
Setelah mendapat pukulan cinta dari Baduga Maharaja hingga membuat kondisi mereka babak belur, Arga Mahesa dan Hyman Nirwasita kembali melakukan kegiatan mereka masing-masing.
Hyman Nirwasita mendapat perintah dari Baduga Maharaja untuk memperbaiki kerusakan di hutan, sementara Arga Mahesa tetap melatih Arya Wijaya seperti sebelumnya.
Awalnya Hyman Nirwasita merasa ini semua tidak adil ketika Baduga Maharaja menyuruh dirinya sendirian membereskan kekacauan yang terjadi sedangkan Arga Mahesa tidak.
Tetapi Hyman Nirwasita tidak berani membantah perkataan Baduga Maharaja hingga membuatnya terpaksa membereskan semuanya sendiri, dan Arga Mahesa justru menertawakannya diam-diam.
Setelah Hyman Nirwasita dan Baduga Maharaja pergi, Arga Mahesa kemudian menghampiri Arya Wijaya yang hanya memperhatikan keributan tadi tanpa berkomentar sedikitpun.
"Baik sampai dimana kita tadi. Oh, benar juga 72 sisik Naga. Seperti yang bisa kamu lihat tadi, bila sudah memiliki 72 sisik Naga kamu bisa merubah wujudmu sepertiku tadi."
Arga Mahesa kemudian menjelaskan kepada Arya Wijaya bahwa wujud Naga hanya dapat bertahan selama dia memiliki jumlah Qi yang memadai. Sebab wujud itu memakan banyak Qi, Arga Mahesa berpesan untuk menggunakannya dalam keadaan krisis saja.
Arya Wijaya mengangguk paham dan segera mencatat pesan Arga Mahesa di dalam kepala. Dia berpikir kelak jika memiliki wujud Naga seperti Arga Mahesa, Arya Wijaya berpikir ingin menggunakannya untuk keliling Dunia.
Arga Mahesa tiba-tiba menghentakkan kakinya ketanah dan membuat sebuah cekungan menyerupai kolam tanpa air.
"Kita mulai saja, sekarang aku ingin kamu memikul dua ember untuk membawa air dari sungai yang ada di bawah bukit, dan isi kolam ini."
"Guru, bukannya disana ada sumur? Kenapa murid harus repot-repot mengambil air dibawah bukit?"
"Arya pelajaran pertama untukmu jangan menanyakan perintah dari gurumu. Sekarang kerjakan saja yang sudah guru minta."
Begitu Arga Mahesa menyuruhnya untuk tidak berkomentar saat diberi perintah, Arya Wijaya hanya bisa menurut meski dia berpikir kalau Arga Mahesa ingin mempersulit latihannya.
Cukup mudah bagi Arya Wijaya untuk memenuhi kolam dengan air jika menimba di sumur, tetapi akan sulit bagi dirinya bila harus menuruni 1000 anak tangga jika ingin mengambil air dari sungai yang ada di bawah bukit.
__ADS_1
Karena terpaksa, Arya Wijaya kemudian segera memikul dua ember di bahu menggunakan sebuah tongkat dan menuruni bukit.
Itu pertama kalinya untuk Arya Wijaya menuruni bukit setelah tinggal selama satu bulan. Langit sore membuat suasana disekitar anak tangga yang banyak pepohonan menjadi sedikit mencekam.
Kondisi itu membuat Arya Wijaya memilih waspada bila saja tiba-tiba ada hewan buas yang tanpa diduga muncul dari balik pepohonan.
Yang belum Arya Wijaya ketahui adalah, memang bukit itu menyimpan banyak hewan buas dan Hewan Iblis tingkat tinggi, tetapi Arga Mahesa telah meninggalkan aura Naga nya ditubuh Hao Zihan hingga membuat setiap binatang buas atau Hewan Iblis tingkat tinggi sekalipun tak akan berani menggangunya.
Perlu waktu lima belas menit untuk Arya Wijaya sampai disungai. Setelah mengisi dua ember bawaannya Arya Wijaya langsung berjalan kembali untuk menaiki bukit.
Dengan beban yang harus Arya Wijaya pikul, ditambah tubuhnya masih kecil, membuat langkah Arya Wijaya beberapa kali hampir jatuh apalagi saat menaiki anak tangga yang memiliki ukuran setengah dari tubuhnya.
"Kenapa guru membuat anak tangga sebesar ini? Tangga ini lebih cocok digunakan untuk seorang raksasa."
Meski beberapa kali sempat mengeluh, tetapi Arya Wijaya tetap berusaha agar bisa mengisi kolam, sesuai perintah yang sudah diberikan oleh Arga Mahesa.
Alas kaki Arya Wijaya bahkan sempat rusak ketika dia sedang menaiki tangga hingga membuatnya terpeleset dan jatuh menumpahkan air yang susah payah dia bawa dari sungai.
Akibat kejadian itu Arya Wijaya mendapat beberapa luka, bahkan setelah alas kakinya rusak dia tetap bekerja hingga membuat kakinya berdarah.
Tidak hanya kaki Arya Wijaya saja yang berdarah tetapi tangannya juga karena terus bergesekan dengan kayu yang digunakan untuk memanggul ember dengan berat masing-masing 5 kg.
Arga Mahesa sendiri tidak terlalu menanggapi luka yang diderita oleh Arya Wijaya, dia justru terlihat santai saat sedang minum teh bersama Baduga Maharaja dan Hyman Nirwasita.
Berbeda dengan Arga Mahesa yang santai, Hyman Nirwasita dan Baduga Maharaja justru merasa latihan yang diberikan oleh Arya Wijaya agak berlebihan untuk seorang anak biasa berumur 5 tahun.
"Kalian tidak perlu khawatir dengan anak itu, lagipula kita sudah membuat kesepakatan. Jadi jangan ikut campur karena ini demi kebaikannya juga."
__ADS_1
Arga Mahesa paham dengan apa yang dikhawatirkan oleh kedua saudaranya, tetapi dia tidak ada pilihan lain selain memberi latihan fisik yang keras kepada Arya Wijaya.
"Aku mengerti, tapi lihatlah kondisi anak itu. Dia bisa saja mati dihari pertamanya."
Hyman Nirwasita mencoba meminta agar Arga Mahesa memberi latihan sedikit lebih ringan kepada Arya Wijaya. Hyman Nirwasita kemudian menunjuk ke arah Arya Wijaya yang sudah selesai mengisi kolam dengan air tetapi sekarang terlihat sedang muntah-muntah.
Suhu tubuhnya yang panas saat bertemu udara dingin membuat Arya Wijaya berkeringat dingin ditambah dia belum sempat istirahat sampai merasakan mual.
Tubuh Arya Wijaya bergetar hebat bahkan untuk menggerakkan jarinya dia berpikir itu adalah hal yang mustahil dilakukan saat ini.
Arga Mahesa kemudian mengeluarkan sebuah botol kecil dari cincin dimensi miliknya. Dari dalam botol kecil itu keluar tiga tetes air berwarna merah yang sepertinya merupakan darah.
Tiga tetes darah bercampur dengan air kolam dan seketika membuat warnanya berubah menjadi merah. Bahkan suhu air seketika berubah menjadi diatas titik didih sampai terlihat ada gelembung-gelembung dan asap yang muncul.
Arga Mahesa kemudian menggendong Arya Wijaya masuk kedalam kolam yang sebenarnya bisa membuat daging terpisah dari tulang dengan mudah.
Arya Wijaya berteriak kesakitan saat Arga Mahesa memasukan tubuhnya kedalam kolam mendidih itu. Arya Wijaya berusaha memberontak dari rasa sakit, tetapi Arga Mahesa menahan tubuhnya hingga membuat dirinya seolah direbus secara sengaja.
"Diam, jangan memberontak. Aku sudah memasukan tiga tetes darah Naga yang sangat berharga bagiku dan sekarang jangan membuatku kecewa."
Arga Mahesa kemudian menyuruh Arya Wijayamenyerap esensi darah miliknya. Tiga tetes darah itu sangat amat berharga untuk Arga Mahesa karena selama hidupnya dia berusaha keras untuk mengumpulkannya.
Dibawah tekanan suhu panas, Arya Wijaya duduk dalam posisi lotus dan menyerap esensi darah murni Naga milik Arga Mahesa dengan teknik penyerapan yang telah diajarkan oleh gurunya itu.
Tubuh Arya Wijaya kemudian mulai direkonstruksi dari awal. Kulit dan dagingnya mulai mengelupas hingga menyisakan kerangka tulang saja.
Perlahan tulang Arya Wijaya yang awalnya seputih susu berubah menjadi emas dengan ukiran tulisan kuno di setiap incinya.
__ADS_1
Tulang dengan kualitas Serigala Perunggu milik Arya Wijaya sekarang telah berubah menjadi tulang dengan kualitas Naga Muda. Daging Arya Wijayakemudian perlahan beregernerasi dan kembali seperti semula.