Legenda Dunia Kultivasi

Legenda Dunia Kultivasi
Obsesi Putri Amanda


__ADS_3

Mendapat tatapan dingin yang berasal dari Putri Amanda, membuat Arya menjadi sedikit gusar. Merasa suasana mencekam itu akan berlangsung lama jika ia hanya diam saja, Arya kemudian memutuskan untuk buka suara.


Arya menghela nafas pelan lalu menatap Putri Amanda dengan penuh ketenangan di dalamnya. "Bukannya saya tidak ingin memasukan Putri Amanda kedalam kabinet. Akan sangat tidak pantas jika saya mempekerjakan seorang Putri seperti anda."


Dalam perkataannya Arya berusaha membuat Putri Amanda memahami situasi diantara mereka. Terlepas dari gelarnya sebagai seorang pangeran, Arya sekarang hanya seorang Jenderal dan tidak sepantasnya mempekerjakan seorang tawanan perang. Apalagi tawanan perang itu merupakan seorang Putri Kerajaan tetangga.


Posisi Arya sekarang bukan untuk mempekerjakan Putri Amanda, melainkan menjaga dan melindungi wanita tersebut sampai waktu yang belum bisa ditentukan.


Tetapi Putri Amanda tidak puas mendengar perkataan dari Arya. "Memangnya kenapa aku tidak bisa melakukan pekerjaan untukmu. Oh, atau jangan-jangan kau masih belum mempercayaiku?"


Putri Amanda berdecak kesal dan menatap menyelidik kearah Arya penuh kecurigaan. Setiap perkataannya seolah menyudutkan posisi Arya sekarang ini.


Arya menelan saliva ketika mendengar kalimat terakhir dari Putri Amanda. Tentu saja Arya belum sepenuhnya percaya kepada Putri Amanda. Wanita itu berasal dari Kerajaan Angasari dan merupakan tawanan perang.


Arya khawatir jika wanita itu melupakan rasa dendam terhadap Kerajaan Brawijaya kepadanya, yang membuat rencana pembangunan ulang Kota Madya gagal total akibat sabotase.


Tentu saat ini Arya tidak bisa mengatakan hal sejujurnya kepada Putri Amanda mengenai dirinya yang belum sepenuhnya percaya.


Aura dingin yang dikeluarkan oleh Putri Amanda seolah membuat sebuah ancaman kepada Arya. Jika Arya mengatakan hal yang sejujurnya, bisa dipastikan amarah wanita cantik itu akan meledak dan membuat kekacauan di Kota Madya.


"Hah... Baiklah jadi Putri ingin membantuku? Mungkin ini akan sangat lancang, tetapi kalau bisa apa anda mau menjadi sekertaris pribadiku?" Arya berkata sambil tersenyum hangat senatural mungkin, khawatir jika amarah Putri Amanda meledak.


Suhu udara di aula utama perlahan kembali normal seperti sebelumnya. Aura dingin yang menyelimuti aula perlahan menghilang seolah tidak pernah ada.


"Baiklah kalau itu yang kau inginkan, aku bersedia untuk menjadi sekertaris pribadimu. Tetapi kau harus mengetahuinya, pekerjaanku bernilai sangat tinggi." Putri Amanda bertingkah seolah terpaksa menjadi sekertaris pribadi Arya. Padahal sudah jelas dialah yang mengancam pria tersebut.


Sudut bibir Arya berkedut saat dirinya melihat kelakuan Putri Amanda yang tidak tau malu. Jelas-jelas Putri Amanda mengancamnya agar diberi pekerjaan. Tapi mengapa wanita itu kini seolah terpaksa dan meminta bayaran tinggi.

__ADS_1


"Bernilai tinggi? Memangnya berapa banyak yang Putri inginkan?" Arya bertanya sambil berusaha tetap menjaga senyumannya agar terlihat ramah oleh Putri Amanda.


Seringai tipis muncul di wajah cantik Putri Amanda ketika Arya mempertahankan bayaran yang dia inginkan untuk melakukan pekerjaan sebagai sekertaris pribadi.


Putri Amanda kemudian menunjuk Arya tanpa keraguan. "Aku menginginkan jiwa milikmu sebagai bayarannya. Tidak ada penolakan yang ingin aku dengar. Kau harus menerimanya."


Arya mengangguk paham dan tidak terlalu memikirkan perkataan Putri Amanda. Meminta jiwanya sebagai bayaran jelas terdengar seperti lelucon anak kecil. Jadi dengan mudah Arya langsung menyetujuinya, lagipula Putri Amanda tidak akan benar-benar mengambil jiwanya sebagai bayaran.


Yang tidak Arya sadari. Putri Amanda sebenarnya menginginkan Arya sebagai bayarannya. Artinya mulai jiwa, raga, dan perasaan yang dimiliki oleh Arya hanya boleh dimiliki Putri Amanda.


"Aku pegang ucapanmu. Kalau begitu aku akan menemui pelayan untuk membuatkan teh." Putri Amanda beranjak dari kursinya melihat teko berisi teh sudah habis.


"Satu hal lagi. Jangan berbicara formal denganku. Aku sudah pernah mengatakannya, bukan?" Ucap Putri Amanda yang langsung di angguki oleh Arya.


Putri Amanda kemudian keluar dari aula untuk menemui pelayan dan meminta dibuatkan teh, karena masih ada hal yang ingin dia bicarakan dengan Arya. Tidak mungkin keduanya mengobrol tanpa meminum apapun, yang ada tenggorokan mereka hanya akan kering.


"Hm... Sebenarnya apa yang terjadi?" Gumam Arya penasaran dengan apa yang terjadi dipenjara bawah tanah sampai membuat Fajar dan Bagaskara ketakutan setengah mati.


Tidak bisa membendung rasa penasarannya lagi. Arya kemudian beranjak dari kursinya dan menuju pintu masuk penjara bawah tanah yang letaknya tidak jauh dari aula utama.


Arya lalu masuk kedalam menuruni lorong anak tangga dengan beberapa obor menyala di tembok sebagai penerangan jalan menuju lantai dasar.


Samar-samar Arya mencium bau amis darah ketika baru menuruni beberapa anak tangga. Perasaan Arya mendadak jadi tidak enak, tetapi dia tetap melanjutkan menelusuri tempat itu untuk memuaskan rasa penasarannya.


Bau amis darah semakin kuat tercium saat Arya semakin dalam menelusuri penjara bawah tanah. Sampai pada satu titik mata Arya melebar ketika dirinya melihat beberapa mayat tahanan yang memiliki kondisi tubuh sangat mengerikan.


Wajah para tahanan sudah tidak dapat dikenali lagi. Beberapa anggota badan mereka juga sudah terpisah, menandakan kematian mereka sangat tidak wajar.

__ADS_1


Sebagai mantan pembunuh bayaran, Arya tentu sudah sering melihat kejadian seperti itu dari target teman-temannya. Dia sendiri belum pernah melakukan siksaan separah itu hanya untuk mendapatkan informasi, dan Arya lebih suka membunuh targetnya dengan cara instan yang efisien.


Arya kemudian secara tidak sengaja menemukan serpihan es disekitar mayat para tahanan. Hanya dalam sekali lihat Arya sudah bisa menyimpulkan siapa yang telah membuat semua kekacauan ini.


Saat itu juga tiba-tiba Arya merasakan aura dingin dari belakang tubuhnya. Ketika Arya berbalik dia mendapati sosok Putri Amanda sudah berada dibelakangnya sambil memegangi sebilah pisau.


"Hei, apa yang kau lakukan di tempat ini, Arya?" Putri Amanda bertanya tanpa menunjukkan ekspresi apapun. Tatapannya benar-benar kosong dan tanpa sadar mengarahkan pisau ditangannya kepada Arya.


Arya tertegun dan menelan salivanya dengan kasar. Dia masih tidak percaya ternyata Putri Amanda merupakan psikopat berdarah dingin.


Tetapi dengan cepat kesadaran Arya kembali. Arya menghela nafas ringan dan sedikit memahami kalau Putri Amanda melakukan semua ini karena memiliki alasan khusus, jadi dia tidak bisa menyalahkan wanita cantik itu begitu saja.


"Tidak, aku hanya penasaran saja saat melihat Fajar dan Bagaskara kembali setelah mengunjungi penjara bawah tanah. Sekarang aku mengerti kenapa mereka bisa sampai ketakutan seperti itu." Balas Arya sambil menghela nafas ringan.


Putri Amanda kemudian menatap kearah Arya sambil tersenyum aneh layaknya seorang psikopat. "Apa sekarang kau takut kepadaku? Apa kau akan menganggapku monster mulai sekarang?"


Tiba-tiba Putri Amanda tertawa sendiri kehilangan kontrol. Dia tidak percaya Arya akan melihat sisa perbuatan yang ia lakukan sebelumnya. Putri Amanda seketika langsung berspekulasi kalau Arya akan ketakutan, membenci, dan menganggapnya monster sama seperti orang lain saat melihat kehadirannya.


Namun perkiraan Putri Amanda tentang Arya salah besar. Tiba-tiba Arya menepuk dan mengusap lembut kepala Putri Amanda, yang membuat wanita cantik itu terkejut.


"Apa yang kau katakan? Jangan meracau terlalu jauh. Lain kali usahakan jangan terlalu menimbulkan banyak darah. Ayo kembali." Arya memberi Putri Amanda senyuman hangat dan tidak terlalu memikirkan sisi sadis wanita cantik itu.


Putri Amanda seketika tersentak dan menerima kesadarannya lagi. Saat melihat sorot mata Arya dirinya tidak menemukan sedikitpun ketakutan, setelah menyaksikan tindakan sadisnya.


Arya justru bersikap biasa saja dan tersenyum hangat. Raut wajah Putri Amanda yang semula dingin mendadak memerah karena tidak menyangka Arya bisa menerima sisi dirinya yang lain.


Obsesi Putri Amanda terhadap Arya kini tumbuh semakin besar dan hanya tinggal menunggu waktu sampai menjadi kuat. Putri Amanda tersenyum manis, kemudian berlari menyusul Arya yang sudah berjalan terlebih dahulu meninggalkan penjara bawah tanah.

__ADS_1


__ADS_2