Legenda Dunia Kultivasi

Legenda Dunia Kultivasi
Ujian Terakhir (Revisi Lokal)


__ADS_3

Saat melihat Arya Wijaya berjalan kearahnya, Raksasa Batu meraung sambil mengayunkan pukulan keras kearah Arya Wijaya. Arya Wijaya hanya tersenyum tipis, sorot matanya tidak menunjukkan ketakutan sedikitpun.


Arya Wijaya dengan tangan kosong menahan pukulan dari Raksasa batu. Raut wajah Arya Wijaya yang semula percaya diri seketika terkejut saat mencoba untuk menahan tekanan dari Raksasa Batu.


Kedua tangan dan kaki bahkan tubuh Arya Wijaya bergetar hebat menandakan bila dia tak dapat menahan tekanan pukulan yang diberikan oleh Raksasa Batu kepadanya.


Tempat dimana kaki Arya Wijaya berpijak menjadi retak dan perlahan mulai berlubang. Hingga saat Raksasa batu menambah tekanan seketika membuat seluruh tubuh Arya Wijaya tertanam.


Arga Mahesa hanya menyaksikan kejadian itu dari kejauhan sambil memakan daging Hewan Iblis bakar tanpa sedikitpun perduli dengan keselamatan muridnya.


"Padahal aku sudah memberimu peringatan sebelumnya." Ucap Arga Mahesa dengan raut wajah datar.


Raksasa batu kemudian mengangkat tubuh Arya Wijaya sambil mencengkram erat. Dia lalu mendekatkan Arya Wijaya yang sedang memberontak kearah wajahnya.


Satu raungan keras dari Raksasa batu membuat rambut Arya Wijaya tersingkap kebelakang. Raksasa batu kemudian melemparkan tubuh Arya Wijaya kearah kawah lava yang mendidih.


"Sial...."


Arya Wijaya berusaha mendapatkan keseimbangan tubuhnya dan dia cukup beruntung karena dapat mendarat di sebuah batu tepat sebelum tangannya menyentuh lava.


"Dasar bongkahan batu tak berguna!"


Arya Wijaya mengeratkan kepalan tangan kemudian melesat cepat kearah Raksasa Batu. Tetapi Raksasa Batu tak membiarkan Arya Wijaya begitu saja dan melemparkan bongkahan batu besar kearahnya.


Hanya dalam sekali pukulan Arya Wijaya dengan mudah menghancurkan bongkahan batu yang terbang kearahnya.


Tanpa Arya Wijaya duga bongkahan batu yang sebelumnya dia hancurkan terbang kembali kearahnya dan membungkus tubuhnya menjadi sebuah bola.


Akibatnya Arya Wijaya kali ini benar-benar masuk kedalam lautan lava mendidih dan dipanggang hidup-hidup didalam bola batu.

__ADS_1


Bola batu tempat dimana Arya Wijaya terkurung semakin tenggelam ke dasar kawah gunung hingga membuat suhu menjadi semakin panas.


Tidak mau gagal dalam ujian terakhirnya, Arya Wijaya berusaha untuk tetap selamat dan mencoba membebaskan diri dari perangkap milik Raksasa Batu.


Sementara itu Arga Mahesa terlihat sedang menghitung seberapa lama Arya Wijaya berada di dalam lava. Disaat muridnya sedang bertaruh hidup dan mati, Arga Mahesa justru masih saja bersikap santai.


Sebenarnya selamat dua tahun pelatihan bersama Arya Wijaya, Arga Mahesa sering memasukan Arya Wijaya kedalam pertaruhan hidup dan mati agar anak itu tidak merasa takut saat menghadapi situasi seburuk apapun dimasa depan.


Tak jarang beberapa kali Arya Wijaya hampir menemui Dewa Yama akibat pelatihan gila yang dilakukan Arga Mahesa kepadanya.


Tepat pada hitungan ke-sepuluh Arga Mahesa mengerutkan dahinya saat merasakan hawa panas dikawah tersebut berangsur-angsur mulai berkurang.


Arga Mahesa kemudian mengamati lava semula cair sekarang menjadi mengental. Tak berselang lama permukaan lava berubah warna menjadi hitam dan mengeras.


Tiba-tiba dari dalam lava muncul sebuah tangan manusia dan disusul penampakan Arya Wijaya yang tubuhnya kini diselimuti hawa panas.


Penampilan Arya Wijaya sekarang sedikit berbeda dimana wajahnya terdapat beberapa sisik keemasan serta tatapan matanya berubah menjadi seperti seekor reptil berwarna merah.


Teknik Pernapasan Naga merupakan sebuah teknik dimana penggunanya dapat menarik Qi dan energi alam yang ada disekitarnya untuk memperkuat fisik.


Arya Wijaya kemudian menatap Raksasa Batu dengan kesal lalu melesat kearahnya. Hanya dalam satu tarikan nafas Arya Wijaya sudah berada dihadapan Raksasa Batu dan melancarkan satu pukulan keras.


Tubuh Raksasa batu seketika hancur berkeping-keping dan inti kristal miliknya juga ikut pecah, sampai tidak bisa membuat Raksasa batu memulihkan diri kembali.


Pukulan Arya Wijaya tidak hanya menghancurkan Raksasa batu melainkan juga sebagian gunung berapi.


Arya Wijaya yang masih kesal dengan Arga Mahesa dan ingin sedikit membalaskan dendamnya selama pelatihan kemudian melesat kearahnya.


Semua Qi dan energi alam yang sudah Arya Wijaya serap sebelumnya kemudian disalurkan seluruhnya kedalam satu pukulan.

__ADS_1


Suara teredam terdengar ketika tinju Arya Wijaya dengan mudahnya ditahan oleh Arga Mahesa. Bahkan saking gampangnya membuat Arga Mahesa menguap.


"Kamu kurang beruntung, Nak. Coba lagi di kesempatan berikutnya." Arga Mahesa tersenyum kecil dan mengusap kepala Arya Wijaya.


Wajah Arya Wijaya sedikit memerah saat Arga Mahesa mengusap kepalanya seperti anak kecil. Dia hanya bisa menahan rasa malu setelah melihat serangannya bahkan tidak bisa membuat Arga Mahesa mundur kebelakang satu inchi pun.


Arga Mahesa kemudian mengeluarkan sebuah buku berukuran kecil tanpa sampul dari cincin dimensi lalu diberikan kepada Arya Wijaya sebagai hadiah kelulusan.


"Ayo cepat kembali, aku ingin tidur siang. Oh iya, jangan buka buku itu sebelum usiamu 15 tahun."


Arya Wijaya hanya bisa menatap kepergian Arga Mahesa dengan heran. Karena bagi Arya Wijaya larangan memiliki arti lain, diam-diam membuka buku itu dan membacanya sedikit.


Raut wajah Arya Wijaya seketika menjadi merah padam dan kepalanya mengeluarkan asap putih. Buru-buru dia langsung menutup buku di tangannya.


"Mengapa guru memberikan buku seperti ini kepadaku? Pantas saja aku hanya boleh membukanya saat berusia 15 tahun."


Arya Wijaya menghela nafas panjang tidak menyangka akan menerima sebuah buku khusus untuk orang dewasa. Usai dewasa didunia tempatnya sekarang sedikit berbeda, dimana bila seseorang menginjak usia 15 tahun maka sudah dianggap dewasa.


"Tapi tidak ada salahnya juga, aku bisa menjadikan buku ini sebagai refrensi dimasa depan..." Gumam Arya Wijaya sambil tertawa mencurigakan.


Arya Wijaya kemudian bergegas menyusul Arga Mahesa yang sudah lebih dulu kembali menuju kediaman Baduga Maharaja. Jarak antara gunung berapi itu dengan kediaman Baduga Maharaja sebenarnya tidak terlalu jauh dan hanya perlu waktu beberapa jam untuk orang normal.


Setelah sampai dikediaman Baduga Maharaja, untuk merayakan kelulusan Arya Wijaya mereka kemudian mengadakan pesta kecil-kecilan dimalam hari.


Pesta sederhana yang hanya dilakukan oleh empat orang saja cukup membuat suasana menjadi hidup apalagi ketika Arya Wijaya berdebat dengan Arga Mahesa yang tengah mabuk saat membahas latihan mereka selama dua tahun ini.


Mulai besok bukan Arga Mahesa lagi yang akan melatih Arya Wijaya melainkan Hyman Nirwasita. Dihari berikutnya Hyman Nirwasita akan mengajarkan teknik berpedang, pengendalian api, dan sedikit ilmu alkemis untuk Arya Wijaya.


Bila Arga Mahesa mengajarkan teknik bertahan, maka Hyman Nirwasita lah yang akan mengajarkan teknik menyerang kepada Arya Wijaya, karena dia adalah ahlinya.

__ADS_1


Malam itu Hyman Nirwasita meminta kepada Arya Wijaya untuk tidak tidur terlalu larut malam karena mereka akan pergi ke suatu tempat.


__ADS_2