
Firasat Angga menjadi tidak enak saat melihat api pada cakram milik Raka sedikit berbeda. Instingnya mengatakan teknik milik Raka akan sangat berbahaya jika sampai mengenainya.
"Sepertinya ada yang tidak beres dengan teknik milik Raka." Angga mengusap lehernya yang terasa dingin sambil mencoba meyakinkan dirinya sendiri agar tidak perlu takut menghadapi teknik milik Raka.
Setelah mengunci posisi Angga, Raka kemudian melempar kedua cakram miliknya yang langsung mengejar Angga meski pria itu beberapa kali berhasil menghindar.
Angga berdecak kesal melihat cakram milik Raka terus mengejarnya. Dia kemudian membidik salah satu cakram sampai membuat cakram itu terpental dan tak sengaja mengenai seorang petugas yang berjaga disekitar arena.
Meski hanya mendapat luka gores dari cakram milik Raka yang salah salah sasaran. Petugas itu mulai berteriak kesakitan sampai membuat rekan-rekannya datang untuk menolong.
Para petugas lain yang melihat seorang rekan mereka berteriak kesakitan tidak dapat berbuat apa-apa. Mereka hanya bisa menyaksikan kulit rekan mereka mulai mengalami peradangan, dan perlahan dagingnya mengelupas sebelum akhirnya dia tewas dengan kondisi yang meleleh seperti lilin.
Kejadian itu sontak membuat para penonton yang melihatnya diam membisu. Mereka tidak bisa membayangkan jika berada diposisi petugas itu yang tewas karena terkena cakram milik Raka yang tidak sengaja terpental keluar arena.
Angga yang melihat efek dari serangan Raka, mulai kehilangan rasa percaya diri. Tidak mau nasibnya berakhir seperti petugas itu, Angga langsung mengangkat tangan dan menyerah.
Menurut Angga nyawanya lebih penting dibandingkan promosi jabatan yang ditawarkan sebagai hadiah kompetisi oleh para petinggi. Jabatan bisa diraih dilain waktu, tetapi nyawa bukan sesuatu yang bisa dicari lagi.
Tepat saat Angga mengangkat tangan untuk menyerah, salah satu cakram milik Raka yang tersisa berhenti sebelum mengenai leher Angga. Telat satu detik saja, hidup Angga pasti akan berakhir saat itu juga.
"Kau beruntung kali Angga. Tapi sekali lagi kau berniat mencelakaiku, maka tamatlah riwayatmu!" Ucap Raka sambil menarik kembali kedua cakramnya.
Jujur Raka sendiri cukup terkejut dan tidak menyangka teknik racun api yang pernah Arya berikan kepadanya akan sangat berbahaya. Hal itu membuatnya kini berpikir untuk menggunakan teknik itu jika dalam kondisi terdesak saja.
"Baik-baik aku mengerti. Tidak perlu menganggapnya serius, Raka. Aku hanya menggertakmu saja tadi." Balas Angga sambil tertawa canggung.
Meski terlihat baik-baik saja diluar. Tetapi didalam, Angga benar-benar sudah takut setengah mati dan tak bisa membayangkan rasa sakit terkena teknik milik Raka barusan.
__ADS_1
Raka mendengus pelan kemudian melihat kearah Arya, seolah memberi isyarat kalau sebelas tahun terakhir dia benar-benar sudah berkembang.
Tetapi Raka dibuat kecewa saat melihat ekspresi Arya yang tampak biasa saja seolah tak ada hal yang spesial dari teknik racun api yang baru saja dia tunjukan.
Setelah Raka dan Angga turun dari atas arena, kali ini giliran Satria dan Arya yang akan bertarung selanjutnya untuk menentukan siapa yang berhak melawan Raka di final.
Melihat lawannya kali ini adalah orang yang sudah menolong dirinya beberapa hari lalu, Satria ragu untuk memilih mengalah sebagai bentuk rasa terimakasih sudah diselamatkan dan dibantu menerobos keranah selanjutnya, atau berusaha melawan sebisa mungkin untuk membanggakan ayah dan keluarganya.
Sejak kematian kakak laki-lakinya yang berusaha menjaga salah satu kota di pelosok Kerajaan dari serangan salah satu spesies Hewan Iblis. Dari kecil Satria cukup mendapatkan diskriminasi dadi keluarga besar Mahesa.
Bagaimana Satria tidak mendapat diskriminasi dari keluarganya. Dibandingkan kakaknya yang terkenal jenius sepanjang masa, Satria masih kalah jauh dari sosok kakaknya.
Bahkan setelah kematian kakaknya, perhatian Panglima Besar kepada Satria menjadi berkurang. Satria selalu diabaikan oleh ayahnya yang sangat membanggakan sosok mendiang kakaknya. Hanya ibunya saja yang masih memberinya perhatian sejak kecil.
Dengan memenangkan kompetisi itu, setidaknya Satria ingin mendapat perhatian dari ayahnya kembali yang sudah hilang sejak kematian kakaknya.
Menyadari keraguan dimata Satria membuat Arya langsung bisa menebak apa yang dipikirkan oleh pria itu. Bagaimanapun setelah Arya bergabung menjadi prajurit, dia sudah mendengar cerita mengenai mendiang kakak Satria dari rekan prajurit semasa bertugas di Kota Bambu.
"Buang keraguanmu. Aku ingin kau bertarung sungguh-sungguh, dan tak perlu menghiraukan aku. Bukankah kau ingin menunjukkan pencapaianmu kepada seseorang?"
Arya mencoba membuat Satria membuang keraguan bertarung karena tidak enak menyerang orang yang sudah menolongnya.
Pertandingan kali ini tentu sangat berarti untuk Satria yang ingin mendapat perhatian orang tua dan seluruh anggota keluarganya. Arya menyadari hal itu dan ingin melihat seberapa besar potensi yang dimiliki oleh anak dari seorang Panglima Besar.
Melihat keseriusan dimata Arya, keraguan Satria perlahan menghilang. Apalagi saat mendengar perkataan Arya yang seolah menyinggung kehidupan pribadinya.
"Terimakasih... Kalau begitu akan serius. Sebaiknya kau juga melakukan hal yang sama." Satria mengangguk pelan dan merasa kepercayaan dirinya sudah kembali lagi.
__ADS_1
Menanggapi perkataan Satria, Arya hanya menganggukkan kepala. Tentu saja Arya tak berencana serius melawan Satria, dan hanya akan mengimbangi kemampuan pria itu saja.
Satria kemudian mengeluarkan Trisula Langit, sebuah senjata tingkat Legenda peninggalan mendiang kakaknya, yang merupakan salah satu senjata keramat untuk Keluarga Mahesa.
"Tidak buruk juga. Sepertinya keluargamu sangat kaya sampai memberikan senjata semahal itu." Celetuk Arya saat melihat senjata yang dikeluarkan Satria dari cincin dimensi.
Satria tak membatah perkataan dari Arya. Bagaimanapun sebenarnya dia merasa beruntung karena para Tetua Keluarga Mahesa dan ayahnya, mau memberikan bekas senjata kakaknya kepada dirinya.
"Bagaimana denganmu. Apa kau tak menggunakan senjatamu? Kalau kau tak menggunakan senjata, aku juga tak akan menggunakan senjata kalau begitu." Tanya Satria melihat Arya belum mengeluarkan senjata.
Dalam aturan Keluarga Mahesa sudah dijelaskan kalau mereka selalu menjunjung tinggi rasa keadilan. Satria tentu tak ingin melawan seseorang yang sama sekali tak memegang senjata.
Perkataan Satria membuat Arya sedikit dilema apakah dia akan menggunakan pedang miliknya atau tidak. Menyadari kehadiran Maharani dan Arista, Arya tentu tak ingin kedua wanita itu mengenalinya untuk saat ini.
Apalagi jika sampai dia menggunakan senjata peninggalan ketiga gurunya. Yang ada Arista dan sosok Anjani bisa salah paham, mengira dirinya sudah membunuh ketiga mantan rekan mereka.
Arya kemudian ingat masih menyimpan pedang kayu yang dulu dia gunakan untuk latihan. Dia kemudian mengeluarkan pedang kayu sebagai senjatanya.
"Apa kau sungguh-sungguh menggunakan pedang mainan itu?" Satria menjadi ragu saat Arya ingin melawannya menggunakan pedang kayu.
Yang dilakukan oleh Arya jelas membuat harga diri Satria sedikit turun, dan menganggap Arya hanya ingin main-main saja dengannya.
Menyadari apa yang sedang dipikirkan oleh Satria. Arya kemudian mengayunkan pedang kayu miliknya dan membuat tebasan kosong di udara.
Satria dibuat terkejut ketika arena terbelah menjadi dua bagian tepat disamping posisinya berada. Para penonton juga sama terkejutnya dengan Satria yang tak menyangka pedang kayu milik Arya bukanlah mainan belaka.
"Lebih baik kau jangan meremehkan pedang kayu milikku yang terbuka dari pohon berusia 10.000..." Ucap Arya yang secara tidak langsung menyinggung usia Anjani dan Arista.
__ADS_1
Tentu Arya hanya membual jika pedangnya terbuat dari pohon berusia 10.000 tahun, agar Satria dan semua orang percaya kalau dia benar-benar ingin bertarung.