
Ditengah pengejaran, Arista melancarkan serangan kearah Arya menggunakan selendang untuk menghentikan pergerakan dari pria itu.
Arya yang menyadari serangan Arista kemudian berbalik dan menyilangkan kedua tangannya kedepan untuk menghalau selendang putih, yang tingkatannya juga tak bisa Arya identifikasi seperti pedang milik wanita cantik tersebut.
Dengan telak serangan dari Arista mengenai Arya sampai membuat pria itu terhempas hingga menumbangkan pohon-pohon besar yang dia tabrak.
Arista kemudian menghampiri lokasi terakhir Arya dan setelah kabut asap menghilang, lagi-lagi Arista tak bisa menemukan kehadiran Arya.
"Sialan, kemana lagi pria berengsek itu kabur lagi?!" Arista berdecak kesal karena sekarang dirinya benar-benar sudah kehilangan jejak dan tindak bisa mengendus bau milik Arya lagi.
Dengan perasaan kesal Arista kemudian mencari keberadaan Arya yang dia rasa sudah kabur tak jauh dari lokasinya saat ini.
Setelah Arista pergi, dari dalam kubangan lumpur Arya keluar saat dirasa wanita cantik tersebut telah benar-benar menjauh darinya.
"Sial, wanita gila itu benar-benar ingin membunuhku..." Arya mengerutkan alis melihat kedua pergelangan tangannya seperti tergores pedang dan mengeluarkan darah.
Tetapi luka di pergelangan tangan Arya hanya dalam beberapa saat kembali pulih, bahkan darahnya juga menghilang seolah pergelangan tangannya tidak pernah terluka.
Arya kemudian menyingkirkan semua lumpur yang menutup seluruh tubuhnya, lalu melanjutkan perjalanan sambil berharap agar tidak bertemu dengan Arista kembali.
Pria itu tak menyadari bahwa Arista sekarang juga menuju Ibukota, yang artinya tujuan mereka berdua sama dan keduanya bisa saja bertemu kembali disana.
****
Sementara itu Arista sampai ke Ibukota lebih cepat dari Arya. Arista yang tidak bisa melacak keberadaan Arya hanya dapat berdecak kesal, dan memutuskan untuk mengunjungi kenalan dulu di Ibukota.
Kehadiran Arista di Ibukota tentu menarik perhatian semua pria yang berpapasan dengannya. Meski wajah tertutup cadar, tapi semua orang tau bahwa Arista memiliki wajah yang cantik ditambah bentuk tubuh indah semakin membuat para pria yang melihatnya semakin tertarik.
__ADS_1
"Dasar binatang..." Arista yang menyadari tatapan bejat dari para pria saat melihat dirinya, kemudian mempercepat langkahnya.
Jika bukan karena menghormati seseorang di Ibukota yang dia kenal, Arista sudah pasti akan membunuh para pria itu, bahkan tak segan meratakan Ibukota Wirabhumi seorang diri.
Bagi Arista yang merupakan makhluk Surgawi, meratakan sebuah negara tentu hal mudah baginya. Tetapi ada sebuah aturan yang harus dia jaga, agar tak mengusik kehidupan seluruh umat manusia kecuali dalam keadaan darurat yang bisa mengancam keselamatannya.
Langkah Arista terhenti ketika dia sampai didepan sebuah bangunan megah tiga lantai, yang didepan bangunan tersebut tertulis nama berukuran besar.
"Asosiasi Perak... Apa ini tempat yang dimaksud oleh rubah betina itu?" Arista tersenyum kecil sebelum masuk kedalam bangunan Asosiasi Perak untuk menemui kenalannya.
Disisi lain Maharani sekarang tengah berbincang bersama seorang wanita cantik yang namanya sudah cukup terkenal di pemerintah bahkan keluarga Kerajaan.
Wanita cantik itu tidak lain merupakan kekasih dari mending Putra Mahkota Dharma, yang sudah meninggal tiga tahun lalu akibat penyergapan pembunuh bayaran Rumah Mawar Hitam.
Anjani Damayanti, dia merupakan siluman Rubah Emas satu generasi dengan Hyman, Arga, Baduga, dan Arista. Mereka adalah makhluk Surgawi yang sudah menolong umat manusia dari jaman kegelapan akibat ulah bangsa Iblis.
"Nyonya, wanita di sebelahku memaksa ingin bertemu dengan Anda." Ucap Dierja dengan nada bicara gugup. Raut wajah pria itu terlihat pucat dan tubuhnya gemetaran setelah Arista memberinya tekanan niat membunuh cukup besar.
Mengenali sosok wanita yang berada dibawa Dierja, Maharani kemudian meminta Dierja untuk keluar dan memasang formasi kedap suara.
Kini hanya tersisa Maharani, Arista, dan Anjani didalam ruangan tersebut. Suasana diruangan itu terasa tegang saat dua makhluk Surgawi bertemu setelah ribuan tahun berpisah.
"Kau masih hidup Arista? Aku pikir kau sudah mati diluar sana, sama seperti kakakmu dan kedua temannya?" Sindir Anjani mencoba memancing emosi Arista karena masih ada konflik sampai sekarang diantara mereka.
Merasa perkataan dari Anjani cukup berlebihan, emosi Arista sedikit terpancing apalagi saat Anjani menyinggung kakaknya yang sudah tiada beberapa tahun lalu.
Arista mencoba menahan emosinya dan tetap bersikap elegan menghadapi sindiran keras dari teman satu perjuangannya ribuan tahun lalu.
__ADS_1
"Seperti yang bisa kau lihat sekarang. Aku baik-baik saja. Bagaimana denganmu? Aku dengar kekasihmu yang merupakan pria tua bangka sudah tewas setelah mendapat sergapan dari pembunuh bayaran?" Arista kini balik menyinggung Anjani.
Anjani tampaknya tidak tersinggung sedikitpun tentang kematian Dharma. Dia sama sekali tak perduli dengan pria yang sebenarnya hanya dijadikan boneka agara bisa masuk kedalam pemerintah Kerajaan Brawijaya.
"Ya, sangat disayangkan boneka itu tewas dengan sangat mudah padahal beberapa tahun lagi dia bisa saja diangkat menjadi Raja berikutnya."
"Tetapi aku cukup lega karena pada akhirnya dia tewas. Jujur aku sangat risih saat dia mencoba menyentuh tanganku setiap saat, bahkan dengan berani manusia rendahan sepertinya meminta untuk tidur denganku."
"Untungnya aku memiliki teknik ilusi untuk memuaskan fantasinya, tetapi disisi lain aku merasa jijik karena dia menjadikanku bahan imajinasinya."
Dengan elegan Anjani membalas sindiran dari Arista. Dia kemudian meminum teh lalu tersenyum kecil saat melihat raut wajah Arista menjadi kesal.
Maharani yang merupakan siluman biasa tak berani ikut campur urusan diantara kedua makhluk Surgawi tersebut. Tetapi dia juga tidak tinggal diam, dan meminta Arista untuk duduk bersama.
Ketika Arista duduk raut wajahnya masih saja terlihat kesal. Bukan karena sindiran dari Anjani melainkan dia teringat sosok pria yang mengintipnya saat berendam di sebuah danau terpencil.
Menyadari kegelisahan yang dirasakan oleh Arista. Anjani berinisiatif untuk mengajak berbicara. "Kenapa kau terlihat kesal, apa kau masih marah dengan ucapanku sebelumnya, Arista?"
"Bukan. Aku hanya kesal karena tak bisa menemukan seorang pria, yang mengintipku saat aku sedang berendam di danau." Balas Arista.
Mendengar perkataan Arista langsung membuat Anjani tertawa dan mengejeknya. Hal itu tentu saja membuat Arista berdecak kesal. Sementara Maharani hanya diam sambil membayangkan wajah pria yang dia suka dan tunggu selama sebelas tahun belakang.
"Apa yang sedang kau bayangkan sampai senyum-senyum sendiri, Maharani?" Anjani bertanya karena penasaran saat melihat Maharani seperti seorang gadis yang sedang dimabuk asmara.
Arista yang juga penasaran kemudian melirik kearah Maharani sambil meminum teh miliknya. Dia masih belum menyadari bahwa pria yang disukai oleh Maharani, merupakan pria yang sama dengan yang sedang dia cari.
"Tidak... Aku hanya sedang menunggu seseorang yang sudah tak kutemui selama beberapa tahun ini." Balas Maharani dengan malu-malu, membuat Anjani dan Arista merasa penasaran dengan sosok pria yang berhasil mendapatkan hati siluman kejam seperti Maharani.
__ADS_1