
Siluet hitam terlihat melompat melewati atap perumahan warga Kota Madya. Gerakannya sangat lincah sampai tidak disadari oleh semua orang yang berada dibawah.
Arya mengenakan pakaian hitam melesat menggunakan Ilmu meringankan tubuh menuju tembok kota. Dengan mudah Arya kemudian menyelinap keluar tanpa terdeteksi oleh prajurit yang berjaga diatas tembok.
Tentu Arya bisa menyelinap dengan mudah. Dibawah guyuran hujan dan angin kencang siapa yang ingin keluar malam-malam di situasi saat ini. Bahkan para prajurit hanya berjaga disetiap pos yang ada diatas tembok, dan pandangan mereka cukup terbatas akibat hujan.
Arya mengentikan langkah ketika sampai ditempat bekas pertempuran. Masih banyak mayat Hewan Iblis tergeletak dimana-mana dan menyebarkan bau anyir disekitarnya.
Untuk mayat para prajurit tampaknya sudah dibawa oleh prajurit yang lain. Hanya menyisakan ribuan mayat Hewan Iblis yang akan diurus keesokan harinya.
"Tuan, apa yang kau lakukan ditengah hujan deras seperti ini?" Dari balik kegelapan Gardapati keluar menampakkan tubuhnya yang seukuran gajah dewasa.
Arya mengangkat sebelah alisnya mendapati kedatangan seekor Singa yang ia temui sebelumnya. Singa itu tidak lain merupakan Raja Hewan Iblis yang menguasai kawasan Hutan Darah.
"Kau sendiri mengapa berada disini. Apa kau berencana menyusup ke Kota secara diam-diam?" Arya menyipitkan mata mencurigai gerak-gerik Gardapati yang keluar dari Hutan saat malam hari.
Melihat Arya mencurigainya dengan cepat Gardapati menggelengkan kepala menyangkal pernyataan pria itu. "Tidak, aku tidak berani melakukannya. Saya hanya ingin mengumpulkan Kristal Hewan Iblis. Tidak ada maksud lain, Tuan..."
Gardapati mengatakan dengan sungguh-sungguh. Dia memang benar hanya ingin mengumpulkan Kristal milik anak buahnya untuk meningkatkan pondasi Kultivasinya. Arya sebelumnya sudah melarangnya masuk kedalam Kota Madya untuk saat ini, dan tentu saja sebagai hewan peliharaan dia akan menurut.
Bagi Gardapati yang sudah mengetahui kekuatan Arya dimasa lalu. Hanya memikirkannya saja sudah membuat bulu di sekujur tubuhnya bergidik.
"Bukannya kau terlalu kejam memanfaatkan kematian anak buahmu untuk meningkatkan pondasimu sendiri?" Arya mengangkat sebelah alisnya membuat Gardapati hanya bisa tertawa canggung.
Melihat sikap Gardapati yang tidak tau malu Arya menggelengkan kepala. Dia kemudian meminta Gardapati untuk menyingkir terlebih dulu karena ada hal yang ingin dia lakukan dengan ribuan mayat Hewan Iblis itu.
Gardapati mengangguk pelan kemudian menjauh meski terlihat enggan karena takut Arya melenyapkan ribuan Kristal Hewan Iblis yang belum sempat dia gunakan.
__ADS_1
Setelah memastikan tidak ada tanda kehidupan disekitarnya. Arya kemudian menarik keluar Pedang Kematian, yang begitu terlepas dari sarungnya langsung mengeluarkan aura membunuh sangat pekat.
Asap hitam tipis menyebar disekitar kaki Arya. Beberapa arwah yang terjebak didalam Pedang Kematian mulai menampakan diri meminta korban selanjutnya kepada Arya.
Tentu Arya tidak akan terpengaruh bisikin dari para arwah yang terdiri dari manusia, Iblis, siluman, dan Hewan Iblis. Dia justru memeberikan sedikit tekanan membuat para arwah kembali masuk kedalam Pedang Kematian.
"Pelahap Jiwa..." Arya menancapkan ujung pedang ke tanah menciptakan sebuah retakan kecil pada permukaan. Beberapa saat kemudian sebuah fenomena aneh tiba-tiba muncul.
Dari dalam mayat para Hewan Iblis asap putih keluar menuju kearah Pedang Kematian dan kemudian disalurkan menuju Kristal Naga yang berada didadanya seolah terhisap kedalam.
Jika diperhatikan lebih seksama asap putih yang keluar dari mayat para Hewan Iblis adalah jiwa mereka. Jiwa-jiwa berteriak kesakitan saat terserap kedalam Kristal Naga milik Arya.
Jiwa mereka ingin memberontak tetapi kekuatan hisapan Kristal Naga jauh lebih kuat, membuat usaha dari ribuan jiwa Hewan Iblis yang malang diserap untuk memulihkan energi kehidupan Arya yang tersisa setengah.
Arya memejamkan mata mengangkat wajahnya kelangit membiarkan air hujan secara langsung menerpanya. Entah mengapa saat ini Arya merasakan perasaan nyaman di sekujur tubuhnya dan menikmati ribuan jiwa Hewan Iblis mengisi kembali energi kehidupannya.
Selain indera pengelihatannya yang meningkat. Ketika seekor Hewan Iblis sudah menginjak usia 100.000 tahun mereka akan mulai bisa berbicara layaknya seorang manusia.
"Tidak salah lagi. Pria itu memanglah dirinya..." Gardapati merasakan tubuhnya bergetar ketakutan melihat jiwa anak buahnya dimakan oleh Arya.
Pada awal bertemu dengan Arya sebenarnya Gardapati ragu bahwa pria itu merupakan tuannya yang sudah menghilang 50.000 tahun lalu.
Wajar Gardapati meragukan Arya sebagai tuannya pada awalnya sebab pria itu tidak bisa mengingatnya dan memiliki Ranah yang jauh lebih rendah sejak terakhir kali mereka bertemu.
Tetapi setelah melihat salah satu teknik yang biasa digunakan oleh tuannya dulu. Gardapati sekarang yakin Arya pasti sedang kehilangan ingatan. Dia sendiri juga baru mengetahui nama pria itu, sebab dulu tuannya enggan memberitahu nama dan hanya sibuk melakukan pembantaian dipenjuru dunia.
Mata Gardapati membelalak saat melihat dari tanah muncul beberapa rantai yang langsung melilit leher, tangan, dan kedua kaki milik Arya. Membuat tubuh pria itu dipaksa bertekuk lutut diatas tanah yang berlumpur.
__ADS_1
"Hahaha!" Arya tiba-tiba mengeluarkan tawa menyeramkan. Kedua matanya bersinar merah seperti warna Kristal Naga yang berada di dadanya.
Arya merasakan seluruh tubuhnya kini sangat bertenaga. Keinginan membunuhnya memuncak dan menjadi sangat haus akan darah makhluk hidup.
Melihat beberapa rantai melilit tubuhnya, Arya berdecak kesal memberontak ingin melepaskan diri. Dia saat ini hanya ingin membunuh tetapi rantai itu menghalanginya.
"Keparat! Lepaskan aku!" Arya berteriak lantang mencoba melepaskan diri. Tetapi semakin dia memberontak, rantai yang melilit tubuhnya semakin mengencang dan menyerap energi spiritual miliknya.
Rantai yang semula berwarna hitam pekat perlahan mulai menjadi merah membara seperti besi, yang sedang dipanaskan untuk ditempa menjadi sebuah pedang.
Arya meringkuk kesakitan saat bagian runcing pada rantai yang membara menembus kulitnya, membuat dirinya benar-benar merasakan penderitaan yang sangat menyakitkan.
Kristal Naga perlahan mulai kehilangan energi spiritual merubah warna merahnya menjadi kembali bening dengan titik cahaya emas didalamnya.
Rantai yang melilit tubuh Arya perlahan juga menghilang melepaskan kekangan pada pria itu. Arya sekarang benar-benar sudah kehilangan kesadarannya dan terlihat luka bakar disekitar area leher, pergelangan tangan, serta pergelangan kedua kakinya.
Air hujan membasahi tubuh Arya yang tidak bergerak. Membuatnya pria itu seolah seperti mayat prajurit yang gugur di medan perang dengan posisi terduduk.
Singa berukuran sebesar seekor gajah dewasa kemudian menghampiri Arya yang sudah tidak sadarkan diri. Gardapati membuka mulut menunjukkan gigi tajam dan taring panjangnya.
Arya saat ini sudah kehilangan kesadaran dan berada dalam keadaan terlemah. Membunuh pria itu saat ini tentu saja mudah untuk dilakukan oleh Gardapati.
Namun siapa yang menyangka meski dimasa lalu Arya sudah membuat luka dimatanya. Gardapati tidak memakan pria itu dan justru membawanya dipunggung, kemudian berlari kedalam hutan.
Tak lama setelah Gardapati pergi membawa Arya. Beberapa prajurit kemudian tiba setelah mendengar suara teriakan seorang pria sebelumnya.
"Apakah kita salah dengar? Tidak ada seorangpun disini." Ucap seorang prajurit kepada temannya yang membuat mereka bergidik dan memutuskan untuk kembali menuju pos jaga.
__ADS_1