Legenda Dunia Kultivasi

Legenda Dunia Kultivasi
Pertarungan Naga dan Phoenix (Revisi Lokal)


__ADS_3

"Guru, bolehkah aku bertanya mengenai tingkat ranah milik kalian?" Tanya Arya Wijaya dengan gugup, karena menanyakan pertanyaan sedikit sensitif kepada Arga Mahesa.


Ketika Arga Mahesa mendapat seperti itu oleh Arya Wijaya dia hanya tersenyum penuh arti sebelum menjawabnya. "Untuk sekarang rahasia, tetapi yang pasti berada di atas semua ranah yang sudah aku sampaikan tadi."


Arya Wijaya seketika bergetar saat mendengarnya, entah itu keberuntungan atau tidak saat dia mendapat tiga guru yang memiliki tingkatkan ranah semengerikan itu.Arya Wijaya berpikir kalau ketiga pria yang mengajarnya, pasti memiliki pengaruh sangat kuat didunia ini.


"Jangan terkejut seperti itu, Arya. Suatu saat nanti pasti kamu melampaui tingkatkan yang telah kami capai. Tetapi sebelum itu kamu harus memiliki 72 sisik Naga terlebih dahulu. "


Arya Wijaya mengerutkan dahinya tidak mengetahui maksud perkataan Arga Mahesa mengenai dirinya yang harus memiliki 72 sisik Naga.


Menyadari kebingungan Arya Wijaya, Arga Mahesa lalu menjelaskan kepada Arya Wijaya jika dia harus menumbuhkan 72 sisik Naga untuk memperkuat tubuhnya.


Saat Arya Wijaya telah memiliki 72 sisik Naga maka sebuah pedang tingkat tinggi sekalipun tidak akan mampu menggores kulitnya, dan 72 sisik Naga merupakan persyaratan bagi Arya Wijaya jika ingin membuka kunci buatan Baduga Maharaja yang menggembok kekuatan didalam tubuhnya.


"Maaf guru jika ini menyinggung perasaanmu, tetapi kenapa semalam aku bisa membuat goresan tipis di wajahmu hanya dengan menggunakan pedang kayu?"


Wajah Arga Mahesa seketika menjadi hitam. Dia kemudian menatap Arya Wijaya dengan tajam sambil mengatakan kalau semalam dirinya mabuk dan belum siap mengaktifkan sisik Naga nya saat diserang.


"Jangan mengingatkan ku tentang kejadian semalam. Itu murni karena aku belum siap, karena mabuk. Apa kamu mengerti?"


Dengan sedikit nada ancaman Arga Mahesa berusaha meyakinkan Arya Wijaya kalau kejadian semalam hanya kebetulan saja terjadi, agar citranya sebagai Pendekar Naga yang tidak pernah mendapat luka tak tercoreng.


Bahkan untuk membuat Arya Wijaya semakin yakin kalau kejadian semalam hanya kebetulan, Arga Mahesa sampai-sampai mengeluarkan secuil aura membunuhnya supaya Arya Wijaya tidak membahasnya lagi.


Mengerti dengan apa yang Arga Mahesa maksud Arya Wijaya kemudian mengangguk paham dan berjanji untuk tidak membahas lagi kejadian semalam, saat dirinya yang sedang tidur mengigau sampai-sampai menyerang Arga Mahesa karena instingnya mengira pria itu penyusup, yang bisa mengancam keselamatannya.

__ADS_1


"Sekarang aku akan menunjukkan sesuatu kepadamu ketika kamu berhasil mengaktifkan 72 sisik Naga yang nanti aku ajarkan."


Arga Mahesa kemudian menyuruh Arya Wijaya untuk menjauh darinya dan agar dia mendapatkan ruang terbuka lebar. Setelah itu kejadian diluar nalar Arya Wijaya terjadi.


Empat pasang sayap reptil tumbuh dibelakang punggung Arga Mahesa. Kedua tangan dan kakinya perlahan diselimuti sisik emas sebelum menjadi cakar tajam.


Dua tanduk kemudian mencuat dari kepala Arga Mahesa dan matanya berubah menjadi seperti seekor reptil. Setelah itu tubuh Arga Mahesa mulai membesar dan berubah menjadi seekor Naga emas setinggi 20 meter.


Arga Mahesa kemudian meraung dengan sangat keras hingga membuat seluruh hewan di hutan menjadi ketakutan bahkan burung-burung mulai terbang menjauh.


Melihat perubahan yang ditunjukkan oleh Arga Mahesa, seketika Arya Wijaya bertepuk tangan merasa kagum, dan hal ini membuat Arga Mahesa merasa dirinya sangat keren.


Tetapi disisi lain Hyman Nirwasita yang tengah menanam benih herbal untuk latihan Arya Wijaya kelak, justru terganggu dengan perubahan yang dilakukan oleh Arga Mahesa.


"Hei-hei hentikan itu dasar cacing tanah! Apa kamu tidak lihat apa yang sudah kamu perbuat hah?!"


"Memangnya kenapa? Itu hanya tanaman biasa. Katakan saja kalau kamu iri dengan penampilanku sekarang."


Arga Mahesa mengabaikan Hyman Nirwasita dan menganggap pria itu hanya iri terhadapnya. Tetapi hal itu justru membuat Hyman Nirwasita menjadi sangat marah dan merasa Arga Mahesa terlalu percaya diri.


"Siapa yang iri kepadamu Arga, apa kamu benar-benar tidak mau mengakui kesalahanmu?" Tanya Hyman Nirwasita sambil menekan nada bicaranya.


"Huh! Untuk apa aku merasa bersalah. Memangnya apa yang ingin kamu lakukan? Ingin mengajakku bertarung?"


Melihat keangkuhan Arga Mahesa seketika Hyman Nirwasita mengepalkan tangannya dan mengeratkan giginya sambil menatap tajam pria dengan wujud Naga emas itu.

__ADS_1


Arya Wijaya yang ada melihat ketegangan diantara kedua pria itu ingin melerainya tetapi dia tidak memiliki keberanian dan memilih untuk menjauh.


Hyman Nirwasita kemudian berubah menjadi seekor burung Phoenix hitam dan menyemburkan api biru kearah tubuh Arga Mahesa hingga membuatnya meraung kesakitan.


Arga Mahesa yang tak terima kemudian terbang mengejar Hyman Nirwasita dan pertarungan antara Naga emas dengan Phoenix hitam segera terjadi diatas langit.


Arya Wijaya yang melihat pertarungan antara Arga Mahesa dan Hyman Nirwasita merasa takut karena mereka sudah membakar sebagain kawasan hutan yang ada disekitar kediaman milik Baduga Maharaja.


Karena tidak ingin menjadi korban salah sasaran, Arya Wijaya segera berlari menghampiri Hyman Nirwasita dan menceritakan apa yang sedang terjadi kepada pria itu sambil tersengal-sengal.


Baduga Maharaja yang awalnya sedang membuat kaligrafi di ruangannya, segera keluar saat diberi tahu oleh Arya Wijaya kalau Arga Mahesa dan Hyman Nirwasita bertarung.


Benar saja saat Baduga Maharaja keluar rumah, dia bisa melihat kekacauan yang sudah dibuat oleh Arga Mahesa dan Hyman Nirwasita yaitu membakar sebagian besar hutan menggunakan api abadi mereka.


Merasa geram karena tempat tinggalnya menjadi lautan api, Baduga Maharaja kemudian membuat sebuah formasi menggunakan kuasnya.


Setelah formasi siap, Baduga Maharaja langsung memukul tanah dan belasan rantai seketika muncul dari dalam tanah lalu terbang menuju Arga Mahesa serta Hyman Nirwasita.


Rantai Baduga Maharaja seketika melilit kaki, sayap, tubuh, leher mereka dan membuat tubuh Naga emas serta Phoenix hitam itu ditarik paksa hingga menghantam bumi dengan sangat keras.


Meski sudah tidak dapat menggerakan tubuh mereka, Arga Mahesa dan Hyman Nirwasita saling menyemburkan api kearah satu sama lain hingga membuat Baduga Maharaja merantai juga mulut mereka.


Rantai yang melilit tubuh Arga Mahesa dan Hyman Nirwasita perlahan mengencang hingga memaksa mereka berubah kembali menjadi sosok manusia.


Keduanya satu berusaha melepaskan diri dari rantai yang melilit tubuh mereka meski itu mustahil sekarang. Hal itu tidak lain karena mereka melihat Baduga Maharaja yang datang sambil memasang raut wajah kesal.

__ADS_1


Sekarang bukan lagi soal pertengkaran yang mereka pikirkan tetapi adalah Baduga Maharaja. Saat melihat kekacauan yang telah mereka buat di sekitar kediaman Hyman Nirwasita, kedua pria itu langsung menjadi takut dan ingin kabur sebelum mendapat pelajaran dari Baduga Maharaja.


Arga Mahesa dan Hyman Nirwasita tentu saja tau apa yang akan dilakukan oleh Baduga Maharaja terhadap mereka sekarang, hingga membuat keduanya ingin kabur tetapi itu semua sudah terlambat.


__ADS_2