Legenda Dunia Kultivasi

Legenda Dunia Kultivasi
Korban Penculikan


__ADS_3

Deswara ditemani beberapa prajurit memulai penggeledahan mereka di lantai dua. Setiap ruangan mereka periksa satu-persatu untuk mencari keberadaan anggota pemberontak yang bersembunyi disana.


"Bagaimana ruangan disudut sana?" Tanya Deswara kepada seorang prajurit yang baru saja memeriksa ruangan terakhir dilantai dua.


Prajurit itu dengan enggan menggelengkan. "Hanya ruang makan VIP saja. Tidak ada yang mencurigakan sama sekali, Tuan Deswara..."


Mendengar jawaban dari prajurit itu seketika membuat Deswara menghela nafas panjang. Setelah melakukan penggeledahan selama 1 jam, mereka sama sekali tidak menemukan petunjuk keberadaan anggota pemberontak.


Seorang prajurit secara tidak sengaja menjatuhkan sebuah tong kayu berisi minuman anggur saat menyadarkan tubuhnya ditumpukan tong yang berada dibelakangnya.


Beberapa tong kayu ikut jatuh setelah yang pertama, membuat suara keributan dan tumpahan anggur yang membasahi lantai menjadi genangan.


"Maaf..." Prajurit itu tersenyum gugup meminta maaf sambil menggaruk kepala bagian belakangnya yang tidak gatal, setelah membuat keributan.


Prajurit lain menatap datar kearah temannya itu atas kecerobohan yang sudah dia buat. Berbeda halnya dengan Deswara yang pandangannya terpaku kearah sebuah pintu dibelakang tumpukan tong kayu.


"Kalian cepat singkirkan tong yang tersisa. Aku merasa ada hal yang tidak beres disini." Pinta Deswara kepada beberapa prajurit sambil terus memandang kearah pintu tersembunyi itu.


Setelah beberapa prajurit menyelesaikan tugasnya dengan menyingkirkan beberapa tong kayu yang tersisa. Deswara berjalan kearah pintu dan mencoba untuk membukanya.


"Dikunci?" Deswara merasa penasaran dengan apa yang disembunyikan didalam ruangan itu. Dia sangat yakin tempat itu bukan sebuah gudang penyimpanan biasa.


Brakk!!!


Dalam sekali tendangan Deswara berhasil membuka pintu itu dan masuk kedalam seorang diri untuk memeriksanya, sementara para prajurit tetap berjaga diluar pintu.


Deswara membuka lebar matanya saat melihat penampakan yang ada didalam ruangan tersembunyi itu. Tangannya langsung bergetar dan tubuhnya merasa lemas, tidak percaya dengan apa yang sedang dilihatnya saat ini.

__ADS_1


Segera Deswara keluar dari ruangan itu dan menutup pintu rapat-rapat untuk mencegah para prajurit melihat apa yang sebenarnya ada didalam sana.


"Tolong panggilkan Tuan Arjuna kesini dan beberapa prajurit wanita. Jangan lupa untuk membawa beberapa kain bersih." Pintar Deswara dengan nada bergetar dan raut wajahnya terlihat pucat pasi.


Beberapa prajurit tentu segera melaksanakan apa yang diminta oleh Deswara untuk memanggilkan Arjuna. Tetapi mereka sebenarnya juga penasaran dengan apa yang ada didalam ruangan itu, sampai membuat Deswara meminta beberapa prajurit wanita kesana.


Tidak butuh waktu lama Arjuna dan beberapa prajurit wanita datang ke lantai dua setelah mendapat informasi dari beberapa prajurit yang bertugas bersama Deswara disana.


"Mengapa kau terlihat pucat seperti itu, Tuan Deswara. Apa ada sesuatu yang terjadi?" Arjuna merasa penasaran saat melihat wajah pucat Deswara.


Deswara mengangguk pelan dan meminta beberapa prajurit wanita yang membawa kain untuk masuk kedalam ruangan sebelum menjelaskan secara pribadi kepada Arjuna.


"Tuan Arjuna, apa kau masih ingat laporan mengenai beberapa wanita dan anak-anak yang belakangan hilang?" Tanya Deswara dengan nada gemetar seolah ketakutan.


Arjuna mencoba mengingat berbagai laporan orang hilang sebelum mengangguk. "Benar aku mengingatnya. Memangnya ada apa? Jangan bilang..."


Fenomena hilangnya beberapa wanita dan gadis muda di Kota Madya yang keluar saat malam hari, sebenarnya sudah terjadi dalam beberapa hari terakhir sebelum sekelompok bandit melakukan serangan.


Selain membuat nama baik institusi pasukan Bendera Hitam tercoreng. Kejadian ini juga membuat masyarakat merasa khawatir dengan istri serta anak gadis mereka setiap malam.


Tepat setelah Deswara dan Arjuna berbicara empat mata. Beberapa prajurit wanita yang sebelumnya diminta masuk ke dalam sekarang keluar namun tidak sendirian.


Mereka membawa beberapa wanita yang tubuhnya dibalut kain seadanya, dan terlihat kondisi mereka cukup memprihatinkan. Tatapan mereka kosong tanpa jejak kehidupan setelah mengalami trauma.


Arjuna dan para prajurit yang melihat kondisi beberapa wanita itu, mereka langsung mengerti dengan apa yang terjadi kepada para korban penculikan tersebut.


Semua orang jelas merasa marah kepada manajer rumah makan yang sudah bersekongkol dengan anggota pemberontak. Kekesalan mereka seketika meluap setelah melihat tidak hanya wanita desawa saja, tetapi gadis yang belum cukup umur juga ikut menjadi korban.

__ADS_1


Seorang prajurit yang mengenali salah satu korban berusia sekitar 15 tahun, dengan panik menghampiri gadis itu yang tidak lain adalah adiknya sendiri.


Melihat kondisi adiknya yang sudah kehilangan semangat hidup, prajurit itu menatap kosong kearah adiknya. Kini adiknya yang menjadi alasannya bergabung dengan pasukan Bendera Hitam sudah ditemukan.


Prajurit itu tentu saja sangat senang adiknya dapat ditemukan. Tetapi dia juga merasa sedih dan kecewa karena tidak bisa menyelamatkan gadis itu tepat waktu.


"Aku paham dengan apa yang sedang kau rasakan. Di pusat Kota aku akan menyerahkan pria tua itu kepadamu, dan terserah apa yang ingin kau lakukan kepadanya nanti." Arjuna menepuk pundak prajurit itu dan merasa prihatin atas kejadian yang menimpa adiknya.


"Terimakasih komandan..." Prajurit itu mengeratkan gigi dan mengepalkan tinjunya. Air mata menetes dari wajahnya dan tatapannya kini penuh dengan dendam.


Beberapa prajurit wanita kemudian diminta oleh Arjuna untuk para korban menuju balai kesehatan untuk menjalani pengobatan, melalui pintu belakang untuk menjaga privasi para korban. Sementara untuk Deswara akan mencari keluarga korban untuk menemui mereka.


Setelah urusan dilantai dua selesai. Semua orang kemudian turun dan melihat sudah ada total sepuluh pria yang di amankan oleh Fajar, Indera, serta prajurit lainnya.


"Bawa mereka ke pusat Kota Madya untuk di adili. Sudah tidak ada lagi yang perlu dibicarakan." Ucap Arjuna dengan tegas sambil melenggang keluar diikuti oleh prajurit yang lain.


Orang-orang yang melihat para prajurit menyeret paksa beberapa orang pria di jalanan merasa penasaran. Mereka kemudian mengikuti rombongan itu menuju pusat Kota.


Setibanya di pusat Kota para anggota pemberontak langsung disambut oleh panggung kematian mereka. Beberapa tiang eksekusi tampak sudah berdiri kokoh, dan algojo siap menyambut kedatangan mereka.


Para anggota pemberontak kemudian dibawa naik keatas panggung. Lima orang diikat pada tiang, sementara sisanya diposisikan bertekuk lutut menghadap lautan masyarakat yang penasaran dengan eksekusi mati pada siang hari ini.


Terlihat Wira dan Bagaskara tengah mengasah pisau mereka yang akan digunakan untuk melakukan hukuman, tepat di samping anggota pemberontak yang di ikat pada tiang eksekusi.


Hal ini jelas membuat anggota pemberontak mengalami tekanan mental, apalagi ketik dua pria itu memasang senyuman menyeramkan diwajah mereka.


"Aku sudah tidak sabar mempraktikkan apa yang sudah diajarkan oleh guru..." Celetuk Wira sambil mengetes ketajaman pisau dengan menusuk ujungnya pada telunjuk jari.

__ADS_1


Bagaskara mengangguk pelan. Sama seperti Wira dia juga sudah tidak mempraktikkan apa yang telah diajarkan oleh guru mereka dalam melakukan siksaan, yaitu Putri Amanda.


__ADS_2