
Saat berada didepan kereta kuda Kepala Pengawal meminta Arya Wijaya menunggu sementara dirinya akan memberitahu kepada Tuannya.
Arya Wijaya hanya mengangguk pelan memilih untuk membersihkan bercak darah yang mengotori perban ditangannya.
"Harusnya aku tak memukul mereka secara langsung kalau jadinya seperti ini." Arya Wijaya menghela nafas dan berpikir untuk mengganti perban dengan yang baru.
Arya Wijaya tak menyadari jika para pengawal dan tabib menjadi takut karena tak sengaja mendengar ucapannya. Orang-orang merasa heran bagaimana Arya Wijaya bisa sesantai itu sesudah membunuh beberapa orang bandit menggunakan tangan kosong dengan brutal.
Bahkan para pengawal dan tabib merasa mual saat melihat wajah mayat salah satu bandit yang hancur setelah dipukul secara bertubi-tubi oleh Arya Wijaya tanpa belas kasih.
Seorang pemuda keluar dari kereta kuda dan berjalan menghampiri Arya Wijaya dengan dikawal oleh Kepala Pengawal dari belakang.
Melihat sosok yang menolongnya ternyata masih sangat muda membuat Dierja Aditama merasa cukup tertarik, sebab terlihat seumuran dengan putranya.
Dierja Aditama merupakan seorang pedagang yang bekerja untuk Asosiasi Perak. Asosiasi Perak sendiri merupakan rumah dagang terbesar yang memiliki banyak cabang di 7 negara. Bisa dikatakan Asosiasi Perak berada dalam posisi Netral meski organisasi itu pemasok kebutuhan perang 7 negara.
Asosiasi Perak tak memihak siapapun dan hanya mementingkan bisnis , selain itu banyak Pendekar tingkat tinggi yang bekerja untuk mereka dan membuat semua orang yang ada di Benua Nusantara harus berpikir beberapa kali kalau ingin membuat masalah dengan mereka.
"Selamat siang Tuan..." Dierja Aditama menyapa sambil tersenyum ramah kepada sosok yang telah menolongnya.
"Arya..."Arya Wijaya segera menyebutkan namanya tetapi tidak dengan marganya. Dia saat ini berpikir untuk menyembunyikan identitasnya yang berasal dari Keluarga Wijaya.
Dierja Aditama mengangguk dan tetap tersenyum ramah. Meski penolongnya terlihat muda dan memiliki suara seperti anak kecil, tetapi Dierja Aditama tak akan tertipu sebab di Dunia Kultivasi fisik tak bisa diukur dari umur seseorang.
"Salam Tuan Arya. Saya Dierja Aditama, sebelumnya saya ingin berterimakasih dan meminta maaf karena Tuan sampai repot-repot menolong pedagang rendahan seperti saya."
Dierja Aditama tampak ingin menyembunyikan fakta bahwa dirinya bekerja untuk Asosiasi Perak, sebab tak ingin identitasnya diketahui oleh orang asing meski dirinya sudah ditolong.
__ADS_1
Arya Wijaya tentu tidak bodoh. Melihat pakaian yang dikenakan Dierja Aditama terlihat sangat mewah untuk seorang pedagang kecil, apalagi saat melihat pria itu memiliki pengawal serta beberapa tabib pribadi, membuat Arya Wijaya hanya bisa tersenyum tipis dibalik topeng.
"Untuk pedagang kecil yang mengenakan pakaian mewah dan dikawal banyak pengawal, kelihatannya anda sangat merendah. Tuan Aditama..."
Arya Wijaya tertawa lirih membuat Dierja Aditama ikut tertawa canggung sambil berkeringat dingin saat mendengar perkataan menusuk itu.
Menyadari suasana berubah menjadi canggung, Arya Wijaya berpikir untuk segera pergi. Tetapi sebelum pergi Arya Wijaya mengeluarkan sebuah tanda pengenal dari balik pakaiannya.
"Tuan Aditama tak perlu merasa khawatir, saya akan segera pergi. Aku menemukan tanda pengenal dari pemimpin bandit itu, Tuan bisa menyimpannya." Arya Wijaya menyerahkan tanda pengenal ditangannya kepada Dierja Aditama.
Dierja Aditama membuka mata lebar saat melihat tanda pengenal yang tentu dia kenali sebagai milik para pembunuh bayaran dari Rumah Mawar Hitam.
Rumah Mawar Hitam sendiri merupakan organisasi pembunuh bayaran nomor 1 di Kerajaan Brawijaya yang sudah berdiri sejak 300 tahun lalu.
Tercatat sudah banyak target yang berhasil mereka habisi, oleh sebab itu banyak orang yang memakai jasa mereka untuk kepentingan pribadi.
Untuk 10 target yang berhasil dibunuh mendapat tanda pengenal Perunggu. 50 target mendapat tanda pengenal Perak, 100 target mendapat tanda pengenal Emas, 200 target mendapat tanda pengenal Giok Hijau, 300 target mendapat tanda pengenal Giok Hitam.
Meski kekuatan Asosiasi Perak lebih kuat dari Rumah Mawar Hitam, tetapi selisih kekuatan mereka sebenarnya tidak terlalu jauh.
Tanda pengenal yang ada ditangan Dierja Aditama adalah Emas. Hal tersebut membuat Dierja Aditama mengerti mengapa sebelumnya para pengawalnya sangat kesulitan melawan bahkan hampir semua dihabisi jika tak mendapat bantuan Arya Wijaya.
Merasa telah menjadi target para pembunuh bayaran Rumah Mawar Hitam. Dierja Aditama langsung berlari mengejar Arya Wijaya dan menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi kemudian meminta pengawalan.
Dierja Aditama menawarkan 1000 Tael emas untuk jasa Arya Wijaya. Tentu Dierja Aditama sadar 1000 Tael emas tak berarti apa-apa bagi para Pendekar yang rela mengeluarkan biaya besar untuk membeli sumber daya.
5000 Tael emas Dierja Aditama janjikan kepada Arya Wijaya jika dia berhasil sampai tujuan dengan selamat.
__ADS_1
Emas sebanyak itu tentu tak ada apa-apanya dibandingkan harta dan sumber daya milik Arya Wijaya yang diwariskan oleh ketiga gurunya.
Tetapi mendengar tujuan Dierja Aditama dan rombongannya adalah Ibukota Wirabhumi. Arya Wijaya yang memiliki tujuan sama kemudian menyetujuinya.
Arya Wijaya kemudian disambut baik oleh Dierja Aditama dan memintanya ikut masuk kedalam kereta kuda bersamanya. Rombongan Dierja Aditama kemudian segera melanjutkan perjalanan setelah membersihkan sisa-sisa pertarungan.
Didalam kereta kuda suasana menjadi kaku diantara Dierja Aditama dan Arya Wijaya. Dierja Aditama ingin mengajak Arya Wijaya berbicara, tetapi dirinya merasa ragu saat melihat mata merah darah Arya Wijaya dari celah topeng.
Memang pandangan mata Arya Wijaya terlihat menenangkan, tetapi menurut Dierja Aditama justru tatapan mata Arya Wijaya kepadanya sangat mengintimidasi.
"Apa ada yang ingin Anda katakan, Tuan Aditama? Kelihatannya ada sesuatu hal yang ingin Anda tanyakan sejak tadi."
Arya Wijaya memutuskan untuk membuka obrolan karena bosan. Sejujurnya dari pada naik kereta kuda yang tak memiliki pegas dan selalu berguncang, Arya Wijaya memilih untuk jalan kaki saja.
Dierja Aditama sekarang berpikir Arya Wijaya terlalu peka membaca gelagat seseorang, dia kemudian segera menanyakan beberapa hal kepada Arya Wijaya.
Hal yang pertama Dierja Aditama tanyakan adalah dari mana Arya Wijaya berasal. Tetapi Arya Wijaya hanya mengatakan dirinya baru saja turun dari bukit dan tidak memberi penjelasan lebih.
Arya Wijaya kemudian balik bertanya kepada Dierja Aditama mengapa pria itu berbohong kalau berasal dari Asosiasi Perak. Dierja Aditama hanya mengatakan dia tak ingin identitasnya diketahui oleh orang asing dan hal itu dimengerti oleh Arya Wijaya.
"Tuan Arya, mengapa Anda menggunakan perban dari kaki sampai leher bahkan menutup wajah menggunakan topeng?"
Dierja Aditama merasa penasaran dengan perban yang menutupi kaki sampai leher Arya Wijaya bahkan pria itu menggunakan sebuah topeng wajah.
"Aku terkena penyakit kulit yang membuat kulit dan wajahku melepuh. Kalau tidak salah namanya Kusta. Mungkin Tuan Aditama bisa muntah jika melihat wajahku." Balas Arya Wijaya sambil tertawa pelan saat mengatakan kebohongan.
Dierja Aditama ikut tertawa canggung tetapi sejujurnya dia sedikit curiga dengan perkataan Arya Wijaya. Kalau Arya Wijaya terkena penyakit kulit harusnya dia menggaruk bagian yang gatal, tetapi Dierja Aditama tak melihat Arya Wijaya menggaruk tubuhnya.
__ADS_1
Seketika Dierja Aditama dapat menebak kalau Arya Wijaya hanya berbohong untuk menyembunyikan sesuatu, tetapi dia memilih untuk tak bertanya lebih jauh dan membahas hal lain dengan Arya Wijaya.