Legenda Dunia Kultivasi

Legenda Dunia Kultivasi
Kecurigaan


__ADS_3

Jantung Arya berdetak lebih cepat dari biasanya. Keringat dingin mulai bercucuran dari dahinya saat dia melihat Arista berada tak jauh dari tempatnya sekarang berada.


Bukan karena Arya jatuh hati kepada wanita cantik itu, melainkan dia merasa cemas jika harus berurusan dengannya. Serangan Arista beberapa waktu lalu masih membekas dibenak Arya. Meski sudah memiliki 40 sisik Naga, tetapi wanita cantik itu masih bisa melukainya.


Memiliki masalah dengan Arista untuk saat ini bukanlah hal yang baik menurut Arya. Apalagi ditambah seorang wanita cantik lain yang merupakan jelmaan siluman Rubah, yang kini berada di dekat Arista.


Raka yang berada disamping Arya menyadari pria itu terlihat cemas. Tetapi Raka mengira kalau Arya pasti hanya gugup melihat kehadiran beberapa wanita cantik yang datang bersama Nyonya Maharani.


"Pertama aku ingin mengucapkan selamat kepada kalian berempat yang masih bisa bertahan sampai detik terakhir." Ucap Datu Mahendra yang merupakan Panglima Tertinggi di Kerajaan Brawijaya.


Mendapat ucapan selamat dari sosok Panglima Tertinggi Kerajaan, merupakan sebuah kebanggaan tersendiri untuk para peserta yang dapat bertahan sejauh ini.


Datu Mahendra kemudian memberikan lencana penghargaan kepada Raka dan Angga. Saat berada dihadapan putranya Datu Mahendra berhenti sejenak.


"Kerja bagus..." Ucap Datu Mahendra sambil memasangkan lencana penghargaan untuk Satria. Dia lalu menepuk pundak Satria sebelum menghampiri pemenang kompetisi Militer.


Diam-diam Satria tersenyum kecil. Pujian sederhana dari Datu Mahendra membuatnya sangat senang. Setelah sekian lama akhirnya Satria dilirik kembali oleh ayahnya.


Rasa percaya diri Satria kini bertambah dan dia tidak perlu menghiraukan cemoohan orang-orang tentang dirinya yang gagal mendapatkan posisi pertama dalam kompetisi.


Menurut Satria mendapat pujian dari ayahnya sudah lebih dari cukup. Sekarang dia benar-benar percaya dengan perkataan Arya sebelumnya, yang mengatakan kalau usahanya selama ini tidaklah sia-sia meski sudah gagal didetik terakhir.


Datu Mahendra kini berada dihadapan Arya. Dia kemudian memperhatikan sejenak pemenang kompetisi ini dari atas sampai bawah sebelum tersenyum kecil.


"Aku ucapkan selamat kepadamu karena sudah memenangkan kompetisi ini. Dan aku juga mengucapkan terimakasih karena sudah memberi pertunjukan yang menarik." Ucap Datu Mahendra kepada Arya sambil melirik kearah Satria.

__ADS_1


Menyadari maksud terimakasih yang diucapkan oleh Datu Mahendra, Arya tersenyum kecil dan membungkuk sedikit.


"Sebuah kehormatan untukku, Panglima." Balas Arya tanpa mengurangi rasa hormatnya kepada Panglima Tertinggi yang sudah banyak berkontribusi untuk Kerajaan.


Melihat sikap yang ditunjukkan Arya, Datu Mahendra mengangguk pelan yakin bahwa pilihannya bukan orang yang salah.


Seorang petugas kemudian memberikan bendera hitam yang memiliki tulisan Brawijaya berwarna merah kepada Datu Mahendra.


Berbeda dengan Raka, Angga, dan Satria yang mendapatkan medali penghargaan. Arya justru mendapatkan bendera yang tidak semua orang ketahui maksudnya.


Arya bahkan terlihat bingung saat Datu Mahendra memberikannya bendera hitam kepadanya sambil tersenyum kecil penuh arti.


"Mulai saat ini aku menunjukmu sebagai bagian dari pasukan bendera 7 warna. Sekarang pangkatmu aku naikan menjadi Jenderal dan kau dapat membentuk pasukan bendera hitam."


Perkataan dari Panglima Tertinggi seketika membuat para penonton dan beberapa prajurit yang menyaksikan pertandingan final menjadi kaget.


Hal ini membuat Arya kini setara dengan para Jenderal Bendera lain yang sudah berkontribusi selama lebih dari 30 tahun kepada Kerajaan.


Arya berterima kasih atas promosi yang diberikan oleh Datu Mahendra kepadanya. Sekarang rencananya untuk menancapkan pengaruh kepada Kerajaan mengalami kemajuan cukup pesat. Dengan menjadi Jenderal Bendera Hitam artinya dia memiliki wewenang khusus untuk membuat pasukannya sendiri.


"Oh benar. Aku belum mengetahui namamu sebelumnya. Perkenalkan dirimu, Nak!" Ucap Datu Mahendra yang penasaran dengan sosok anak muda dihadapannya, karena sebelumnya wasit hanya menyebut nomor para peserta jadi dia belum mengetahui namanya.


Pertanyaan kecil dari Datu Mahendra seolah mengguncang Arya. Pria itu sedikit ragu untuk menyebutkan namanya, khawatir jika ada yang akan mencurigainya.


"Namaku Arya, saya berasal dari desa kecil di timur Kerajaan, Tuan..." Balas Arya dengan ragu sambil menunggu reaksi orang-orang.

__ADS_1


Benar saja, seketika Panglima dan Jenderal Bendera yang lain seolah mengingat nama Arya. Mereka kemudian teringat tentang selebaran yang berisi titah Raja untuk mencari seorang anak bernama Arya Wijaya beberapa tahun lalu.


Tak hanya para petinggi militer saja yang mulai mencurigai identitas Arya sebenarnya, melainkan juga Maharani kini menyipitkan mata saat melihat kearah pemuda itu.


Arya menelan saliva. Kini dia hanya bisa menunggu akhir sandiwara yang sudah dia buat. Jika identitas aslinya terungkap sekarang, maka akan sulit baginya bergerak bebas karena Raja atau Kakeknya pasti mengekangnya saat itu juga.


Entah hanya firasat atau apa, Arya merasa Kakeknya pasti akan mempersiapkannya untuk urusan Kerajaan dimasa depan.


"Ekhem... Saya juga memiliki orang tua lengkap dan beberapa saudara di desa." Arya melengkapi perkenalannya membuat rasa curiga dari semua orang mulai menurun.


Para petinggi militer dan juga Maharani sekarang menganggap pria itu hanya memiliki nama yang sama dengan orang yang sedang mereka cari. Mereka yakin itu hanya sebuah kebetulan, mengingat nama Arya pasti tidak hanya satu.


Disisi lain Raka merasa bingung dengan perkataan Arya. Dia jelas mengenali Arya dan mengetahui identitas asli pria itu. Tetapi baru saja dia ingin memberi pertanyaan kepada Arya, pria itu langsung menginjak kakinya tanpa menunjukkan ekspresi bersalah.


Raka hanya bisa merintih kesakitan dan menatap Arya untuk mendapatkan penjelasan. Hanya sebuah tatapan datar dan senyum tipis, langsung membuat Raka mengerti maksud dari tindakan Arya yang tak ingin identitas aslinya tidak mau dibongkar untuk saat ini.


Setelah para peserta mendapat penghargaan dari Panglima Tertinggi. Mereka kemudian diberi hadiah tambahan oleh pihak Asosiasi Perak yang merupakan sponsor dari acara ini.


Dimulai dari Satria, Angga, dan Raka mendapat sebuah cincin dimensi berisi sejumlah uang dan beberapa sumber daya dari Maharani secara langsung.


Arya menundukkan kepala saat Maharani berada dihadapannya. Dia saat ini tidak ingin wanita cantik itu mengetahui identitasnya, bukan karena benci melainkan untuk menghindari kecurigaan Arista yang sepertinya merupakan teman Maharani.


"Terimakasih..." Ucap Arya datar sambil menundukkan wajah berharap Maharani tidak mengenalinya.


Nada bicara Arya yang khas seketika membuat Maharani kembali mencurigai pria itu. Belum sempat Maharani memberi beberapa pertanyaan kepada Arya, tiba-tiba Anjani mendorongnya karena dia juga ingin memberikan hadiah kepada para pemenang.

__ADS_1


Maharani hanya bisa menggerutu didalam hati setelah Anjani menyerobot waktunya untuk memberi pertanyaan kepada pria itu.


Tetapi dia tidak bisa berbuat apa-apa dan hanya bisa menunggu sampai ada kesempatan berbicara dengan pria yang membuatnya merasa curiga.


__ADS_2