
Pagi hari semua orang dikagetkan dengan kemunculan puluhan Hewan Iblis yang sudah ada tepat didepan gerbang utama Kota Madya.
Nafas semua orang yang melihat kejadian ini menjadi sesak. Jantung mereka berdetak lebih kencang dari biasanya menyadari jika Kota kali ini pasti akan benar-benar rata dengan tanah.
Jarak Hewan Iblis yang sangat dekat sudah tidak lagi bisa diatasi jika mereka benar-benar ingin menyerang. Belum lagi saat melihat kawanan Hewan Iblis kali ini jauh lebih kuat dari sebelumnya.
Fajar yang baru sampai untuk mengecek kinerja pasuka penjaga tembok Kota, langsung terkejut melihat barisan Hewan Iblis siap menerjang gerbang utama kapan saja.
"Hei, kenapa kalian tidak membunyikan lonceng peringatannya!" Fajar mencengkram kerah milik seorang prajurit yang berjaga diatas tembok.
Prajurit itu tidak menjawab pertanyaan dari Fajar dan hanya menunjuk kearah Arjuna yang saat ini berdiri tepat diatas gerbang utama sambil memandangi barisan Hewan Iblis.
Melihat sosok Arjuna sudah ada disana. Fajar langsung menghampiri kakaknya itu untuk bertanya mengenai situasi yang sebenarnya sedang terjadi saat ini.
Ketika Fajar bertanya, Arjuna mengabaikan adiknya itu dan memfokuskan pandangannya kearah seekor singa bermata satu yang memiliki ukuran gajah dewasa.
"Bisakah kau membiarkan kami masuk ke dalam? Aku dan anak buahku sudah menunggu disini sejak matahari belum terbit." Gardapati mengirim telepati kepada Arjuna yang terus menatapnya dengan penuh curiga.
Gardapati sendiri sudah mengetahui sosok Arjuna yang merupakan salah satu tangan kanan Arya. Dia mengetahui Arjuna setelah sempat masuk kedalam bayangan Arya kemarin.
Arjuna yang mendapat telepati dari sosok singa besar itu kemudian berpikir sejenak. Dia lalu teringat ucapan Arya semalam dan tidak menduga jika pria itu benar-benar menjadikan sosok Raja Hutan Darah sebagai salah satu bawahan.
"Buka gerbangnya." Perintah yang diucapkan oleh Arjuna sontak membuat semua orang merasa terkejut sekaligus tidak percaya saat mendengarnya.
Bahkan Fajar merasa bingung dengan perintah dari kakaknya itu. Dia awalnya mengira Arjuna hanya bercanda saja Tetapi melihat ekspresi tegas diwajah pria itu, dia akhirnya terpaksa meminta anak buahnya membukakan gerbang utama.
Dengan ragu beberapa prajurit membukakan gerbang utama. Mereka sangat khawatir jika semua Hewan Iblis itu memporak-porandakan Kota Madya begitu diberi akses masuk kedalam.
__ADS_1
Begitu gerbang utama dibuka. Gardapati dan anak buahnya masuk kedalam Kota Madya yang beberapa hari lalu menjadi target serangannya.
Masyarakat yang melihat puluhan Hewan Iblis tingkat tinggi masuk kedalam Kota, mereka sontak menjadi panik dan buru-buru menyelamatkan diri kedalam rumah.
Jalanan utama yang semula ramai dengan aktivitas masyarakat, dalam sekejap menjadi sangat sepi. Bahkan terlihat kereta kuda dan barang-barang yang sengaja ditinggalkan oleh para pemiliknya di jalan.
Gardapati memimpin sebagian anak buahnya menuju tempat yang sudah ditunjukkan oleh Arya sebelumnya. Dia berjalan dengan santai melewati jalan utama Kota bersama anak buahnya.
Meski terlihat tidak menunjukkan niat permusuhan. Beberapa anak buah Gardapati dengan sengaja menakut-nakuti masyarakat yang diam-diam melihat mereka dari tempat persembunyian.
Gardapati memukul kepala seekor badak yang menakut-nakuti masyarakat. Dia kemudian mengeram dan menunjukkan taringnya kearah beberapa Hewan Iblis yang tidak mengikuti aturannya.
Mendapat peringatan dari Gardapati tentu saja beberapa Hewan Iblis yang dengan sengaja menakut-nakuti masyarakat, langsung menelan saliva dan diam seketika.
Gardapati kemudian melirik sekilas kearah masyarakat Kota kemudian mengalihkan pandangan lurus kedepan menatap jalan utama.
Tiba-tiba seorang anak kecil yang terlepas dari pengawasan orang tuanya jatuh dari bangunan lantai dua. Anak itu kemudian jatuh tepat diatas tubuh seekor serigala hitam yang memiliki ukuran sama seperti Gardapati.
Serigala berbulu hitam itu kemudian menurunkan anak yang jatuh dari atas kepalanya. Taringnya yang tajam langsung membuat anak kecil itu buang air kecil ditempat ketika melihatnya.
Sepasang suami-istri kemudian keluar dari tempat persembunyian dan menghampiri anak mereka yang berada sangat dekat dengan iring-iringan Hewan Iblis.
Pasangan suami-istri itu kemudian memeluk anak mereka dan melihat dengan wajah ketakutan kearah serigala hitam yang mengeram menunjukkan gigi serta taring tajamnya.
Melihat pemandangan itu, Serigala hitam mendengus kasar dan melenggang pergi berjalan menuju arah Gardapati yang tidak jauh darinya.
"Siapa manusia yang meminta kita melakukan ini semua, Gardapati?" Serigala berbulu hitam merasa kesal mengingat saat seorang anak manusia jatuh diatas kepalanya.
__ADS_1
Bagi Serigala hitam perbuatan anak manusia itu sangat merendahkan harga dirinya. Jika bukan karena Gardapati maka dia sudah menghabisi satu keluarga tadi untuk dijadikan cemilan.
"Tenanglah, kau akan segera bertemu dengannya. Aku hanya mengingatkan jangan membuat masalah saat bertemu dengannya nanti, Darma." Gardapati menggelengkan kepala melihat serigala hitam yang sudah dia anggap adiknya sendiri kini terlihat kesal.
Darma mendengus kesal mendengar jawaban yang diberikan Gardapati. Dia sudah sangat penasaran dengan manusia yang telah mengalahkan kakaknya.
Tentu Darma sudah mengetahui kekuatan Gardapati setelah dia dikalahkan olehnya dalam pertarung 10.000 tahun yang lalu, ketika memperebutkan kekuasaan atas wilayah Hutan Darah.
Keluarga kecil yang dilepaskan oleh Darma merasa cukup beruntung karena tidak dimakan. Tetapi mereka seolah kehilangan tenaga untuk berdiri saat melihat barisan Hewan Iblis yang lain.
Seekor ular kobra raksasa berwarna ungu mengendus keluarga kecil itu dan berderik melenggang pergi. Membuat jantung semua orang yang melihatnya berdetak kencang.
Perjalanan Gardapati dan semua bawahannya kemudian berlanjut memasuki kawasan markas besar Pasukan Bendera Hitam. Kedatangan mereka tentu saja membuat para prajurit yang ada terkejut.
Gardapati kemudian membawa Hewan Iblis lainnya untuk berkumpul di sebuah lapangan yang sebelumnya digunakan sebagai tempat berlatih oleh para prajurit.
Tak berselang lama sosok pria muncul di hadapan semua Hewan Iblis. Melihat kemunculan pria itu, Gardapati langsung membungkuk untuk memberi hormat.
"Aku datang sesuai permintaanmu, Tuan..." Nada bicara Gardapati terdengar penuh hormat membuat Darma serta Hewan Iblis yang lain menatap penasaran kearah anak manusia itu.
Mereka sama sekali tidak menemukan ada yang sepesial dengan anak manusia itu setelah melihatnya. Tetapi mereka kemudian memberi hormat kepadanya sama seperti yang dilakukan oleh Gardapati.
Semua orang yang ada disana tercengang saat melihatnya. Mereka tidak percaya ada seorang manusia di Kota mereka yang menundukkan para Hewan Iblis dan Raja Hutan Darah itu sendiri.
"Kau sedikit terlambat, Gardapati. Apa kau tidak tidur semalaman untuk mengurus semua istrimu itu?" Celetuk Arya sambil memperhatikan Gardapati dan beberapa singa betina di dekatnya.
Mendengar sindiran Arya tentu Gardapati dan semua istrinya merasa malu. Yang dikatakan oleh pria itu salah dan juga benar disisi lain.
__ADS_1
"Bukan begitu, sebenarnya aku sudah datang saat masih pagi buta. Tetapi orang-orang itu tidak membukakan gerbang lebih awal." Gardapati mengelak dan menyalahkan para prajurit yang berjaga di gerbang utama.