
Dierja membawa dua utusan Arya menyusuri lorong bawah tanah yang cukup gelap dibawah bangunan Asosiasi Perak. Kondisi lorong yang lumayan lembab dan hanya diterangi pencahayaan obor, membuat suasana menjadi cukup mencekam.
Lokasi yang sepi dan pintu masuk sangat dijaga ketat sebelumnya oleh beberapa Pendekar Tingkat Petarung. Menjadikan setiap langkah dan suara yang mereka buat terdengar menggema di lorong.
Tak berselang lama mereka bertiga mencapai ujung lorong. Deswara dan Indera langsung dibuat terperangah saat melihat sebuah pintu raksasa setinggi 20 meter.
Mereka memperhatikan pintu berbahan dasar batuan khusus dari atas sampai bawah. Deswara dan Indera langsung bertanya-tanya mengenai apa yang tersimpan dibalik pintu raksasa tersebut.
Dierja maju beberapa langkah kedepan, dia kemudian mengeluarkan sebuah Token dan memasukannya kedalam sebuah celah pada pintu.
Begitu Token yang merupakan kunci untuk membuka pintu diletakkan kedalam wadah. Formasi yang mengunci pintu kemudian aktif, dan tak berselang lama pintu raksasa terbuka dibarengi getaran yang membuat sejumlah kerikil berjatuhan dari langit-langit.
"Mari, tolong ikuti saya Tuan-tuan." Pinta Dierja kepada Deswara dan Indera yang masih terpaku saat melihat pintu raksasa itu terbuka dengan sendirinya.
Mendengar ajakan Dierja seketika membuat Deswara dan Indera tersadar dari lamunan. Mereka kemudian segera mengikuti pria itu yang sudah terlebih dulu masuk kedalam sebuah ruangan gelap.
Begitu ketiga pria itu masuk ke dalam, pintu raksasa kembali tertutup membuat mereka yang sedang ada di dalam terkunci.
Ketika pintu kembali tertutup, sebuah kristal raksasa yang berada di langit-langit bersinar terang membuat seisi ruangan menjadi bisa dilihat oleh mata manusia.
Mata Deswara dan Indera seketika membelalak lebar, saat melihat begitu banyaknya harta serta sumber daya yang tidak ternilai harganya berjajar rapih.
Deswara dan Indera kemudian berjalan mengikuti Dierja menuju tempat dimana mereka bisa mendapat sumber makanan untuk masyarakat Kota Madya, sambil terus memperhatikan setiap koleksi barang berharga milik Asosiasi Perak.
Salah satu contoh barang yang membuat Deswara dan Indera terkesima adalah sebuah kerangka tulang dari seekor Naga sepanjang 30 meter.
Melihat koleksi milik Asosiasi Perak yang berada di atas kata lazim, baik Deswara maupun Indera langsung menyadari jika serikat dagang itu memiliki beberapa orang yang tidak biasa dibelakangnya.
__ADS_1
Langkah mereka kemudian terhenti saat Dierja berhenti di depan sebuah kotak kaca berisi beberapa cincin dimensi. Pria itu kemudian mengambil salah satu cincin dimensi, dan menunjukkan kepada Deswara serta Indera.
"Didalam cincin ini ada setengah dari persediaan sumber makanan pokok milik Asosiasi Perak. Tolong diperiksa apakah semuanya cukup atau tidak." Ucap Dierja sambil memberikan cincin dimensi ditangannya kepada Deswara.
Dengan hati-hati Deswara menerima cincin dimensi yang terlihat sangat mahal itu. Dia kemudian mengalir sejumlah kesadarannya untuk memeriksa persediaan makanan yang terdapat didalam cincin dimensi.
Tumpukan karung goni berisi sumber makanan yang terdiri dari gandum, padi, kentang, dan jagung terlihat menggunung tersusun rapih didalam cincin dimensi saat Deswara memeriksanya.
Deswara kemudian memeriksa kualitas bahan makanan pokok yang ada disana, dan terkejut saat menemukan jika kondisinya dalam keadaan sangat baik.
Pria itu hanya bisa menggelengkan kepala melihat lorong karung makanan tanpa ujung. Dengan semua makanan yang ada disana, Deswara yakin Asosiasi Perak sanggup mencukupi kebutuhan pangan beberapa Kerajaan sekaligus selama puluhan tahun.
"Tuan Dierja, ini semua terlalu banyak. Untuk ukuran sebuah wilayah seperti Kota Madya, persediaan ini sudah lebih dari cukup." Deswara dengan gugup menyerahkan kembali cincin dimensi itu kepada Dierja, tetapi langsung ditolak oleh pria tersebut.
Perselisihan antara Deswara dan Dierja terjadi dimana kedua pria itu masing-masing bersikukuh menolak untuk menyimpan cincin dimensi berisi setengah persediaan makanan milik Asosiasi Perak.
"Tolong simpanlah, Tuan Deswara. Ini sudah menjadi perintah dari Nyonya Maharani, dan jika Anda menolaknya lagi maka saya tidak bisa menerima permintaan dari Kota Madya untuk kedepannya!"
Melihat ekspresi kesal diwajah Dierja, pada akhirnya Deswara langsung menyimpan cincin dimensi tersebut karena tidak ingin menimbulkan masalah dengan menolak bantuan berlebih dari Asosiasi Perak.
Deswara dan Indera sekali lagi berterimakasih kepada Dierja, karena jika bukan bantuan dari pria itu saat di pintu masuk sebelumnya. Mungkin saja mereka tidak akan bisa mendapat bantuan pangan dari pemilik serikat dagang terbesar di Benua Nusantara.
Dierja mengerutkan kening saat melihat mimik wajah Deswara dan Indera, yang seolah sedang menahan pertanyaan untuk ditanyakan kepada dirinya.
"Apa ada hal yang ingin kalian tanyakan kepadaku, Tuan-tuan?"
Mendengar pertanyaan dari Dierja, Deswara dan Indera sejenak menatap satu sama lain sebelum mengangguk pelan seolah membuat sebuah kesepakatan yang hanya bisa dimengerti oleh mereka saja.
__ADS_1
"Begini, Tuan Dierja. Kami penasaran saat melihat Token Giok yang diberikan oleh Tuan Arya kepada pemilik Asosiasi Perak. Sebenarnya apa hubungan pemimpin kami dengan keluarga Kerajaan?"
Giliran Indera kali ini yang menyampaikan rasa penasaran, setelah merasa ada hal janggal saat melihat Token Giok milik keluarga Kerajaan sebelumnya.
Senyuman tipis langsung terukir diwajah Dierja saat mendengar pertanyaan yang diajukan oleh Indera. Melihat kedua pria itu yang belum mengetahui kebenaran mengenai pemimpin mereka sendiri, Dierja merasa cukup terkesan dengan tindakan rapih Arya dalam menyembunyikan identitas asli.
"Mungkin sudah banyak dari kalian mengetahui berita pencarian yang cukup menggemparkan Kerajaan Brawijaya 10 tahun lalu, dimana Raja mencari keberadaan seorang keturunannya yang hilang."
"Asal kalian tau saja, pemimpin kalian yaitu Tuan Arya merupakan anak yang keberadaan saat itu dicari langsung oleh Raja. Tidak banyak yang mengetahui jika sebenarnya dia merupakan Arya Wijaya, putra dari Pangeran Mahkota saat ini, dan pewaris Tahta Kerajaan Brawijaya yang sudah lama diramalkan."
Mendengar penjelasan yang diberikan oleh Dierja. Pikiran Deswara dan Indera langsung berhenti bekerja. Saat ini kedua pria itu mengalami berbagai keterkejutan mengenai identitas pemimpin mereka sendiri.
"Tuan Dierja ternyata tau bagaimana caranya untuk bercanda." Deswara tertawa lepas sambil menepuk-nepuk pundak Dierja, karena belum bisa menerima kebenaran yang disampaikan.
Disisi lain Indera memiliki tatapan kosong dan linglung. Sama seperti halnya Deswara, dia masih belum bisa mengelola informasi yang diberikan oleh Dierja kepada mereka.
"Aku tidak sedang bercanda." Jawaban serius yang disampaikan oleh Dierja sontak membuat Deswara dan Indera terdiam seribu bahasa.
Informasi yang diberikan Dierja tentu saja membuat Deswara dan Indera menerima berbagai kejutan. Mereka sendiri bingung dengan apa yang sebenarnya direncanakan oleh Arya.
Jika benar Arya merupakan pewaris Tahta Kerajaan Brawijaya yang sangat besar ini. Mengapa pria itu mau repot-repot menghilang bahkan menyembunyikan identitas dari pihak Istana untuk membantu masyarakat terbuang di Kota Madya.
"Aku mengerti apa yang sedang kalian pikirkan saat ini. Lebih baik tunggu sampai Tuan... Maksudku Pangeran Arya untuk memberitahu secara langsung."
"Untuk saat ini aku minta kalian merahasiakan informasi identitasnya, karena hanya segelintir orang saja yang mengetahuinya. Bahkan Raja sendiri tidak belum menyadari hal tersebut."
"Aku sengaja memberitahu informasi ini kepada kalian berdua, karena tampaknya Pangeran sendiri sudah menaruh kepercayaan kepada kalian."
__ADS_1
Dierja menyelesaikan perkataannya dan menepuk pundak kedua pria itu sebelum berjalan memeriksa beberapa koleksi yang ada diruang penyimpanan.