
Dengan gugup Arya Wijaya menepuk-nepuk lembut punggung Nyonya Maharani Kanigara sambil menahan rasa takut jika saja wanita itu akan memakannya agar tutup mulut.
"Nyonya... Bisakah kau melepaskan pelukanmu sekarang. Seseorang mungkin akan melihatnya dan membuat nama baik Nyonya menjadi buruk."
Nyonya Maharani Kanigara menggelengkan kepala. "Biarkan aku mengisi tenagaku sebentar lagi, seseorang tidak akan bisa masuk sekarang tenang saja. Dan jangan panggil aku Nyonya lagi karena aku belum pernah menikah. Panggil namaku saja mulai sekarang."
Melihat pintu yang terkunci rapat membuat Arya Wijaya mengerti mengapa Nyonya Maharani Kanigara berani berubah menjadi seekor laba-laba raksasa sebelumnya, apalagi saat melihat sebuah kertas formasi tertempel didinding.
"Eh? Memang benar kalau panggilan Nyonya sedikit keliru untuk memanggilmu. Tetapi bukankah tidak sopan memanggil seseorang yang lebih tua dengan nama langsung?"
Tiba-tiba Nyonya Maharani Kanigara mencubit dan memelintir pinggang Arya Wijaya. "Tadi kau mengatakan apa? Aku tak bisa mendengarnya."
Saat Arya Wijaya ingin mengulang perkataannya. Dia melihat raut wajah Nyonya Maharani Kanigara terlihat kesal sambil tersenyum kepadanya. Seketika Arya Wijaya menyadari kalau dia telah mengatakan hal terlarang yaitu dengan membahas umur seorang wanita.
Arya Wijaya mengangguk paham membuat Nyonya Maharani Kanigara tersenyum dan kembali memeluknya dengan erat. Jarak diantara mereka kini benar-benar hilang, hanya perlu beberapa tahun lagi sebelum melewati batas mereka dari yang awalnya hanya mitra bisnis.
Kini Arya Wijaya merasa tertekan dan merasa sakit ketika Nyonya Maharani Kanigara memeluknya dengan erat. Luka paska melawan para pembunuh belum sepenuhnya sembuh.
"Bisakah kau melepaskan ku sekarang. Aku benar-benar merasa kesakitan sekarang." Pinta Arya Wijaya sambil menepuk-nepuk punggung Nyonya Maharani Kanigara.
Nyonya Maharani Kanigara yang tak mau Arya Wijaya merasa kesakitan, langsung melepas pelukannya dan melihat Arya Wijaya tersenyum menahan rasa sakit sambil mengelus bagian tubuhnya yang terluka.
Saat Nyonya Maharani Kanigara ingin melihat luka di tubuh Arya Wijaya. Pada awalnya Arya Wijaya menolak tetapi setelah Nyonya Maharani Kanigara memaksa dia tidak memiliki pilihan lain selain menurut.
Arya Wijaya kemudian membuka pakaian dan menunjukkan badan yang penuh balutan perban kepada Nyonya Maharani Kanigara.
Melihat noda darah diperban Arya Wijaya, Nyonya Maharani Kanigara kemudian meminta Arya Wijaya membuka seluruh perban itu karena dia ingin mengoleskan salep.
Lagi-lagi Arya Wijaya menolak tetapi karena terus didesak oleh Nyonya Maharani Kanigara, dia akhirnya membuka seluruh perban dan menunjukkan badan penuh luka dan bekas luka kepada Nyonya Maharani Kanigara.
Nyonya Maharani Kanigara yang melihat semua luka dan bekas luka milik Arya Wijaya yang begitu banyak langsung terkejut. Apalagi saat melihat formasi segel di sekujur tubuh Arya Wijaya.
Nyonya Maharani Kanigara tidak bertanya apa-apa mengenai segel ditubuh Arya Wijaya merasa itu merupakan rahasia yang harus dijaga oleh Arya Wijaya.
__ADS_1
Tidak ada kata-kata yang terucap dari bibir indah Nyonya Maharani Kanigara saat mengoleskan salep ditubuh Arya Wijaya. Meski salep itu hanya sedikit meringankan luka paska pertarungan melawan para pembunuh, Nyonya Maharani Kanigara tetap mengoleskan salep dengan hati-hati meski efeknya tidak terlalu banyak untuk Arya Wijaya.
Nyonya Maharani Kanigara berhenti sejenak saat mengoles salep dibagian punggung Arya Wijaya. Bekas luka anak panah dan berbagai sayatan pedang merasa hal itu terlalu berlebihan untuk seorang anak berusia 10 tahun.
"Apakah terasa sakit?" Nyonya Arya Wijaya bertanya saat mengoles salep dibagian bekas anak panah.
"Hanya sedikit. Lanjutkan saja jangan mengkhawatirkan aku." Arya Wijaya menjawab sambil tertawa ringan meski raut wajahnya jelas menunjukkan hal sebaliknya.
Dihadapan Arya Wijaya saat ini membuat Nyonya Maharani Kanigara berpikir kalau disana dialah yang masih anak kecil. Sikap, cara berpikir, kepedulian terhadap seseorang, cara pandang, suara, dan wajah. Itulah hal yang disukai Nyonya Maharani Kanigara dari Arya Wijaya.
Dari segi manapun Nyonya Maharani Kanigara berpikir Arya Wijaya jauh lebih dewasa dibandingkan dengannya yang sudah hidup selama 1200 tahun.
Tetapi Nyonya Maharani Kanigara juga membenci Arya Wijaya yang selalu bisa berbohong kepada seseorang agar mereka tak merasa tersakiti.
Nyonya Maharani Kanigara dalam diam meneteskan air matanya. Saat mengingat Arya Wijaya memujinya wanita kuat karena bisa menghadapi trauma masa lalunya, dia pikir hal itu tidak ada apa-apa nya dengan Arya Wijaya yang meski baru berusia 10 tahun seolah sedang membawa beban berat di pundaknya.
Dengan cepat Nyonya Maharani Kanigara menyeka air mata agar tidak diketahui oleh Arya Wijaya dan merubah raut wajahnya dalam beberapa saat.
"Sebenarnya kenapa kau menyembunyikan identitasmu dan mengapa Raja sampai membuat sebuah perintah untuk mencarimu?"
Kalau ditanya soal mengapa Raja mencarinya, Arya Wijaya hanya bisa menggelengkan kepala karena tidak mengetahui alasan Raja ingin mencarinya. Padahal Arya Wijaya yakin belum pernah bertemu dengan sosok Raja Kerajaan Brawijaya.
"Aku bukan menyembunyikan identitas. Tetapi sepertinya memang aku tidak akan diakui sebagai Keluarga Wijaya." Arya Wijaya tersenyum masam.
Arya Wijaya kemudian menceritakan kepada Nyonya Maharani Kanigara, kejadian 5 tahun lalu saat bagaimana ayahnya yang merupakan Pangeran Kerajaan Brawijaya menelantarkan dia dan Ibunya saat terjadi penyerangan di desa. Sampai membuat Ibunya tewas dan membuatnya sekarat.
Cerita dari Arya Wijaya langsung mengingatkan Nyonya Maharani Kanigara, tentang kejadian disaat dia menyuruh Dierja Aditama menolong seorang Pangeran Kerajaan Brawijaya, yang sudah menjadi penjamin untuk Kerajaan Pasanggaran.
"Siapa nama ayahmu itu?" Nyonya Maharani Kanigara ingin memastikan.
"Kusuma... Pangeran Kusuma Wijaya. Apa kau mengenalnya?" Balas Arya Wijaya.
Nyonya Maharani Kanigara tentu mengenal Pangeran Kusuma Wijaya yang sudah menjadi kandidat Pangeran Mahkota dimasa depan. Alasan Nyonya Maharani Kanigara menolong Pangeran Kusuma Wijaya bukan karena dia suka, melainkan ingin membuat hubungan kerjasama bisnis dengan Kerajaan Brawijaya, yang merupakan Kerjaan terbesar dan termasyhur di Benua Nusantara lebih erat lagi.
__ADS_1
"Ya aku sedikit mengetahui sosok ayahmu itu. Apa kau datang ke Wirabhumi untuk bertemu ayahmu?" Nyonya Maharani Kanigara merasa Arya Wijaya belum mengetahui bahwa Pangeran Kusuma Wijaya sudah menikah lagi dan memiliki seorang putri.
Arya Wijaya menggelengkan kepala. "Tidak untuk sekarang. Mungkin saat aku sudah dewasa nanti. Masih ada yang perlu aku lakukan didunia luar."
Setelah itu Arya Wijaya meminta kepada Nyonya Maharani Kanigara untuk menyembunyikan identitasnya dan menutup sebelah mata dengan permintaan Raja Brawijaya. Bahkan kalau bisa Arya Wijaya ingin Nyonya Maharani Kanigara memburamkan informasi pencarian atas dirinya di seluruh Kerajaan Brawijaya.
Arya Wijaya sekarang hanya ingin hidup bebas untuk sementara waktu, sebelum menemukan waktu yang tepat untuk mengungkap fakta sebenarnya.
"Memangnya apa tujuan aslimu?Sepertinya kau memiliki ambisi yang besar jika dilihat dari sorot matamu." Nyonya Maharani Kanigara tersenyum kecil saat menanyakan ambisi Arya Wijaya.
Arya Wijaya berjalan kearah jendela dan melihat aktivitas orang-orang diluar sebelum menoleh kearah Nyonya Maharani Kanigara.
"Ambisiku hanya satu. Mengambil alih Tahta Kerajaan Brawijaya dan menyatukan kembali negara yang terpecah."
"Mengembalikan kejayaan Kerajaan Brawijaya dimasa lalu, adalah prioritas utamaku sekarang."
Nyonya Maharani Kanigara tak dapat berkata-kata lagi. Potensi yang dimiliki oleh Arya Wijaya menurutnya sudah membuktikan bagaimana keseriusan anak itu.
Bahkan Nyonya Maharani Kanigara bisa membayangkan bagaimana Arya Wijaya berjalan di tengah-tengah pasukan Kerajaan Brawijaya saat penobatannya.
Dengan Raja yang secara langsung mencari keberadaan Arya Wijaya. Nyonya Maharani Kanigara berpikir memang tujuan asli Raja mencari Arya Wijaya adalah untuk menunjuknya sebagai Raja selanjutnya.
Arya Wijaya akan melewati ayah dan kakeknya dengan mudah untuk menduduki posisi sebagai Raja.
Nyonya Maharani Kanigara tentu akan mendukung Arya Wijaya. Mengetahui kristal yang ada di dada Arya Wijaya, Nyonya Maharani Kanigara berpikir anak itu kini sudah terikat oleh para siluman. Artinya dimasa depan jika Arya Wijaya menjadi Raja, Arya Wijaya dapat membuat aturan baru agar para siluman dapat hidup berdampingan dengan para manusia tanpa ada rasa takut.
Hanya perlu menunggu waktu sampai gelar Raja didapatkan oleh Arya Wijaya. Disisi lain Nyonya Maharani Kanigara akan memberi dukungan penuh. Bukan untuk kekuasaan, melainkan sesuatu agar dirinya bisa berdiri disamping Arya Wijaya.
Tujuan Arya Wijaya dan Nyonya Maharani Kanigara kini sedikit sama, meski diam-diam wanita cantik itu hanya ingin berada lebih dekat dengan Arya Wijaya dimasa depan saat anak itu sudah dewasa.
'Sepertinya aku akan melangkahi kakak. Tetapi kita memiliki tujuan yang sama untuk kehidupan para siluman, dan aku memiliki calon yang lebih tepat untuk mengisi posisi Raja karena dia memiliki pemikiran yang sama dengan kita.'
Nyonya Maharani Kanigara tersenyum saat mengingat kakaknya yang sebenarnya sudah berhasil masuk kedalam jajaran orang-orang berpengaruh di Istana. Bahkan wanita yang sudah dianggap kakak oleh Nyonya Maharani Kanigara itu hanya perlu waktu selangkah untuk mengisi kursi sebagai Permaisuri.
__ADS_1