
Topeng pemberian Hyman Nirwasita yang berguna untuk menekan sedikit kekuatan Arya Wijaya tiba-tiba retak dan hancur terbelah menjadi dua.
Pandangan Arya Wijaya seketika tertuju kearah Raka Aditama yang berada didekat. Arya Wijaya yang mulai kehilangan kendali langsung mencengkram leher Raka Aditama dan membanting anak itu ke lantai.
Raka Aditama memberontak mencoba melepaskan diri dari Arya Wijaya. "Kakak... Aku tak bisa bernafas..." Rintih Raka Aditama dengan raut wajah yang pucat karena mulai kehabisan oksigen.
Kesadaran Arya Wijaya sedikit kembali saat mendengar rintihan Raka Aditama. Dia kemudian melepaskan Raka Aditama hingga membuat anak itu bisa bernafas kembali.
Arya Wijaya memegang kepalanya yang sangat pusing dan melawan kepribadiannya yang lain. Sambil menahan rasa sakit, Arya Wijaya mengambil sebuah kertas dari cincin dimensi yang berisi serbuk putih. Dengan tergesa-gesa Arya Wijaya langsung menghirup serbuk tersebut dan perlahan dia mulai tenang kembali.
Kejadian seperti ini sebenarnya sudah pernah terjadi kepada Arya Wijaya, contohnya saat berada didalam ruang bawah tanah Asosiasi Perak beberapa hari lalu.
Serbuk putih yang baru saja dihirup oleh Arya Wijaya merupakan obat penenang. Obat itu dan cara pembuatan sendiri, diberikan oleh Baduga Maharaja sebagai pencegahan awal jika kesadaran Arya Wijaya akan diambil alih oleh Iblis hatinya.
Iblis hati milik Arya Wijaya sendiri bukan sembarang Iblis hati biasa, melainkan kesadaran lain sosok Arya Wijaya yang merupakan Naga Perak. Iblis hati itu akan muncul ketika Arya Wijaya menyerap suatu energi secara berlebihan dan membuat Dantian nya terisi penuh.
Cara satu-satunya untuk saat ini Arya Wijaya perlu mengolah energi tersebut.
Arya Wijaya duduk bersandar di meja sambil terus menghirup obat penenang yang masih tersisa. Meski efeknya hanya bertahan setengah hari, tetapi Arya Wijaya merasa itu sudah cukup.
Raka Aditama yang melihat Arya Wijaya tampak sudah tenang memberanikan diri untuk mendekat, meski dia belum tau apa Arya Wijaya akan mencekiknya lagi atau tidak.
"Kak... Apa kau baik-baik saja? Apa yang sebenarnya terjadi?" Tanya Raka Aditama dengan ragu sambil memegang lehernya yang masih terasa sakit.
"Aku baik-baik saja. Maaf sudah mencekikmu, Raka..." Balas Arya Wijaya.
__ADS_1
Melihat mata Arya Wijaya sudah kembali normal, Raka Aditama menghela nafas. Raka Aditama mengangguk dan memaafkan Arya Wijaya.
Tetapi Raka Aditama masih bertanya-tanya tentang apa yang baru saja terjadi. Kalau dia bertanya lagi sepertinya percuma, karena Arya Wijaya tak akan menjawabnya.
"Bagaimana denganmu, Raka. Apa sekarang kau bisa merasakan aliran Qi didalam tubuhmu?" Tanya Arya Wijaya sambil tersenyum kecil dengan wajah yang terlihat lebih pucat dari biasanya.
Raka Aditama mengangguk dan sangat antusias menjelaskan apa yang dia rasakan sekarang. Raka Aditama bisa merasakan tubuhnya lebih bertenaga dan merasa ada energi yang menghangatkan tubuhnya.
Meski Raka Aditama terlihat kesulitan menjelaskan, tetapi Arya Wijaya sedikit mengerti dan meminta Raka Aditama mendekat kearahnya untuk diperiksa.
"Penyempurnaan Roh lapisan 1. Kau sangat diberkati langit, Raka." Arya Wijaya cukup terkejut mengetahui Raka Aditama langsung membuat trobosan besar.
Raka Aditama yang mendengarnya tentu merasa sangat senang. Dengan begitu dia tak akan dibully lagi, dan dapat disejajarkan dengan anak paling berbakat saat ini, yaitu Satria Mahendra.
"Mengapa kau jadi terlihat lesu seperti itu? Kau harusnya terlihat senang karena bisa menjadi seorang Pendekar dimasa depan." Tanya Arya Wijaya heran.
Raka Aditama hanya bisa mengangguk pelan tanpa menatap Arya Wijaya secara langsung. Raka Aditama berpikir Arya Wijaya sekarang menjadi lumpuh karena dirinya. Yang belum Raka Aditama ketahui, sebenarnya Arya Wijaya hanya lumpuh untuk sementara waktu karena efek samping obat penenang yang dia konsumsi.
Perasaan Raka Aditama semakin bersalah saat melihat topeng milik Arya Wijaya yang rusak tergeletak tak jauh darinya. Dia kemudian mengambil topeng yang terbelah itu dan memberikannya kepada Arya Wijaya.
"Maaf, jika bukan karena membantuku. Mungkin topeng kesayangan Kakak tak rusak seperti ini."
Melihat raut wajah Raka Aditama yang ingin menangis Arya Wijaya justru tertawa pelan sambil menyimpan topengnya yang sudah terbelah menjadi dua.
"Itu hanya sebuah topeng. Aku juga tak terlalu membutuhkannya sekarang." Arya Wijaya merasa identitasnya sudah aman setelah melihat berita sebelumnya, jadi tanpa topeng sekalipun dia bisa berkeliaran bebas sekarang. Tetapi dia masih harus waspada terutama kepada Raja Brawijaya yang mencarinya.
__ADS_1
Arya Wijaya kemudian memberikan catatan kepada Raka Aditama yang berisi menu latihan. Untuk beberapa hari Arya Wijaya meminta Raka Aditama latihan sendiri.
Raka Aditama kali ini benar-benar menjadi pendengar yang baik dan mematuhi perkataan Arya Wijaya tanpa bertanya.
"Untuk saat ini jangan terlalu mencolok. Ikuti menu latihan yang aku berikan. Aku akan menjelaskan semuanya nanti setelah memulihkan kondisiku." Ucap Arya Wijaya yang langsung di angguki oleh Raka Aditama.
Raka Aditama kemudian keluar dari kamar Arya Wijaya membiarkan Kakaknya yang ingin memulihkan diri selama beberapa hari ke depan.
Setelah Raka Aditama pergi, Arya Wijaya kemudian membuka pakaiannya dan melihat Dantian miliknya sudah berubah menjadi merah dari yang awalnya tak berwarna.
Arya Wijaya kemudian memutuskan untuk meningkatkan ranah Kultivasi nya dan memanfaatkan juga Qi berlebih didalam Dantian akibat menyerap energi panas milik Raka Aditama sebelumnya.
Keesokan harinya terlihat Raka Aditama yang mulai berlatih dihalaman rumah sesuai petunjuk buku catatan pemberian Arya Wijaya.
Hanya latihan fisik yang Raka Aditama lakukan sekarang. Jujur tangannya sudah gatal untuk menggunakan Qi, tetapi dia hanya bisa menahan diri untuk saat ini.
Cakram yang dibeli semalam juga belum boleh digunakan oleh Arya Wijaya dan masih disimpan. Yang membuat Raka Aditama sedikit bosan karena hanya bisa melakukan latihan fisik biasa.
Raka Aditama belum mengungkapkan bahwa dirinya sudah bisa berkultivasi kepada orang tuanya. Perintah dari Arya Wijaya untuk tetap menyembunyikan nya adalah alasan Raka Aditama tetap diam, meski dia bisa mendengar beberapa pelayan di rumahnya sendiri masih membicarakan tentang dirinya yang hanya bisa jadi beban.
"Lihat saja kalian, aku akan membuat perhitungan setelah mendapat ijin dari Kakak." Gumam Raka Aditama dengan kesal sambil melakukan gerakan memukul dan tanpa sengaja mengeluarkan sedikit Api.
Saat latihan Raka Aditama juga menjaga pintu kamar milik Arya Wijaya dan melarang siapapun untuk masuk. Dierja Aditama yang ingin mengajak Arya Wijaya untuk menemui Nyonya Maharani Kanigara saja sampai dilarang oleh Raka Aditama.
Beruntung Dierja Aditamamemahami apa yang sedang dikerjakan oleh Raka Aditama. Hal ini sama seperti dirinya yang juga pernah diminta oleh Arya Wijaya untuk melarang semua orang masuk kedalam ruangannya.
__ADS_1