Legenda Dunia Kultivasi

Legenda Dunia Kultivasi
Cemburu?


__ADS_3

Sebelum berpisah dengan rombongan Arya yang akan menuju Kota Madya. Raka, Angga, dan Satria berbincang sejenak dengan Arya mengenai kondisi kota yang akan dijadikan markas oleh pria itu.


Tak berlangsung lama ketiga pria itu pamit untuk mengerjakan kewajiban mereka di Ibukota. Arya memberikan Raka dua buah surat sebelum mereka berpisah.


"Berikan satu untuk ayahmu, dan satu lagi untuk Nyonya Maharani." Ucap Arya sambil memberikan dua buah surat kepada Raka.


Arya tampaknya sudah menyadari hubungan Raka dan Dierja memburuk setelah kepergiannya yang mendadak malam itu. Dengan memberikan surat kepada Dierja, Arya berharap hubungan anak dan ayah itu akan membaik seperti sebelumnya.


Untuk surat yang ditujukan kepada Maharani sendiri, Arya menyampaikan rasa minta maaf karena tak menemuinya saat berada di Ibukota. Meski ada sedikit konflik diantara mereka, tetapi Arya masih menganggap Maharani sebagai rekan bisnisnya.


Raka yang dititipkan pesan oleh Arya kemudian mengangguk pelan. Ada sedikit keraguan dimatanya saat melihat surat yang ditujukan kepada ayahnya. Tetapi karena Arya meminta tolong kepadanya, Raka tak mungkin menolaknya.


Setelah Raka, Angga, dan Satria pergi. Arya berbalik dan langsung terkejut ketika mendapat tatapan tajam oleh Fajar serta Putri Amanda.


Untuk Fajar sendiri, Arya sudah bisa menebak apa yang ingin ditanyakan kepadanya, yaitu tentang dirinya yang merupakan seorang Jenderal.


Tetapi Arya tidak mengerti dengan tatapan Putri Amanda yang seolah ingin menusuknya menggunakan pisau berulang kali.


"Simpan pertanyaan kalian berdua untuk nanti. Ada hal yang harus kita perbaiki saat ini." Arya menunjuk kearah kereta kuda mereka yang rusak akibat penyergapan sebelumnya.


Fajar mengangguk pelan. Setelah mendengar Arya yang merupakan seorang Jenderal, cara Fajar melihat Arya sedikit berubah dan rasa hormatnya semakin bertambah.


Tanpa perlu diberi perintah, Fajar langsung mencari kayu untuk memperbaiki kereta kuda mereka yang rusak, meninggalkan Arya dan Putri Amanda yang masih diam ditempat.


Saat Arya ingin membantu Fajar memperbaiki kereta kuda. Tiba-tiba Arya merasa lehernya kedinginan, padahal tidak ada yang lewat saat ini.

__ADS_1


"Apa kau memiliki hubungan dengan pemilik Asosiasi Perak? Aku lihat dia lumayan cantik." Tanya Putri Amanda sambil menatap tajam Arya dari belakang.


Putri Amanda kini memegang sebilah pisau di tangannya. Jika jawaban yang diberikan Arya tidak sesuai dengan harapannya, Putri Amanda akan langsung menikam pria itu dari belakang.


Prinsip Putri Amanda sekarang jika tidak bisa memiliki Arya, maka wanita lain juga tidak boleh memilikinya. Setelah berhasil membunuh Arya, Putri Amanda akan bunuh diri setelahnya.


Kehidupan yang dia jalani sudah terlalu memuakan, dari pada menderita seumur hidup menjadi tawanan perang, Putri Amanda lebih memilih mengakhiri hidup. Tentu dia akan benar-benar melakukan hal itu setelah pria yang selalu ada didalam pikirannya tewas.


"Oh, Nyonya Maharani dan aku merupakan rekan bisnis, tidak kurang tidak lebih. Memangnya ada apa, Tuan Putri?" Arya menghentikan langkahnya untuk menjawab, tetapi dia tidak menoleh kebelakang karena firasatnya mengatakan hal buruk akan terjadi jika dirinya berbalik.


Mendengar penjelasan dari Arya, Putri Amanda merasa sedikit puas. Wanita cantik itu kemudian menyimpan pisau rahasia miliknya dan berjalan mendahului Arya.


"Bagus, aku harap hubungan bisnismu dengannya selalu baik dan tetap seperti itu, tidak lebih." Putri Amanda berkata dengan santai, tetapi nadanya seolah memberi Arya sebuah ancaman pada kalimat terakhirnya.


Arya mengerutkan alisnya sambil memperhatikan sosok Putri Amanda dari belakang. Arya merasa bingung dengan sikap aneh Putri Amanda kepadanya, padahal mereka baru saja bertemu.


"Apa-apaan itu tadi. Kenapa aku merasa seolah dikekang oleh wanita itu?" Arya sedikit mulai menyadari Putri Amanda mulai bersikap protektif kepadanya, apalagi saat menyangkut wanita lain.


Mereka padahal tidak menjalin hubungan sedekat itu. Jadi akan sangat aneh jika Putri Amanda mulai protektif kepadanya. Arya langsung menepuk wajahnya dan mencoba berpikir positif, kalau Putri Amanda bersikap aneh kepadanya bukan karena suka, melainkan karena dirinya sekarang merupakan penjaganya.


Arya menggelengkan kepala membuang pikirannya tentang sosok Putri Amanda. Dia kemudian menghampiri Fajar dan membantunya memperbaiki kereta kuda.


"Biar aku bantu." Arya melihat Fajar kesulitan saat ingin memasang roda baru. Arya kemudian mengangkat kereta kuda dengan satu tangan, untuk memberi ruang Fajar memasang roda baru.


Melihat kekuatan Arya saat mengangkat kereta kuda berisi tiga pria dewasa didalamnya, Fajar cukup terkejut mengingat kereta kuda terbilang cukup berat apalagi ditambah tiga pria dewasa didalamnya.

__ADS_1


Sementara Fajar terkejut, Putri Amanda memiliki tatapan aneh saat melihat lengan kekar Arya yang kali ini ditunjukkan setelah sebelumnya disembunyikan di lengan bajunya.


Beberapa saat kemudian setelah roda kereta kuda berhasil diperbaiki. Mereka lalu melanjutkan perjalanan menuju Kota Madya dengan suasana canggung seperti sebelumnya.


Tetapi kaki ini ada sedikit perbedaan, yaitu ketiga mantan Jenderal Bendera Warna yang awalnya selalu tertidur, kini justru terjaga. Alih-alih memulai obrolan, mereka bertiga justru menampilkan ekspresi gelisah karena harus berhadapan dengan Putri Amanda.


Arjuna dan Wira hanya bisa menahan ketakutan saat Putri Amanda memberi mereka tatapan dingin. Sementara Bagaskara mulai melafalkan Amitabha ajaran Kuil Emas, untuk menenangkan jiwa raga dan menghilangkan rasa takutnya, karena berhadapan dengan sosok Putri Amanda.


Ketiganya sekarang hanya merupakan manusia biasa tanpa memiliki ilmu beladiri. Hanya dalam sekali lambaian tangan Putri Amanda sekarang sudah bisa membunuh mereka dalam sekejap.


Menyadari ketakutan diwajah ketiga sosok mantan Jenderal itu saat melihat Putri Amanda. Arya tidak melakukan tindakan apapun, karena menyadari dirinya tidak bisa melarang tindakan yang dilakukan oleh seorang Putri.


"Maaf aku tidak bisa membantu kalian saat ini." Arya menggunakan bahasa isyarat yang hanya bisa dimengerti oleh seorang pria, kepada tiga mantan Jenderal di hadapannya.


Menangkan bahasa isyarat dari Arya. Arjuna, Wira, dan Bagaskara hanya bisa mengumpat. Mereka sudah berharap Arya melakukan sesuatu terhadap Putri Amanda yang selalu memberikan tatapan seperti melihat kotoran.


Tetapi dengan mudahnya Arya mematahkan harapan mereka semua, membuat ketiganya sekarang hanya bisa berharap Putri Amanda tidak membuat tindakan yang bisa membunuh mereka bertiga.


Arya tiba-tiba beranjak dari tempatnya lalu duduk disamping Fajar yang menjadi kusir, untuk mencari udara segar dan melihat setiap tempat yang mereka lalui.


Cukup mudah untuk duduk disamping Fajar, mengingat kereta kuda mereka seperti gerobak besar dengan atap. Hanya melewati sekat kecil, Arya sudah bisa keluar dari sana dan duduk disamping Fajar.


Setelah Arya tidak duduk di kursi penumpang dan membelakangi mereka. Arjuna, Wira, dan Bagaskara langsung bisa merasakan udara yang tiba-tiba terasa dingin.


Mereka langsung menemukan raut wajah Putri Amanda menjadi muram setelah Arya meninggalkan tempat duduknya, membuat udara dingin langsung keluar dari tubuh Putri Amanda, dan langsung menjadikan kereta kuda itu terasa seperti sebuah kulkas.

__ADS_1


Arjuna, Wira, dan Bagaskara hanya bisa mengumpat kearah Arya. Jika bukan karena pria itu pindah tempat duduk, mereka tak mungkin berada dalam situasi kedinginan seperti sekarang.


__ADS_2