Legenda Dunia Kultivasi

Legenda Dunia Kultivasi
Membalaskan Dendam


__ADS_3

Saat melihat sebuah aliran Arya memutuskan untuk singgah sejenak membasuh wajah dan membasahi tenggorokannya yang kering akibat diterpa angin selama perjalanan.


"Kemana perginya buku milikku? Perasaan aku sudah menaruhnya ke dalam cincin dimensi." Arya merasa bingung saat tidak menemukan jurnal harian miliknya di dalam cincin dimensi.


Masih segar diingatan Arya jika dia sudah memasukkan jurnal harian miliknya seperti biasa ke dalam cincin dimensi. Tetapi setelah menyusuri ruang di dalam cincin dimensi menggunakan kesadaran spiritual, jurnal tersebut tidak kunjung Arya temukan.


Arya kemudian ingat jika sempat meninggalkan jurnal hariannya begitu saja di dalam tenda perkemahan. Hal ini membuatnya khawatir jika apabila jurnal tersebut ditemukan oleh Putri Amanda.


"Aku menemukanmu..." Suara rendah wanita terlintas di telinga Arya yang membuatnya reflek menoleh ke samping untuk melihat sumber suara tersebut.


Begitu Arya menoleh ke samping dia langsung mendapat sambutan tebasan sebuah pedang yang mengarah langsung ke lehernya dengan akurasi sangat tajam.


Arya yang tidak bisa menghindar memutuskan mengaktifkan sisik Naga disekitar pergelangan tangan untuk menghalau tebasan meski dia sendiri ragu bisa menahan tekanannya.


Benar saja, Arya langsung terhempas dengan kecepatan tinggi sebelum menabarak sebuah batu besar dan tenggelam diantara celah retakan.


"Uhuk!!!" Darah segar keluar dari mulut Arya mengotori pakaian yang dia kenakan. Meski sudah menggunakan sisik Naga tetapi Arya masih menerima luka dalam akibat efek kejut.


Sambil menahan rasa sakit di sekitar pergelangan tangan dan dada. Arya melihat kearah siluet wanita yang berjalan santai melewati kepulan asap.


Wanita tersebut kemudian mengibaskan tangan membuat debu asap yang menghalangi jalannya hilang dalam sekejap mata, menampilkan sosok Putri Amanda yang memegang sebilah pedang kristal berwarna hitam legam.


Putri Amanda saat ini terlihat seperti malaikat maut dihadapan Arya. Aura dingin keluar dari tubuhnya dan terlihat asap tipis disekitar kakinya.


Ujung pedang kristal hitam Putri Amanda meneteskan darah segar milik Arya setelah berhasil menembus pertahanan sisik Naga milik pria tersebut dengan sangat mudah.


Disisi lain pergelangan tangan Arya mendapat luka tebasan cukup serius. Pria itu sekarang merasakan kedua tangannya kebas dan tidak bisa digerakan meski sudah mencobanya dengan sangat keras.

__ADS_1


Arya kemudian berjalan keluar dari celah retakan di dalam batu. Sambil memantapkan pijakan kaki, pria itu menatap lurus kearah Putri Amanda yang juga sedang menatapnya dengan mata memancarkan sinar putih redup.


Melihat perubahan pada Putri Amanda dan tidak bisa lagi mendeteksi kekuatan wanita tersebut. Arya langsung bisa menangkap jika Putri Amanda sudah mengembalikan ingatannya lagi.


"Sepertinya kau sudah mengetahui semuanya. Bukankah begitu?" Arya tersenyum kecil sambil menahan rasa sakit, dan sadar jika hidupnya tidak akan lama lagi karena sudah membuat seorang Dewi murka.


Putri Amanda berdecak kesal melihat Arya masih bisa tersenyum setelah semua yang dilakukannya kepada dirinya. Dia kemudian mengeluarkan sebuah Kitab Putih dan melemparkannya kearah Arya.


Melihat jurnal hariannya tergeletak tepat di hadapannya, Arya langsung bisa menebak jika Putri Amanda sudah membacanya dan memicu kembali ingatannya di masa lalu.


"Dasar pria brengsek! Kau akan menerima hal yang sama seperti apa yang sudah kau lakukan kepadaku dulu!" Putri Amanda mengeratkan gigi sambil mengacungkan pedang kearah Arya.


Perkataan dari Putri Amanda tidak membuat Arya merasa takut. Masih ada sedikit senyuman pada wajahnya karena dia menyadari tidak akan lolos dari seorang Dewi yang murka meski kabur sampai ke ujung alam semesta.


"Masih ada hal yang perlu aku lakukan, jadi maaf aku tak akan memberikan nyawaku begitu saja." Ucap Arya sambil mengalirkan energi spiritual untuk menyembunyikan luka pada pergelangan tangan.


"Perwujudan Es : Seribu tusukan jarum es abadi!"


Jarum-jarum es berwarna hitam muncul dan melayang disekitar Putri Amanda. Dalam sekali kibasan tangan seribu jarum es langsung melesat kearah Arya dengan kecepatan tinggi.


Dengan menggunakan teknik meringankan tubuh Arya berusaha menghindari jarum es milik Putri Amanda yang terus mengejarnya kemanapun dia pergi.


Arya tentu mengetahui betul teknik jarum es milik Putri Amanda dan akan sangat berbahaya jika sampai mengenai tubuhnya meski hanya sebuah goresan kecil.


Benar saja jarum es yang gagal mengenai Arya langsung membekukan tanah ditempat pria tersebut berpijak sebelumnya, dan menyebar ke segala arah seperti peradangan.


Setelah berhasil menghindari teknik seribu jarum es abadi milik Putri Amanda. Belum sempat Arya mengatur nafa dia sudah langsung disambut oleh wanita tersebut, yang tiba-tiba muncul dibelakangnya sambil menebaskan pedang.

__ADS_1


Arya kali ini tidak ingin menggunakan anggota tubuhnya langsung untuk menahan serangan Putri Amanda. Pada akhirnya dia memutuskan menggunakan pedang untuk meminimalisir kerusakan.


Dentuman keras terdengar saat kedua pedang bertemu. Sudah bisa di pastikan siapa yang lebih kuat di antara mereka. Benar saja Arya kembali dipaksa mundur kebelakang.


Arya mencoba menyeimbangkan tubuhnya yang terhempas dan melapisi telapak kakinya menggunakan energi spiritual untuk berpijak di atas permukaan sungai.


"Dapat..." Meski suara Putri Amanda terdengar sangat lirih, tetapi Arya masih bisa mendengar perkataannya yang membuat dirinya langsung sadar sudah masuk ke dalam jebakan wanita tersebut.


Arya berdecak kesal karena baru ingat jika Putri Amanda mempu mengendalikan air. Dipadukan dengan elemen es kekuatan wanita tersebut tentu akan sangat mengerikan.


Benar saja air sungai langsung membungkus tubuh Arya dan membekukan setengah badan hingga menyisakan bagian kepala.


Arya kali ini sudah mati langkah dan tidak bisa bergerak lagi. Putri Amanda dengan santai menyeret pedang sambil menghampiri pria tersebut.


Melihat wanita tersebut sudah berada tepat dihadapannya. Arya menghela nafas mengetahui sebentar lagi dia akan mendapat hukuman dari Dewa Yama di neraka.


"Sebagai seorang Dewi aku akan bermurah hati untuk membiarkanmu mengucapkan kata-kata terakhir sebelum bertemu Yama..."


Putri Amanda menyeringai sambil mengacungkan pedang kristal yang mengeluarkan aura dingin sangat kuat kearah Arya tanpa belas kasih.


"Aku sudah puas menjalani kehidupan dan maaf..." Arya tersenyum tipis dan merasakan beban yang selama ini dia angkat di pundaknya sudah menghilang.


Tidak ada penyesalan sedikitpun diwajah Arya dan dia sudah siap untuk menerima hukumannya di alam bawah dan bertemu dengan para korbannya.


Putri Amanda berdecak kesal melihat Arya masih bisa tersenyum disaat-saat terakhir. Tanpa belas kasih dan keraguan sedikitpun, Putri Amanda langsung mengunuskan pedang kearah jantung pria tersebut sampai menembus punggung.


Darah segar menyiprat sebagian wajah Putri Amanda yang masih menggenggam erat pedang miliknya saat menusuk jantung milik Arya.

__ADS_1


Suasana langsung menjadi hening dan hanya ada suara aliran sungai yang saat ini bercampur dengan darah segar.


__ADS_2