
"Mengundang sekumpulan tikus kesini terlalu beresiko. Mereka bisa saja merencanakan sesuatu. Apa kau serius mengundang mereka?" Putri Amanda memiliki kerutan diwajahnya, tidak menyukai rencana Arya mengundang sekelompok pemberontak.
Menurut Putri Amanda tidak ada hal yang perlu dibicarakan lagi, dengan sekumpulan orang yang tidak tau bagaimana caranya untuk berterimakasih.
Selama tiga bulan terakhir waktu istirahat Putri Amanda sangat kurang. Ada ratusan laporan yang dia pelajari setiap harinya. Jika bukan karena diminta langsung oleh Arya untuk menjadi sekertaris. Putri Amanda tentu tidak sudi melakukan pekerjaan ini dan lebih memilih menghabiskan waktu dikamar.
Mendengar ada sekelompok orang yang ingin memberontak. Jelas membuat Putri Amanda sangat kesal. Dia sudah bekerja sangat kerang tiga bulan terakhir, dan sekelompok orang itu benar-benar tidak tau diri.
Hanya butuh persetujuan dari Arya dan tunjukkan jalan. Putri Amanda pasti akan menghabisi mereka semua malam ini juga sampai ke akarnya.
"Tenanglah, semua sudah aku pikirkan baik-baik dan seharusnya berjalan sesuai dengan keinginanku." Arya membalas tanpa melihat kearah Putri Amanda dan fokus membaca laporan ditangannya.
Putri Amanda mendengus dan berdecak kesal. Menurutnya Arya terlalu banyak memikirkan rencana dan masih lembut. Sebagai seorang pemimpin seharusnya pria itu harus bersikap tegas menyingkirkan sekumpulan tikus yang menghalangi jalan.
Tetapi Putri Amanda tidak bisa melakukan apapun dengan keputusan yang sudah Arya buat. Bagaimanapun ada hal yang jauh lebih penting nanti malam, dan Putri Amanda diam-diam tersenyum penuh makna ketika memikirkan rencananya ini.
"Untuk prajurit yang gugur berikan kepada keluarga mereka 1000 keping emas sebagai tunjangan. Sementara bagi prajurit yang terluka berikan mereka 500 keping emas dan bebaskan dari biaya perawatan."
Arya berhenti mencatat dan mengkoreksi laporan yang diberikan oleh para petinggi lain. Pria itu kemudian mengangkat wajahnya mendapati ekspresi bingung diwajah semua orang.
"Bukannya jumlah itu terlalu besar? Dengan uang sebanyak itu mereka bisa hidup tanpa bekerja selama tiga generasi." Deswara menatap Arya dengan penuh kebingungan. Bagaimanapun jumlah kompensasi yang Arya berikan terlalu besar.
Apa yang dipikirkan oleh Deswara memang benar. Bagi sebagian besar masyarakat Kota Madya uang sebanyak itu terbilang cukup banyak. Tetapi berbeda untuk para pembudidaya spiritual yang menganggap 1000 keping emas sangat kecil.
__ADS_1
"Tidak masalah aku jauh lebih kaya dari yang kalian kira. Untuk dana kompensasi kau bisa memintanya kepada wanita disampingku." Arya tersenyum kecil dan memberikan formulir data keluarga prajurit kepada Deswara untuk diisi.
Mendengar Arya memintanya untuk mengambil dana kompensasi dari Putri Amanda, membuat Deswara sakit kepala. Tidak hanya Deswara saja yang sakit kepala jika harus meminta dana kepada Putri Amanda, melainkan semua orang yang ada diruangan tersebut.
Putri Amanda dimata para petinggi terkenal sangat kikir. Bahkan untuk meminta sepeser uang kepadanya. Diperlukan laporan yang sangat panjang disertai rinciannya.
Saat Deswara melihat kearah Putri Amanda. Dia mendapati wanita cantik itu memberinya tatapan yang sangat tajam seolah ingin membunuhnya. Bagaimanapun juga Deswara sadar dirinya telah membuat kesan buruk saat kedatangan Arya dan rombongan, tiga bulan lalu.
"Jenderal, bisakah aku memintanya langsung kepadamu?" Deswara bertanya sambil memaksakan senyuman diwajahnya senatural mungkin.
Begitu mendengar pertanyaan Deswara. Putri Amanda langsung memicingkan mata kearah pria itu dengan semburat amarah. "Memangnya ada masalah jika aku yang memberikan dana kompensasi?"
Pertanyaan dari Putri Amanda sontak membuat Deswara dan yang lain menjadi gusar. Mereka sudah mengetahui apa yang akan terjadi jika sampai membuat wanita cantik itu marah.
Hanya satu orang saja yang tidak terpengaruh dengan aura dominasi milik Putri Amanda, bahkan pria itu tampak heran saat yang lain tiba-tiba diam dan terlihat ketakutan.
Arya kemudian mengalihkan pandangan kearah Putri Amanda dan mendapati wanita cantik itu memiliki tatapan kesal kearah semua orang.
"Sebenernya apa yang sudah terjadi selama tiga bulan terakhir saat aku tidak ada?" Arya bertanya dengan rasa penasaran setelah melihat semua pria disana tunduk dihadapan Putri Amanda.
Putri Amanda seketika menjadi gugup saat Arya bertanya kepadanya. Dia enggan untuk menjawab dan hanya menggelengkan kepala sebelum membuang muka kearah lain.
Arya memicingkan mata merasa curiga kepada Putri Amanda. Pria itu lalu melihat kearah para peserta rapat yang lain, tetapi mereka juga mengalihkan pandangan darinya.
__ADS_1
"Kalian tidak ingin menjawab?" Nada bicara Arya seketika terdengar berubah total menjadi sangat dingin. Hal ini membuat semua orang tertegun dan semakin enggan berbicara.
Saat mengangkat wajah, mereka mendapati ekspresi Arya yang biasa terlihat tenang dan selalu menunjukkan senyuman tipis. Sekarang terlihat datar dan membuat semua orang merasa tertekan.
Waktu terus berlalu sampai matahari sudah bersembunyi dibalik cakrawala, tidak ada satupun yang ingin menjawab pertanyaan sederhana dari Arya. Semua orang memilih tutup mulut dan bertingkah seolah sibuk mengkoreksi laporan mereka masing-masing.
Arya terlihat duduk santai menyilangkan kedua kakinya menunggu jawaban yang masih belum diberikan oleh para bawahannya.
"Baik, jadi tidak ada satupun dari kalian semua yang ingin menjawab? Tidak masalah...Kalian bisa melanjutkan rapat ini, dan Putri Amanda tolong pimpin." Arya tiba-tiba bangkit dari kursinya berjalan keluar dari ruangan meninggalkan rapat yang masih belum selesai.
Ketika suara pintu utama tertutup semua orang sedikit tersentak dan memiliki ekspresi rumit diwajah mereka. Bagaimanapun melihat Arya kesal untuk pertamakalinya tentu sangat membuat pikiran semua orang menjadi tidak nyaman.
"Bagaimana, apa yang harus kita lakukan sekarang?" Fajar dengan ragu membuka suara setelah hanya bisa terdiam selama beberapa jam.
Semua orang memiliki ekspresi rumit yang sama diwajah mereka. Tidak ada seorangpun yang tau harus berbuat apa saat melihat Arya pergi meninggalkan ruangan dengan wajah menunjukkan ketidak puasan.
Disisi lain Putri Amanda mencengkram pakaiannya. Dia sadar ini semua pasti berkaitan dengannya. Melihat Arya pergi dengan ekspresi kecewa, sudah membuat dadanya terasa sesak.
Putri Amanda khawatir jika Arya pergi meninggalkannya, sama seperti saat pria itu meninggalkan Nyonya Maharani setelah dibuat kecewa dan menghilang selama 10 tahun.
Tentu Putri Amanda mengetahui semua informasi ini dari para pengawalnya yang diutus oleh Kerajaan Angasari untuk menjaganya dari balik bayangan.
Putri Amanda ingin menyusul Arya saat ini juga dan memberikan penjelasan sejujurnya langsung kepada pria itu. Tetapi dia tidak bisa melakukan hal ini karena sudah diminta Arya untuk menggantikan menjadi pemimpin rapat.
__ADS_1
Saat ini Putri Amanda hanya bisa berharap Arya tidak meninggalkannya. Bagaimanapun setelah menunggu selama 10 tahun. Dia ingin membuat kesan baik sebelum mengutarakan gejolak batinnya selama ini.