
Pembacaan tindak kejahatan organisasi pemberontak dilakukan oleh Arjuna dihadapan semua orang. Beberapa orang tentu saja merasa skeptis dengan putusan yang diberikan oleh Arjuna terhadap sepuluh pria di atas panggung.
Banyak yang tidak percaya dengan pihak militer, namun tidak sedikit juga yang mempercayainya mengingat ada banyak desas-desus kabar tentang sekelompok orang berencana melengserkan Walikota dan membubarkan Pasukan Bendera Hitam.
Saat Arjuna telah selesai membacakan tindak kejahatan dan putusan hukuman mati kepada anggota organisasi pemberontak. Para algojo sudah siap dengan alat mereka masing-masing dan tidak memperdulikan perdebatan yang sedang bergulir ditengah masyarakat.
Wira dan Bagaskara langsung membidik seorang anggota organisasi pemberontak yang tangan serta kakinya sudah terikat pada sebuah batang kayu.
Dengan menggunakan pisau kedua pria itu mulai menguliti seorang anggota organisasi pemberontak dan membengkokkan tulang punggungnya kebelakang. Tak sampai disitu, Wira dan Bagaskara kemudian mencabut paru-paru milik orang itu keluar.
Teriakan dari seorang anggota organisasi pemberontak yang disiksa oleh Wira dan Bagaskara, langsung membuat semua orang yang mendengarnya bergidik ketakutan. Apalagi saat melihat bagaimana siksaan dilakukan.
Beberapa orang ada yang langsung muntah ditempat dan tak sedikit juga langsung tidak sadarkan diri, melihat hukuman mati untuk orang yang berani merencanakan pemberontakan.
Hukuman mati yang dilakukan oleh Wira dan Bagaskara sendiri dinamakan sayap elang. Hal ini sesuai dengan tulang punggung korbannya yang dibengkokkan kebelakang menyerupai sayap.
Pemimpin dan anggota organisasi pemberontak lain yang melihat kematian tragis salah satu rekannya, langsung menjadi lemas. Mereka ingin melarikan diri tetapi percuma saja karena sudah dipasangkan alat khusus oleh para prajurit.
Setelah penyiksaan pertama selesai dilakukan. Penyiksaan selanjutnya kemudian dilakukan oleh Wira dan Bagaskara, namun kali ini di bantu oleh beberapa orang yang memiliki dendam terhadap organisasi pemberontak itu.
Disisi lain Arya dan Putri Amanda menyaksikan langsung proses hukuman mati terhadap anggota organisasi pemberontak yang dilakukan dipusat Kota dari kejauhan.
Mereka kini berdiri diatas sebuah atap bangunan tanpa diketahui oleh orang lain. Terlihat Arya memiliki raut wajah datar, sementara Putri Amanda diam-diam menyeringai saat melihat kedua muridnya mempraktikkan langsung apa yang sudah dia ajarkan.
"Apa kau sudah merasa puas melihatnya, Putri Amanda?" Arya bertanya dengan heran ketika samar-samar melihat seringai diwajah Putri Amanda dari balik cadar tipisnya.
__ADS_1
Mendengar pertanyaan dari Arya saat tengah menikmati penyiksaan di pusat Kota, Putri Amanda langsung menggelengkan kepala merasa belum puas menyaksikan hukuman mati untuk anggota organisasi pemberontak.
"Belum, tunggu sebentar lagi." Putri Amanda membalas dan meminta kepada Arya untuk menunggu beberapa menit lagi sebelum mereka kembali.
Arya menghela nafas pelan. Bukan karena dia merasa kasihan terhadap anggota organisasi pemberontak itu, justru dia membiarkan hukuman tetap dilakukan untuk menimbulkan efek jera dan peringatan terhadap orang-orang yang melakukan kejahatan diluar batas.
Sejujurnya Arya dan Putri Amanda diam-diam sudah mengikuti rombongan Pasukan Bendera Hitam yang akan melakukan penggerebekan. Mereka tentu saja mengetahui saat para korban penculikan yang digunakan sebagai pembayaran terhadap para bandit telah berhasil ditemukan.
Mengetahui kondisi mental dan fisik para korban penculikan yang cukup mengkhawatirkan. Tentunya baik Arya maupun Putri Amanda merasa kesal dan mengutuk keras tindakan anggota organisasi pemberontak, yang dengan tega melakukan perbuatan hina itu kepada masyarakat Kota Madya sendiri.
"Baik aku rasa kita sudah cukup melihatnya. Ada hal yang harus kita lakukan, ikuti aku." Arya berkata sebelum menghilang dari sisi Putri Amanda dalam sekejap mata.
Putri Amanda menghela nafas pelan dan hanya bisa menurut untuk mengikuti Arya, meski sebenarnya dia masih belum puas saat melihat seorang anggota organisasi pemberontak dipenggal.
Dalam satu kali tarikan nafas sosok Putri Amanda langsung menghilang dari atap bangunan menyusul Arya yang sudah terlebih dulu telah pergi.
Putri Amanda sama sekali tidak mencurigai Arya akan melakukan hal buruk kepadanya. Lagipula jika seandainya pria itu ingin melakukan hal buruk pasti tidak perlu repot-repot menyelamatkan nyawanya beberapa kali.
Setelah sampai di bukit yang mereka tuju. Putri Amanda menatap punggung milik Arya yang membelakangi dirinya. "Sebenarnya mengapa kau mengajakku menuju tempat yang jauh dari keramaian seperti ini?"
Putri Amanda sebenarnya diam-diam menduga Arya akan mengungkapkan perasaan kepadanya. Pemikiran tentang hal ini tentu membuatnya sangat senang dan berharap itu benar-benar terjadi.
Ketika Arya membalik badan dan menatap lurus kearah Putri Amanda. Wanita itu merasa jantungnya berdebar lebih cepat, bahkan wajahnya sedikit memerah saat melihat wajah menenangkan dari pria dihadapannya.
"Sebenarnya ada hal yang ingin aku sampaikan kepadamu secara langsung, dan untuk saat ini belum ada yang bisa mendengarnya. Lebih tepatnya ini masalah pribadi diantara kita."
__ADS_1
Tidak ada keraguan sedikitpun ketika Arya mengatakan hal tersebut kepada Putri Amanda. Setiap perkataannya terdengar mantap dan jauh dari kebohongan.
"Ya... Kau bisa mengatakannya kepadaku sekarang. Aku pasti akan mendengarkan dengan seksama." Balas Putri Amanda sambil menundukkan kepala karena merasa sangat malu.
Putri Amanda sekarang sudah tidak sabar mendengar kalimat selanjutnya yang ingin dikatakan oleh Arya, setelah pria itu mengatakan bahwa ingin berbicara secara pribadi dengannya dan tidak boleh ada yang mengetahuinya.
"Amanda apa kau bersedia..." Belum sempat Arya menyelesaikan perkataannya, secara tiba-tiba Putri Amanda mengangguk.
"Kalau itu adalah kau, aku bersedia untuk melakukannya." Balas Putri Amanda sambil tersenyum cerah dibalik cadarnya.
Melihat perubahan suasana hati Putri Amanda yang mendadak cerah. Tentu saja Arya merasa heran apalagi saat wanita itu langsung setuju sebelum dia mengutarakan niat sebenarnya.
"Setuju untuk apa? Maksudku mengajakmu datang ke tempat ini karena aku ingin mengajakmu untuk melakukan latihan tanding." Arya berusaha menjelaskan niat sebenarnya kepada Putri Amanda.
Begitu mendengar penjelasan dari Arya, harapan Putri Amanda bahwa pria itu mengutarakan perasaan kepadanya langsung hancur berkeping-keping.
Setelah dibuat terbang oleh harapan palsu yang diberikan Arya kepadanya, pria itu langsung menjatuhkan harapannya ketanah dengan sangat keras.
Putri Amanda seketika mengalami tekanan batin. Suasana hatinya yang semua telah berbunga-bunga kini seolah menjadi hamparan tandus tanpa kehidupan.
Wanita cantik itu kini merasa sangat kesal, marah, kecewa dan ingin menghilang saja dari muka bumi karena sudah mengartikan maksud tujuan Arya mengajaknya datang ke atas bukit.
Suasana di atas bukit yang tenang dan indah, tentu saja sangat cocok untuk seseorang mengutarakan perasaan kepada pasangan mereka. Putri Amanda berharap dia bisa mengalami kejadian seperti cerita dongeng tentang seorang Putri yang dilamar oleh Pangeran dari Kerajaan musuh diatas bukit. Tetapi harapan itu langsung dibuat hancur oleh pria dihadapannya.
"Jadi bagaimana, apa kau benar-benar setuju untuk melakukan latihan bersamaku?" Arya mencoba memastikan jawaban dari Putri Amanda.
__ADS_1
Putri Amanda berdecak kesal dan memberikan tatapan penuh kebencian kepada Arya. Dia akhirnya kembali ingat bahwa pria yang dia cintai itu sangat tidak peka kepada para wanita.
"Baiklah kalau begitu mari kita lakukan. Jangan salahkan aku jika kau terluka nantinya!" Balas Putri Amanda yang sangat ingin meluapkan kekesalannya kepada pria dihadapannya.