Legenda Dunia Kultivasi

Legenda Dunia Kultivasi
Benang Merah (Revisi Lokal)


__ADS_3

Langit senja sudah berganti malam. Membuat Arya Wijaya memutuskan pamit untuk mencari penginapan dan akan menemui Nyonya Maharani Kanigara besok pagi.


Setelah pembicaraan ringan yang terjadi antara Arya Wijaya dan Nyonya Maharani Kanigara membuat mereka sudah tidak kaku lagi, bahkan keduanya mulai sedikit dekat merasa telah menemukan teman satu frekuensi.


Nyonya Maharani Kanigara menyadari usia mereka terpaut sangat jauh. Tetapi meskipun begitu dia tak mempersalahkan saat Arya Wijaya berbicara biasa saja bahkan dirinya sendiri meminta anak itu untuk tidak bersikap formal terhadapnya.


"Sepertinya kita harus menyudahi obrolan ini. Kita bisa berbicara lagi besok, malam ini aku ingin mencari penginapan diluar."


Arya Wijaya sebenarnya ingin berbicara lebih lama lagi bersama Nyonya Maharani Kanigara. Tetapi pikiran yang sudah berusia 30 tahun membuatnya berpikir tidak baik seorang pria berbicara berdua terlalu malam dengan seorang perempuan.


Setelah melakukan obrolan dan bertukar pikiran mengenai bisnis, Nyonya Maharani Kanigara tentu menyadari apa yang dipikirkan oleh Arya Wijaya. Sejujurnya Nyonya Maharani Kanigara cukup terkesan dengan sikap, cara bicara, dan pikiran luas Arya Wijaya yang sangat dewasa untuk anak seumurannya.


Tetapi hal itulah yang membuat Nyonya Maharani Kanigara akhirnya bersyukur dapat berbicara santai dengan seseorang tanpa menunjukkan kepalsuan.


"Oh, kau sudah mau pergi? Kenapa tidak menginap saja disini. Kebetulan pelayanku sebentar lagi akan membawakan makan malam. Atau... Kau ingin memakanku malam ini?"


Nyonya Maharani Kanigara tersenyum tipis dan mencoba menggoda Arya Wijaya dengan perkataannya. Dia tertarik bagaimana Arya Wijaya akan menyikapai candaannya.


"Kalau aku tinggal lebih malam lagi aku takut kehilangan kendali dan membuatmu hanya bisa berbaring selama seharian penuh..." Ucap Arya Wijaya sambil tersenyum tak berdosa dibalik topeng.


Nyonya Maharani Kanigara seketika merasa malu dan menjadi gugup. Jika orang lain yang mengatakan hal itu kepadanya sudah jelas orang itu akan langsung dieksekusi, tetapi berbeda dengan Arya Wijaya yang dia anggap sedikit istimewa.


Melihat wajah malu dan gugup Nyonya Maharani Kanigara membuat Arya Wijaya tertawa lepas hingga membuat Nyonya Maharani Kanigara merasa kesal.


"Aku hanya bercanda, mana mungkin aku berbicara denganmu semalaman. Itu hanya akan membuatmu lelah dan tertidur selama seharian."

__ADS_1


Kekesalan Nyonya Maharani Kanigara kini semakin bertambah menyadari dia hanya salah paham dengan perkataan Arya Wijaya tentang membuatnya terbaring selama seharian penuh.


Nyonya Maharani Kanigara tak menyangka perempuan suci dan harga diri tinggi sepertinya dapat memikirkan hal kotor apalagi dengan seseorang yang baru dia temui beberapa jam yang lalu.


"Begitu ya... Kalau begitu silahkan keluar dari ruanganku." Ucap Nyonya Maharani Kanigara dengan kesal dan menghempaskan Arya Wijaya keluar dari jendela.


"Woah... Sial... Apa kau ingin membunuhku?!" Arya Wijaya berteriak ketakutan setelah jatuh dari lantai lima bangunan megah Asosiasi Perak dan mendarat dengan keras di tanah.


Kaki Arya Wijaya bergetar sambil menjadikan Pedang Kematian sebagai tingkat berjalan. Meski telah dilatih fisik secara keras dan kejam oleh Arga Mahesa, tetapi Arya Wijaya belum bisa menghilangkan ketakutannya akan ketinggian.


"Wanita itu... Aku bersumpah akan membalas perbuatannya suatu saat nanti." Gumam Arya Wijaya sambil berjalan pergi dengan raut wajah pucat dan kaki gemetaran.


Disisi lain Nyonya Maharani Kanigara tersenyum kecil melihat Arya Wijaya masih baik-baik saja meski dilempar dari lantai lima. Jika anak seumuran Arya Wijaya dilempar dari lantai lima maka bisa saja anak itu mengalami cedera serius atau bahkan kematian, karena memiliki kualitas tulang yang lemah.


"Sudah kuduga anak itu bukan anak biasa..." Nyonya Maharani Kanigara berpikir Arya Wijaya memiliki seorang guru besar dibelakangnya, karena mengatakan kepadanya kalau baru beberapa hari lalu turun dari bukit setelah menjalani pelatihan bersama gurunya.


Nyonya Maharani Kanigara selain tak menyadari dia tersenyum manis, wanita cantik itu juga tak menyadari Dierja Aditama sudah ada dibelakangnya bersama beberapa pelayang yang membawakan makan malam untuknya.


"Nyonya sepertinya menyukai anak itu ya... Anda harus menunggu beberapa tahun lagi sampai anak itu cukup dewasa..." Ucap Dierja Aditama yang sebenarnya secara tak sengaja mendengar percakapan Arya Wijaya dengan Nyonya Maharani Kanigara saat berjaga didepan pintu.


"Kau benar... Aku hanya perlu menunggu beberapa tahun lagi. Meski aku usiaku juga bertambah, tetapi usia hanyalah angka..." Balas Nyonya Maharani Kanigara tanpa sadar.


Tak perlu waktu lama tiba-tiba Nyonya Maharani Kanigara tersadar dari imajinasinya dan melihat sudah ada Dierja Aditama serta dua orang pelayang yang tersenyum kearahnya.


"Apa yang kalian lakukan disini huh?!" Raut wajah Nyonya Maharani Kanigara yang semula malu seketika menjadi dingin menatap tiga orang dihadapannya.

__ADS_1


Melihat ekspresi Nyonya Maharani Kanigara berubah menjadi dingin seperti biasanya membuat Dierja Aditama dan kedua pelayan dibelakangnya menjadi takut.


"A... Ampun Nyonya... Kami datang membawakan makan malam anda. Maaf, tapi sebelumnya saya sudah mengetuk pintu berulang kali tetapi tak ada jawaban. Karena itu saya dan mereka memutuskan untuk masuk langsung..."


Tubuh Dierja Aditama dan kedua pelayan dibelakangnya bergetar hebat merasa ajal mereka akan segera datang karena masuk ruangan Nyonya Maharani Kanigara tanpa sopan.


Tetapi Nyonya Maharani Kanigara yang dalam kondisi hati yang baik kali ini memaafkan mereka dan menyuruh ketiga untuk meletakkan makan malamnya dimeja lalu keluar.


"Kenapa kau masih disini?" Nyonya Maharani Kanigara menatap sinis kearah Dierja Aditama yang masih berdiri di tempatnya semula.


Dengan tangan bergetar Dierja Aditama mengeluarkan sebuah gulungan dengan stempel Kerajaan Brawijaya kemudian memberikannya kepada Nyonya Maharani Kanigara.


"Saat Nyonya sedang berbicara dengan Tuan Arya, seseorang dari Istana datang dan ingin bertemu dengan anda. Karena Nyonya masih sibuk berbicara dengan Tuan Arya, saya kemudian dititipkan gulungan itu untuk anda."


"Memangnya siapa tadi yang ingin bertemu denganku?" Tanya Nyonya Maharani Kanigara sambil membuka gulungan dan mulai membaca.


"Pangeran Kusuma Wijaya, Nyonya..."


Mendengar nama Pangeran Kusuma Wijaya, Nyonya Maharani Kanigara tentu mengingat betul pria yang sudah dia tolong 5 tahun lalu dari kejadian pembunuhan dengan perantara Dierja Aditama.


Dierja Aditama sendiri merupakan pedagang yang dulu membantu Pangeran Kusuma Wijaya untuk melarikan diri dan kembali ke Kerajaan Brawijaya.


Tujuan Nyonya Maharani Kanigara membantu Pangeran Kusuma Wijaya sendiri tak lain karena ingin meninggalkan kesan baik terhadap Kerajaan Brawijaya agar bisnisnya semakin lancar.


Alasan Arya Wijaya seolah pernah bertemu Dierja Aditama saat pertama kali bertemu tetapi tak mengingatnya, karena saat malam itu kejadiannya begitu cepat terjadi dan membuat ingatan Arya Wijaya sedikit buram.

__ADS_1


Benang merah untuk menemukan dalang pembunuh Ibu Arya Wijaya kini sudah didepan mata. Hanya perlu beberapa waktu lagi sampai Arya Wijaya menyadarinya dan mulai menyelidiki kasus tersebut.


Arya Wijaya sudah bertekad untuk menghabisi seluruh orang yang terlibat dalam kejadian yang membuat ibunya tewas. Orang yang terlibat dan keluarga mereka akan menjadi pembalasan yang pantas atas kematian ibunya.


__ADS_2