
"Lalu, bagaimana caranya kita mengetahui pengirim para pembunuh bayaran ini? Aku tak bisa membiarkan orang itu membuat teror setiap saat." Fajar mengutarakan keluhannya sambil membuat lingkaran di tanah menggunakan ranting kayu.
Putri Amanda yang melihat tingkah Fajar seperti anak kecil kembali merasa jengkel. Jika Arya memperbolehkannya melenyapkan pria itu, dia akan senang hati melakukannya karena selalu terganggu dengan perkataannya.
Melihat Fajar mengeluh, Arya hanya bisa menghela nafas dan menggelengkan kepala. Dia kemudian mengambil sepucuk anak panah yang dibawa oleh para pembunuh bayaran.
Karena para pembunuh bayaran pasti tak akan membawa tanda pengenal, Arya berpikir untuk melacak identitas mereka dengan cara menyelidiki senjata milik para pembunuh bayaran tersebut.
"Mereka semua berasal dari Kerajaan Brawijaya." Setelah melihat sekilas anak panah ditangannya, Arya langsung bisa menyimpulkan bahwa para pembunuh bayaran itu berasal dari Kerajaan ini.
Mendengar perkataan Arya sontak membuat Fajar dan Putri Amanda merasa heran. Apa yang disampaikan Arya terbilang cukup ambigu, karena bisa membuat kesimpulan dengan cepat.
"Hah? Mana mungkin mereka berasal dari Kerajaan Brawijaya Arya. Mereka pasti berasal dari Kerajaan tetangga, Kerajaan Angasari." Fajar menyangkal kesimpulan yang sudah dibuat Arya, dan meyakini bahwa para pembunuh bayaran itu dikirim oleh Kerajaan Angasari.
Tidak sulit bagi Kerajaan Angasari sebenarnya untuk mengirim penyusup menuju Kerajaan Brawijaya, mengingat mereka bertetangga dalam jarak yang cukup dekat.
Namun Fajar sebenarnya cukup ragu dengan perkataannya sendiri yang menyangkut pautkan kejadian ini dengan Kerajaan Angasari, sebab dia belum mengetahui motif Kerajaan Angasari mengirim pembunuh bayaran untuk menyergap mereka.
"Tutup mulut busukmu itu, keparat! Kerajaan Angasari tidak mungkin melakukan tindakan menjijikan seperti ini. Tidak seperti Kerajaan Brawijaya yang menculik Putri Kerajaan Angasari untuk dijadikan tawanan perang. Kerajaan ini benar-benar pengecut!"
Emosi Putri Amanda meluap ketika mendengar Fajar menuduh Kerajaan Angasari mengirim para pembunuh bayaran. Meski dia sudah lama tinggal di Kerajaan Brawijaya, tetapi Putri Amanda sudah mengetahui aturan-aturan Kerajaan Angasari.
Mengirim pembunuh bayaran bukanlah poin yang diterapkan oleh Kerajaan Angasari. Mereka lebih suka menghadapi musuh mereka secara langsung dari pada menyewa pembunuh bayaran.
"Kenapa kau membela mereka? Apa kau seorang..." Sebelum Fajar menyelesaikan perkataannya, Arya langsung memukul kepalanya agar tidak memperkeruh suasana hanya karena kesalahpahaman.
"Cukup sampai disitu. Berhenti berdebat. Aku akan jelaskan semuanya kepada kalian." Perkataan Arya seketika membuat Fajar dan Putri Amanda menyudahi konflik mereka, meski keduanya sama-sama masih menyimpan rasa kesal satu sama lain.
__ADS_1
Arya kemudian menunjukkan anak panah ditangannya. "Anak panah ini dibuat oleh Kerajaan Brawijaya. Memiliki tiga bagian terpisah yaitu, mata anak panah, gagang, dan bulu."
Demonstrasi lalu Arya lakukan didepan Fajar dan Putri Amanda agar mereka berdua mengetahuinya. Arya kemudian melepas rangkaian anak panah menjadi 3 bagian, sesuai perkataannya.
Setelah melihat demonstrasi yang ditunjukkan oleh Arya. Fajar dan Putri Amanda menganggu paham. Jujur mereka baru mengetahui hal ini karena tidak pernah memperhatikanmu hal-hal kecil seperti itu.
Disisi lain Arjuna, Wira, dan Bagaskara yang sejak awal hanya menyaksikan pertarungan dari kereta kuda hanya bisa berdecak kagum dan merasa ngeri.
"Pertumbuhan adikmu sudah lumayan baik, Arjuna." Wira sedikit memberi pujian kepada adik temannya itu sambil menepuk-nepuk pundak Arjuna.
Arjuna menganggu tetapi raut wajahnya tidak menunjukkan rasa puas. Alih-alih memperhatikan pertarungan Fajar, Arjuna dari awal memperhatikan pertarungan Arya dan Putri Amanda.
"Anak itu sepertinya bukan anak sembarangan. Dia memiliki Api aneh layaknya Api Surgawi, tetapi bukan Api Surgawi. Anak itu bahkan bisa mengalahkan para pembunuh bayaran itu dengan mudah tanpa sedikitpun usaha."
Arjuna meyakini Arya bukan hanya prajurit biasa. Tidak ada seorang prajurit sekuat Arya, dan hanya para petinggi militer serta ahli beladiri saja yang bisa mencapai level itu.
"Anak itu sepertinya bukan prajurit biasa. Dia bisa membebaskan kita dari penjara yang seharusnya mustahil untuk dilakukan. Anak itu bahkan bisa mengidentifikasi anak panah yang dibuat oleh Kerajaan Brawijaya."
Kali ini giliran Bagaskara yang menyampaikan pikirannya. Bagaskara cukup terkesan dengan pengetahuan Arya tentang senjata, yang biasanya tidak begitu diperdulikan oleh para prajurit. Mereka biasanya hanya tau pakai tanpa mengetahui karakteristik dari setiap senjata.
"Kau benar. Seharusnya dia memiliki pangkat cukup tinggi di militer untuk membebaskan kita. Tapi apa alasannya dia mau repot-repot membebaskan manusia tidak berguna seperti kita?" Wira merasa heran dengan pemikiran pemuda itu untuk membebaskan mereka.
Arjuna, Wira, dan Bagaskara hanya bisa memendam pertanyaan mengenai Arya. Kini perhatian mereka teralihkan kepada sosok berpakaian tertutup yang ada disamping Arya.
Ketiga mantan Jenderal Bendera Warna itu langsung menelan saliva mereka. Hanya dalam sekali melihat teknik orang itu, ketiganya langsung mengetahui identitas orang itu yang tidak lain merupakan Putri Amanda dari Kerajaan Angasari.
Meski ketiganya berada di dalam penjara selama 15 tahun terakhir. Informasi tentang dunia luar masih bisa mereka dapatkan dari beberapa penjaga penjara yang masih berpihak kepada mereka.
__ADS_1
"Adikmu sudah melakukan kesalahan besar, Arjuna. Kau harus mendidiknya sedikit lebih kerasa setelah ini. Dia tidak bisa menyinggung Putri itu terus menerus." Ucap Wira dengan raut wajah sedikit pucat, mengingat tatapan Putri Amanda kepada mereka saat berada di kereta kuda, seperti melihat kotoran.
Arjuna menganggu paham. Dia berdecak kesal melihat kebodohan adiknya yang bisa membahayakan nyawa mereka semua.
Sementara itu saat Arya memberi penjelasan kepada Fajar dan Putri Amanda tentang anak panah ditangannya. Tiga pria berkuda muncul dan menghampiri mereka.
Raka, Angga, Satria dibuat terkejut saat melihat sisa pertarungan. Rombongan prajurit Keluarga Buana yang jumlahnya lebih dari 15 orang, kini lenyap dan hanya tersisa beberapa dari mereka yang menjadi patung es.
Kekhawatiran mereka tampaknya sia-sia saja. Ketiganya sudah sangat terlambat untuk membantu dan memperingati Arya serta rombongannya.
"Kenapa kalian datang dengan tergesa-gesa. Sepertinya kalian mengetahui tentang semua ini?" Ucap Arya sambil tersenyum kearah tiga pria berkuda itu.
Raka, Angga, dan Satria turun dari kuda mereka. Ketiga pria itu kemudian memberi semua penjelasan kepada Arya dari awal, tentang tindakan yang sudah dilakukan oleh Keluarga Buana.
Mendengar penjelasan dari ketiga pria itu, Arya mengangguk dan melirik kearah Angga. "Kau sudah mengerti apa yang harus kau lakukan, bukan?"
Angga mengangguk paham. Dia mengerti dengan maksud Arya yang tidak ingin membuat keributan di Ibukota dan memperpanjang masalah ini sampai mengarah ke Keluarga Kusuma.
Semua orang sudah tau bahwa Keluarga Buana merupakan bagian dari Keluarga Kusuma, setelah salah satu Putri dari tetua Keluarga Kusuma menikah dengan seorang pria dari Keluarga Buana.
"Baik, aku mengerti dan akan mengurus semuanya." Angga mengangguk paham dan terkejut saat Arya memberinya sebuah kantung kecil.
Saat Angga membuka kantung pemberian Arya, dia kembali terkejut melihat 5 butir Pill Penyembuhan tingkat 6 didalam kantung tersebut.
"Terimakasih banyak Jenderal!" Angga menangkup kedua tangannya dan membungkuk. Dia tidak menyangka Arya akan sangat murah hati memberinya Pill tingkat 6, tanpa mempermasalahkan ulah Keluarga Buana.
Mendengar Angga memanggil Arya dengan sebutan Jenderal, sontak membuat Fajar, Arjuna, Wira, dan Bagaskara terkejut sebab belum mengetahui informasi ini.
__ADS_1
Sementara Putri Amanda yang sudah mengetahui Arya diangkat menjadi Jenderal Bendera Hitam tampak biasa saja. Meski Putri Amanda sangat membenci Kerajaan Brawijaya, tetapi asalkan itu adalah Arya dia akan mengesampingkan kebenciannya, hanya untuk pria itu seorang.