
"Apa ada masalah yang terjadi diantara kalian. Kenapa raut wajahmu terlihat lesu seperti itu?" Tanya Asri sambil berbisik disamping telinga Dierja.
Dierja mengusap lehernya sambil menggelengkan kepala. "Tidak ada masalah yang terjadi diantara kami berdua. Aku hanya kelelahan saja, yang membuat wajahku terlihat lesu."
Mendengar perkataan suaminya, Asri tidak begitu saja percaya. Saat melihat gelagat dan mimik wajah Dierja, dia tau kalau suaminya sedang menyembunyikan sesuatu yang penting, sampai-sampai tak ingin bercerita kepadanya.
Asri tidak menanyakan lebih lanjutmasalah apa yang sedang Dierja pikirkan sekarang. Dia memilih untuk menunggu waktu sampai semuanya terjawab dengan sendirinya.
Setelah makan malam selesai, Arya memberikan kain berisi cakram dan sepotong lempengan besi kepada Raka yang tidak sempat dia berikan tempo hari lalu.
Ketika Raka menerima barang pemberiannya. Arya melihat anak itu tersenyum, tetapi entah mengapa dia bisa melihat Raka hanya tersenyum terpaksa. Tidak seperti beberapa hari lalu yang kelihatan antusias.
Arya sekarang mulai curiga dengan Raka. Dia merasa ada sesuatu yang berubah dengan anak itu. Arya kemudian mencoba mengingat bagaimana para pelayan di kediaman Aditama yang sudah tidak berani menyinggung Raka lagi.
"Oh, iya... Paman, ada hal yang ingin kutanyakan kepadamu. Saat aku pergi ke dapur, kenapa ada banyak sekali makanan yang dibuat? Tidak seperti biasanya..." Setelah bertanya, Arya meminum teh sambil melirik kearah Raka yang kelihatan mulai panik.
Dierja yang ditanya mengenai makanan yang dibuat lebih banyak di dapur, tiba-tiba terlihat senang. "Begini Tuan Muda. Sebenarnya itu semua untuk merayakan kesembuhan Raka, dan syukuran karena Raka kini bisa ber kultivasi seperti anak normal pada umumnya. Bahkan yang mengejutkan, dia memiliki tubuh tipe Dewa Matahari."
Mendengar penjelasan dari Dierja, Arya cukup terkejut dan melirik kearah Raka dengan tatapan tajam. Raka sendiri hanya bisa menundukkan kepala, menyadari bahwa dia sudah melakukan sebuah kesalahan.
"Apa bisa paman jelaskan kejadiannya lebih rinci kepadaku?" Tanya Arya tanpa melihat kearah Dierja dan justru terus memandangi Raka.
Dierja kemudian mulai menjelaskan kejadian 3 hari lalu disaat Raka terlibat perkelahian dengan beberapa anak laki-laki didepan gerbang kediaman Aditama.
Saat itu Raka yang baru selesai melatih fisiknya dengan berlari mengelilingi kediaman keluarga Aditama, mendapat hinaan dari beberapa anak yang mengatakan kalau dia merupakan anak cacat, dan percuma saja jika melatih fisiknya.
__ADS_1
Raka yang emosinya terpancing langsung melawan kelima orang anak itu dan secara tidak sengaja menggunakan Api Surgawi peringkat 9 miliknya. Salah satu anak tak sengaja terkena Api Surgawi milik Raka, dan menyebabkan anak itu mengalami luka bakar yang cukup parah.
Ada banyak orang yang menyaksikan kejadian itu termasuk Asri ibu Raka sendiri. Dihari berikutnya Raka kemudian dibawa menuju Asosiasi Perak untuk melakukan pemeriksaan, dan di temukan bahwa anak itu memiliki tubuh Dewa Matahari, yang hanya dapat dimiliki seseorang dalam waktu 10.000 tahun sekali.
Tidak seperti kebanyakan pemiliki tubuh Dewa Matahari sebelumnya yang dapat membahayakan pemiliknya, tubuh Dewa Matahari milik Raka cenderung lebih stabil dan dapat dikendalikan dengan baik.
Berita tentang Raka yang memiliki tubuh Dewa Matahari segera tersebar sampai ke telinga para petinggi Kerajaan Brawijaya, dan sekte-sekte besar.
Raka kemudian mendapat tawaran dari berbagai pihak untuk bergabung dengan mereka, tetapi Dierja sebagai orang tua menolak dan akan mengirim Raka untuk berguru di Sekte milik orang tua Asri.
Untuk mendukung bibit unggul di Kerajaan Brawijaya, secara khusus pihak Istana memberikan bantuan untuk membeli sumber daya yang bisa membantu perkembangan Raka.
"Kurang lebihnya seperti itu, Tuan Muda. Jujur saya akan sangat senang jika bisa bertemu dengan sosok yang menyembuhkan Raka." Dierja menyelesaikan ceritanya sambil tertawa bahagia dan membanggakan anaknya.
Setelah mendengar penjelasan dari Dierja. Tiba-tiba cawan ditangan Arya pecah setelah dia meremasnya dengan kuat. Hal itu seketika membuat semua orang terkejut, terutama Raka yang mulai menjadi gelisah.
"Ah... Begitu ya..." Arya tersenyum kecil kemudian mengangkat wajahnya dan menatap Raka sambil mengeluarkan sedikit aura membunuhnya.
Reaksi yang diberikan oleh Arya sontak membuat Dierja dan Asri merasa bingung. Keduanya mulai merasa cemas saat merasakan aura membunuh dari Arya sampai membuat suasana di ruangan menjadi mencekam.
Raka yang ingin menghindari masalah dengan Arya, saat akan beranjak pergi, tubuhnya secara tiba-tiba tak mau di gerakan dan membuatnya hanya bisa duduk disamping Arya.
"Bukankah aku sudah melarangmu untuk menggunakan kemampuanmu, Raka?" Arya bertanya tanpa melirik kearah Raka yang berada di sampingnya.
Raka yang berada dibawah tekanan Arya mencoba mengeluarkan pembelaan. "Mereka membuatku terpaksa menggunakannya..."
__ADS_1
Mendengar perkataan Raka membuat Arya tertawa pelan. "Bukannya kau sudah terbiasa mendapat hinaan? Hanya mengabaikan mereka bukannya tak sulit untuk kau lakukan? Apa karena sekarang kau sudah memiliki kekuatan, membuatmu kehilangan kesabaran?"
"Awalnya aku ingin melatihmu dan membantu perkembanganmu, tetapi sekarang aku sudah kehilangan niatku untuk membantumu." Selesai mengatakan hal tersebut, Arya melirik kearah Raka yang emosinya sudah mau meledak.
Perkataan Arya tentu membuat Raka cukup tersinggung dan merasa kesal. "Memangnya kau tau apa tentangku. Setiap hari aku selalu dihina dan diperlakukan seperti pecundang orang semua orang, apa kau tau itu?"
"Sekarang setelah aku memiliki bakat yang sudah lama hilang, mereka semua kini menghormatiku dan tak memandangku dengan sebelah mata lagi."
Raka kemudian melemparkan kain berisi cakram dan lempeng logam kepada Arya dengan kesal. "Ambil itu kembali, aku tak butuh barang rongsokan yang kau berikan."
Mata Arya membelalak beberapa saat, ketika melihat Raka kini benar-benar sudah berubah menjadi pribadi yang sombong setelah mendapat perlakuan istimewa dari semua orang.
"Kau sudah berubah ya, Raka... Aku harap kau tak menyesali keputusanmu." Ucap Arya sambil tersenyum kecil.
Raka mengeratkan giginya dan menunjuk kearah pintu keluar. "Memangnya untuk apa aku harus menyesal. Berhentilah bertingkah, kau seharusnya tau diri karena sudah menumpang dirumahku. Aku juga tidak perduli kalau kau tak melatih ku, karena kakek ku sendiri bisa melatihku!"
"Sekarang angkat kaki dari rumahku!" Ucap Raka dengan kesal yang membuat semua orang terkejut saat mendengarnya.
Dierja hendak memarahi Raka tetapi niatnya terhenti saat melihat Arya mengangkat tangan memberi isyarat kepadanya untuk tidak ikut campur.
"Baik kalau itu maumu, lagipula urusanku di kota ini sudah selesai." Arya lalu berdiri dan berhenti sejenak didekat pintu.
"Raka, kau harusnya sadar siapa yang sudah menyembuhkan mu. Aku bisa saja langsung menghancurkan Dantian milikmu, dan membuatmu cacat seumur hidup."
"Tapi sepertinya itu tidak menarik. Mari kita lihat saat sudah dewasa nanti..." Ucap Arya sebelum menghilang dari pandangan semua orang.
__ADS_1