Legenda Dunia Kultivasi

Legenda Dunia Kultivasi
Memakan Bangkai Paus (Revisi Lokal)


__ADS_3

Tak ada pembicaraan lain diantara Arya Wijaya dan Kakek tua misterius itu. Saat Arya Wijaya ingin bertanya lebih kepada Kakek tua itu, kesadarannya langsung kembali dan membuatnya merasa cukup kesal.


Setelah memendam banyak pertanyaan selama 2 tahun dan akhirnya dapat bertemu dengan sosok Kakek tua misterius itu, dia justru malah dikirim balik sebelum melakukan sesi tanya jawab.


Arya Wijaya merasa seluruh badannya terasa sakit semua saat kesadarannya telah kembali. Begitu membuka matanya, Arya Wijaya menemukan dirinya telah berada didalam sebuah gua.


"Lihat, siapa yang baru bangun setelah tidur selama tiga hari..."


Arya Wijaya menoleh kesamping menemukan Hyman Nirwasita tersenyum kepadanya sambil memegang sebuah alat masak ditangannya. Arya Wijaya hanya bisa tersenyum canggung karena telah merepotkan gurunya selama tiga hari.


'Tunggu... Tiga hari? Bukannya aku hanya berada di tempat itu selama beberapa menit?' Arya Wijaya merasa bingung dengan selisih waktu antara alam bawah sadarnya dan dunia asli.


Melihat ekspresi kebingungan diwajah Arya Wijaya membuat Hyman Nirwasita merasa penasaran dengan yang sedang dipikirkan oleh anak itu.


"Apa ada yang salah? Mengapa kau terlihat kebingungan?" Tanya Hyman Nirwasita sambil memicingkan mata karena penasaran.


Arya Wijaya dengan cepat menggelengkan kapala dan memberitahu kepada Hyman Nirwasita supaya tak terlalu mengkhawatirkan nya, karena dia baik-baik saja.


Hyman Nirwasita hanya bisa mengiyakan perkataan Arya Wijaya sambil memasang raut wajah heran. Dia kemudian memberikan sup ikan buatannya kepada Arya Wijaya untuk menghangatkan tubuh.


Arya Wijaya yang merasa lapar dengan senang menerima sup ikan buatan Hyman Nirwasita. Dari aromanya yang sedap Arya Wijaya jadi tak semakin tak sabar untuk memakannya.


Tetapi saat baru memakan sesuap mata Arya Wijaya terbuka lebar, dia kemudian menyemburkan sup di mulutnya dan secara tidak sengaja mengenai Hyman Nirwasita.


"Hoek! Menjijikkan, sup ikan macam apa ini. Kenapa rasanya sangat asin dan amis?"

__ADS_1


Raut wajah Arya Wijaya berubah menjadi sedikit biru saat merasakan sup ikan buatan Hyman Nirwasita yang sangat tidak enak.


Hyman Nirwasita tentu merasa bingung dengan respon Arya Wijaya saat memakan sup ikan buatannya. Hyman Nirwasita kemudian mencoba sup buatannya sendiri dan tidak menemukan ada yang salah dengan masakannya. Menurutnya sup ikan itu cukup enak untuk dimakan.


Arya Wijaya jelas tidak terima saat mendengar perkataan Hyman Nirwasita. Jelas-jelas rasanya sangat tidak enak tetapi Hyman Nirwasita justru mengatakan hal sebaliknya. Selera orang ternyata memang berbeda-beda pikir Arya Wijaya.


"Guru, ikan apa yang kamu gunakan untuk membuat sup. Sejauh ini aku sama sekali belum pernah merasakan ikan seburuk itu."


"Oh... Aku menggunakan daging ikan paus yang tempo hari kita temukan di pinggir pantai. Memangnya ada yang salah?"


Hyman Nirwasita dengan santainya memberitahu Arya Wijaya jika dia menggunakan bangkai ikan paus untuk masakannya. Memang tempat itu sangat dingin dan telah membekukan mayat ikan paus, tetapi tidak dengan bakteri yang ada didalamnya.


Seketika Arya Wijaya muntah sejadi-jadinya saat mengetahui dirinya memakan bangkai. Dia masih tak percaya jika Hyman Nirwasita bisa-bisanya menggunakan bangkai ikan paus yang entah sudah berapa lama untuk dijadikan sup ikan.


Melihat Arya Wijaya muntah-muntah Hyman Nirwasita langsung memberikan secangkir minuman hangat kepada anak itu. Tetapi saat Arya Wijaya meminumnya, dia langsung memuntahkannya kembali.


"Nak, kamu harusnya bersyukur karena telah diberi makanan yang terbuat dari ikan paus. Apa kamu tau, makanan kesukaan ras Phoenix selain bayi Naga adalah ikan paus."


"Mana kutahu kalau ras Phoenix suka sekali dengan ikan paus. Aku hanya seorang anak manusia normal jangan samakan aku dengan ras Phoenix milikmu, Pak Tua!"


Sebuah pukulan dilayangkan oleh Hyman Nirwasita seketika mengenai kepala Arya Wijaya dan membuat benjolan cukup besar.


"Jangan memanggil gurumu sendiri dengan sebutan Pak Tua, itu tidak sopan. Asal kau tau Arya, aku masih muda."


Hyman Nirwasita kemudian melepaskan topeng Giok Hitam dan memperlihatkan parasnya yang sangat tampan kepada Arya Wijaya, untuk membuktikan bahwa dia belum tua.

__ADS_1


Melihat paras wajah Hyman Nirwasita yang sangat tampan hingga dapat membuat semua wanita akan tergila-gila karenanya, Arya Wijaya justru membuat ekspresi datar dan mencibir Hyman Nirwasita.


"Selain benci memakan bangkai, aku juga membenci seorang pria tampan yang dapat dengan mudah memikat wanita tanpa perlu berusaha sedikitpun."


Hyman Nirwasita seketika tersentak dengan perkataan Arya Wijaya apalagi saat melihat ekspresi datar diwajah muridnya itu. Untuk pertama kalinya Hyman Nirwasita akhirnya dapat melihat seseorang yang mencibir paras wajahnya. Sejauh ini tidak ada yang pernah ada orang yang berani mencibir parasnya mau itu lelaki atau wanita pasti akan memujinya.


Tidak angin tidak ada hujan Hyman Nirwasita tiba-tiba tertawa sendiri membuat Arya Wijaya tambah merasa tidak senang dan mengira pria itu sudah tak waras.


"Apa kamu baik-baik saja, Guru?" Tanya Arya Wijaya sambil sedikit menjauh dari Hyman Nirwasita karena mengiranya sudah gila.


Menyadari apa yang sedang dipikirkan oleh Arya Wijaya kepada dirinya, Hyman Nirwasita kemudian berhenti tertawa dan memakai kembali topeng Giok miliknya.


"Guru tidak perlu menggunakan topeng itu lagi, tidak ada yang sepesial dari wajah tampan Guru."


Hyman Nirwasita hampir tersandung saat mendengar perkataan Arya Wijaya tetapi dengan cepat segera bersikap dewasa seperti biasanya.


Sebuah Kuali berukuran besar Hyman Nirwasita keluarkan dari cincin dimensi. Hyman Nirwasita kemudian mencampurkan satu botol herbal dengan air yang berada di dalam Kuali dan menggunakan Api Surgawi untuk memanaskannya.


Hyman Nirwasita kemudian menyuruh Arya Wijaya melepas semua pakaian yang dikenakan dan memintanya masuk kedalam Kuali.


Awalnya Arya Wijaya menolak karena mengira Hyman Nirwasita ingin menjadikannya sup untuk makan malam, tetapi setelah dijelaskan oleh Arya Wijaya jika itu digunakan untuk memulihkan kondisi badan dan stamina akhirnya membuat Arya Wijaya percaya.


Arya Wijaya kemudian menanggalkan semua pakaiannya dan perban dibeberapa bagian tubuhnya. Mata Hyman Nirwasita cukup terkejut saat melihat banyak luka lebam dan sayatan ditubuh Hao Zihan.


Hyman Nirwasita tampaknya belum memeriksa kondisi badan Arya Wijaya sampai terkejut saat melihatnya. Saat Arya Wijaya tak sadarkan diri selama tiga hari, Hyman Nirwasita hanya memberikan pil saja kepada Arya Wijaya.

__ADS_1


Melihat luka sayatan ditubuh Arya Wijaya akibat ulahnya beberapa hari yang lalu membuat Hyman Nirwasita merasa sedikit bersalah karena terlalu berlebihan kepada muridnya.


Untuk bekas luka lebam ditubuh Arya Wijaya sendiri diakibatkan latihannya selama 2 tahun bersama Arga Mahesa dan masih membekas sampai sekarang.


__ADS_2