Legenda Dunia Kultivasi

Legenda Dunia Kultivasi
Mendatangi Asosiasi Perak


__ADS_3

Keesokan harinya dengan perut yang masih kosong Deswara dan Indera melanjutkan tugas mereka menuju Asosiasi Perak. Meski keduanya membawa cukup banyak uang sekarang, tetapi mereka tidak bisa menggunakannya dengan bebas.


Uang saku untuk perjalanan mereka sudah habis dan tidak mungkin Deswara serta Indera menggunakan dana pengadaan bahan pangan untuk kebutuhan pribadi.


Deswara dan Indera menganggap akan sangat memalukan bagi mereka menggunakan dana itu untuk diri sendiri, sementara semua saudara mereka di Kota Madya akan menghadapi krisis pangan.


Oleh sebab itu Deswara dan Indera tidak ingin mengambil sepeserpun dana tersebut, mengingat semua uangnya berasal dari kantong pribadi milik Arya.


Menahan lapar untuk beberapa hari ke depan masih bisa dilakukan oleh Deswara dan Indera. Bahkan mereka sudah terbiasa melakukannya sejak lama, mengingat keduanya sama-sama dilahirkan di sebuah Kota yang sangat miskin.


Langkah kaki Deswara dan Indera terhenti melihat bangunan Pusat Asosiasi Perak yang sangat besar serta memiliki interior mewah. Bahkan anak tangga menuju pintu masuk terbuat dari bata yang dibuat dari batu khusus.


Melihat pemandangan bangunan Pusat Asosiasi Perak dan para pengunjungnya yang terlihat memiliki kemewahan tersendiri. Deswara dan Indera merasa pesimis mengingat pakaian yang mereka kenakan.


Sebenarnya pakaian Deswara dan Indera terbilang cukup normal bukannya seperti gelandangan. Tetapi hanya saja orang-orang yang mereka lihat saat ini berasal dari golongan kelas atas, dan tentu memakai pakaian mewah setiap saat untuk menunjukkan kelas mereka didalam masyarakat.


"Berhenti disana, tunjukkan token keanggotaan kalian jika ingin masuk kedalam!" Ucap seorang petugas keamanan yang berjaga didepan pintu masuk bangunan Asosiasi Perak.


Tampang petugas keamanan itu cukup sangar dimana dia memiliki tubuh kekar dan besar setinggi 2 meter. Ada seorang lagi petugas keamanan yang juga memiliki bentuk tubuh serupa menjaga pintu masuk.


Berhadapan dengan dua pria besar itu tentu membuat Deswara dan Indera merasa kecil. Mereka seketika menjadi gugup apa lagi saat diminta untuk menunjukkan token keanggotaan, yang tentu tidak dimiliki oleh keduanya.


Melihat Deswara dan Indera hanya diam saja, kedua penjaga itu menyilangkan tangan mereka di dada sambil menunggu dua pria tersebut menunjukkan token keanggotaan.

__ADS_1


Jika Arya berada disana tentu dia mengenali kedua penjaga pintu itu bahkan mereka bertiga memiliki hubungan yang cukup akrab. Hal ini tidak terlepas dari kedekatan Arya dengan pemilik Asosiasi Perak dan sering memberikan Pil kepada dua penjaga itu.


Tak berselang lama sebuah kereta kuda datang dan seorang pria keluar dari sana. Pria itu memiliki aura istimewa tersendiri yang membuat setiap orang ketika melihatnya langsung mengetahui identitasnya.


"Ada masalah apa disini?" Tanya pria itu kepada dua penjaga sambil memperhatikan kearah Deswara dan Indera yang tampak gugup.


Melihat kedatangan pria itu langsung membuat dua penjaga pintu masuk bersikap hormat. Kedua penjaga itu tentu saja sangat mengenali pria yang merupakan tangan kanan dari pemilik Asosiasi Perak.


"Begini Tuan Dierja dua pria ingin masuk ke dalam, tetapi tidak bisa menunjukkan token keanggotaan saat diminta." Balas seorang penjaga.


Mendengar penjelasan dari salah satu penjaga, Dierja mengangguk paham. Dia kemudian mengelus janggut tipisnya dan memperhatikan Deswara serta Indera dari atas sampai bawah.


"Kalian bukan dari Ibukota bukan? Jadi ada keperluan apa sampai membuat kalian berdua datang jauh-jauh kesini?" Dierja bertanya dengan nada ramah setelah melihat cincin dimensi yang dikenakan oleh Deswara.


"Begini Tuan... Kami merupakan perwakilan dari Kota Madya yang diutus untuk meminta bantuan kepada pihak Asosiasi Perak." Deswara menjawab dengan gugup dan menyerahkan sebuah token yang terbuat dari Giok hitam kepada Dierja.


"Kota Madya?" Dierja menerima token yang diberikan oleh Deswara dan memperhatikan dengan seksama untuk mengetahui siap pemiliknya.


Tubuh Dierja tiba-tiba bergetar. Matanya membelalak lebar saat melihat ukiran bertuliskan Jenderal yang terbuat dari tinta emas tercetak di Giok Hitam ditangannya.


Mengetahui sosok asli pemilik token Jenderal terbuat, Dierja langsung menyadari jika Arya merupakan orang yang mengirim dua pria itu untuk meminta bantuan kepada Asosiasi Perak.


Dierja sendiri mengetahui informasi bahwa Arya menjadi Jenderal Bendera Hitam dari Raka putranya beberapa bulan lalu. Tentu saja Raka saat itu mendapatkan izin dari Arya secara langsung untuk mengungkapkan identitasnya kepada Dierja.

__ADS_1


Arya sendiri saat itu memberikan sebuah Giok Perekam yang dititipkan kepada Raka sebelum pergi ke Kota Madya untuk diberikan kepada Dierja.


Didalam Giok Perekam sendiri Arya meminta Dierja untuk memperbaiki hubungan dengan Raka, yang kala itu memburuk setelah kejadian tidak mengenakan 10 tahun lalu di Kediaman Keluarga Aditama.


Tentu hanya Dierja dan Raka saja yang mengetahui identitas asli Arya menjadi Jenderal Bendera Hitam. Sementara Nyonya Maharani sendiri belum mengetahui informasi ini, mengingat baik Dierja dan Raka tidak berani memberitahu tanpa izin langsung dari Arya.


Dierja sendiri sebenarnya sudah membuat rencana dalam waktu dekat untuk mengunjungi Arya, dan berbicara secara pribadi di Kota Madya tentang alasannya menjadi seorang Jenderal Bendera Hitam.


Tetapi rencana itu belum juga terealisasikan mengingat tuntutan pekerjaan Dierja yang sangat padat sebagai tangan kanan Nyonya Maharani.


"Tolong ikut denganku Tuan-tuan." Ajak Dierja sambil tersenyum ramah kepada Deswara dan Indera yang membuat kedua pria itu mengangguk dengan wajah penuh tanda tanya.


Baik Deswara dan Indera tentu saja mengetahui sosok Dierja yang merupakan tangan kanan pemilik Asosiasi Perak. Informasi sudah sangat umum ditelinga masyarakat, jadi tidak heran jika sosok Dierja cukup disegani oleh semua orang bahkan Raja dari berbagai negara.


Mendapat sambutan ramah dari tangan kanan pemilik Asosiasi Perak yang sangat terkenal dan kaya, tentu membuat Deswara serta Indera cukup terkejut dan keheranan.


Kedua pria itu sama sekali tidak menyangka jika mereka akan mendapat sambutan hangat dari salah satu petinggi Asosiasi Perak, mengingat mereka hanya orang-orang dari Kota terbuang.


Deswara dan Indera kemudian mengikuti Dierja masuk kedalam bangunan Asosiasi Perak. Mata mereka tidak bisa menyembunyikan rasa takjub saat melihat barang-barang mahal yang dipamerkan, dan interior bangunan Asosiasi Perak yang sangat mewah didalam berbeda dengan diluar.


Tetapi lagi dan lagi mereka berdua mendapat tatapan tidak menyenangkan dari para pengunjung disana. Beruntung ada Dierja yang membuat para pengunjung langsung mengalihkan pandangan setelah mendapat tatapan tajam darinya.


Deswara dan Indera kemudian dibawa menuju lantai teratas tempat dimana tak ada yang boleh menginjakan kaki jika tidak memiliki status cukup kuat. Bahkan seorang Raja tidak bisa sembarangan ke sana jika belum membuat janji sebelumnya.

__ADS_1


__ADS_2