
Kepergian Arya seketika membuat suasana diruang makan menjadi kosong. Semua orang yang ada disana tak percaya bahwa Arya akan benar-benar pergi malam itu juga.
Asri terdiam menyaksikan apa yang baru saja terjadi. Dia kemudian mengalihkan pandangan kearah Dierja, dan menemukan raut wajah suaminya benar-benar marah. Asri yang sudah hidup bersama dengan Dierja tak pernah melihat sekalipun suaminya memasang ekspresi semarah sekarang.
Saat Asri ingin menenangkan Dierja, tiba-tiba suaminya itu berdiri dan menarik lengan Raka secara paksa menuju kamarnya, tanpa memperdulikan Raka yang merintih kesakitan.
Para pelayan yang melihat Dierja menarik Raka dengan paksa saat di lorong, hanya bisa memandang satu sama lain merasa heran dengan apa yang sebenarnya sedang terjadi.
Setibanya dikamar, Dierja langsung menghempaskan Raka sampai membuat anak itu tersungkur di lantai. "Apa kau sadar perbuatan yang sudah kau lakukan, Raka?!"
Raka merintih kesakitan memegangi sikunya yang berdarah. Sambil menahan rasa sakit, Raka kemudian menengok kearah Dierja, dan melihat raut wajah ayahnya yang sedang marah besar.
"Memangnya apa yang salah. Aku hanya mengatakan fakta yang sebenarnya. Dia sama sekali tidak berguna, dan hanya rakyat jelata yang ingin menumpang di rumah ini." Balas Raka yang masih meninggikan egonya, dan berpikir kalau dirinya yang sekarang jauh lebih kuat dari Arya.
Mendengar jawaban dari Raka yang benar-benar tidak terduga, Dierja menjadi tidak habis pikir dengan putranya itu yang berubah menjadi congkak.
Asri yang baru saja tiba langsung menutup pintu kamar dan memasang kertas formasi untuk meredam suara, agar apa yang terjadi disana tidak didengar oleh orang lain.
Melihat ibunya sudah datang, Raka mencoba meminta bantuan agar terbebas dari Dierja. Tetapi Asri justru memalingkan wajah dan terlihat dia juga merasa kecewa seperti Dierja kepada Raka.
"Dia tidak berguna katamu? Apa kau ingat siapa yang sudah menolong keluarga kita dari rencana pembunuh oleh Rumah Mawar Hitam? Apa kau tidak lihat siapa yang sudah membuat penjualan di Asosiasi Perak meningkat sampai membuat gaji ayah naik? Dan apa kau tidak lihat siapa yang sudah mengobati mu sampai bisa berkultivasi seperti anak lain?"
Dierja yang biasanya bersikap tenang justru sekarang emosinya meledak saat melihat perbuatan yang sudah dilakukan oleh Raka.
Mendengar perkataan dari ayahnya. Raka terdiam dan tidak bisa mengatakan apapun. Dia hanya bisa memalingkan wajah sambil mencengkram pakaiannya.
"Tadi kau bilang dia hanya rakyat jelata? Kau salah Raka. Dia adalah anak yang keberadaannya saat ini sedang dicari langsung oleh Raja. Kau bisa menebak sendiri siapa dia sampai membuat Raja turun tangan langsung untuk mencarinya."
Mata Raka membelalak mendengar fakta mengejutkan tentang Arya, begitupun dengan Asri yang baru mengetahui bahwa Arya merupakan anak dari Pangeran Kusuma.
Hanya satu kemungkinan mengapa Arya dicari oleh Raja, yaitu tidak lain anak itu akan mewarisi tahta kerajaan melangkahi Putra Mahkota dan Pangeran.
__ADS_1
"Renungkan kembali kesalahan besar yang sudah kau lakukan. Ayah benar-benar kecewa kepadamu..." Ucap Dierja sebelum pergi dari kamar meninggalkan Asri dan Raka.
Raka mengangkat wajahnya kemudian melihat kearah Asri. Dia sekarang ingin berbicara kepada ibunya itu, tetapi sayangnya Asri langsung pergi menyusul Dierja.
Hanya kain berisi dua buah cakram dan sepotong plat besi yang sebelumnya Arya tinggalkan, Asri letakan dikamar Raka sebelum pergi.
Raka membuka bungkusan kain tersebut dan melihat kembali dua buah cakram yang sudah Arya bersihkan, serta sebuah plat besi yang terdapat ukiran tulisan kuno.
Penasaran dengan tulisan pada plat besi itu, Raka kemudian menyalurkan Qi miliknya dan mendapati sebuah teknik racun api yang akan sangat cocok dengan Api Surgawi miliknya.
Melihat kenyataan bahwa Arya sangat jauh memperhatikannya, membuat Raka menyesal sudah mengatakan hal kasar sampai membuat Arya pergi.
Sementara itu Dierja sekarang bingung harus menjelaskan seperti apa kepada Nyonya Maharani kalau Arya sudah pergi tanpa diketahui kapan akan kembali.
"Sekarang aku harus bagaimana?" Ucap Dierja sambil menatap langit berharap Arya akan kembali dalam waktu dekat, jika tidak sudah dipastikan dirinya akan terkena masalah besar.
****
Melihat Nyonya Maharani yang memanfaatkannya, melihat ayahnya sudah menikah lagi sampai memiliki seorang putri, dan ditambah bagaimana Raka membalas kebaikannya, membuat Arya merasa kecewa.
"Lihatlah kenyataan, mereka sama sekali tak perduli denganmu dan memanfaatkanmu. Biarkan aku mengambil alih, aku akan membunuh mereka semua untukmu." Ucap Naga Perak yang merupakan kepribadian lain Arya.
Arya tiba-tiba berhenti disalah satu pohon membuat Naga Perak berpikir jika Arya akan membiarkannya mengambil alih tubuhnya.
Tetapi apa yang dipikirkan oleh Naga Perak ternyata salah. "Berhentilah mengoceh, atau aku akan menghancurkan Dantian ini agar kau menutup mulutmu untuk selamanya." Balas Arya yang membuat Naga Perak hanya bisa menggeram karena tak ingin Kristal didada Arya, yang merupakan Dantian miliknya hancur.
Meski Arya mengatakan akan menghancurkan Dantian miliknya sendiri, dia tidak sungguh-sungguh akan melakukannya dan hanya menggertak Naga Perak saja.
Arya kemudian melanjutkan perjalanannya untuk mengasingkan diri sambil menghilangkan perasaan kecewa yang sedang dia rasakan.
****
__ADS_1
Di kamarnya, Nyonya Maharani terlihat senang saat sedang membuat boneka kain berbentuk Arya. Tiba-tiba Nyonya Maharani membuat boneka, karena tak bisa merasakan lagi kehadiran Arya.
Nyonya Maharani kemudian menggunakan teknik untuk menemukan keberadaan Arya di Ibukota melalui setiap laba-laba yang ada dikota tersebut.
Tetapi sayangnya Nyonya Maharani tidak dapat menemukan keberadaan Arya di Ibukota. Nyonya Maharani tak menyerah begitu saja, dia memperluas pengelihatannya disekitar Ibukota, bahkan satu Kerajaan.
Kenyataan pahit harus Nyonya Maharani terima saat keberadaan Arya sekarang tak bisa dia deteksi. "Kemana dia pergi? Apa sesuatu terjadi kepadanya, sampai membuatnya tidak ingin dicari?"
Penasaran dengan apa yang terjadi sampai membuat Arya pergi dari Ibukota. Nyonya Maharani memutuskan mencari tau sendiri dengan mendatangi kediaman milik Dierja.
Hanya dalam waktu singkat Nyonya Maharani muncul di halaman rumah Dierja dan secara kebetulan dia bertemu dengan pria tersebut disana.
"Jelaskan, apa yang sebenarnya terjadi sekarang!" Ucap Nyonya Maharani sambil berjalan menghampiri Dierja, setiap langkahnya dipenuhi aura membunuh dan membuat Dierja serta Asri menjadi ketakutan.
Dierja yang sudah menebak hal semacam ini akan terjadi merasa bingung harus berbuat apa sekarang. Tetapi Dierja langsung menyambut kedatangan Nyonya Maharani dan meminta para pelayanan menyiapkan teh.
Tetapi Nyonya Maharani langsung menolaknya dan ingin segera mendengar penjelasan dari Dierja.
Merasa tak memiliki pilihan lain, Dierja akhirnya menceritakan apa yang sebenarnya terjadi kepada Nyonya Maharani sampai membuat Arya pergi.
Setelah mendengar penjelasan dari Dierja, Nyonya Maharani mengepalkan tangannya sampai meneteskan darah.
Awalnya dia sudah cukup sabar menunggu agar bisa meminta maaf kepada Arya, tetapi karena putra dari Dierja sekarang Arya sudah pergi tanpa bisa dicari olehnya.
"Dimana bocah itu sekarang?!" Tanya Nyonya Maharani. Nadanya terdengar geram saat ingin mencari keberadaan Raka.
Dierja langsung bersujud dihadapan Nyonya Maharani meminta pengampunan. Dia merasa ceroboh karena sudah membiarkan Raka mengatakan hal kasar sebelumnya.
Mengetahui sedikit kepribadian wanita yang sudah merawatnya dari kecil. Dierja tau kalau kekesalan Nyonya Maharani tidak bisa diredam begitu saja. Dierja akhirnya menawarkan nyawanya agar Nyonya Maharani tidak membunuh Raka.
Nyonya Maharani yang melihat Dierja bersikeras untuk melindungi Raka, kemudian berdecih kesal dan hanya menendang Dierja sampai membuat pria itu muntah darah, sebelum pergi.
__ADS_1