
Arya Wijaya memutuskan kembali menuju kediaman Dierja Aditama setelah mengobrol bersama Nyonya Maharani Kanigara. Kali ini Arya Wijaya pulang seorang diri sementara Dierja Aditama akan pulang setelah menyelesaikan tugasnya, yaitu membuat agenda pelelangan untuk besok.
Sesampainya dikediaman Dierja Aditama saat malam hari, Arya Wijaya langsung menjatuhkan tubuh lelahnya diatas kasur.
Tetapi baru saja Arya Wijaya ingin tidur, Raka Aditama yang sudah tidak sabar dilatih oleh Arya Wijaya karena telah menunggu selama satu minggu masuk kedalam kamar dan membujuk Arya Wijaya.
"Raka... Tidak sekarang. Sekarang sudah malam dan aku mau istirahat..." Arya Wijaya menolak dengan malas dan terlihat sudah memejamkan mata.
Raka Aditama jelas tidak ingin menunda latihannya lagi. Dia sudah bosan dipandang remeh oleh semua orang bahkan oleh para pelayan dirumahnya, karena dia memiliki tubuh lemah.
"Kenapa Kakak sama seperti ayahku yang selalu menolak saat aku ajak latihan? Aku maunya sekarang." Raka Aditama menarik-narik tubuh Arya Wijaya sambil terus membujuknya.
"Besok pagi saja aku janji. Apa kau tau latihan dimalam hari sangat buruk untuk kesehatan, apalagi kalau sampai terkena hawa dingin." Tolak Arya Wijaya yang seketika membuat Raka Aditama menjadi murung.
Menyadari Raka Aditama kehilangan semangat latihan dan murung. Arya Wijaya kemudian menarik Raka Aditama untuk tidur bersamanya.
Raka Aditama akhirnya menyerah dan menurut setelah melihat raut wajah Arya Wijaya saat tidur terlihat lelah. Dia kini benar-benar merasa seperti adik kecil Arya Wijaya yang hanya bisa menuruti perintah kakaknya.
Raka Aditama kemudian memutuskan tidur bersama Arya Wijaya agar tidak dikelabui oleh Arya Wijaya lagi karena seminggu lalu dia sudah ditipu oleh Arya Wijaya.
Sementara itu Asri Ningsih diam-diam mengintip Arya Wijaya dan Raka Aditama dari celah-celah pintu. Melihat keakraban mereka membuat Asri Ningsih merasa senang. Apalagi saat melihat Raka Aditama yang selalu menutup diri, kini justru terlihat manja kepada Arya Wijaya.
__ADS_1
"Apa yang kamu lakukan disini?" Dierja Aditama yang baru pulang tiba-tiba muncul di belakang Asri Ningsih dan membuat istrinya itu terkejut.
Asri Ningsih menggelengkan kepala sambil berkata kalau tidak apa-apa. Dierja Aditama tentu tidak percaya dan merasa penasaran. Tetapi Asri Ningsih langsung menarik Dierja Aditama untuk pergi menghabiskan malam bersama.
****
Pagi harinya Arya Wijaya dan Raka Aditama terlihat berada di halaman belakang. Kegiatan mereka bukan latihan melainkan bermain lempar tangkap bola.
Lempar tangkap bola adalah kegiatan yang sangat dikuasai oleh Raka Aditama. Jujur dia merasa senang karena ada seseorang yang kini mau bermain dengannya.
Tetapi disisi lain Raka Aditama merasa sedikit kesal karena Arya Wijaya malah mengajaknya bermain lempar tangkap bola, bukannya melatih dirinya.
Saat Arya Wijaya melemparkan bola kearahnya, Raka Aditama tidak menangkap bola itu dan membiarkannya. "Sudah cukup. Mengapa Kakak tidak melatih ku. Kakak sudah janji akan melatihku sekarang bukan?"
"Ini sama sekali bukan latihan. Dari tadi kita hanya bermain lempar tangkap bola. Aku sudah bosan." Balas Raka Aditama sambil menatap kearah tanah merasa kesal dengan Arya Wijaya.
Arya Wijaya menghela nafas saat harus menghadapi seorang anak kecil yang belum mengerti niatnya bermain lempar tangkap bola.
Arya Wijaya kemudian memegang kedua pundak Raka Aditama dan memeriksa keadaan tubuh anak itu, untuk menemukan sumber masalah kenapa Raka Aditama memiliki tubuh yang lemah.
Ada banyak Qi kotor yang menyumbat peredaran Qi bersih di meridian milik Raka Aditama. Hal itu sama seperti kondisi tubuh yang dimiliki oleh Arya Wijaya sebelumnya.
__ADS_1
Arya Wijaya bisa saja menghilangkan Qi kotor yang menyumbat Meridian milik Raka Aditama. Tetapi saat mengetahui Raka Aditama memiliki tipe tubuh Dewa Matahari, membuat Arya Wijaya tak mau terburu-buru menyembuhkan Raka Aditama.
Bisa saja energi panas yang terperangkap didalam tubuh Raka Aditama langsung meledak ketika Arya Wijaya menyembuhkan anak tersebut. Hal itu tentu akan sangat bahaya untuk orang-orang disekitarnya, dan sangat berbahaya untuk tubuh Raka Aditama sendiri yang belum siap.
Arya Wijaya memerlukan beberapa herbal berkualitas tinggi untuk membuat Pill Pemurnian Tubuh, setidaknya tingkat 6. Dimana membuat Pill tingkat 6 masih bisa buat, tetapi lain cerita kalau harus membuat Pill tingkat 7 dan diatasnya.
Selain membuat Pill Pemurnian Tubuh, Arya Wijaya memerlukan sebuah teknik bertarung untuk Raka Aditama. Melihat Raka Aditama sangat ahli dalam hal lempar tangkap bola, Arya Wijaya bisa memilih senjata berupa cakram untuk Raka Aditama.
Tiba-tiba dari kejauhan Asri Ningsih memanggil Raka Aditama dan Arya Wijaya untuk sarapan. Raka Aditama yang masih merasa kesal karena berpikir Arya Wijaya hanya main-main dengannya, kemudian meninggalkan Arya Wijaya
Arya Wijaya yang harus menghadapi seorang anak kecil yang merajuk, hanya bisa menghela nafas panjang. Yang sedang Arya Wijaya pikirkan sekarang bukan emosi Raka Aditama, melainkan bagaimana agar energi panas yang sudah tertimbun didalam tubuh Raka Aditama tidak meledak.
Saat sedang sarapan pun Arya Wijaya masih terus berpikir. Dia tentu tak ingin energi panas milik Raka Aditama meledak dan membakar apa saja yang dia lihat.
Sementara itu Raka Aditama masih tak mau berbicara kepada Arya Wijaya. Dia masih merajuk dan beberapa kali melirik Arya Wijaya dengan kesal. Raka Aditama belum menyadari kalau Arya Wijaya sebenarnya cukup perduli tentang kondisi tubuhnya.
Dierja Aditama dan Asri Ningsih hanya bisa saling pandang saat melihat sikap Raka Aditama berubah kepada Arya Wijaya. Dierja Aditama serta Asri Ningsih tidak tau harus berbuat apa dan akan membiarkan kedua anak itu menyelesaikan perselisihan mereka sendiri tanpa ikut campur.
Setelah sarapan selesai, Arya Wijaya langsung kembali kedalam kamarnya. Hal itu membuat Raka Aditama berpikir Arya Wijaya benar-benar tidak perduli kepadanya dan membuatnya semakin kesal.
Hari ini Arya Wijaya tidak ikut bersama Dierja Aditama menuju Asosiasi Perak. Dierja Aditama harus mengurus berbagai hal untuk pelelangan nanti malam yang akan dihadiri oleh orang-orang ternama di Kerajaan Brawijaya. Sedangkan pekerjaan Arya Wijaya sudah selesai dan hanya menunggu hasilnya saja.
__ADS_1
Didalam kamar Arya Wijaya mulai membuat menu latihan untuk Raka Aditama. Bukan tanpa sebab Arya Wijaya mau membantu Raka Aditama. Dia memiliki bayangan Raka Aditama akan menjadi sosok yang cukup disegani di Kerajaan Brawijaya bahkan oleh Kerajaan lain.
Arya Wijaya berpikir dengan membantu Raka Aditama sejak kecil, dia dapat memasukkan Raka Aditama kedalam pasukannya dimasa depan. Dan jelas ketika hal itu terjadi Raka Aditama akan memiliki kesetiaan tinggi karena merasa sangat berhutang budi kepadanya.