
Suasana berubah menjadi tegang setelah Nyonya Maharani Kanigara memanggil nama lengkap dan status Arya Wijaya yang merupakan keluarga utama dari Keluarga Wijaya .
Nyonya Maharani Kanigara tidak dapat menunggu lebih lama lagi setelah seminggu untuk mendengar langsung jawaban dari mulut Arya Wijaya.
"Pangeran Wijaya? Nyonya sepertinya salah orang. Aku Arya anak seorang petani dari Desa Timur. Bukan seorang Pangeran Wijaya." Arya Wijaya tertawa mencoba menyangkal pemikiran Nyonya Maharani Kanigara.
Rasanya Nyonya Maharani Kanigara ingin merobek mulut licin Ying Zihan. Tetapi dia lebih memilih menjaga sikap dan menahan emosi, kemudian memberikan Arya Wijaya gulungan berisi permintaan Raja untuk mencari seorang anak bernama Arya Wijaya lengkap dengan deskripsi wajahnya.
"Sekarang... Apa kita akan membuat kesepakatan lain, Pangeran Arya Wijaya?" Nyonya Maharani Kanigara tersenyum tipis karena sudah berhasil menyudutkan Arya Wijaya, anak kecil dengan mulut selicin belut.
Arya Wijaya sekarang tidak dapat mengelak lagi, tetapi dia penasaran bagaimana Nyonya Maharani Kanigara dapat mengetahui identitasnya dalam waktu singkat.
"Baiklah kau menang. Tetapi bagaimana cara dan sejak kapan kau menyadarinya?" Arya Wijaya menghela nafas meletakkan gulungan diatas meja.
Nyonya Maharani Kanigara tersenyum dan mengeluarkan seekor laba-laba kecil untuk ditunjukkan kepada Arya Wijaya. "Bukankah kau sendiri juga telah menyadari kehadiran laba-labaku malam itu? Aku sudah mulai menyelidikimu sejak pertama kali kau datang ke tempatku."
"Memang benar, aku tak bisa menyembunyikan apapun dari makhluk berusia 1200 tahun sepertimu. Nyonya Maharani Kanigara." Arya Wijaya tertawa pelan sambil menyinggung identitas asli Nyonya Maharani Kanigara.
Kali ini Nyonya Maharani Kanigara yang dibuat terkejut. Setelah menyembunyikan identitas aslinya selama ratusan tahun, kini ada seorang anak kecil yang dapat membongkarnya dengan mudah.
"Sejak kapan kau menyadarinya?" Wajah Nyonya Maharani Kanigara menjadi gelap dan nada bicaranya langsung berubah. Bahkan niat membunuh sudah keluar dari tubuhnya.
"Sejak awal aku bertemu denganmu. Aku sungguh terkejut saat melihat seorang siluman laba-laba bisa berbaur dengan para manusia. Bukan hanya kau, tetapi masih ada banyak lagi siluman yang berbaur dengan masyarakat di kota ini secara diam-diam."
Arya Wijaya tersenyum tipis sambil memperlihatkan mata Naga Perak kepada Nyonya Maharani Kanigara yang kini sedang melihatnya sebagai ancaman untuk para siluman.
Sudah bukan rahasia umum lagi jika manusia dan para siluman bermusuhan. Bahkan permusuhan mereka sudah berlangsung selama ribuan tahun.
Wujud Nyonya Maharani Kanigara tiba-tiba berubah menjadi seekor laba-laba hitam setinggi 3 meter, dan langsung menerjang Arya Wijaya membuat anak itu terbaring dilantai sampai membuat topengnya terlepas dari wajahnya.
Nyonya Maharani Kanigara berdesir tepat di atas tubuh Arya Wijaya yang sudah dia tahan menggunakan kaki-kakinya agar anak itu tidak kabur.
"Kau adalah ancaman bagi para siluman jika masih dibiarkan hidup dan membongkar semuanya. Tenang saja, aku akan langsung menghancurkan jantungmu agar kau tak merasakan sakit."
__ADS_1
Dalam wujud seekor laba-laba Nyonya Maharani Kanigara tertawa jahat dan benar-benar akan membunuh
Arya Wijaya. Meski tidak ingin, tetapi Nyonya Maharani Kanigara terpaksa agar kelangsungan hidup para siluman yang sudah bisa membaur dengan para manusia bisa aman, dan tidak terbongkar hingga membuat sebuah perang baru antara manusia dan siluman.
"Memang sudah rusak. Apa yang ingin kau lakukan dengan jantungku yang rusak?" Bukannya takut, Arya Wijaya justru tersenyum saat melihat Nyonya Maharani Kanigara dalam wujud laba-laba seutuhnya.
Mendengar perkataan Arya Wijaya seketika Nyonya Maharani Kanigara merasa heran. Dia kemudian memeriksa menggunakan salah satu kakinya dan menemukan jantung Arya Wijaya sudah tidak berdetak lagi.
Nyonya Maharani Kanigara terdiam. Dia masih belum bisa mencerna bagaimana seorang makhluk hidup masih bisa hidup tanpa jantungnya.
Dalam diam, Nyonya Maharani Kanigara memperhatikan kembali wajah Arya Wijaya yang pucat sedang tersenyum hangat kepadanya.
Tiba-tiba Arya Wijaya mengulurkan tangan dan mengusap kepala laba-laba milik Nyonya Maharani Kanigara. "Hidupmu ternyata sangat berat. Kau sebenarnya memiliki trauma kepada manusia, sampai membuatmu setakut itu. Silahkan, kalau dengan membunuhku dapat membuatmu merasa tenang. Maka lakukanlah."
Arya Wijaya membelai kepala Nyonya Maharani Kanigara dengan lembut sambil memandangi mata laba-laba raksasa yang ingin membunuhnya.
Mendapat perhatian dari target yang harus dia bunuh, membuat Nyonya Maharani Kanigara menjadi bingung. Dia ingin membunuh Arya Wijaya tapi dia tidak bisa melakukannya.
Nyonya Maharani Kanigara kemudian melepaskan Arya Wijaya dan berubah menjadi wujud manusia kembali. Dia kemudian berbalik membelakangi Arya Wijaya dan menunjukkan sebuah luka sayatan panjang yang ada di punggungnya kepada anak itu.
Arya Wijaya mengangguk pelan kemudian mendengarkan sedikit cerita dari Nyonya Maharani Kanigara sampai bisa mendapatkan luka tebasan di punggungnya.
Kejadian terjadi sekitar 600 tahun lalu. Waktu itu Nyonya Maharani Kanigara baru mendapatkan tubuh manusia setelah mencapai usia 500 tahun. Wujud manusia yang dia miliki saat itu terlihat seperti seorang anak kecil berusia 5 tahun.
Dengan tubuhnya yang masih lemah dia kemudian datang ke kota dan bertemu dengan seorang pria yang merupakan pedagang besar dan diasuh oleh pria itu.
Berbagai ilmu bisnis Nyonya Maharani Kanigara pelajari dari pria yang sudah dianggap sebagai ayahnya sendiri, bahkan karena tak memiliki keturunan pria itu sudah menunjuknya sebagai pewaris.
Tetapi ada suatu kejadian saat Nyonya Maharani Kanigara menginjak usia 17 tahun jika dihitung dengan umur manusia. Malam itu saat Nyonya Maharani Kanigara sedang bersiap akan tidur. Pria yang sudah dia anggap sebagai orang tuanya sendiri tiba-tiba masuk dan ingin melakukan hubungan suami istri dengannya.
Nyonya Maharani Kanigara tentu saja menolak dan terpaksa menusuk salah satu mata pria itu menggunakan penjepit rambutnya.
Pria itu yang sudah kehilangan salah satu matanya kemudian menjadi murka dan ingin membunuh Nyonya Maharani Kanigara dengan menebas punggung wanita itu.
__ADS_1
Nyonya Maharani Kanigara yang sudah mendapat luka serius dan tidak ingin kehormatannya direnggut kemudian dengan terpaksa membunuh pria itu.
"Apa menurutmu aku terlihat hina dan buruk dengan luka di punggungku, Arya?" Tanya Nyonya Maharani Kanigara yang sudah pesimis dan kehilangan kepercayaan dirinya.
Arya Wijaya sekarang berpikir Nyonya Maharani Kanigara sudah benar-benar mempercayainya sampai menceritakan kejadian masa lalu kepadanya.
"Aku rasa tidak. Tetapi kalau luka itu membuatmu selalu terbayang dengan kejadian masa lalumu yang buruk, aku bisa membantu."
Arya Wijaya kemudian menghampiri Nyonya Maharani Kanigara dan duduk dibelakangnya. Dia lalu mengeluarkan salep dan mengoleskan di bekas luka tebasan milik Nyonya Maharani Kanigara dengan lembut.
Hanya perlu waktu beberapa saat bekas luka tebasan dipunggung Nyonya Maharani Kanigara menghilang. Meski Nyonya Maharani Kanigara sempat mengeluarkan beberapa suara aneh saat Arya Wijaya mengoleskan salep di punggungnya. Tetapi kini Nyonya Maharani Kanigara merasa senang, saat melihat bekas luka yang selalu dia sembunyikan telah hilang.
Nyonya Maharani Kanigara kemudian membenarkan pakaiannya kembali dan memeluk Arya Wijaya karena merasa sangat senang.
"Terimakasih." Ucap Nyonya Maharani Kanigara yang tak dapat menahan air mata bahagia karena bekas luka yang dia anggap sebagai aib sudah hilang.
Sudah sejak lama Nyonya Maharani Kanigara berusaha menghilangkan bekas luka tebasan di punggungnya, tetapi selalu saja tidak berhasil. Tetapi Arya Wijaya justru berhasil menghilangkan bekas luka tebasan yang sudah ada selama ratusan tahun.
"Ya tidak masalah. Bisakah kau menyingkir dariku sekarang?" Arya Wijaya menjadi sangat gugup karena baru pertama kali dipeluk oleh seorang perempuan.
Meski Arya Wijaya sudah meminta Nyonya Maharani Kanigara melepaskan pelukannya, tetapi wanita itu menolak dan ingin sedikit lebih lama memeluk Arya Wijaya.
Arya Wijaya akhirnya mengalah dan membiarkan Nyonya Maharani Kanigara memeluknya meski itu membuatnya sangat gugup.
"Oh... Bukankah kau siluman laba-laba? Seharusnya kau memiliki banyak saudara bukan? Lalu dimana mereka sekarang, dan bagaimana dengan mayat pria yang kau bunuh malam itu?"
Rasa penasaran menyelimuti pikiran Arya Wijaya tentang kehidupan keluarga Nyonya Maharani Kanigara yang seharusnya memiliki banyak saudara. Arya Wijaya juga penasaran bagaimana Nyonya Maharani Kanigara mengatasi mayat milik pria itu setelah membunuhnya.
"Dalam kehidupan siluman laba-laba, hanya satu orang saja yang dapat bertahan. Sejak baru lahir kami akan membunuh satu sama lain dan memakan, setelah memakan ibu kami."
"Untuk mayat pria itu aku memakannya agar tidak meninggalkan jejak. Dan kemudian mengambil alih bisnisnya sampai berkembang pesat dan aku beri nama Asosiasi Perak."
Nyonya Maharani Kanigara menjelaskan semua pertanyaan Arya Wijaya dengan enteng, bahkan dia raut wajahnya tidak menunjukkan penyesalan. Nyonya Maharani Kanigara justru terlihat senang saat memeluk tubuh Arya Wijaya yang terasa hangat dan menenangkan.
__ADS_1
Disisi lain Arya Wijaya justru menjadi gugup. Wanita cantik yang ada di pelukannya sudah memakan saudara serta seorang manusia. Mungkin itu hak umum bagi para siluman laba-laba untuk memakan saudara bahkan ibu mereka sendiri, tetapi Arya Wijaya tentu berpikir sebaliknya. Apalagi saat Nyonya Maharani Kanigara mengatakan pernah memakan seorang pria sampai tak tersisa.