
Langkah Arya kembali terhenti disaat ia melihat seorang pria yang sangat dikenali oleh pemilik tubuhnya. Pria itu tidak lain merupakan Pangeran Kusuma orang tuanya sendiri.
Arya kemudian mengalihkan pandangan kearah seorang wanita yang sedang dirangkul mesra oleh Pangeran Kusuma. Keduanya tampak bahagia saat menemani putri kecil mereka, yang sedang bermain dengan beberapa pelayan.
Secara tak sengaja Pangeran Kusuma melihat kehadiran Arya dan tidak mengenalinya. Merasa heran melihat ada seorang anak laki-laki asing disana, Pangeran Kusuma berinisiatif menghampirinya.
"Nak, siapa kau? Apa yang kau lakukan disini?" Tanya Pangeran Kusuma sambil tersenyum ramah kepada anak laki-laki itu yang kelihatan tertegun.
Arya terdiam dan tidak menyangka kalau akan bertemu dengan Pangeran Kusuma yang dia kira sedang mengikuti rapat penting di Istana.
Melihat suaminya yang sedang mencoba berbicara dengan seorang anak laki-laki tak dikenal, Putri Dewi kemudian menghampirinya.
"Suamiku, siapa anak laki-laki itu?" Tanya Putri Dewi yang penasaran dengan kehadiran seorang anak laki-laki tak dikenal berada di kediaman Wijaya.
Pangeran Kusuma menggelengkan kepala dan mengatakan bahwa dirinya juga tidak mengetahuinya. Saat dia mencoba bertanya, anak laki-laki itu tidak mau menjawab dan hanya diam saja.
Melihat kenyataan bahwa ayah dari pemilik tubuhnya sudah menikah lagi dan memiliki seorang putri, membuat Arya cukup dibuat kecewa, apalagi saat melihat Pangeran Kusuma tak mengingat wajah putranya sendiri.
Arya menunduk untuk memberi hormat kepada keluarga kerajaan dihadapannya, kemudian segera pergi tanpa mengatakan sepatah katapun.
Pangeran Kusuma dan Putri Dewi hanya bisa menatap kepergian anak laki-laki itu dengan heran, sebelum seorang pria dari belakang datang mengejutkan keduanya.
"Selamat sore Pangeran Kusuma... Putri Dewi..." Sapa pria tak lain merupakan Dierja yang baru saja selesai melakukan pertemuan di Istana, dan sedang mencari keberadaan Arya untuk diajak pulang.
"Oh, Tuan Dierja. Bagaimana pertemuan nya? Apa semuanya berjalan dengan lancar?" Ucap Pangeran Kusuma dengan ramah sambil menepuk-nepuk pundak Dierja yang merupakan penyelamat hidupnya.
Dierja mengangguk pelan membenarkan bahwa pertemuannya dengan semua petinggi Kerajaan Brawijaya yang membahas tentang perang, berjalan dengan lancar.
__ADS_1
Pangeran Kusuma tiba-tiba menanyakan berita terbaru kepada Dierja mengenai pencarian putranya yang sudah menghilang selama 5 tahun.
Tetapi Dierja seolah melupakan permintaan dari Pangeran Kusuma, yang membuat Pangeran Kusuma kemudian mengeluarkan secarik kertas berisi tentang sayembara untuk mencari putranya.
Setelah melihat poster sayembara itu, Dierja mengangguk dan sepertinya dia tidak benar-benar mengikuti berita pencarian putra Pangeran Kusuma.
"Maaf Pangeran... Belakangan ini saya disibukkan oleh pekerjaan saya, dan orang yang bertanggung jawab menyebarkan berita ini adalah orang lain." Ucap Dierja sambil tersenyum canggung.
Raut wajah Pangeran Kusuma seketika berubah menjadi kecewa. Awalnya dia sangat bersemangat saat melihat kehadiran Dierja di Istana, karena ingin menanyakan berita terbaru mengenai pencarian putranya.
Dierja sedikit merasa bersalah kepada Pangeran Kusuma karena tidak bisa membantu terlalu banyak. Saat Dierja melihat kembali surat berisi perintah pencarian, dia cukup terkejut menyadari siapa yang dicari disepenjuru Kerajaan selama lebih dari satu minggu ini, merupakan tamu di Kediamannya sendiri.
Tampaknya Dierja belum diberitahu oleh Nyonya Maharani tentang Arya yang merupakan seorang anggota keluarga Kerajaan Brawijaya.
Saat Dierja sempat melihat Arya sebelumnya, yang pergi dengan raut wajah kecewa, membuat Dierja paham apa yang sebenarnya terjadi disana.
Dierja kemudian memutuskan untuk pamit dari hadapan Pangeran Kusuma dan Putri Dewi. Dia lalu segera mengejar Arya yang saat ini sudah menunggunya didalam kereta kuda.
Ketika masuk kedalam kereta kuda, Dierja melihat raut wajah Arya yang terlihat masam. Dierja kemudian segera menyuruh kusirnya untuk jalan dan ingin menanyakan beberapa hal kepada Arya.
"Aku tak ingin membahasnya sekarang, Paman Dierja. Kumohon mengertilah..." Ucap Arya sambil menatap papan nama keluarga Wijaya dari jendela.
"Baik Tuan Muda..." Dierja mengangguk pelan mencoba memahami Arya yang sedang tak ingin diajak berbicara saat ini.
Arya kali ini dibuat kecewa saat melihat kenyataan yang harus dihadapi oleh pemilik tubuhnya. Ayah anak itu kini sudah menikah laki dan seolah melupakan dirinya serta ibunya yang sudah tewas 5 tahun lalu.
"Yang benar saja, kenapa dia bisa langsung menikahi wanita lain dan memiliki seorang putri. Dia bahkan tak peduli kalau istri dan putranya sudah tewas..." Ucap Arya sambil tersenyum masam.
__ADS_1
Dierja yang mendengar perkataan Arya hanya bisa diam. Tetapi sejujurnya dia ingin meminta maaf karena menyadari Arya merupakan keluarga Pangeran Kusuma yang dulu dia tinggalkan dalam keadaan genting.
Saat ini Dierja merasa bingung, bagaimana caranya harus meminta maaf kepada Arya. Jujur Dierja merasa tidak enak kepada anak itu yang sudah menyelamatkan dirinya dan keluarganya, sementara dia melakukan hal sebaliknya kepada Arya dan Ibunya.
Beberapa waktu kemudian setelah langit menjadi gelap. Dierja dan Arya akhirnya sampai dikediaman keluarga Aditama.
Tanpa memberikan waktu kepada Dierja untuk berbicara, Arya langsung mengganti ekspresinya yang semula masam menjadi sedikit tersenyum saat disambut oleh Raka.
"Kakak, mengapa kau tak bilang jika ikut bersama ayahku ke Istana? Padahal aku saja tak diijinkan untuk ikut dengannya." Tanya Raka sambil memasang raut wajah cemberut.
Arya tertawa kecil sambil menepuk-nepuk pelan pundak Raka. "Mungkin karena aku lebih spesial darimu, jadi paman Dierja lebih memilih untuk mengajakku."
Mendengar perkataan dari Arya seketika membuat Raka menggerutu sambil memandangi ayahnya yang terlihat sedang tersenyum canggung dibelakang.
Dengan kesal Raka kemudian menarik tangan Arya masuk kedalam menuju ruang makan untuk makan malam bersama, meninggalkan ayahnya sendiri dihalaman rumah.
Setelah Raka membawa Arya masuk kedalam, senyuman diwajah Dierja langsung menghilang. Raut wajahnya kini menjadi masam, karena baru mengetahui kebenarannya.
"Mengapa Nyonya Maharani tak memberitahuku dari awal? Atau memang Tuan Muda sendiri yang meminta untuk menutupinya?" Dierja benar-benar merasa bingung sekarang.
Dierja kemudian mendatangi ruang makan dan melihat sudah ada Arya, Raka, dan Asri istrinya yang sudah berkumpul disana. Dia kemudian duduk disamping Asri dan berhadapan dengan Arya.
Menyadari Dierja terus memandangnya dengan raut wajah bersalah. Arya kemudian memberi isyarat untuk tidak membahasnya, dan membuat Dierja menghela nafas sebelum makan.
Arya juga mulai makan dengan tenang dan tidak seperti Raka yang makan dengan lahap.
Disisi lain Asri tampaknya merasa janggal dengan apa yang sedang terjadi diantara Arya dan Dierja. Instingnya sebagai seorang istri mengatakan kalau suaminya itu sedang memiliki masalah dengan Arya.
__ADS_1