
Melihat Arga Mahesa dan Hyman Nirwasita berada dalam bahaya, Baduga Maharaja tak bisa tinggal diam saja. Dia kemudian merubah wujudnya menjadi seekor Kura-kura lalu menggigit ekor milik Arya Wijaya.
Dengan sekuat tenaga Baduga Maharaja menggigit ekor Arya Wijaya berharap Arga Mahesa dan Hyman Nirwasita dilepaskan. Tetapi sayangnya sisik Arya Wijaya terlalu keras untuk Baduga Maharaja gigit.
Arya Wijaya yang ekornya digigit oleh Baduga Maharaja, dia kemudian mencoba untuk melepaskan gigitan pria itu tetapi sedikit kesulitan.
Sampai akhirnya Arya Wijaya membanting Baduga Maharaja dengan keras ke tanah hingga membuat cangkang pria itu retak dan melepaskan gigitannya.
Kini tidak ada lagi yang mengganggu Arya Wijaya untuk melepaskan serangan terakhir kepada Hyman Nirwasita yang kondisinya sangat menyedihkan.
Saat Arya Wijaya mengumpulkan api didalam mulutnya mendadak dia merasakan pusing kembali dan membuatnya mendapat sedikit kesadarannya.
Sambil menahan pusing Arya Wijaya melepaskan Hyman Nirwasita dari genggamannya dan berjalan menjauh dari ketiga gurunya.
Tetapi kesadaran lain didalam dirinya sendiri membuat Arya Wijaya kehilangan kendali atas tubuhnya dan membuatnya ingin menyerang Baduga Maharaja, Arga Mahesa, dan Hyman Nirwasita.
Saat Baduga Maharaja menghampiri kembali ketiga gurunya yang sudah terkapar, dari atas langit muncul telapak tangan emas raksasa yang langsung menekannya ke tanah.
Arya Wijaya memberontak berusaha untuk melepaskan diri, tetapi kekuatan dari telapak tangan itu sangat kuat hingga membuatnya semakin tertekan.
Sesosok pria tua yang memancarkan aura Agung muncul dihadapan Arya Wijaya dan sekita membuat anak itu menatap pria tua tersebut dengan penuh kebencian.
Baduga Maharaja, Arga Mahesa, dan Hyman Nirwasita yang melihat sosok pria tua itu tentu mengenalinya sebagai pencipta mereka sendiri. Ketiganya kemudian berubah menjadi wujud manusia dan menghampiri pria tua itu.
Raut wajah Baduga Maharaja, Arga Mahesa, dan Hyman Nirwasita tampak bersalah ketika menghadap pria tua itu, bahkan untuk mengangkat wajah mereka sendiri tak berani.
"Kelihatannya kalian bertiga sudah sadar dengan perbuatan kalian sendiri bukan?" Pertanyaan dari pria tua itu tak mampu dielak oleh Baduga Maharaja, Arga Mahesa, dan Hyman Nirwasita.
Ketiga pria itu kemudian meminta maaf karena telah membuat pria tua kecewa dengan perbuatan mereka bertiga saat bertarung satu sama lain dimasa lalu.
****
__ADS_1
Ditempat lain Arya Wijaya membuka matanya dan melihat sebuah aula istana yang sangat megah dengan pilar-pilar emas sebagai penyangga.
Arya Wijaya berjalan sambil mengamati aula istana dengan penuh kekaguman di matanya. Dia berpikir tempat itu sangat mirip dengan apa yang pernah diceritakan orang-orang saat kehidupan pertamanya.
Langkah Arya Wijaya terhenti saat tanpa sadar menghampiri seorang pria tua berpakaian layaknya seorang Raja tengah duduk diatas singgasana.
Di sisi lain pria tua yang melihat kehadiran seorang anak kecil di tempatnya merasa heran. "Kau, kemarilah..." Pria tua menunjuk Arya Wijaya dan memintanya mendekat.
Tanpa rasa curiga sedikitpun Arya Wijaya menghampiri pria tua yang duduk di singgasana karena penasaran dengan tempat tersebut.
Entah dari mana keberanian Arya Wijaya, dia kemudian menyentuh manik-manik yang menggantung pada mahkota milik pria tua.
"Benda apa ini?" Arya Wijaya bertanya sambil mengamati manik-manik yang menggantung di mahkota pria tua itu.
Bukannya marah dengan sikap anak kecil yang berani menyentuh mahkota seorang Raja sepertinya, pria tua itu justru terlihat tertarik kepadanya.
"Ini nama mahkota Raja. Apa kau menyukai?" Pria tua tersenyum kecil memperhatikan kelakuan anak kecil dihadapannya.
Arya Wijaya mengangguk dan tertawa lebar sampai menunjukkan gigi gerahamnya. "Aku ingin memiliki satu yang lebih besar darimu."
Seolah tak bisa mengucapkan kebohongan sedikitpun dihadapan pria tua dihadapannya, Arya Wijaya kemudian mengatakan kalau ibunya tidak memiliki marga keluarga, sedangkan ayahnya berasal dari Keluarga Wijaya.
Karena suatu alasan Arya Wijaya sekarang lebih memilih untuk tidak menggunakan marga ayahnya, dan suka dipanggil langsung Arya.
Arya Wijaya terlihat enggan untuk memakai marga Wijaya milik ayahnya, dimana sebenarnya itu adalah marga yang telah diberikan oleh kedua orang tuanya sendiri.
Mendengar anak dihadapannya memiliki marga dan darah Keluarga Wijaya, sontak membuat wajah pria tua itu terkejut tetapi dengan cepat dia sembunyikan.
"Wijaya? Margaku juga Wijaya." Pria tua berkata tanpa menunjukkan formalitas sedikitpun dalam setiap perkataannya, seolah menganggap Arya Wijaya memiliki hubungan dekat dengannya.
Tepat setelah mereka berdua melakukan pembicaraan singkat, sebuah cahaya putih bersinar terang dan membuat keduanya berpisah.
__ADS_1
****
Sementara itu di Istana Kahuripan, Kota Wirabhumi. Di sebuah kamar mewah seorang pria tua terbangun dari tidurnya. Dia tidak lain adalah Raden Wijaya, Raja sekaligus penguasa Kerajaan Brawijaya.
"Pengawal. Panggilkan penasehat pribadiku sekarang. Ada yang ingin aku bicarakan dengannya." Perintah Raden Wijaya kepada seorang Pengawal Istana.
Beberapa menit kemudian penasehat pribadi Raden Wijaya tiba dan menghadap kepadanya. Raden Wijaya kemudian menceritakan mimpinya yang terasa sangat nyata kepada penasehat pribadinya.
"Bagaimana menurutmu?" Raden Wijaya terlihat menantikan jawaban menarik dari Darya Palon tentang mimpinya.
Darya Palon segera mencerna cerita Raden Wijaya. Dia kemudian menatap kearah jendela beberapa saat sebelum akhirnya membuat sebuah kesimpulan.
"Mimpi Raja ini tak bisa. Saya mengamati langit di Istana Kahuripan. Awan berbentuk seperti Naga, aura keturunan yang sangat kuat."
"Aura panas yang besar. Warna putih yang sangat cerah. Aura Raja yang belum pernah ada sebelumnya. Sepertinya ramalan Jayabaya ratusan tahun lalu akan terwujud."
Mendengar perkataan Darya Palon membuat Raden Wijaya menjadi sangat senang dan tertawa bahagia hingga membuat kamarnya bergetar.
"Dengan ini berarti orang yang akan menyatukan semua negara adalah keturunan Wijaya ku... Negara Brawijaya akan menguasai semua daratan Nusantara!" Raden Wijaya mengangkat kedua tangannya ke langit sebagai ucapan syukur.
"Selamat Yang Mulia!" Darya Palon tak bisa menutupi rasa kebahagiaannya juga.
"Apakah dia sudah lahir?" Raden Wijaya mencoba memastikan.
"Auranya sangat cerah. Menurutku itu artinya dia sudah terlahir di dunia, Yang Mulia!" Darya Palon dengan percaya diri dan penuh keyakinan mengatakannya.
Raden Wijaya seketika menjadi sangat senang dan bersemangat menantikan kejayaan Kerajaan Brawijaya dimasa depan.
****
Sementara itu Arya Wijaya terbangun dari pingsannya dan merasakan kalau kepalanya sangat pusing seolah ada ribuan jarum kecil yang menusuk.
__ADS_1
Ketika tersadar, Arya Wijaya menyadari berada di sebuah pondok kecil yang terbuat dari kayu. Dia kemudian berjalan keluar dan seketika terkejut melihat pemandangan hutan berubah menjadi hitam dan sebagian telah hancur.
Bahkan dari tempatnya berada Arya Wijaya bisa melihat puing-puing kediaman Baduga Maharaja yang telah hancur. Sontak Arya Wijaya mengingat kejadian pertarungannya dengan ketiga gurunya yang membuatnya menyalahkan dirinya sendiri.