
Melihat ada seorang pria tua yang sedang berkultivasi ditempat asing itu, Arya Wijaya mencoba memanggilnya untuk menanyakan dimana sekarang dia berada.
'Tunggu... Bukannya tidak sopan kalau aku menggangu nya sekarang. Lebih baik aku menunggunya selesai bermeditasi.'
Arya Wijaya mengurungkan niatnya saat hendak bertanya kepada pria tua yang sedang berkultivasi di danau. Arya Wijaya memilih untuk menunggunya sampai selesai ditepi danau.
Dari bawah pohon Arya Wijaya mengamati pria tua misterius yang wajahnya tidak bisa lihat karena terdapat cahaya putih menutupinya.
"Apa dia seorang biksu suci? Tapi kenapa masih memiliki rambut, bukannya seorang biksu harus botak?"
Arya Wijaya menekuk kedua kakinya dan menyandarkan dagu di lutut saat memperhatikan pria tua misterius yang dia pikir merupakan seorang biksu suci.
Mendengar suara Arya Wijaya membuat konsentrasi pria tua misterius itu pecah. Pria tua itu terbatuk-batuk karena Arya Wijaya mengiranya adalah seorang biksu suci.
Dengan duduk diatas bunga lotus pria tua itu kemudian menghampiri Arya Wijaya, seperti menaiki karpet terbang.
Melihat kedatangan pria tua itu seketika membuat Arya Wijaya menjadi gugup sampai-sampai tidak dapat mengucapkan sepatah katapun. Bahkan dia tidak sempat untuk memberi penghormatan kepada pria tua itu.
"Nak, apa kamu tadi memanggilku seorang biksu botak?" Pria tua itu bertanya dengan nada yang terdengar tidak senang, tetapi juga tidak marah.
Arya Wijaya menggaruk pipinya sambil tertawa canggung. Dia hanya bisa mengangguk pelan dan tak berani menatap pria tua itu secara langsung menyadari telah menyinggung nya.
"Maaf aku tak bermaksud untuk mengatakannya, Tuan."
Melihat Arya Wijaya meminta maaf kepadanya, Pria tua itu hanya menghela nafas dan melambaikan tangan karena tidak mau memperpanjang kesalah-pahaman diantara mereka.
Pria tua itu kemudian duduk di samping Arya Wijaya. Tentu dia menyadari tatapan mata dari anak itu yang dipenuhi oleh banyak pertanyaan.
"Jangan khawatir, kita sekarang berada di alam bawah sadarmu." Pria tua itu memberitahu tempat dimana sekarang mereka berada kepada Arya Wijaya.
__ADS_1
Arya Wijaya mengangguk pelan tetapi dia belum terlalu mengerti apa yang dikatakan oleh pria tua itu. Jika tempat itu adalah alam bawah sadarnya, mengapa pria tua itu bisa ada disana pikir Arya Wijaya.
'Apa pria tua itu penyusup? Kenapa dia bisa berada di tempat yang seharusnya hanya aku saja yang bisa masuk?'
Seolah bisa mendengar suara batin Arya Wijaya tiba-tiba pria tua itu tertawa kencang hingga membuat alam bawah sadar Arya Wijaya bergetar dibuatnya.
Merasakan tanah berguncang hebat, Arya Wijaya langsung merunduk, dan mencengkram erat rumput agar tidak terhempas.
Tak berselang lama guncangan berhenti bersamaan dengan tawa pria tua itu yang berakhir. "Mengapa kau merunduk Arya Wijaya, apa kamu seekor katak?"
Mendengar pria tua itu menyebut namanya Arya Wijaya mengerutkan dahinya, sebab dia sama sekali belum memperkenalkan dirinya tetapi pria tua itu sudah mengenalnya.
"Apa matamu sakit Arya Wijaya? Jangan menatapku seperti itu, kau membuatku takut saja."
Pria tua tertawa pelan menyadari rasa penasaran Arya Wijaya terhadap dirinya yang mengetahui namanya tanpa perlu bertanya terlebih dahulu.
"Jangan terkejut, aku bahkan tau semua seluk beluk kehidupan masa lalumu yang sebelumnya menjadi seorang pembunuh bayaran. Meski sayangnya kamu harus terbunuh oleh orang suruhan mantan rekan bisnismu sendiri saat sudah memutuskan untuk keluar dari dunia hitam itu."
Pria tua itu kemudian menyuruh Arya Wijaya untuk bercermin menggunakan pantulan air permukaan di danau. Arya Wijaya tidak dapat berkata-kata lagi saat melihat tubuh lamanya.
"Siapa sebenarnya anda?" Arya Wijaya menatap pria tua itu dengan penuh kewaspadaan, setelah merasa semua rahasianya telah diketahui oleh pria tua itu.
Pria tua itu tiba-tiba berdiri dan menepuk pundak Arya Wijaya. "Belum saatnya untukmu mengetahui siapa aku sebenarnya. Sekarang kembalilah sebelum ketiga gurumu menangis seperti bayi karena mengira kamu sudah mati."
Kesadaran Arya Wijaya seketika menghilang dan begitu membuka matanya kembali dia menemukan Baduga Maharaja, Hyman Nirwasita, dan Arga Mahesa duduk mengelilinginya.
Melihat Arya Wijaya telah membuka mata, Baduga Maharaja, Hyman Nirwasita, dan Arga Mahesa memeluknya dengan erat hingga membuat Arya Wijaya kesulitan bernafas.
Disisi lain pria tua yang sebelumnya Arya Wijaya di alam bawah sadarnya tersenyum tipis sebelum menghilang dari tempat itu dalam sekejap mata.
__ADS_1
*******
Tanpa terasa dua tahun sudah Arya Wijaya berlatih bersama Arga Mahesa. Dalam dua tahun sudah banyak kemajuan yang telah Arya Wijaya capai dengan keringat dan perjuangan saat melewati latihan keras dari Arga Mahesa.
Selama dua tahun ini ranah Kultivasi Arya Wijaya telah meningkat menjadi Penguasaan Qi lapisan ke-6, hanya perlu 4 lapisan lagi sebelum menjadi Penyempurnaan Roh lapisan ke-1.
Tidak hanya ranah Kultivasi Arya Wijaya saja yang meningkat tetapi juga kualitas tulangnya kini telah menjadi Naga Remaja sesuai dengan harapan Baduga Maharaja.
Beberapa teknik beladiri tangan kosong telah Arga Mahesa ajarkan kepada Arya Wijaya hingga mencapai tahapan mahir. Ada tiga tahapan penguasaan teknik beladiri yaitu amatir, pemula, dan mahir.
10 sisik Naga sudah berhasil Arya Wijaya dapatkan yang artinya dia telah membuka satu segel didalam tubuhnya. Dengan terbukanya satu segel saja Arya Wijaya yang berada di ranah Penguasaan Qi sudah bisa dibandingkan dengan Pendekar ranah Jalan Surgawi.
Untuk bertarung selama satu hari penuh Arya Wijaya tidak perlu khawatir lagi sebab kapasitas Qi yang dapat dia gunakan sudah bertambah sebanyak 10 persen.
Sebagai ujian terakhir Arga Mahesa membawa Arya Wijaya kedalam kawah gunung berapi yang masih aktif dan memiliki kolam lava mendidih.
Arya Wijaya yang sudah memiliki 10 sisik Naga kini dapat bertahan dari panas lava mendidih yang berada tepat dipinggiran tempat dia berpijak sekarang.
Arga Mahesa kemudian membentuk sebuah formasi hingga membuat gunung berguncang hebat seakan bisa meletus kapan saja. Bebatuan bercampur lava panas tiba-tiba mulai menyatu menjadi satu membentuk sebuah raksasa batu setinggi sepuluh meter.
Raksasa batu yang dibuat oleh Arga Mahesa setara dengan Hewan Iblis tingkat Kaisar. Hewan Iblis sendiri memiliki beberapa tingkatkan sama halnya dengan para Pendekar.
Tingkatan pada Hewan Iblis antara lain Penyempurna Roh, Penempa Tubuh, Pembentuk Inti Kristal, Raja, Kaisar, Jalan Surgawi, Legenda, Nirwana, Mystic.
Dalam dua tahun ini Arya Wijaya telah membunuh puluhan Hewan Iblis tingkat Raja dan ratusan Hewan Iblis lain yang berada di bawahnya sebagai alat latihan sekaligus makanan.
"Apa kamu yakin Guru? Ini pasti akan sangat mudah meski berada satu tingkat di atas Hewan Iblis tingkat Raja."
Meski belum pernah melawan Hewan Iblis tingkat Kaisar tetapi Arya Wijaya memiliki kepercayaan diri tinggi untuk menghadapinya.
__ADS_1
"Sebaiknya kamu tidak meremehkan lawanmu Arya, apalagi dia makhluk buatanku."
Arga Mahesa memberi peringatan kepada Arya Wijaya, tetapi anak itu justru mengabaikannya dan terlihat santai menghampiri raksasa batu sambil merenggangkan tulang-tulangnya yang terasa kaku.