Legenda Dunia Kultivasi

Legenda Dunia Kultivasi
Dua Teknik Mematikan (Revisi Lokal)


__ADS_3

Kondisi kediaman milik Dierja Aditama sekarang benar-benar sangat kacau. Banyak mayat para penjaga dan pelayan bergelimpangan dimana-mana.


Seorang pembunuh Topeng Emas terlihat hendak membunuh seorang penjaga yang sudah kehilangan satu tangan setelah pertarungan mereka berdua.


Saat hendak menghunuskan pedang, pembunuh itu menghentikan aksinya saat melihat sepasang mata merah menatapnya dari lorong yang gelap.


Kilat petir yang tiba-tiba muncul membuat pembunuh itu dapat melihat seorang anak laki-laki mengenakan pakaian hitam, topeng wajah perak, berdiri diam menatap kearahnya.


Pembunuh bayaran Topeng Emas kemudian mengalihkan pandangan kearah sebilah pedang yang ada ditangan anak laki-laki tersebut.


"Pedang yang bagus... Nak, seorang anak kecil sepertimu seharusnya tidak memegang sebuah pedang tajam. Berikan saja kepadaku dan akan kubalas dengan kematian yang tak menyakitkan untukmu."


Mendengar perkataan pembunuh itu Arya Wijaya hanya tersenyum dan berjalan mendekati pria tersebut. Tetapi setelah mendekat Arya Wijaya justru berjalan melewatinya sampai membuat emosi pembunuh bayaran itu tersulut.


Pembunuh bayaran itu kemudian berbalik kebelakang dan ingin mencegat Arya Wijaya. Tetapi tiba-tiba dia merasakan rasa dingin pada bagian leher.


Saat mengusap leher, pembunuh bayaran itu terkejut melihat telapak tangannya berlumuran darah. Dari luka sayatan di leher pembunuh bayaran itu muncul sebuah tulisan kutukan yang dengan cepat menyebar ke seluruh tubuh, sebelum membunuh pria itu dengan menghentikan detak jantung secara paksa.


Tubuh pembunuh bayaran Topeng Emas kemudian ambruk ke lantai dan membuat raut wajah penjaga yang menyaksikan kejadian tersebut menjadi pucat.


Gerakan pedang yang dilakukan Arya Wijaya sangat cepat sampai membuat pembunuh bayaran itu tidak menyadari serangan yang dia lancarkan, hingga membuat pembunuh bayaran itu tewas dalam kebingungan.


Ditemani suara hujan dan petir Arya Wijaya memulai pembersihan dikediaman milik Dierja Aditama. Arya Wijaya akan mencari dan ketika melihat para pembunuh bayaran Rumah Mawar Hitam dia langsung menghabisi mereka.


****


Sementara itu tiga pembunuh bayaran Topeng Giok Hijau berdiri menunggu diatas atap kediaman Dierja Aditama Mereka hanya menyaksikan pembantaian sambil menunggu laporan dari anak buah mereka.


Ketiganya sangat yakin dan percaya diri Dierja Aditama akan benar-benar tewas, mengingat sebagian penjaga tidak sadarkan diri dan sangat mudah bagi kelompok mereka menghabisi mereka semua.

__ADS_1


Tetapi ketiga pembunuh bayaran Topeng Giok Hijau menjadi kesal karena anak buah mereka tak kunjung datang dengan membawakan mayat Dierja Aditama


Firasat mereka bertiga menjadi tidak enak saat melihat ada sebuah kepala anggota mereka menggelinding dihalaman rumah tepat dihadapan mereka.


Dari lorong gelap seorang anak laki-laki yang tidak asing lagi untuk mereka muncul dan berdiri dihalaman rumah.


"Kalian membuat masalah dengan orang yang salah." Arya Wijaya mengacungkan pedangnya dibawah guyuran hujan kearah tiga pembunuh bayaran Topeng Giok Hijau yang berada diatap rumah.


Salah satu pembunuh bayaran Topeng Giok Hijau yang beberapa hari lalu sempat menyamar menjadi Kepala Pengawal mengepalkan tangannya saat melihat Arya Wijaya baik-baik saja.


"Racun milikmu kelihatannya tidak cukup kuat untuk melumpuhkan anak itu." Ucap bekas Kepala Pengawal kepada pembunuh bayaran wanita di sampingnya.


Pembunuh bayaran Topeng Giok Hijau yang sempat menyamar menjadi Kepala Pengawal, dia kemudian menjelaskan bahwa Arya Wijaya sangat berbahaya setelah dia melakukan pengamatan selama beberapa hari.


Mengerti apa yang dikatakan oleh kakak tertua mereka. Kedua pembunuh bayaran Topeng Giok Hijau lainnya mengangguk pelan.


"Mengapa kau menutup mata dan menancapkan pedangmu? Apa kau sudah pasrah menghadapi kematian, atau sedang ketakutan, Nak?"


Salah satu dari pembunuh Topeng Giok Hijau bertanya sambil tertawa diikuti oleh dua pembunuh lainnya saat berpikir Arya Wijaya sudah kehilangan keberaniannya.


Arya Wijaya menggelengkan kepala dan membuka mata. "Aku hanya berdoa kepada Tuhan semoga mengampuni dosa kalian bertiga, karena malam ini adalah saat terakhir kalian hidup."


Perkataan Arya Wijaya yang diucapkan dengan tenang membuat ketiga pembunuh Topeng Giok Hijau menjadi sangat kesal.


Ketiga pembunuh Topeng Giok Hijau kemudian memanggil seluruh pembunuh yang masih tersisa dikediaman milik Arya Wijaya.


Total ada enam pembunuh Topeng Perunggu, lima pembunuh Topeng Perak, satu pembunuh Topeng Emas yang tersisa setelah Arya Wijaya melakukan pembersihan.


Melihat jumlah mereka yang berkurang cukup banyak membuat ketiga pembunuh Topeng Giok Hijau menjadi semakin kesal. Mereka kemudian langsung menyuruh para pembunuh bayaran yang tersisa untuk menyerang Arya Wijaya dengan iming-iming imbalan besar.

__ADS_1


Lima pembunuh bayaran dengan beringas langsung melompat kearah Arya Wijaya. Mereka tidak berpikir panjang dan percaya diri dapat membunuh anak itu.


Arya Wijaya menghela nafas dan melakukan satu gerakan. "Teknik Membelah Bulan..." Sebuah tebasan melengkung Arya Wijaya berikan kepada lima pembunuh bayaran yang melompat kearahnya. Alhasil tubuh kelima pembunuh bayaran tersebut terbelah menjadi dua.


Kelima pembunuh bayaran itu sempat berteriak kesakitan, saat melihat bagian tubuh mereka yang terbelah menjadi dua, sebelum akhirnya tewas setelah kehilangan banyak darah.


Melihat kejadian itu, tujuh pembunuh bayaran lainnya menjadi geram kemudian menyerang Arya Wijaya menggunakan sebuah taktik.


Dua orang pembunuh menerjang Arya Wijaya secara bersamaan dari dua sisi berbeda. Arya Wijaya hanya diam ditempat dan menunduk saat kedua pembunuh itu ingin menebas lehernya.


Alhasil kedua pembunuh bayaran itu gagal menebas leher Arya Wijaya, tetapi seorang pembunuh bayaran dari jauh melepaskan anak panah beracun dan berhasil mengenai punggung Arya Wijaya saat dia lengah.


Arya Wijaya tersentak saat anak sebuah anak panah mengenai punggungnya. Dia kemudian mencabut anak panah itu dari punggungnya dan melihat ujung anak panah tersebut sudah diolesi racun yang terbuat dari bisa ular.


Racun itu tentu tidak memiliki efek untuk Arya Wijaya. Dia kemudian mencari siapa yang sudah memanahnya, kemudian mengembalikan anak panah itu sampai membuat pemiliknya tewas karena terkena dibagian kepala.


Arya Wijaya kemudian menancapkan pedangnya dan melepaskan aura membunuh yang sangat pekat. Bahkan saking pekatnya sampai semua orang dapat melihat asap hitam keluar dari pedang dan tubuhnya.


Asap hitam itu kemudian menyebar luas dan menjangkau semua pembunuh bayaran. Tangan para arwah yang sudah menunggu momen itu kemudian menjamah tubuh para pembunuh bayaran.


Para pembunuh bayaran yang terjebak berusaha melarikan diri tetapi arwah-arwah itu tak membiarkan mereka.


Tiga pembunuh Topeng Giok Hijau yang berhasil menghindar dari asap hitam itu, sekarang dapat melihat dengan mata telanjang bagaimana jiwa rekan mereka ditarik keluar dari tubuh, dan tubuh mereka menjadi kering.


Arya Wijaya kemudian menarik kembali aura membunuhnya dan membuat para arwah kembali kedalam Pedang Kematian.


Entah mengapa Arya Wijaya merasa tubuhnya menjadi lebih bertenaga dan segar setelah para arwah menyerap energi kehidupan dan jiwa para korbannya.


Tiga pembunuh Topeng Giok Hijau yang berhasil selamat kini menjadi semakin waspada setelah melihat dua teknik aneh dan mematikan milik Arya Wijaya.

__ADS_1


__ADS_2