
Ditengah perjalanan menuju kediaman milik Dierja Aditama. Merasa sudah berada diluar jangkauan pengawasan Nyonya Maharani Kanigara, Arya Wijaya kemudian merobek jaring milik wanita cantik itu dengan sangat mudah.
Saat melihat bagaimana Arya Wijaya melepaskan diri dari lilitan benang milik Nyonya Maharani Kanigara yang terkenal kuat membuat Dierja Aditama terpaku.
"Sungguh... Bukankah Tuan Arya bisa melepaskan diri sejak awal. Mengapa Tuan sebelumnya bertingkah seolah tidak dapat melakukannya, bahkan sampai mengemis untuk dibebaskan?"
Mendengar pertanyaan dari Dierja Aditama, Arya Wijaya tersenyum kecil sambil mengusap pergelangan tangannya. "Menurut Tuan Dierja Aditama apa yang bisa membuat senang seorang wanita yang kesepian?"
Paham dengan apa yang dimaksud oleh Arya Wijaya, Dierja Aditama kemudian berterimakasih kepada anak itu. Mereka kini memiliki pemikiran yang sama tentang Nyonya Maharani Kanigara.
Dari pertama kali saat Arya Wijaya melihat tatapan mata Nyonya Maharani Kanigara. Dia bisa melihat tatapan mata penuh rasa kesendirian dari wanita cantik tersebut.
Arya Wijaya seolah dibuat melihat dirinya yang lain dari Nyonya Maharani Kanigara dan tidak ingin wanita itu merasakan hal sama dengannya. Oleh karena itu Arya Wijaya bertingkah konyol untuk menghibur Nyonya Maharani Kanigara dari rasa kesepian.
Dierja Aditama kemudian menceritakan sedikit ceritanya sampai bisa menjadi bawahan Nyonya Maharani Kanigara kepada Arya Wijaya.
Saat Dierja Aditama masih kecil dan ditelantarkan oleh orang tuanya karena memiliki tubuh yang sangat lemah dari anak seumuran dengannya, saat itu dia tak sengaja bertemu dengan Nyonya Maharani Kanigara saat mencuri kantung berisi uang milik wanita itu saat dijalan.
Nyonya Maharani Kanigara tentu dapat dengan menangkap Dierja Aditama. Dari sanalah Dierja Aditama mulai diasuh oleh Nyonya Maharani Kanigara dan diajarkan tentang apa saja mengenai bisnis.
Meski Nyonya Maharani Kanigara memiliki sifat dingin tetapi Dierja Aditama dapat melihat ada rasa kepedulian yang tinggi dari wanita cantik tersebut.
"Saya benar-benar berhutang budi kepada Nyonya. Kalau saja dia tak mengulurkan tangan mungkin aku sudah mati kedinginan dimusim salju."
Cerita dari Dierja Aditama membuka sedikit pandangan Arya Wijaya, mengenai sosok Nyonya Maharani Kanigara.
Setibanya dikediaman Dierja Aditama, Arya Wijaya kemudian diajak oleh Dierja Aditama untuk bertemu dengan Istri serta putranya dan makan malam bersama. Tentu Arya Wijaya tak menolak tawaran Dierja Aditama.
Kini Arya Wijaya duduk di sebuah meja panjang yang terdapat berbagai hidangan. Disamping Arya Wijaya terlihat seorang anak laki-laki cukup tampan. Dia adalah Raka Aditama putra dari Dierja Aditama.
__ADS_1
Penampilan Raka Aditma terbilang cukup sederhana meski dia merupakan anak orang kaya. Pembawaannya terlihat tenang, murah senyum, dan memiliki kepintaran diatas rata-rata.
Arya Wijaya kini terlihat menundukkan kepala dan ragu-ragu saat memakan makanannya. Hal yang membuat Arya Wijaya sampai terlihat takut seperti itu adalah karena dia melihat bagaimana Dierja Aditama dimarahi habis-habisan oleh istrinya yaitu Asri Ningsih saat baru pulang setelah 1 bulan.
Dierja Aditama bahkan hanya bisa diam saja saat mendapat omelan istrinya yang membuat Arya Wijaya takut jika kelak menjadi seperti pria itu karena terikat dengan perempuan bernama istri.
"Arya, kenapa kau diam saja? Makanlah dan jangan memainkan makananmu." Raka Aditama dengan sopan mengingatkan Arya Wijaya. Alasan Raka Aditama tidak bersikap formal kepada Arya Wijaya tidak seperti ayahnya, karena Arya Wijaya yang memintanya untuk bersikap biasa saja kepadanya.
Arya Wijaya mengangguk pelan karena gugup mendapat tatapan dari Asri Ningsih. Dia kemudian mulai menyumpit makanan dan membuka sedikit topengnya untuk makan.
Dierja Aditama yang menyadari pikiran Arya Wijaya tentang istrinya Asri Ningsih, hanya bisa diam meski dirinya merupakan Kepala Keluarga. Dikeluarga itu Asri Ningsih merupakan penghuni paling mendominasi karena memiliki Ranah kultivasi lebih tinggi dari Dierja Aditama.
Arya Wijaya belum tau mengapa Dierja Aditama mau menikah dengan wanita yang kelihatan galak. Tetapi saat melihat tatapan penuh cinta dimata Dierja Aditama kepada Asri Ningsih membuat Arya Wijaya sakit kepala.
'Guru Maharaja benar. Perempuan akan menjadi sangat menyeramkan setelah mereka menikah. Aku ingin menjadi biksu saja agar tak bernasib sama dengan Tuan Aditama.'
Disisi lain terlihat seorang pelayan wanita yang bekerja di kediaman keluarga Dierja Aditama sedang membuat teh di dapur.
Seorang pria yang tidak asing kemudian menghampiri pelayan itu dan memberikan sebuah kertas berisi serbuk racun. Pria itu tidak lain adalah Kepala Pengawal.
"Lakukan tugas selanjutnya dan jangan membuat kekacauan. Kita harus segera menyelesaikannya malam ini juga." Ucap Kepala Pengawal sebelum di angguki oleh pelayan wanita tersebut.
Sorot mata Kepala Pengawal terlihat dingin karena pekerjaannya menjadi semakin lama karena kedatang tikus kecil yaitu Arya Wijaya tempo hari.
Ketika semua persiapan telah selesai pelayan wanita itu kemudian pergi meninggalkan Kepala Pengawal menuju ruang makan untuk memberikan teh yang sudah diberi racun.
Racun itu sendiri merupakan jenis racun yang tak memiliki bau maupun rasa. Cukup sulit untuk orang awam atau ahli sekalipun untuk mendeteksinya.
Setibanya diruang makan pelayan itu kemudian membantu menuangkan teh ke cangkir milik Arya Wijaya yang merasa haus sebelum memberikannya kepada Dierja Aditama dan keluarganya.
__ADS_1
Setelah merasa rencananya akan berjalan lancar, pelayan itu kemudian pergi dari ruangan makan. Yang tidak dia ketahui olehnya, seseorang telah menyadari perbuatannya.
Arya Wijaya tersenyum tipis setelah meminum teh yang diberikan pelayan tadi. Setelah menenggak habis teh Arya Wijaya menyadari bahwa minumannya telah diracuni.
Sebelum Dierja Aditama, Asri Ningsih, dan Raka Aditama meminum teh mereka. Arya Wijaya mengeluarkan sebuah kotak berisi beberapa butir Pill dan meminta mereka untuk memakannya.
"Pill apa ini? Aku belum pernah melihat sebuah Pill memiliki ukiran indah sebelumnya." Tanya Dierja Aditama sambil memandangi Pill berwarna biru muda dengan ukiran burung Phoenix ditangannya.
"Oh, itu hanya permen penyegar mulut saja. Silahkan dicoba." Ucap Arya Wijaya sambil mengunyah Pill tersebut untuk membuktikan bahwa itu tidak berbahaya.
Melihat Arya Wijaya memakan Pill tersebut membuat Dierja Aditama dan keluarganya kemudian ikut memakannya.
Raka Aditama membuka matanya saat merasakan sensasi segar dimulut permen yang diberikan oleh Arya Wijaya. "Ini terasa sedikit manis dan sangat segar. Boleh aku memintanya lagi, Arya?"
"Tentu saja." Arya Wijaya mengeluarkan satu kotak berisi lebih banyak permen yang merupakan Pill penetral racun dan diberikan kepada Raka Aditama.
Saat Arya Wijaya melihat Dierja Aditama, Asri Ningsih, serta Raka Aditama meminum teh mereka membuatnya kini tak begitu khawatir lagi.
Setelah acara makan malam berakhir Arya Wijaya kemudian menyelipkan sebuah catatan kepada Dierja Aditama dan berbisik untuk membukanya saat berada dikamar.
Dierja Aditama merasa penasaran saat mendengar nada bicara Arya Wijaya menjadi dingin saat menyelipkan kertas ditangannya.
Ketika Dierja Aditama berada didalam kamar bersama istrinya, dia kemudian membuka kertas yang diberikan oleh Arya Wijaya kepadanya dan langsung terkejut.
Dalam kertas tersebut Arya Wijaya meminta Dierja Aditama bersembunyi bersama istri dan anaknya tanpa alasan yang jelas. Dierja Aditama yang sudah mulai mempercayai Arya Wijaya meski anak kecil, kemudian meminta istrinya untuk memanggil Raka Aditama ke kamar mereka secara langsung.
Awalnya Asri Ningsih menolak karena ingin menghabiskan malam berdua bersama Dierja Aditama, tetapi melihat raut wajah suaminya itu membuat firasat Asri Ningsih langsung menjadi tidak enak dan mematuhi perintah suaminya itu.
"Sebenarnya apa yang akan terjadi..." Gumam Dierja Aditama sambil memperhatikan keluar jendela yang sedang hujan deras.
__ADS_1