
"Maaf karena sudah mencuri pill milikmu waktu itu guru... Tapi aku tak bisa menahan rasa penasaranku. Setelah guru Arga dan Hyman pergi, aku tak mau guru juga pergi meninggalkan ku sendirian."
Arya Wijaya paham betul kalau waktu Baduga Maharaja sudah tidak lama lagi. Setelah mengembalikan pill yang dia curi, Arya Wijaya juga sempat menghitung jumlah pill milik Baduga Maharaja yang tersisa saat itu.
Sambil menahan air matanya yang bisa jatuh kapan saja Arya Wijaya menundukkan wajahnya agar Baduga Maharaja tak melihat ekspresinya yang menyedihkan.
Baduga Maharaja meletakkan cangkir teh ditangannya dan merasa bersalah karena tak memberitahu Arya Wijaya dari awal mengenai kondisinya, tetapi disisi lain dia tak memiliki banyak pilihan saat itu.
Kini Baduga Maharaja tak bisa mengatakan sepatah katapun dan hanya menepuk-nepuk pelan punggung Arya Wijaya untuk menenangkannya.
Baduga Maharaja baru menyadari alasan Arya Wijaya akan merajuk dan mengurung diri didalam kamar hanya karena masalah kecil. Pada kenyataannya Arya Wijaya berusaha menyembunyikan kesedihannya setiap melihat wajah Baduga Maharaja.
Bendungan yang menahan aliran air mata Arya Wijaya akhirnya runtuh membuat wajahnya menjadi sembab, meski dia sudah berusaha untuk menahannya.
Kehilangan ketiga guru yang sudah dia anggap sebagai keluarga jelas membuat tidak dapat menahan dirinya lagi.
Disisi lain Baduga Maharaja mencoba menenangkan Arya Wijaya. Bagaimanapun dia tak ingin Arya Wijaya terjerumus kedalam kegelapan karena terus menyalahkan dirinya sendiri.
"Arya... Apa kau tau menangisi seorang pria yang sudah tiada bukanlah hal baik. Seharusnya kita menangis saat seorang pria dilahirkan, karena beban yang ditanggung oleh mereka saat hidup lebih besar."
Mendengar perkataan Baduga Maharaja segera membuat Arya Wijaya berusaha lebih keras menahan diri sampai akhirnya dia berhenti menangis.
Setelah kejadian dimana Baduga Maharaja mengetahui Arya Wijaya telah menyadari apa yang sebenarnya terjadi kepada dirinya. Di bulan-bulan terakhir Baduga Maharaja mengajar Arya Wijaya lebih santai lagi dan tidak kaku seperti biasanya.
Tetapi kondisi Baduga Maharaja semakin hari menjadi buruk sampai hanya bisa terbaring di kasurnya saat mengajar Arya Wijaya.
__ADS_1
Arya Wijaya yang belajar, dia disisi lain kini harus merawat Baduga Maharaja. Tentu Arya Wijaya merawat Baduga Maharaja sebaik mungkin meski dia sudah mengetahui pada akhirnya Baduga Maharaja akan pergi untuk selamanya.
Hari ini merupakan saat terakhir Baduga Maharaja dapat bersama Arya Wijaya setelah memberi berbagai pelajaran berharga kepada anak itu.
Sekarang Arya Wijaya berada didalam kamar bersama Baduga Maharaja untuk menemaninya disaat-saat terakhir. Cincin dimensi milik Baduga Maharaja yang berisi barang-barang miliknya dan juga milik Arga Mahesa serta Hyman Nirwasita, kini terlihat sudah terpasang dijari Arya Wijaya.
Melihat ekspresi sedih di wajah Arya Wijaya, Baduga Maharaja hanya bisa tersenyum tipis. Dia kemudian memaksakan tubuhnya yang sudah sangat lemah untuk duduk, dan mengeluarkan sebuah topeng perak berbentuk wajah yang sudah lama dititipkan oleh Hyman Nirwasita untuk Arya Wijaya.
Baduga Maharaja kemudian memakaikan topeng perak tersebut di wajah Arya Wijaya untuk menyembunyikan ekspresi anak itu yang terlihat sedih.
"Ternyata topeng yang Hyman titipkan kepadaku sangat cocok untukmu." Ucap Baduga Maharaja dengan suara lirih dan serak sambil tersenyum yang seketika membuat Arya Wijaya berusaha menahan air matanya.
Dari celah-celah kasur Baduga Maharaja mengambil sebuah pedang yang dibalut kain putih kemudian diberikan kepada Arya Wijaya.
Baduga Maharaja kemudian menjelaskan sedikit mengenai pedang yang baru saja dia berikan kepada Arya Wijaya. Pedang itu merupakan sebuah pedang yang memiliki kutukan didalamnya.
Baduga Maharaja tak memberitahu kepada Arya Wijaya bahwa Kakek tua lah yang menitipkan pedang itu dan sebenarnya pedang kutukan sendiri memanglah milik Arya Wijaya sebelum dia disegel dulu oleh Kakek tua dan dihilangkan ingatannya.
"Seseorang menitipkannya kepadaku untuk diberikan kepadamu. Kau harus berhati-hati saat menggunakannya, karena setelah pedang itu keluar dari sarungnya maka harus ada satu nyawa yang dikorbankan."
Mendengar perkataan Baduga Maharaja, Arya Wijaya hanya bisa mengangguk pelan tanpa mengatakan sepatah katapun.
"Ingat pesan yang sudah aku katakan setiap kali kepadamu. Jangan melupakan permintaan terakhir yang sudah aku minta saat itu..."
"Arya... Jalani hidupmu sebaik mungkin dan temukan orang-orang yang dapat membantumu menyatukan 7 negara..."
__ADS_1
"Jangan menjalani hidup sepertiku, kau harus menemukan seseorang yang dapat menemanimu dalam senang ataupun susah..."
Setelah mengucapkan kalimat-kalimat terakhir, Baduga Maharaja menghembuskan nafas terakhirnya dan tubuhnya berubah menjadi butiran-butiran cahaya yang masuk kedalam Inti Kristal milik Arya Wijaya.
Arya Wijaya kini hanya seorang diri setelah ditinggal oleh Baduga Maharaja. Dibalik topeng Arya Wijaya akhirnya tak kuasa menahan tangis dan meminta maaf kepada Baduga Maharaja karena menangis, bagaimanapun dia tak bisa menahan diri saat guru yang sudah dianggap seperti ayahnya sendiri telah tiada.
Sebelum pergi menjalankan tugas yang diberikan oleh Baduga Maharaja. Arya Wijaya tetap tinggal dikediaman itu selama satu hari.
Setelah dapat menenangkan dirinya, Arya Wijaya kemudian membuat penghormatan terakhir didepan batu yang terdapat nama Baduga Maharaja, Arga Mahesa, dan Hyman Nirwasita.
Dari dalam cincin dimensi Arya Wijaya mengeluarkan empat cawan dan satu botol minuman keras yang sangat disukai oleh Arga Mahesa.
Dia kemudian menuangkannya keempat cawan dan meminum salah satunya. Arya Wijaya kemudian memotong rambut panjang yang sudah dia ikat dari lama dan meletakkannya didepan batu penghormatan.
"Guru... Terimakasih kalian sudah mengajarku selama 5 tahun ini. Aku tak akan melupakan nama kalian...." Arya Wijaya kemudian memakai kembali topeng perak yang menutup wajahnya kecuali bagian mata.
Pedang kutukan yang dibalut kain putih kemudian Arya Wijaya bawa di punggungnya sebelum akhirnya pergi meninggalkan tempat yang penuh kenangan.
Setelah turun dari gunung, untuk terakhir kalinya Arya Wijaya melihat kembali tempat itu sebelum akhirnya pergi melanjutkan perjalanan.
Saat Arya Wijaya pergi gunung itu langsung menghilang dan tak bisa dilihat oleh orang luar karena formasi yang sengaja Baduga Maharaja buat sejak dulu.
Selama satu tahun belajar bersama Baduga Maharaja perkembangan kultivasi Arya Wijaya tak mengalami kemajuan, karena selama satu tahun hanya belajar hal-hal seperti formasi, teknik segel, strategi perang, dan hal-hal dasar Kerajaan.
Dengan berbagai sumber daya yang diberikan oleh Baduga Maharaja, Arga Mahesa, dan Hyman Nirwasita. Arya Wijaya tak perlu khawatir mengenai keuangan lagi dan hanya perlu fokus dengan pekerjaan utamanya serta kultivasinya.
__ADS_1
Bukit tempat Arya Wijaya dan ketiga gurunya sendiri berada di perbatasan Kerajaan Pasanggaran dan Kerajaan Brawijaya. Hal itu membuat Arya Wijaya harus berhati-hati mengingat kondisi kedua Kerajaan semakin tegang.