
"Hah... Pertandingan ini benar-benar sangat membosankan. Aku belum sempat melakukan apapun, tetapi lawanku langsung menyerah begitu saja."
Bayu duduk disebelah Angga dan menghela nafas berlagak seolah pertandingannya tadi membosankan, karena lawannya tak berani melanjutkan pertandingan.
"Mungkin kau hanya beruntung saja mendapatkan lawan yang mentalnya lemah?" Angga tertawa lepas sambil menepuk-nepuk punggung Bayu. Hal itu membuat Raka, Satria, dan Bayu tertawa bersama.
Tetapi tidak dengan Arya yang sudah bisa menebak kelicikan Bayu. Melihat sikap Bayu yang tak berubah dari dulu, membuat Arya menjadi waspada, karena tak menutup kemungkinan Bayu akan menjadi kerikil penghambat.
Suara wasit menggema ketika memanggil peserta berikutnya untuk bertarung diatas arena.
Mendengar nomor urut 7 dipanggil, Arya kemudian beranjak dari tempat duduknya berjalan melewati bangku milik Raka, Bayu, Angga, dan Satria.
Saat lewat didepan Bayu, Arya bisa melihat pria itu tersenyum sinis kearahnya seperti sudah merencanakan sesuatu.
Apapun rencana licik yang Bayu buat, bagi Arya semua itu tak berguna untuk menghentikan langkahnya. Setelah naik keatas arena, Arya disambut oleh seorang peserta yang memiliki tubuh kekar.
"Aku harap kau tak langsung mati hanya dalam sekali pukul." Ucap peserta itu mengejek sambil tersenyum sinis kepada Arya yang tubuhnya sedikit lebih kecil darinya.
Arya hanya membalas sindiran prajurit itu dengan senyuman kecil penuh arti, yang membuat lawannya merasa heran.
Rasa percaya diri peserta itu seketika hilang saat wasit memulai pertandingan. Tempat dimana Arya berpijak langsung retak ketika dia melakukan kuda-kuda.
Hanya dalam satu tarikan nafas Arya sudah berada di hadapan lawannya. Dia kemudian melepaskan sebuah tendangan kearah perut, sampai membuat peserta itu terlempar keluar dari arena.
Peserta itu langsung tak sadarkan diri. Darah segar mengalir dari mulut peserta itu yang tubuhnya sekarang tertanam ditembok pembatas tribun penonton.
"Membosankan..." Arya menghela nafas sambil turun dari atas arena mengabaikan tatapan terkejut dari semua orang kearahnya.
Gerakan Arya yang melampaui kecepatan suara tak bisa diikuti oleh mata semua orang, sampai membuat mereka semua terpukau. Bahkan sampai membuat para Jenderal tak percaya bahwa seorang prajurit biasa dapat mengalahkan seorang Komandan pasukan yang pernah terjun langsung di medan perang.
Tetapi ada beberapa orang yang masih bisa melihat gerakan Arya meski samar-samar. Jika berada di situasi sama seperti peserta tadi, kesempatan mereka untuk menghindar hanya 50 persen saja.
__ADS_1
Arya tentu masih menahan diri, jika tidak maka gerakan dan daya serangannya akan langsung membuat peserta tadi menjadi bubur daging.
Saat Arya kembali ke tempat duduk. Beberapa peserta lain masih memperhatikannya, begitu juga halnya dengan Raka, Bayu, Angga, dan Satria. Mereka kini menjadi waspada jika harus berhadapan satu lawan satu dengan Arya.
Rasa keingintahuan Satria kepada Arya semakin bertambah. Hal ini menyangkut kecepatan yang ditunjukkan Arya barusan. Satria yang pada dasarnya memiliki kecepatan di atas rata-rata, mulai meragukan kecepatannya sendiri saat ini.
Meski menggunakan Langkah Kilat, Satria berpikir bahwa dirinya tak akan bisa menyamai kecepatan Arya sebelumnya.
Disisi lain Bayu semakin membenci Arya. Hal itu membuat Arya merasa bingung kenapa pria itu sampai sangat membencinya, padahal dia tak pernah menyinggung pria itu sama sekali.
Arya mengalihkan pandangan kearah seorang peserta yang duduk sendirian sama sepertinya. Penampilan pria itu sendiri cukup memperhatikan. Kedua tangannya terlihat terluka dan hanya dibalut perban seadanya.
Senjata berupa sebuah golok milik pria itu kelihatan patah hanga menyisakan separuhnya saja. Saat Arya melihat pria itu dipanggil ke atas arena, dia bisa melihat darah menetes dari luka dibagian pinggang pria itu.
"Kenapa dia memaksakan diri, padahal dia sendiri tau kondisi tubuhnya tak memungkinkan untuk melanjutkan pertandingan?"
Arya menyilangkan kedua tangan dan memperhatikan sejauh mana pria itu dapat bertahan menghadapi lawan yang ranahnya jauh lebih tinggi.
"Aku tak boleh mengecewakan kakak. Jika sampai tumbang sekarang, aku akan kehilangan kesempatan membebaskan kakak dari penjara."
Fajar menguatkan tekadnya untuk memenangkan kompetisi ini. Meski menyadari lawan-lawannya sangat kuat, Fajar tak akan menyerah begitu saja. Salah satu hadiah yang dijanjikan menjadi alasan khusus untuk Fajar mengikuti kompetisi berbahaya itu.
Jika Fajar bisa memenangkan kompetisi ini, dia ingin menukarkan hadiah dengan kebebasan kakaknya yang dipenjara oleh pihak Kerajaan karena berbuat kesalahan bersama dua rekannya.
Aba-aba dari wasit membuat Fajar mengeratkan pegangan senjatanya. Untuk menghemat tenaga Fajar memilih bertahan membiarkan lawannya menyerang terlebih dahulu.
Peserta yang menjadi lawan Fajar menyadari kalau pria itu sedang terluka. Dia kemudian tersenyum dengan penuh percaya diri, berpikir akan mudah memenangkan pertarungan ini.
Tanpa menunjukkan belas kasihan, peserta itu menyerang Fajar menggunakan senjatanya dengan bringas sampai membuat Fajar cukup terdesak.
Fajar yang mulai dipojokan tentu tidak tinggal diam. Dengan menggunakan ilmu beladiri yang diajarkan sang kakak dulu sewaktu kecil, Fajar berusaha mengimbangi intensitas serangan lawannya.
__ADS_1
Melihat Fajar masih dapat memberikan perlawanan, membuat pria yang menjadi lawan Fajar mulai merasa jengkel dan ingin mengakhiri pertandingan dengan cepat.
Fajar dan lawannya melompat kebelakang menjaga jarak satu sama lawan. Semua penonton bisa melihat bahwa keduanya akan mengeluarkan serangan pamungkas satu sama lain.
Tribun penonton mulai menjadi ricuh menantikan salah satu peserta yang sedang bertanding di atas arena akan tewas dalam serangan terkahir.
Fajar yang melihat lawannya mulai melapisi pedang menggunakan Qi, kemudian juga melapisi golok miliknya dengan Qi.
Keduanya lalu melesat untuk memberikan serangan terakhir. Dentuman keras terdengar dikala serangan mereka saling bertabrakan, bahkan membuat seluruh arena sampai tertutup asap pekat.
Setelah asap menghilang terlihat Fajar masih berdiri sedangkan lawannya tewas dengan kepala yang terpisah dari lehernya.
Tapi tak berselang lama Fajar bertekuk lutut dan menyangga tubuhnya yang lemas kehabisan sebagian besar Qi menggunakan golok miliknya.
Fajar memuntahkan darah segar setelah menerima luka tebasan dibagian dada. Wasit yang melihat Fajar terluka segera menghampiri dan menawarkan kepada pria itu untuk tidak melanjutkan kompetisi.
Perkataan wasit tentu saja ditolak mentah-mentah oleh Fajar. Dia kemudian menelan Pill Penghilang Rasa Sakit dan berjalan turun dari arena menunggu giliran bertarungnya lagi.
Arya yang melihat Fajar kembali ketempat duduk kemudian melemparkan kantung berisi Pill Penyembuh dan dengan reflek diterima oleh Fajar.
Saat membuka kantung Fajar menemukan sejumlah Pill Penyembuh Tingkat 5. Fajar kemudian berterimakasih dan menggunakan Pill tersebut untuk memulihkan kondisi tubuhnya yang terluka.
****
Sementara itu dipenjara bawah tanah yang terdapat di pusat Ibukota. Tiga orang pria terlihat meratapi nasib mereka didalam penjara yang sangat lembab dan dingin.
Pakaian yang mereka kenakan tampak kumal dan sobek dibeberapa bagian. Kondisi tubuh mereka yang kering juga cukup memperihatinkan seolah tidak pernah diberi makan.
"Arjuna... Aku dengar adikmu mengikuti kompetisi berbahaya yang diadakan Panglima Besar..." Ucap Wira teman satu sel Arjuna yang merupakan kakak dari Fajar.
Arjuna membuka mata meringkuk lemah mencoba untuk duduk. "Bocah itu masih saja keras kepala rupanya..."
__ADS_1