
Arya Wijaya menarik kembali tangannya yang digenggam oleh Nyonya Maharani Kanigara. Dia menggelengkan kepala, menolak untuk mengatakan hal yang sebenarnya terjadi.
Nyonya Maharani Kanigara menghela nafas dan tidak bertanya lagi mengenai kondisi Arya Wijaya, melihat anak itu sendiri tak ingin buka suara.
"Apa kau sudah sarapan pagi?" Nyonya Maharani Kanigara bertanya dengan nada seolah tidak perduli karena merasa kesal Arya Wijaya tak mau berterus terang kepadanya.
"Ya, aku sudah sarapan pagi bersama Tuan Aditama dan keluarganya tadi di rumah. Silahkan dilanjutkan, jangan pikirkan aku."
"Siapa juga yang memikirkan mu, Nak? Jangan berpikir terlalu jauh. Aku hanya tidak ingin kau menyia-nyiakan waktuku karena menunda pekerjaanmu."
Arya Wijaya tertawa pelan dengan gugup merasa perkataan Nyonya Maharani Kanigara ada benarnya juga. Bagaimana mungkin seseorang dari kasat tinggi dan kaya mengkhawatirkan anak seorang petani sepertinya pikir Arya Wijaya.
Nyonya Maharani Kanigara kemudian meminta Arya Wijaya untuk segera melakukan pekerjaannya. Dia menyuruh Arya Wijaya untuk menemui Dierja Aditama.
"Mungkin aku memerlukan waktu selama satu minggu. Kalau begitu aku permisi, maaf sudah mengganggu waktumu." Arya Wijaya berkata dengan hangat sebelum keluar dari ruangan Nyonya Maharani Kanigara.
Setelah Arya Wijaya pergi. Nyonya Maharani Kanigara meremas sumpitnya sampai patah dan membuat tangannya terluka. Pelayan yang ada disana ingin membantu mengobati lukanya, tetapi Nyonya Maharani Kanigara menolak dan meminta pelayanannya pergi.
Pertarungan Arya Wijaya semalam sangat membekas di ingatan Nyonya Maharani Kanigara. Dengan jelas dia mengetahui Arya Wijaya mendapat banyak luka setelah melawan para pembunuh bayaran itu seorang diri.
Tetapi saat melihat bagaimana Arya Wijaya masih bisa terlihat tenang bahkan tertawa, entah mengapa Nyonya Maharani Kanigara merasa sedikit sesak.
Bayangan wajah Arya Wijaya semalam saat topengnya terlepas terlintas kembali di ingatan Nyonya Maharani Kanigara. Dia sekarang benar-benar sangat yakin kalau Arya Wijaya merupakan anak yang saat ini sedang dicari-cari satu Kerajaan.
Mengingat marga keluarga Arya adalah Wijaya. Nyonya Maharani Kanigara menyadari kalau Arya Wijaya memiliki hubungan darah dengan Raja Brawijaya dan Keluarga Wijaya.
Tetapi bukan hal itu yang sedang Nyonya Maharani Kanigara pikiran saat ini. Melainkan raut wajah Arya Wijaya yang diterpa hujan semalam, dan tatapan mata anak itu.
Raut wajah yang menunjukkan kesedihan akan kepergian seseorang. Nyonya Maharani Kanigara berpikir hanya dirinya saja yang memilikinya.
__ADS_1
Berbeda dengan Arya Wijaya yang dapat membuat berbagai ekspresi untuk memahami perasaan seseorang, Nyonya Maharani Kanigara merasa Arya Wijaya lebih kuat darinya.
"Dasar pembohong besar. Kau masih saja bisa memperdulikan dan memahami perasaan seseorang disaat kau sendiri masih terluka."
Nyonya Maharani Kanigara kini baru menyadari bahwa Arya Wijaya memiliki kejadian buruk di masa lalunya. Dia merasa bodoh karena sudah tertipu dengan lelucon Arya Wijaya saat berbincang santai dengannya kemarin hanya untuk menghiburnya. Nyonya Maharani Kanigara berpikir Arya Wijaya terlalu peka dengan perasaan lawan bicaranya.
****
Disisi lain Arya Wijaya kini sedang dipandu oleh Dierja Aditama menuju ruangan bawah tanah Asosiasi Perak, yang sudah disiapkan khusus untuk Arya Wijaya bekerja.
Didalam ruangan itu sudah disiapkan sumber daya yang telah Arya Wijaya minta untuk membuat krim kecantikan.
Dierja Aditama sempat bingung saat melihat daftar bahan yang minta salah satunya ada tanaman yang dianggap hama yaitu bunga Dandelion. Daftar bahan yang Arya Wijaya minta antara lain bunga Dandelion, Madu, Lidah Buaya, dan Lavender.
Arya Wijaya sebelumnya telah meminta semua daftar bahan yang ada di daftar disiapkan dalam jumlah besar agar dapat membuat krim dalam jumlah banyak sekaligus.
"Tuan Aditama, aku minta agar seseorang tidak masuk kedalam selama satu minggu. Entah mereka memiliki urusan penting atau tidak."
Tentu Dierja Aditama melarang masuk Nyonya Maharani Kanigara yang ingin bertemu dengan Arya Wijaya. Meski Nyonya Maharani Kanigara adalah atasannya tetapi Dierja Aditama sudah berjanji kepada Arya Wijaya tak membiarkan satu orang pun masuk.
"Menyingkir, biarkan aku masuk kedalam. Ada hal yang ingin aku bicarakan dengan anak itu." Ucap Nyonya Maharani Kanigara dengan geram saat melihat Dierja Aditama terus menghalanginya.
"Maaf Nyonya, tetapi Tuan Arya meminta untuk tidak diganggu selamat satu minggu. Saya tak bisa membiarkan Nyonya masuk kedalam." Dierja Aditama menolak dengan halus dan terlihat menyembunyikan ketakutannya.
Kesal dengan sikap Dierja Aditama yang sudah berani menentangnya, Nyonya Maharani Kanigara kemudian mengancam Dierja Aditama menggunakan sebilah pedang.
Meski lehernya sedikit mengeluarkan darah karena diancam menggunakan pedang oleh Nyonya Maharani Kanigara, Dierja Aditama tetap menolak.
Melihat keteguhan dimata Dierja Aditama membuat Nyonya Maharani Kanigara kemudian menyimpan kembali pedangnya. Dengan kesal Nyonya Maharani Kanigara pergi dan akan menunggu Arya Wijaya selama satu minggu.
__ADS_1
****
Didalam ruangan bawah tanah, Arya Wijaya langsung saja melakukan pekerjaannya untuk membuat krim yang sudah dia janjikan kepada Nyonya Maharani Kanigara.
Tanpa menggunakan Tungku Pembakaran yang biasa digunakan oleh para Alkemis, Arya Wijaya memilih menggunakan apinya secara langsung seperti yang pernah diajarkan oleh Hyman Nirwasita kepadanya.
Arya Wijaya mengendalikan bahan-bahan dan mengumpulkan menjadi satu dengan menggunakan Qi. Kemudian menggunakan api putih untuk mengolah sumber daya tersebut.
Hanya dalam waktu satu hari Arya Wijaya sudah bisa menyelesaikan pekerjaannya dan menyusun rapih wadah-wadah yang dibuat khusus untuk menyimpan krim.
Sisa enam hari Arya Wijaya berencana untuk menambah Sisik Naganya yang masih berjumlah 10. Jujur setelah pertarungan melawan para pembunuh bayaran, Arya Wijaya merasa kulitnya masih terlalu mudah untuk terluka.
Arya Wijaya kemudian mengeluarkan sebuah tungku besar yang pernah dia gunakan untuk berendam. Dia kemudian memasukkan sejumlah air dan mencampurnya dengan ramuan khusus yang pernah Arga Mahesa berikan kepadanya.
Tiga butir Pill Matahari yang merupakan Pill tingkat 9. Pill Matahari sendiri merupakan Pill buatan Hyman Nirwasita yang jumlahnya terbatas didalam cincin dimensi. Arya Wijaya kemudian menelan Pill Matahari sebelum masuk kedalam tungku.
Saat masuk Arya Wijaya masuk kedalam tungku, seketika air yang awalnya seputih susu berubah menjadi kemerahan karena tercampur dengan darah Arya Wijaya.
****
Nyonya Maharani Kanigara sekarang sedang menikmati waktu minum teh didalam ruangannya. Terlihat Dierja Aditama duduk menghadap dirinya dengan raut wajah bersalah karena kejadian kemarin.
Untuk menenangkan sedikit pikiran dan rasa gundah. Dierja Aditama mengeluarkan kotak kayu berisi beberapa butir permen yang diberikan oleh Arya Wijaya.
Permen itu sendiri adalah Pill yang sama pernah Arya Wijaya berikan untuk menetralisir racun saat keluarga Dierja Aditama ingin diracuni.
Melihat kotak berisi beberapa butir permen yang Dierja Aditama keluarkan, membuat Nyonya Maharani Kanigara tertarik. "Apa itu?"
"Oh... Ini permen buatan Tuan Arya yang diberikan kepada saya, Nyonya. Rasanya sedikit manis dan terasa daun mint yang membuat mulut menjadi segar."
__ADS_1
Nyonya Maharani Kanigara kemudian meminta satu butir kepada Dierja Aditama. Dia lalu menghirup aroma permen itu sebelum memasukkan kedalam mulut.
Seketika Nyonya Maharani Kanigara sadar kalau itu bukanlah permen melainkan Pill Penetralisir Racun tingkat 5. "Permen kah? Dierja, apa kau tak memeriksanya terlebih dahulu? Semakin besar kau justru menjadi bodoh. Ini bukan permen melainkan Pill Penetralisir Racun tingkat 5."