
Satu bulan telah berlalu semenjak Arya menjadi prajurit yang bertugas untuk berpatroli, dan mencegah serta menangani keributan di jalanan.
Ketika bertugas tak sedikit perkelahian bahkan tindak kejahatan yang berhasil Arya tangani. Atas semua kontribusinya selama satu bulan bertugas, namanya sudah cukup banyak dikenal oleh masyarakat Kota Bambu.
Masyarakat bahkan sering meminta bantuan kepada Arya yang sebenarnya bukan merupakan tugas untuk seorang prajurit sepertinya. Tetapi Arya tetap saja melayani permintaan masyarakat yang terkadang bahkan membayarnya dengan uang.
Karena namanya semakin terkenal dan memiliki wajah diatas pria pada umumnya, membuat Arya sudah menjadi primadona di Kota Bambu.
Tak jarang Arya mendapat hadiah dari para wanita yang tak sengaja ditemui ketika sedang berpatroli. Sudah tak terhitung berapa banyak hadiah yang dia terima, tetapi Arya sering membagikan hadiah yang ia terima kepada rekan satu timnya.
Seluruh ketenaran yang Arya terima tak selalu berakhir dengan baik. Komandan yang memimpin pasukan penjagaan dikota sekarang malah membenci Arya, karena wanita yang dia taksir sejak lama justru malah tertarik dengan seorang prajurit baru.
Komandan pasukan penjagaan Kota tak jarang memberi tugas tak masuk akan untuk dilakukan oleh Arya karena merasa kesal. Arya sering diberi tugas untuk memperbaiki kerusakan tembok kota yang seharusnya dilakukan oleh para pekerja bangunan.
Bukannya merasa kesal Arya justru merasa terbantu karena bisa menghindari para penggemarnya. Arya sebenarnya heran dengan para wanita itu, padahal dia sudah membuat penampilannya sedikit berantakan.
Didalam ruangan. Komandan menerima sepucuk surat berisi undangan untuk mengikuti turnamen khusus yang hanya bisa diikuti oleh para petinggi militer Kerajaan Brawijaya.
Hadiah yang ditawarkan juga tidak sedikit, bahkan dituliskan bahwa pemenang turnamen ini akan mendapat kenaikan jabatan yang diberikan langsung oleh Panglima Tertinggi.
Hadiah yang besar tentu saja ada resiko yang besar juga. Tak menutup kemungkinan cidera parah bahkan kematian bisa diterima oleh para peserta.
Sebuah pikiran licik seketika terlintas di kepala Komandan untuk menyingkirkan Arya dari Kota Bambu. Meski dia merupakan seorang Komandan tak mudah baginya untuk memecat Arya secara langsung tanpa alasan yang jelas, apalagi masyarakat Kota Bambu banyak yang menyukai kehadiran pemuda tersebut.
"Panggilkan Arya untuk menemui sekarang juga!" Perintah Komandan kepada ajudan setianya.
Prajurit yang merupakan ajudan Komandan pasukan penjagaan Kota, segera melaksanakan perintah untuk memanggil Arya yang saat ini sedang memperbaiki tembok Kota bersama pekerja bangunan.
__ADS_1
Setibanya di tembok Kota yang sedang dalam masa perbaikan. Ajudan Komandan segera menemukan keberadaan Arya yang sedang bergelantungan untuk menambal tembok Kota.
"Hei Arya! Komandan memintamu untuk menemuinya sekarang juga!" Ucap ajudan Komandan dengan nada lantang agar terdengar oleh Arya.
Arya yang mendengar suara ajudan Komandan lalu memutus tali di pinggangnya, dan terjun bebas dari ketinggian 20 meter tanpa mengalami cidera saat mendarat.
"Baik-baik, kau tak perlu berteriak sekencang itu hanya untuk memanggilku. Aku bisa mendengar bahkan jika kau berbisik dari sana." Arya menepuk pundak ajudan Komandan yang terlihat kesal kepadanya.
Setelah memakai perlengkapan militernya, Arya langsung melesat meninggalkan ajudan Komandan yang hanya bisa tertegun saat melihat dirinya yang seolah menghilang.
"Siapa sebenarnya pria itu, mengapa pendekar sepertinya mau menjadi seorang prajurit dengan bayaran rendah?" Gumam ajudan Komandan yang berpikir Arya hanya ingin menarik perhatian wanita dengan menjadi seorang prajurit.
Arya yang sudah sampai di markas kemudian berjalan menuju ruangan Komandan. Tak jarang beberapa prajurit menyapanya saat berpapasan.
"Pak, saya datang untuk memenuhi panggilan." Arya mengetuk pintu sebelum Komandan memintanya masuk kedalam ruang kerjanya.
"Akhir-akhir ini penyakit lambungku sering kambuh, dan membuatku tak bisa mengikuti turnamen. Sebenarnya sangat disayangkan karena jika berhasil menang aku bisa mendapatkan promosi jabatan."
"Bagaimana jika kau saja yang mengikuti turnamen itu. Bukankah kau ingin jabatanmu naik, Arya?"
Komandan tersenyum licik setelah mengatakan alasan mengapa dirinya tidak bisa ikut turnamen, dan meminta Arya menggantikannya.
Arya tentu tidak bodoh dan tau apa yang sedang direncanakan oleh Komandan. Tetapi karena merasa dia bisa terhindar dari para wanita yang selalu membuntutinya, Arya berpikir untuk mengikuti turnamen apalagi saat ada hadiah berupa promosi kenaikan jabatan.
"Baik Pak, saya bersedia untuk mengikuti turnamen ini. Tetapi bagaimana saya mendaftarkan diri? Disini tertulis hanya prajurit berbakat dan petinggi militer saja yang bisa mengikutinya?"
"Kau tenang saja, aku bisa membuat surat rekomendasi agar kau bisa mengikuti turnamen ini, Arya. Sekarang berkemas lah, kau bisa langsung berangkat sore ini juga ke Ibukota."
__ADS_1
"Baik Pak!" Arya memberi hormat kepada Komandan sebelum pergi setelah mendapat surat rekomendasi agar bisa mengikuti turnamen.
Setelah Arya pergi dari ruangannya. Komandan tertawa licik dan merasa Arya terlalu bodoh. "Arya-Arya... Kau akan menemui ajalmu disana. Tahun ini ada beberapa kandidat muda berbakat yang akan bersaing."
Apa yang dikatakan oleh Komandan memang tak salah tetapi juga tidak sepenuhnya benar, karena sekuat apapun kandidat yang akan dia temui, sudah pasti mereka bukanlah tandingan untuk Arya.
Selesai mengemasi barang-barangnya, Arya segera berangkat menuju Ibukota Wirabhumi tanpa menggunakan kuda ataupun kereta kuda. Dia lebih memilih menggunakan teknik meringankan tubuh yang dimiliki agar perjalanannya jauh lebih cepat, dan bisa menghindari perhatian para penggemar yang dapat menghambat keberangkatannya.
"Sudah lama aku tak bertemu dengan orang-orang itu, bagaimana kabar mereka sekarang ya?" Arya tersenyum tipis kemudian mempercepat langkahnya melompati pepohonan.
Arya masih belum menyadari kalau kepergiannya ke Ibukota Wirabhumi akan membuatnya bertemu dengan sosok yang sama sekali tak pernah dia duga dan tak ingin dia temui.
****
Sementara itu didepan gerbang kediaman Aditama. Seorang pemuda tampan berpakaian militer yang mengendarai seekor kuda tiba disana.
"Selamat datang Tuan Muda. Sudah lama tak bertemu. Sekarang Anda sudah benar-benar tumbuh menjadi seorang pria yang gagah dan tampan." Ucap seorang pria yang kelihatan berusia 60 tahun yang tak lain adalah Komandan prajurit yang menjaga kediaman Aditama.
Pemuda itu tertawa hangat dan turun dari kuda untuk menyapa Komandan. "Ya sudah lama kita tak bertemu, Paman. Bagaimana kabar ayah dan ibuku?" Ucap pemuda yang tak lain merupakan Raka.
"Kabar mereka baik dan masih sama seperti saat Tuan Muda pergi. Silahkan masuk..." Balas Komandan lalu memerintahkan prajuritnya untuk membuka gerbang masuk.
Ketika gerbang dibuka Raka langsung disambut oleh Asri yang sudah sangat merindukan sosok putra semata wayangnya tersebut.
Dierja juga terlihat menyambut kedatangan Raka, tetapi terlihat raut wajah Dierja tak begitu senang. Tampaknya hubungan antara antara anak dan ayah itu masih renggang semenjak kejadian 11 tahun yang lalu.
Raka segera menghampiri Dierja untuk memberi salam, meski dia bisa menyadari ayahnya sampai sekarang masih belum bisa memaafkan dirinya dan masih kecewa dengan tindakan yang dia lakukan 11 tahun lalu.
__ADS_1