
Empat orang pria yang berbeda usia duduk melingkari meja makan. Suasana terasa menegang ketika Arya duduk bersebrangan langsung dengan Arga Mahesa yang masih menyimpan perasaan kesal terhadapnya
Belum ada salah satu di antara Arya Wijaya maupun Arga Mahesa yang mengambil makanan berbeda dengan Baduga Maharaja dan Hyman Nirwasita yang kelihatan tenang menyantap masakan Arya.
Baduga Maharaja dan Hyman Nirwasita hanya menyaksikan ketegangan antara Arya Wijaya dengan Arga Mahesa saat pandangan kedua pria berbeda usia itu bertemu.
Tak tahan dengan ketegangan di antara murid dan adiknya, Baduga Maharaja kemudian menepuk meja yang alhasil membuat Arya dan Arga Mahesa terkejut. Baduga Maharaja lalu menyuruh Arya segera makan dan memberi peringatan kecil untuk Arga Mahesa agar tidak macam-macam dengan muridnya.
Dibawah tekanan yang diberikan oleh Arga Mahesa membuat Arya sedikit kesulitan saat mengambil makanan. Sumpit yang ada ditangannya seolah bergetar dan membuat makanannya beberapa kali jatuh ke atas meja.
Arga Mahesa hanya menyeringai saat melihat Arya yang kesulitan ketika ingin mengambil makan. Memang Arga Mahesa sengaja melakukan hal itu kepada Arya tetapi hanya sedikit tekanan saja yang dia berikan kepada anak tersebut, agar tidak ketahuan oleh Baduga Maharaja.
Tetapi sayangnya aksi Arga Mahesa dapat dengan mudah diketahui oleh Baduga Maharaja saat, Baduga Maharaja melihat kesulitan Arya . Akhirnya Baduga Maharaja langsung memblokir tekanan yang diberikan oleh Arga Mahesa kepada Arya.
Sementara itu Hyman Nirwasita sendiri hanya bisa menggelengkan kepala saat melihat Arga Mahesa yang memusuhi seorang anak kecil biasa, hanya karena luka goresan. "Aih... Bagaimana orang-orang diluar sana bisa mengagumi sosok yang memiliki sifat buruk sepertimu, Arga..."
Dengan nada lirih namun menusuk, Hyman Nirwasita menyindir sikap Arga Mahesa yang menurutnya agak berlebihan kepada seorang anak kecil hanya karena masalah sepele saja.
Arga Mahesa mengeratkan giginya merasa tak terima disindir oleh Hyman Nirwasita. Apalagi saat dia melihat Arya tersenyum kecil ketika Hyman Nirwasita menyindirnya.
Ingin rasanya Arga Mahesa menyerang kedua orang itu tetapi begitu mendapat tatapan tajam dari Baduga Maharaja seketika membuat nyalinya menjadi ciut. Arga Mahesa hanya bisa menggerutu sebelum mulai memasukan makanan yang belum pernah dia lihat kedalam mulutnya.
Arga Mahesa membelalak saat mencicipi hidangan di atas meja. Untuk pertama kalinya Arga Mahesa baru merasakan makanan seenak itu, bahkan makanan di restauran bintang enam sekalipun yang pernah dia datangi rasanya kalah dengan makanan sederhana yang ada di atas meja sekarang.
__ADS_1
"Hei! Jangan ambil jatah makanan ku, sialan!" Hyman Nirwasita menjadi kesal saat Arga Mahesa merebut paksa makanan yang ada di mangkuknya.
Bahkan saking rakusnya, Arga Mahesa tak segan-segan merebut makanan milik Baduga Maharaja dan Arya kemudian menghabiskan semua hidangan yang ada di atas meja.
Perbuatan Arga Mahesa itu jelas membuat semua orang merasa kesal terhadapnya. Tetapi Arga Mahesa mengabaikan mereka semua dan masih belum merasa puas.
"Siapa yang memasak semua hidangan ini?" Tanya Arga Mahesa dengan raut wajah seolah tak memiliki beban setelah menghabiskan semua makanan.
Hyman Nirwasita langsung memukul kepala Arga Mahesa dengan keras hingga membuat benjolan tiga tingkat. Pria itu kemudian memaki Arga Mahesa karena membuat semua orang menjadi kelaparan.
Arga Mahesa hanya bisa tertawa canggung saat dimarahi oleh Hyman Nirwasita, tetapi ketika diberi tahu jika Arya yang memasak semua makanan tadi, pandangannya terhadap anak itu seketika berubah.
"Bocah bau, aku akan memaafkan mu dan menganggap masalah diantara kita selesai jika kamu membuat lagi hidangan seenak tadi."
Tetapi Arya tampaknya tidak mampu untuk memasak hidangan yang diminta oleh Arga Mahesa. Dia kemudian menjelaskan kepada Pendekar Naga itu jika persediaan daging dan kayu bakar sudah habis.
Begitu mendengar penjelasan dari Arya, Arga Mahesa mengeluarkan tumpukan daging Hewan Iblis sebanyak 100 Kg dari cincin dimensinya hingga membuat ruangan seketika menjadi bau amis.
"Sekarang tidak ada alasan lagi untuk kamu menolaknya dan soal api kau tidak perlu memikirkan hal itu lagi."
Sebuah api kecil berwarna keemasan muncul ditelapak tangan Arga Mahesa dan membuat Arya menjadi kagum saat melihatnya untuk pertama kali.
"Dasar bodoh, api milikmu itu tidak stabil. Apa kamu ingin membakar kita semua hidup-hidup, huh?!"
__ADS_1
Hyman Nirwasita menepis tangan Arga Mahesa hingga membuat api emas ditangannya langsung menghilang. Sebuah api berwarna biru kemudian muncul ditelapak tangan milik Hyman Nirwasita.
"Arya, gunakan saja api milikku. Jangan menggunakan api milik cacing tanah bodoh itu." Ucap Hyman Nirwasita sambil melirik dengan kesal kearah Arga Mahesa.
Api biru di telapak tangan Hyman Nirwasita kemudian melayang dan hinggap di telapak tangan milik Arya. Anehnya api itu tidak terasa panas ketika bersentuhan dengan kulit Arya dan justru terasa dingin.
Arya merasa heran dengan api biru di telapak tangannya yang seolah jinak dan memiliki pikiran sendiri seperti halnya hewan peliharaan.
Rasa penasaran Arya bertambah saat dia bisa membagi api itu hingga menjadi enam belas titik. 'Menakjubkan, aku baru pertama kali melihat api seperti ini!' Arya merasa kagum saat melihat enam belas titik api biru melayang di hadapannya.
Lamunan Arya seketika pecah saat Arga Mahesa menyadarkan dirinya untuk memasak tumpukan daging hewan Iblis. Api biru ditangan Arya langsung kembali menyatu, dia kemudian segera menuju dapur untuk memasak.
Setelah Arya pergi Liu Kang menatap Hyman Nirwasita yang dari tadi memperhatikan anak kecil itu. Baduga Maharaja bisa dapat dengan mudah menebak apa yang sedang Hyman Nirwasita pikirkan saat ini.
"Apa kamu terkejut saat melihatnya? Aku sebenarnya juga merasakan hal yang sama..." Baduga Maharaja tersenyum kecil sambil meminum secangkir teh.
Hyman Nirwasita seketika tersadar dari lamunannya. Jujur saat melihat Arya bisa membagi api biru miliknya menjadi enam belas titik sudah membuatnya sangat terkejut, dan berpikir kalau anak itu sangatlah jenius.
Hanya para Alkemis dengan elemen kayu dan api saja yang dapat menguasai teknik pembakaran. Bahkan para Alkemis senior sekalipun hanya mampu membagi satu nyala api menjadi enam titik saja dan sudah dianggap jenius berbakat. Dan itu hanyalah api biasa, sangat berbeda dengan api milik biru milik Hyman Nirwasita yang merupakan sebuah Api Surgawi.
"Dari mana Kakak menemukan anak itu?" Hyman Nirwasita yang biasanya terlihat dingin seketika berubah menjadi sangat semangat.
Baduga Maharaja hanya tersenyum menanggapi Hyman Nirwasita yang berubah menjadi sangat ingin tahu tentang Arya, berbeda dengan Arga Mahesa yang hanya menantikan masakan Arya jadi.
__ADS_1