdiri di belakangnya bersama seorang pria yang memakai topeng Giok Hitam.
Melihat raut wajah Arya yang kebingungan tidak mengetahui kejadian barusan, seketika membuat Baduga Maharaja sadar kalau Arya menyerang Arga Mahesa saat berada di alam bawah sadar.
Hyman Nirwasita tertawa kecil saat melihat luka di wajah Arga Mahesa. "Sungguh memalukan, hanya menghadapi anak kecil dengan pedang kayu saja kamu sampai mendapatkan luka. Apakah kamu masih layak disanjung sebagai Pendekar Naga?"
Hyman Nirwasita tidak bisa menahan tawanya saat melihat raut wajah kecut Arga Mahesa. Bagaimana bisa seorang Pendekar yang namanya selalu dielu-elukan seluruh negeri bisa mendapatkan luka sayatan dari pedang kayu?
Hanya sedikit orang saja yang dapat melukai Arga Mahesa dan belum tentu orang-orang bisa melukai pria itu meski menggunakan senjata tingkat Legenda sekalipun, karena Arga Mahesa memiliki kulit sangat keras seperti seekor Naga.
__ADS_1
Bukan tanpa sebab Arga Mahesa mendapat julukan Pendekar Naga. Hal ini dikarenakan ia memiliki sebuah Dantian kuno yang hanya dimiliki oleh para Dewa, dimana Dantian nya sendiri merupakan Dantian Naga.
Arga Mahesa juga memiliki bakat kultivasi yang sangat tinggi bahkan dia memiliki salah satu dari lima kitab tanpa tanding di seluruh daratan.
Kini citra Arga Mahesa tampaknya sudah tercoreng setelah seorang anak kecil dengan Dantian hancur bisa membuat luka sayatan diwajahnya yang belum tentu bisa dilakukan oleh seorang Pendekar ranah Kaisar sekalipun.
"Bisakah kamu tutup mulut busukmu itu, Hyman Nirwasita?" Arga Mahesa tampaknya sudah benar-benar kesal dan tidak terima setelah seorang bocah cacat membuat luka di wajahnya.
Sebuah pedang tiba-tiba muncul digenggaman tangan Arga Mahesa. Perasaan kesalnya tidak dapat dibendung lagi dan ia melihat kearah Arya dengan raut wajah menyeramkan.
Tidak perduli Arya Wijaya masih kecil atau sudah dewasa, Arga Mahesa yang sudah tersulut emosinya hanya ingin melenyapkan langsung anak itu sekarang agar namanya sebagai Pendekar Naga bisa bersih kembali.
Hanya dalam satu tarikan nafas Arga Mahesa tiba-tiba sudah berada di dekat Arya dan mengarahkan tebasan kearah anak yang tidak sengaja melukai wajahnya tadi.
Lima rantai besi lalu muncul dari dalam tanah dan mengikat leher, kaki, serta kedua tangan Arga Mahesa hingga membuatnya tidak bisa bergerak sedikitpun.
Arga Mahesa dengan kesal meronta-ronta untuk membebaskan diri dari rantai milik Baduga Maharaja yang mengunci pergerakannya. Namun meski telah menggunakan seluruh kekuatan yang dia miliki tetap saja tidak cukup untuk menghancurkan rantai tersebut.
"Lepaskan aku! Biarkan aku mencincang tubuh anak itu!" Ucap Arga Mahesa dengan keras sambil memandangi Arya dengan tatapan mata kesal.
Melihat seorang Pendekar tingkat tinggi ingin membunuhnya, tentu membuat Arya yang merupakan manusia biasa merasa takut dan langsung bersembunyi dibelakang tubuh Baduga Maharaja.
Hyman Nirwasita yang melihat Arga Mahesa mengamuk karena seorang anak kecil berusia 5 tahun hanya bisa tertawa sebelum berjalan pergi memasuki kediaman.
__ADS_1
"Sampai sekarang tampaknya sifat pemarah mu masih belum bisa dihilangkan, Arga... Malam ini kamu tidur diluar." Ucap Baduga Maharajasebelum pergi bersama dengan Arya.
Arya sempat melihat kembali kearah Arga Mahesa dan langsung mendapat tatapan membunuh dari pria itu. Jika saja tidak ada Baduga Maharaja di sampingnya, mungkin saja tubuh Arya sudah hancur menjadi bubur hanya karena tekanan yang diarahkan oleh Arga Mahesa kepadanya.
Malam itu suara teriakan dari mulut Arga Mahesa yang berteriak kesakitan menggema keras diseluruh kawasan hutan. Selain merasakan panas dari rantai yang mengekang tubuhnya, Arga Mahesa juga merasa sangat marah karena ditinggal seorang diri diluar rumah dan dibiarkan kehujanan, tanpa diberi tempat berteduh.
Hingga saat pagi harinya Arga Mahesa terlihat sudah terkapar setelah energi Qi miliknya diserap sampai hampir kering oleh rantai dari teknik milik Baduga Maharaja. Tentu ini bukan kali pertama Arga Mahesa di rantai oleh Baduga Maharaja, tetapi rasa dari penyiksaan nya masih saja dapat dia rasakan sampai sekarang.
Teknik inilah yang membuat Arga Mahesa dan Hyman Nirwasita merasa takut kepada Baduga Maharaja, karena hanya pria itulah yang dapat membuat dua Pendekar tingkat tinggi seperti mereka tunduk kepadanya dengan mudah.
Nafas Arga Mahesa mulai memburu dan keringat dingin mulai keluar dari wajahnya yang pucat. Dari pada mendapat siksaan dari Baduga Maharaja, Arga Mahesa berpikir mati adalah hal yang paling baik untuknya. Tetapi jelas hal itu sekarang tidak dapat dia lakukan.
Baduga Maharaja, Hyman Nirwasita, dan Arya Wijaya datang menghampiri Arga Mahesa. Mereka bertiga dapat melihat kondisi pria itu yang sudah seperti tahanan penjara kelas berat.
Tubuhnya ingin ambruk ke tanah tetapi rantai yang mengikatnya membuat Arga Mahesa tetap berada dalam kondisi terduduk sambil menghadap kebawah.
"Apa pikiranmu sudah lebih jernih sekarang, Arga? Atau kau masih perlu waktu lebih lama lagi? " Tanya Baduga Maharaja sambil memandangi Arga Mahesa yang terduduk lemah tak berdaya.
Dengan energi yang tersisa Arga Mahesa hanya bisa mengangguk pelan. Tentu saja hanya dalam semalam emosinya dapat diredam kembali, tetapi sebagai gantinya dia harus merasakan siksa seperti seratus tahun.
Baduga Maharaja kemudian menghilangkan rantai berduri ditubuh Arga Mahesa hingga membuat pria itu bisa kembali bernafas lega.
Luka tusukan dari rantai berduri yang melilit tubuh Arga Mahesa semalaman seketika mengeluarkan asap putih sebelum lukanya menghilang dengan cepat.
__ADS_1
Energi Qi dalam jumlah besar segera masuk kedalam tubuh Arga Mahesa untuk memenuhi kembali Dantian nya yang sempat dikuras habis oleh Arga Mahesa.