Legenda Dunia Kultivasi

Legenda Dunia Kultivasi
Membebaskan Tahanan


__ADS_3

Ekspresi murung Fajar seketika hilang digantikan senyuman cerah penuh harapan setelah mendengar Arya ingin membebaskan Kakaknya dari balik jeruji besi.


"Apa kau serius Arya bisa membebaskan kakakku dari penjara?" Fajar bertanya dengan nada pesimis mengingat kakaknya merupakan tahanan kelas berat yang cukup mustahil untuk dibebaskan kecuali setelah mati.


Melihat keraguan diwajah Fajar, Arya kemudian mengeluarkan surat pembebasan yang sudah mendapat stempel khusus dari Panglima Tertinggi secara langsung.


Fajar menjadi antusias saat membaca surat pembebasan atas kakaknya dan kedua rekan kakaknya. Baginya ini seperti sebuah mimpi yang sangat sulit untuk bisa dipercaya.


"K...Kau serius dengan semua ini, Arya? Sepertinya aku masih bermimpi." Tanya Fajar yang mulai tertawa sendiri seperti orang tidak waras.


Tiba-tiba Arya langsung memukul kepala Fajar tanpa ragu untuk menyadarkan pria itu yang mulai kehilangan kewarasannya.


Fajar menggosok kepalanya sambil meringis kesakitan setelah mendapat pukulan cinta dari Arya yang seketika membuatnya sadar kalau semua ini bukan hanya sekedar mimpi.


Arya kemudian mengeluarkan sebutir Pill dan meminta Fajar untuk menelannya. Pada awalnya merasa bingung, tetapi setelah dipaksa oleh Arya dia akhirnya menelan Pill itu.


Hanya dalam beberapa saat tiba-tiba seluruh luka bakar di sekujur tubuh Fajar menghilang tanpa meninggalkan luka sedikitpun.


Melihat luka bakar di tubuhnya pulih dalam sekejap, Fajar tidak langsung percaya begitu saja. Tetapi saat membuka seluruh perban di tubuhnya, dia terkejut karena ternyata seluruh luka bakarnya sudah menghilang.


"Ini... Bagaimana bisa semua luka bakar di tubuhku menghilang dalam sekejap?" Fajar bertanya dengan nada penuh ketidak percayaan. Dia kemudian menampar wajahnya sendiri untuk mengetahui itu semua ilusi atau kenyataan.


Menyadari semuanya benar-benar asli dan bukan tipuan. Fajar mengalihkan pandangannya kearah Arya.


"Simpan semua pertanyaan mu untuk nanti. Ikuti aku kalau kau ingin bertemu dengan kakakmu." Ucap Arya sambil berjalan melenggang pergi diikuti oleh Putri Amanda.


Fajar yang masih termenung seketika tersadar dan bergegas menyusul Arya yang sudah terlebih dulu pergi bersama orang asing bertudung.


Setelah berhasil menyusul Arya, Fajar tak bisa untuk tidak memperhatikan pria itu. Banyak pertanyaan saat ini yang ingin dia tanyakan kepada Arya.

__ADS_1


Tetapi melihat ekspresi datar yang ditunjukkan oleh Arya, membuat Fajar untuk saat memilih menyimpan terlebih dahulu seluruh pertanyaannya.


Fajar kemudian mengalihkan pandangan kearah orang misterius yang bersama Arya dan dari awal tak mengucapkan sepatah katapun.


"Hai, aku Fajar. Siapa namamu?" Tanya Fajar yang mau berkenalan dengan orang misterius itu dan ingin menanyakan beberapa hal tentang Arya.


Tiba-tiba Fajar merasakan aura disekitarnya terasa sangat dingin seolah dirinya sedang berada disebuah Kutub es.


"Diamlah..." Nada bicara Putri Amanda terdengar dingin dan di penuhi rasa kebencian mendalam kepada Fajar.


Sebenarnya bukan hanya Fajar yang Putri Amanda benci melainkan semua orang di Kerajaan Brawijaya. Bahkan Putri Amanda juga membenci keluarganya sendiri.


Kebencian terhadap perlakuan dari setiap orang yang pernah dia temui sejak kecil, membuat Putri Amanda ingin menyingkirkan setiap orang bahkan keluarganya sendiri. Tetapi ada satu alasan tersembunyi yang membuat Putri Amanda sampai saat ini masih menahan diri.


Dimata Putri Amanda mereka semua tidak ada bedanya dengan hama yang tidak layak untuk dipandang. Hanya satu orang saja yang layak untuk dia pandang, yaitu Arya.


Perkataan dari wanita misterius itu seketika membuat tubuh Fajar seolah terkena anak panah. Fajar tidak menduga akan mendapat balasan dingin dari wanita misterius itu.


Beberapa saat kemudian setelah menempuh perjalanan selama setengah jam. Mereka bertiga kini sudah sampai di penjara kota.


Kedatangan Arya bersama Putri Amanda dan Fajar langsung membuat beberapa prajurit yang kebetulan berjaga didepan pos pemeriksaan menghentikan mereka.


"Berhenti disana. Ada perlu apa kalian datang kemari? Ini bukan tempat yang bisa sembarangan didatangi!" Seorang prajurit dengan angkuh menghentikan Arya, Putri Amanda, dan Fajar.


Arya maju ke depan dan menunjukkan lencana seorang Jenderal kepada prajurit tersebut. "Panggilkan Kepala Penjara kepadaku."


Melihat lencana berwarna hitam dengan tulisan Jenderal bertinta emas, seketika membuat prajurit itu menjadi gugup begitupun prajurit lain yang berada di pos pemeriksaan.


Tetapi prajurit itu tidak serta merta percaya begitu saja kepada Arya. Mereka masih belum tau ada seorang Jenderal baru dan lagi masih sangat muda.

__ADS_1


Menyadari keraguan dari para prajurit tersebut, Arya yang tidak ingin membuang-buang waktunya langsung mengeluarkan sedikit niat membunuh kearah mereka.


Seketika para prajurit itu merasa tercekik dan kekurangan oksigen. Keringat dingin mulai keluar dan tubuh mereka bergidik ketakutan.


"Panggil atasan kalian sekarang." Arya mengulangi perkataannya lagi sambil menekan nada bicaranya.


Arya kemudian menarik kembali niat membunuhnya dan membiarkan salah satu prajurit untuk memanggil Kepala Penjara menghadapnya.


Tak perlu waktu lama bagi seorang pria yang memiliki penampilan 40 tahun muncul dan mendatangi Arya. Dia tidak lain merupakan Kepala Penjara yang bertugas di Penjara Ibukota.


Melihat kehadiran Arya disana langsung membuat Kepala Penjara menyambutnya dengan sopan. Bagaimanapun berita tentang diangkatnya seorang Jenderal muda sudah mulai tersebar dikalangan petinggi militer.


Tetapi berita itu masih belum diketahui oleh prajurit biasa karena kejadian ini masih sangat baru terjadi dan perlu waktu sampai beritanya tersebar.


"Ah! Maaf Jenderal sudah membuat Anda menunggu ditempat yang panas ini. Mari ikut saya masuk kedalam..." Kepala Penjara berkata sambil tersenyum sopan.


Arya menggelengkan kepala menolak ajakan Kepala Penjara untuk menghindari jamuan kecil. "Tidak perlu, aku hanya memiliki sedikit waktu disini."


Arya kemudian menyerahkan surat pembebasan tahanan yang telah mendapat stempel Panglima Tertinggi kepada Kepala Penjara.


Setelah Kepala Penjara membaca surat yang diberikan oleh Arya. Dia kemudian menyuruh anak buahnya untuk membawa tiga tahanan yang dimaksud oleh Arya.


Beberapa menit kemudian, beberapa prajurit membawa tiga tahanan keluar dari penjara bawah tanah. Kondisi ketiga tahanan itu sangat memprihatinkan.


Tubuh ketiga pria itu sangat kurus seolah tidak pernah diberi makan dan kumal karena tidak pernah mandi. Mata mereka terlihat berwarna abu-abu menandakan pengelihatan mereka hampir hilang.


Bau ketiganya sangat menyengat sampai membuat setiap orang yang menciumnya tidak tahan dan akan langsung muntah di tempat.


Pergelangan kaki dan tangan serta leher mereka diikat menggunakan rantai besi yang membuat ketiganya akan kesulitan jika ingin kabur.

__ADS_1


Arya tidak bergeming saat melihat kondisi ketiga tahanan itu, sementara Fajar yang melihat kondisi kakaknya yang sangat memprihatinkan hanya bisa mengepalkan tangan sambil menahan amarahnya.


Disisi lain Putri Amanda menutup hidungnya menggunakan sapu tangan karena tidak tahan menghirup bau menyengat ketiga tahanan itu.


__ADS_2