
Di kediaman Baduga Maharaja terlihat dua orang pria sedang bermain catur diteras rumah. Mereka tak lain adalah Baduga Maharaja dan Arga Mahesa yang sengaja bermain catur untuk menghilangkan kebosanan.
Selama 2 tahun terakhir Baduga Maharaja dan Arga Mahesa hanya bersantai dirumah tetapi terkadang mereka berdua akan menuruni gunung mengunjungi desa terdekat untuk mencari hiburan.
Baduga Maharaja menyesap teh galaksi di cangkirnya sambil menunggu Arga Mahesa melakukan gerakan berikutnya. Dalam permainan catur itu jelas Arga Mahesa merasa sangat kesulitan dan harus berpikir keras sebab lawannya seorang ahli strategi perang.
Arga Mahesa memasang ekspresi rumit saat memikirkan langkah bidak catur nya. Salah langkah sekali saja, maka itu akan menjadi kekalahannya yang ke 19 dan 19 kemenangan untuk Baduga Maharaja.
"Arga... Menurutmu kemana Hyman membawa Arya untuk berlatih? Aku tak bisa mendeteksi keberadaan mereka berdua setelah Hyman dan Arya pergi waktu itu...."
Dengan raut wajah penuh kekhawatiran terhadap keadaan Hyman Nirwasita dan Arya Wijaya. Baduga Maharaja menatap langit biru sambil berharap keadaan Hyman Nirwasita dan Arya Wijaya baik-baik saja.
"Sudah... Tenanglah Kak, Hyman dan Arya pasti baik-baik saja. Kalau tak ada hambatan, hari ini harusnya mereka akan kembali."
Sambil berfokus menatap papan catur Arga Mahesa mencoba menenangkan Baduga Maharaja yang sudah mengkhawatirkan keadaan Hyman Nirwasita dan Arya Wijaya sejak 2 tahun lalu. Bahkan setiap hari Arga Mahesa dapat melihat Baduga Maharaja terlihat selalu murung.
"Perkataan mu masih ada benarnya juga. Hyman pasti bisa menjaga anak itu. Tetapi kalau hari ini mereka tak kunjung kembali, aku terpaksa akan mencari mereka."
Baduga Maharaja menghela nafas panjang sebelum meminum teh galaksi untuk menenangkan jiwa dan pikirannya yang sudah tak tenang setiap hari, sejak kepergian Hyman Nirwasita dan Arya Wijaya.
Bagaimanapun Baduga Maharaja masih merasa heran mengapa dirinya tak bisa mendeteksi keberadaan Hyman Nirwasita dan Arya Wijaya. Terakhir kali dia mendeteksi keberadaan Hyman Nirwasita dan Arya Wijaya sedang berada di lautan yang berada di selatan.
Mendengar Baduga Maharaja akan mencari langsung keberadaan Hyman Nirwasita dan Arya Wijaya, seketika membuat Arga Mahesa menjadi cukup panik.
__ADS_1
Bukan karena Arga Mahesa tak perduli dengan keadaan Hyman Nirwasita dan Arya Wijaya, tetapi jika saja Baduga Maharaja mencari keberadaan mereka secara langsung pasti pria itu akan membuat kekacauan di berbagai negara.
Memang Baduga Maharaja terlihat lebih santai dan memiliki perangai seolah dia adalah perwujudan dari kebaikan, tetapi aslinya pria itu memiliki sifat lebih kejam dari Arga Mahesa yang terkenal sebagai Raja Perang sekalipun.
Sebagai seorang ahli strategi perang dan ahli formasi, Baduga Maharaja yang memiliki otak jenius sangatlah licik bahkan tak segan membunuh ratusan ribu orang hanya untuk kelinci percobaannya saja.
Maka dari itu Arga Mahesa tak ingin Baduga Maharaja pergi kemana-mana, sebab ditakutkan akan menghancurkan setiap kota bahkan negara hanya untuk mencari informasi mengenai keberadaan Hyman Nirwasita dan Arya Wijaya.
Bagaimanapun kehancuran bukanlah solusi yang tepat menurut Arga Mahesa hanya untuk mencari keberadaan dua orang yang sudah 2 tahun menghilang.
"Jangan lakukan hal itu Kak! Pasti mereka akan kembali hari ini juga. Aku berani menjamin nya." Arga Mahesa berusaha membujuk Baduga Maharaja untuk mengurungkan niat pencariannya.
Baduga Maharaja mengangguk pelan sebelum menatap tajam kearah Arga Mahesa. "Semoga saja perkataan mu terjadi Arga..."
Yang Arga Mahesa harapkan saat ini hanyalah Baduga Maharaja dapat membawa Arya Wijaya kembali hidup-hidup atau kekacauan baru akan terjadi di dunia itu.
Permohonan Arga Mahesa sepertinya langsung dijawab oleh langit. Dari kejauhan terlihat seekor burung Phoenix Hitam melesat cepat kearah kediaman Baduga Maharaja sambil membawa seorang bocah pingsan di punggungnya.
Ya, itu adalah Hyman Nirwasita dan Arya Wijaya yang baru saja kembali. Setelah mereka sampai dihalaman rumah Baduga Maharaja langsung menghampiri Hyman Nirwasita, yang menggendong Arya Wijaya yang terlihat pucat dan menggigil kedinginan sambil mengeluarkan banyak keringat.
"Apa yang sudah terjadi kepada Arya? Hyman sebaiknya kamu memiliki alasan yang tepat untuk menjelaskan semuanya!" Baduga Maharaja mengambil alih Arya Wijaya dari Hyman Nirwasita dan memeriksa keadaan anak itu yang terlihat kritis.
Melihat Baduga Maharaja terlihat benar-benar marah kepadanya membuat Hyman Nirwasita menjadi sangat gugup. "Baik aku akan menjelaskan semua yang terjadi, tetapi sekarang sebaiknya kita fokus dulu dengan keadaan Arya."
__ADS_1
Baduga Maharaja berdecak kesal dan segera membawa Arya Wijaya masuk kedalam untuk memeriksa keadaan anak itu lebih jauh lagi.
"Jangan khawatir..." Arga Mahesa menepuk pundak Hyman Nirwasita menyadari raut wajah menyesal pria itu karena telah membawa Arya Wijaya berlatih diluar bukit.
Hyman Nirwasita kemudian mengangguk pelan dan berjalan masuk kedalam rumah bersama Arga Mahesa.
Setelah melakukan pemeriksaan. Baduga Maharaja tak mengetahui penyebab keadaan Arya Wijaya menjadi kritis yang membuatnya langsung mencengkram kerah baju Hyman Nirwasita untuk meminta penjelasan.
Kali ini giliran Arga Mahesa menjadi penengah agar Baduga Maharaja dan Hyman Nirwasita tak menimbulkan keributan yang tidak diperlukan.
Saat Baduga Maharaja sudah mulai tenang Hyman Nirwasita kemudian menjelaskan semuanya kepada pria itu mulai dari mendapatkan bisikan misterius untuk mendatangi tempat yang disebut Daratan Es Abadi, Makam Kuno, Tubuh asli mereka yang tersegel, sampai bertemu dengan pencipta mereka sendiri.
Awalnya Baduga Maharaja dan Arga Mahesa merasa bingung dengan apa yang dikatakan oleh Hyman Nirwasita dan menganggap bahwa pria itu sudah tak waras. Tetapi setelah Hyman Nirwasita memberikan tubuh Hewan Kuno milik Baduga Maharaja dan Arga Mahesa yang tersegel serta mengembalikan sebagain ingatan mereka yang hilang, akhirnya membuat kedua pria itu percaya.
Setelah mendapatkan sebagian ingatannya kembali seketika membuat Baduga Maharaja dan Arga Mahesa merasa menyesal karena telah mengabaikan tugas yang diberikan oleh Ayah mereka sendiri.
Hyman Nirwasita memahami apa yang dirasakan oleh oleh Baduga Maharaja dan Arga Mahesa saat ini.
Sebelum mendapatkan ingatannya kembali. Tiga ribu tahun yang lalu tepatnya setelah melakukan pertempuran terakhir melawan bangsa Iblis atau yang dikenal sebagai Jaman Kekacauan, ketiga pria itu entah mengapa tersadar di sebuah padang rumput di daerah terpencil dan tak bisa mengingat apa yang telah terjadi setelah pertempuran itu berakhir.
Baduga Maharaja, Hyman Nirwasita, dan Arga Mahesa bahkan tak bisa mengingat saat ketiganya bertarung satu sama lain tanpa sebab yang jelas.
"Di mana Ayah sekarang? Aku ingin bertemu dan membicarakan semua yang telah terjadi kepadanya." Baduga Maharaja bertanya dan diangguki oleh Arga Mahesa.
__ADS_1
Saat Hyman Nirwasita ingin menjawab pertanyaan dari Baduga Maharaja, sesuatu tiba-tiba terjadi kepada Arya Wijaya yang membuat Wu Bai tak jadi mengatakannya.