Legenda Dunia Kultivasi

Legenda Dunia Kultivasi
Memantik Api (Revisi Lokal)


__ADS_3

Raut wajah murung Arya Wijaya membuat Baduga Maharaja seketika menjadi curiga jika ada yang anak itu sembunyikan darinya.


Bahkan Arya Wijaya sampai mengembalikan lencana pengenal keluarga Kerajaan Brawijaya. Baduga Maharaja berpikir kalau sikap Arya Wijaya pasti ada kaitannya dengan keluarga besarnya sendiri.


"Arya... Katakan apa yang membuatmu sampai menolak permintaan dariku. Apa ini ada hubungannya dengan keluarga ayahmu?"


Mendengar pertanyaan dari Baduga Maharaja membuat Arya Wijaya tersenyum kecil. "Bukan seperti itu. Aku hanya membenci ayahku saja, Guru..."


Baduga Maharaja mengangguk pelan. Dia tak langsung menyuruh Arya Wijaya untuk bercerita tentang masalah dengan ayahnya, dan hanya menunggu sampai Arya Wijaya mau bercerita.


Setelah berdiam diri selama lima menit, Arya Wijaya kemudian mulai menceritakan semua yang di alami pemilik tubuh aslinya sebelum dia mengambil alih tubuh itu.


Arya Wijaya mulai bercerita tentang pertemuan antara ibu dan ayahnya dulu. Arya Wijaya mengetahui cerita itu dari ibunya yang selalu bercerita sebelum tidur.


Dulu, ayahnya yang merupakan seorang pangeran Kerajaan Brawijaya ditunjuk sebagai jaminan untuk menghentikan peperangan antara Kerajaan Brawijaya dan Kerajaan Pasanggaran.


Dia dikirim menuju sebuah desa kecil dipinggiran wilayah Kerajaan Pasanggaran dan selama 8 tahun di sana bertemu dengan seorang wanita desa kemudian menikah hingga memiliki seorang anak yang tak lain adalah Arya Wijaya.


Tetapi saat Arya Wijaya berusia 5 tahun, hubungan di antara Kerjaan Brawijaya dan Kerajaan Pasanggaran mulai kembali panas. Hal itu membuat situasi ayahnya yang berada di wilayah Kerjaan Pasanggaran menjadi terancam.


Sebelum hal itu terjadi, seorang pedagang kecil dari Kerjaan Brawijaya yang kebetulan berada di sana menawarkan diri untuk mengirim ayah Arya Wijaya kembali.


Rencana awalnya Arya Wijaya dan ibunya akan ikut bersama dengan ayahnya menuju Kerajaan Brawijaya. Tetapi kenyataan tidak, ayahnya justru pergi bersama dengan pedagang itu dengan diantar menggunakan kereta kuda ditengah malam, dan meninggalkan Arya Wijaya serta ibunya saat sedang tertidur.


Sampai di pagi hari beberapa orang yang memiliki penampilan seperti bandit datang ke desa dengan alasan meminta upeti. Tentu hal itu membuat semua orang di desa bingung, sebab tak pernah ada bandit yang datang di desa itu.


Niat sebenarnya sekelompok orang itu jelas ayah dari Arya Wijaya. Mereka kemudian mulai menahan seluruh warga desa dan melakukan penggeledahan di rumah-rumah.


Tetapi mereka juga tak menemukan orang dicari dan memaksa warga desa untuk buka suara karena curiga orang yang mereka cari sedang disembunyikan.


Para warga jelas tak mengetahui keberadaan ayah Arya Wijaya yang membuat sekelompok bandit menjadi geram dan membunuh mereka semua tanpa pandang bulu.


Arya Wijaya dan ibunya juga tak luput dari pembantaian tersebut, hingga membuat keduanya meregang nyawa.


Tetapi Arya Wijaya mengatakan kepada Baduga Maharaja jika dirinya saat itu sekarat, padahal yang sebenarnya terjadi pemilik tubuh Arya Wijaya memang sudah tewas dan tubuhnya dirasuki oleh jiwanya dari dunia lain.


"Aku berpikir kalau malam itu ayah tak menelantarkan kami, mungkin saja ibu masih hidup sampai sekarang." Arya Wijaya mengepalkan tangan sambil menahan gejolak di dadanya.


Melihat Inti Kristal milik Arya Wijaya mengeluarkan cahaya merah redup karena sedang merasa marah, Baduga Maharaja segera menenangkan anak itu agar tak ada kejadian buruk yang terjadi.

__ADS_1


Setelah Arya Wijaya mulai tenang dan Inti Kristal di dadanya kembali normal dalam warna putih membuat Baduga Maharaja menghela nafas.


"Guru paham situasi mu sekarang. Tetapi apa kamu mau membiarkan dunia ini kembali ke masa kegelapan, hanya karena masalah dengan ayahmu saja?"


Pertanyaan dari Baduga Maharaja jelas membuat Arya Wijaya merasa bingung. Mengapa hanya karena dirinya tak menyatukan 7 negara berperang bisa membuat dunia ini kembali ke masa kegelapan, pikir Arya Wijaya.


Baduga Maharaja kemudian menjelaskan sedikit cerita tentang masa kegelapan dimana bangsa Iblis dulu berkuasa di tanah itu, dan menjadikan makhluk lain sebagai budak mereka selama ribuan tahun.


Beruntung kehadiran Baduga Maharaja dan saudara-saudaranya dapat membuat bangsa Iblis angkat kaki dari Benua Nusantara, tempat dimana para manusia tinggal.


Tetapi setelah mengusir bangsa Iblis. Perpecahan terjadi di antara Baduga Maharaja dan saudara-saudaranya, hingga membuat pilar pelindung Benua Nusantara menjadi lemah.


Oleh sebab itu Baduga Maharaja, Arga Mahesa, dan Hyman Nirwasita mulai mencari murid untuk memilih salah satu dari mereka menjadi penerus kekuatan ketiganya.


Hal itu sengaja Baduga Maharaja, Arga Mahesa, dan Hyman Nirwasita lakukan karena kekuatan mereka semakin melemah akibat disegel oleh Kakek tua. Tentu Liu Kang tak menyebutkan kejadian itu kepada Arya Wijaya.


Ketiganya kemudian akhirnya bertemu dengan Arya Wijaya dan menunjuknya sebagai wadah kekuatan mereka untuk menyatukan 7 negara berperang dan memerangi bangsa Iblis.


Baduga Maharaja, Arga Mahesa, dan Hyman Nirwasita sendiri tak mengetahui kabar saudara mereka yang lain karena sudah berpisah cukup lama karena konflik diantara mereka.


Mendengar cerita yang sebenarnya terjadi meski masih ada beberapa hal yang Baduga Maharaja tutupi membuat Arya Wijaya sedikit pesimis.


"Ini semua mustahil untuk aku lakukan, guru. Aku mungkin akan mengecewakan kalian. Bagaimanapun, aku hanya anak dari seorang pangeran. Mustahil bagiku untuk menjadi pewaris tahta, apalagi menyatukan 7 negara berperang."


"Kamu tak perlu khawatir Arya. Mungkin nanti kedepannya kamu akan bertemu dengan keturunan Arga dan Hyman, kamu bisa saja meminta bantuan mereka nantinya."


Arya Wijaya seketika membelalakkan mata mendengar kalau Arga Mahesa dan Hyman Nirwasita memiliki keturunan. Untuk Arga Mahesa masih masuk akal menurut Arya Wijaya, tetapi untuk Hyman Nirwasita yang terlihat tak memiliki ketertarikan kepada seorang wanita jelas membuat Arya Wijaya terheran-heran.


Baduga Maharaja kemudian menjelaskan kalau Arga Mahesa memiliki banyak istri dari bangsa manusia dan memiliki banyak keturunan, tentu sekarang jumlah keturunannya cukup banyak setelah ribuan tahun.


Sedangkan untuk Hyman Nirwasita memiliki satu istri saja dan memiliki beberapa orang anak yang juga telah berkembang keturunannya.


Untuk Baduga Maharaja sendiri dia tak memiliki seorang istri ataupun anak karena memang tidak tertarik. Tetapi dia juga memiliki keturunan menggunakan teknik darah.


Tetapi seiring bertambahnya keturunan Baduga Maharaja, Arga Mahesa, dan Hyman Nirwasita. Tentunya garis darah akan semakin lemah.


"Jadi seperti itu. Ada hal yang ingin aku tanyakan kepadamu guru, mengapa guru tak memiliki seorang wanita? Atau..."


"Arya... Aku masih normal. Hanya saja ada sesuatu yang membuatku sedikit takut dengan wanita. Sebenarnya itu karena adikku."

__ADS_1


Arya Wijaya membuka mulut, pikirannya seolah membeku saat mendengar masalah Baduga Maharaja. "Apa guru menyukai adik sendiri?"


"Tidak, justru sebaliknya. Sebenarnya dia juga bukan adik kandung ku, melainkan adik seperguruan yang sudah aku anggap adikku sendiri."


Baduga Maharaja lalu sedikit menceritakan tentang adiknya yang sangat terobsesi kepada dirinya bahkan tak segan mengancam wanita lain yang sedang dekat dengannya.


Adik perempuan Baduga Maharaja bahkan bisa nekat membunuh wanita yang dekat-dekat dengan kakaknya itu. Sebenarnya dia adalah wanita yang sangat cantik dan sudah ada banyak dari para pria tetapi dengan keras dia menolak karena hanya mengincar kakaknya.


Berulang kali Baduga Maharaja berusaha membuat adik perempuannya sadar, bahkan dia secara terang-terangan menolak. Tetapi tentu saja hal itu percuma saja.


Sampai suatu hari Baduga Maharaja tak sengaja membentak adiknya itu dan membuat wanita tersebut pergi ke suatu tempat yang jauh bahkan sampai sekarang tak ada kabar darinya.


Baduga Maharaja tentu berusaha mencari untuk meminta maaf dan ingin sekali lagi menjelaskan kepada adiknya itu kalau mereka tidak bisa berada dalam suatu hubungan lebih dekat lagi.


"Karena itulah sampai sekarang guru tidak menjalin hubungan dengan seorang wanita dan menjalani kehidupan yang sedikit sama dengan para biksu."


Arya Wijaya mengangguk pelan melihat tatapan mata Baduga Maharaja yang menunjukkan rasa trauma kepada para wanita.


"Semoga saja aku tak bertemu dengan adikmu itu guru, kalau tidak aku bisa dibunuh olehnya hanya karena membuatmu terluka."


Mendengar perkataan Arya Wijaya langsung membuat Baduga Maharaja diam seribu bahasa. Dia tak mungkin memberi tahu Arya Wijaya kalau waktunya hanya tersisa 1 tahun, yang artinya Arya Wijaya pasti akan di incar oleh adik seperguruannya karena mengira anak itu telah membunuhnya.


Baduga Maharaja sekarang memikirkan bagaimana caranya agar Arya Wijaya tak menjadi bulan-bulanan adik seperguruannya dimasa depan.


Memang Arya Wijaya cukup kuat untuk menghadapi adik seperguruannya, tetapi kekuatan Arya Wijaya sekarang masih tersegel dan membuat nyawanya cukup terancam.


'Sial... Bagaimana ini. Mengapa aku bisa melupakan tentang adikku itu?!' Batin Baduga Maharaja sambil memijat kepalanya yang sedikit pusing.


****


Sementara itu di sebuah gua yang sangat jauh dan terpencil, terlihat seorang wanita yang kecantikannya dapat menyihir semua pria yang melihatnya.


Wanita itu terlihat sedang berkultivasi untuk mengalihkan pikirannya dari wajah seorang pria yang sudah lama dia sukai. Dia tak lain adalah Arista Umbara adik seperguruan Baduga Maharaja.


Tiba-tiba batu Giok dihadapan Arista Umbara pecah yang membuatnya langsung membuka mata untuk memeriksanya.


Raut wajahnya seketika menjadi gelap saat mengetahui bahwa Giok penanda kehidupan Baduga Maharaja telah hancur yang menandakan Kakaknya telah tiada.


"Kakak... Tidak..." Arista Umbara menatap serpihan batu Giok ditangannya dengan sedih.

__ADS_1


Arista Umbara kemudian mengepalkan tangan dan sorot matanya langsung berubah menjadi merah. Jelas dia tak bisa menerima kematian Kakaknya dan akan mencari sosok yang telah melakukan hal itu.


Tubuh Arista Umbara kemudian berubah menjadi seekor ular putih raksasa dan keluar dari gua yang sudah dia tempati selama ribuan tahun.


__ADS_2